
Sudah beberapa hari Elana berada di rumah Anita, dia tidur dengan Celine satu kamar. Itu membuat Chiko sangat senang karena setiap hari dan setiap pagi atau malam bisa mengucapkan selamat pagi dan selamat malam menjelang tidur.
Awalnya Elana tidak mau karena merasa tidak enak, tapi Anita memaksanya. Dia ingin Elana berada di tengah-tengah mereka menjelang pernikahan anak sulungnya. Dan mau tidak mau Elana pun akhirnya mau menginap selama persiapan pernikahan Chila.
Arga juga tidak keberatan, itu juga akan menambah keakraban anak-anaknya dengan Elana. Karena kedua anak laki-laki yang selalu sibuk dengan urusan sekolah dan mendaftar kuliah jadi jarang ada di rumah. Kevin sibuk dengan kegiatan sekolahnya, sedangkan Angga sibuk mengurus segala keperluan ujian masuk fakultas teknik di Bandung.
Cheril dan Karin juga sekarang lebih sering bermain dengan teman-temannya. Karena masa remaja yang sedang dia lalui sekarang, selalu ingin bermain dengan teman-temannya. Tidak jarang mereka keluar masuk mall hanya untuk nongkrong dan juga jalan-jalan saja.
Anita sampai mengingatkan kedua anaknya itu agar jangan terlalu sering pergi ke mall. Tapi selalu saja ada temannya yang datang mengajaknya pergi. Dan Arga tidak melarang mereka pergi, asal bisa menjaga diri. Kevin sendiri sering memergoki kedua adiknya sedang berada di mall dan melaporkannya pada papanya.
Arga pun meminta Kevin untuk selalu mengawasi kedua adiknya agar jangan terlalu bebas bergaul. Dan tugas Kevin itu tentu saja membuat Kevin jadi enggan, namun papanya malah mengancamnya untuk melarangnya mengikuti organisasi di sekolah.
"Kenapa ngga bang Angga aja sih?" tanya Kevin pada Anita.
"Kan bang Angga mau kuliah ke Bandung, kamu hanya di suruh mengawasi adik-adikmu saja kalau di luar aja tuh bang. Kok kesal banget begitu." kata Anita.
"Ya tapi ma, aku jadi ngga bebas pergi muncak." kata Kevin.
"Papa kan selalu memberi izin kalau bang Kevin pergi muncak. Kalau sudah muncak bang Kevin juga lupa sama rumah. Tetap saja bang Angga yang menggantikan kamu memgawasi Cheril dan Karin." kata Anita.
"Coba mereka jangan keluar terus ma, masa hampir tiap hari mereka keluar sepulang sekolah." kata Kevin lagi.
"Iya nanti mama bilangin. Kamu kalau di suruh sama mama tuh banyak omongnya." kata Anita.
Dia lalu pergi ke dapur untuk melanjutkan memasak makan siang. Saat ini di rumah sedang banyak orang, jadi makan siang pun nanti makanan banyak yang makan. Chiko sedang pergi, Chila sudah pasti ada di rumah terus. Ada Elana dan Celine serta kedua anak perempuannya juga hari ini tetap di rumah. Hanya Kevin yang ada di rumah, sedangkan Angga sudah pergi ke Bandung untuk mengurus administrasi perkuliahannya.
_
Tiga hari menjelang pernikahan Chila dan Antonio, Elana semakin sibuk. Dia bolak balik ke butiknya untuk membuat baju keluarga, sedangkan Anita mempercayakan baju pengantin Chila dan Antonio pada Sandra. Hubungan Sandra dan Anita semakin baik, setelah Elana di terima oleh Arga.
Keduanya sebentar lagi juga mau berbesan, Sandra dan Jhosua mewakili Elana sebagai orang tua asuhnya. Karena Elana sendiri sudah melupakan papanya Evan. Dia juga tidak peduli keadaan Evan sekarang bagaimana.
"Kak, kamu sibuk sekarang ya. Calon mertuamu mau menikahkan putri sulungnya." kata Sandra pada Elana.
__ADS_1
"Iya tante, tapi aku senang mempersiapkan semua baju-baju mereka. Ya, meski hanya untuk penyambutan di rumah saja. Kan satu hari sebelum pernikahan, keluarga dari Antonio juga datang lagi." kata Elana.
"Kamu bahagia kak bersama mereka?" tanya Sandra pada Elana.
"Aku bahagia tante, jangan khawatirkan aku." kata Elana.
"Iya, kamu harus bahagia kak. Tante tidak bisa sepenuhnya merawatmu, tapi tante ikhlas kakak El jadi bagian dari keluarga tante dan om Jho." kata Sandra lagi.
"Iya tante, aku juga berterima kasih tante menganggapku sebagai anak. Entah akan seperti apa jika di bandara tidak ketemu dengan om Jhosua, aku bingung mau kemana waktu itu tante." kata Elana.
Sandra memeluk Elana, dia benar-benar menyayangi Elana sekarang Entahlah, rasa sesal dan sedih mengingat apa yang di alami oleh Elana ketika dia di Rusia dan juga sebelumnya. Elana senang, kini Sandra benar-benar menyayanginya sepenuh hati. Tidak ada lagi pengharapan kasih sayang seperti dulu pada Evan sebagai papanya.
"Emm, papamu tidak pernah menghubungi kak?" tanya Sandra ragu.
"Aku ngga tahu tante, dan ngga mau peduli soal papa. Dia sedang apa juga El ngga mau tahu." kata Elana yang begitu sakit telah di usir oleh Evan. Dan lebih parahnya lagi, Evan tidak pernah mempercayainya selama di sana.
"Oh ya tante, El mau ke rumah tante Anita lagi. Mau kasih baju yang kemarin El kebut membuatnya." kata Elana.
"Duh, kak. Apa kamu ngga capek?"
Dia bergantian memeluk Sandra dengan erat, pelukan yang berbeda di rasakan Sandra. Karena ada perasaan dalam pada Elana padanya, perasaan bahagia dan bukan rasa sedih karena hidupnya. Sandra senang, akhirnya Elana bisa merasakan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga kekasihnya itu.
_
Dua hari lagi, pernikahan di laksanakan. Rumah Anita sangat sibuk sekali, Elana, Celine dan juga Chiko sibuk membantu Anita menyiapkan semuanya. Resepsi di adakan di hotel, namun rumah Anita sebelumnya kedatangan tamu dari keluarga Arga dan juga Anita.
Sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu di rumah Anita, tiba-tiba ada seorang laki-laku datang dengan wajah tirus dan berbadan kurus. Rambut sedikit acak-acakan dan dia hanya membawa sebuah tas kecil yang sudah lusuh. Dia datang ke rumah Anita ketika keadaan rumah sedang sibuk.
Chiko sedang keluar dengab Celine membeli pernak pernik untuk menghias rumah. Sedangkan Elana ada di rumah Anita menyiapkan baju-baju untuk besok di pakai keluarga dalam pertemuan kedua keluarga yang akan bersatu. Serta Anita dan Arga kebetulan ada di rumah.
"Permisi, bisa saya bertemu dengan Elana?" tanya laki-laki itu ragu.
Arga, yang kebetulan ada di ruang tamu sedang membereskan sisa undangan yang belum di kirim ke pemiliknya pun heran, kenapa ada laki-laki yang mencari Elana. Dia memperhatikan penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Anda siapa?" tanya Arga heran. Laki-laku itu diam, dia juga menatap Arga balik. Belum mau menjawab pertanyaan Arga.
"Apa anda seorang pengemis?" tanya Arga dengan heran.
Namun, laki-laki itu terlihat marah di sebut pengemis.
"Anda menghina saya tuan Arga." kata laki-laki itu.
"Maaf, tapi anda tidak menjawab pertanyaanku. Jadi ku kira anda seorang pengemis." jawab Arga.
"Saya mencari anakku." katanya.
"Siapa anakmu? Apa dia ada di rumahku?"
"Elana." jawabnya lagi.
"Sedang apa papa kemari?!" teriak Elana ketika tahu di depan Arga itu adalah papanya, Evan.
Dia marah sekali kenapa Evan bisa ada di rumah Arga. Matanya menatap tajam pada Evan, segala kenangan di Rusia kini terlintas di memori Elana. Membuat dia kini membenci papanya itu.
"Elana sayang, kamu papa kangen sama kamu nak." kata Evan dengan wajah sedih.
"Aku benci papa!" teriak Elana.
Elana pun pergi keluar rumah, dia menangis karena semua memori mengenai dirinya di perlakukan tidak baik di rumah istrinya pun melintas lagi di pikiran. Namun tangan Elana oleh Arga, dia membawa Elana masuk ke dalam rumah agar tidak kabur entah kemana karena kedatangan Evan.
"Sayang, tenangkan Elana. Aku akan menemui Evan." kata Arga pada Anita yang bingung kenapa Elana menangis dan Arga akan menemui Evan?
Tanpa bertanya lagi, Anita membawa Elana ke kamar Celine. Elana menangis sejadi-jadinya di sana, dan Anita membiarkan Elana menangis. Menumpahkan segala kekesalan dan kemarahannya entah pada siapa, namun yang jelas dia melihat Elana begitu marah dan kecewa dengan tangisannya itu.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤