E L A N A

E L A N A
33. Bertemu Di Halte Bis


__ADS_3

Sudah dua bulan Elana kuliah, dia sudah menemukan teman yang memang cocok dan nyaman, entah mengapa dia merasa tenang di negara itu. Tidak ada yang membulinya dan juga menjauhinya.


Dalam dua bulan itu memang Elana sempat kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang sangat asing, teman-teman kuliah yang cuek namun kadang ada rasa peduli. Elana hanya bisa diam, namun begitu dia senang dengan perkuliahan dan suasana teman-temannya.


Seperti sekarang, dia mendapatkan teman perempuan yang ceria dan menarik. Dia Amanda, berasal dari Rusia juga. Amanda ini sangat luwes dalam berteman, hingga teman satu kelas menyukainya termasuk Elana.


Amanda gadis Rusia yang cantik, bermata biru dan berambut pirang dan lurus, penampilannya juga menarik. Namun begitu, banyak yang menyukai gadis seperti Amanda. Ramah dan juga pandai bergaul, tidak seperti kebanyakan gadis Rusia yang pendiam dan tidak mudah bergaul dengan orang lain, mereka lebih suka menikmati hidupnya dengan sendiri. Jika ada yang mendekat padanya, makan rasa curiga akan terlihat dan menjauh.


Tapi Amanda tidak seperti itu, seperti kebanyakan mahasiswa Rusia di sana. Namun dia lebih terbuka pada orang lain.


Kebetulan dia duduk berdampingan dengan Elana, sehingga kedekatan itu pun terjalin.


"Ti iz Indonezii?" (Kamu berasal dari Indonesia?) tanya Amanda.


"Da, moy papa rabotayet zdes." (Ya, papaku bekerja di sini.") jawab Elana.


"O, tak tvoy papa tozhe iz Indonezii?" (Oh, jadi papamu berasal dari Indonesia juga?") tanya Amanda lagi.


"Da." (Ya.")


"znachit tvoya iz Rossii?" (Berarti ibumu dari Rusia?") tanya Amanda lagi.


Elana terdiam, dia menatap Amanda ragu. Tiba-tiba rasa takut dan tidak percaya diri kembali muncul, apakah Amanda akan terus berteman dengannya jika dia cerita tentang ibunya.


"Yelana, tvoya mat' Russkaya?" (Elana, ibumu orang Rusia?") tanya Amanda penasaran karena Elana hanya diam saja.


"Net, moya mama Indoneziyka i umerla. No umer ot bolezni. (Bukan, mamaku orang Indonesia juga dan sudah meninggal. Dia meninggal karena sakit." jawab Elana menemukan jawaban yang logis.


"Oy, izvinitite togda. Znachit tvoy papa zhenilsya povtorno na russkoy." (Ooh, maaf kalau begitu. Berarti papamu menikah lagi dengan orang Rusia?")


"Da." (Ya, begitulah.") jawab Elana lirih.


Amanda tersenyum, dia mungkin tahu kalau Elana orangnya tertutup dan pendiam.


"Net problem s machekhoy. Oh dolzhen lyubit' tebya, potomu chto tvoya machekha tozhe lyubit tvoyego papu, vermo?" (Tidak masalah mempunyai ibu tiri. Pasti dia menyayangimu, karena mama tirimu juga menyayangi papamu juga kan?")

__ADS_1


Elana tersenyum, sejauh ini dia merasakan bahwa mama sambungnya Ana menghargai dan juga menyayanginya juga. Meski terkadang tidak terlihat.


Perkuliahan di mulai, kini Elana bersemangat untuk menerima ilmu tentang jurusan yabg dia pilih. Semangat untuk masa depannya nanti, bercita-cita akan menjadi desainer dan membuka butik sendiri.


_


Pulang kuliah sepertinya Elana harus pakai kendaraan umum, ini pertama kalinya dia naik kendaraan umum. Meskipun Evan memberi petunjuk mobil apa yang akan dia naiki jika pulang kuliah. Agak takut juga, tapi dia mencoba memberanikan diri naik bus umum.


Elana duduk di bangku halte bus, dia menengok ke kanan dan ke kiri. Berharap ada teman satu kampusnya bersama dengannya menunggu bus di halte bus. Elana menghela nafas panjang, dia menunduk dan memainkan kedua jari jemariny saling bertaut.


"Kamu pulang nak bus?" tanya seseorang berdiri di depannya.


Elana menoleh, dia melihat Chiko berdiri di depannya sambil tersenyum. Elana pun membalas senyumnya lalu mengangguk.


Chiko duduk di sebelahnya setelah satu orang pergi ketika bus datang dan naik langsung.


"Kemana tujuanmu?" tanya Chiko lagi.


"Di tengah kota Saint Peterabug."


Elana sedikit menggeser duduknya, memberi ruang untuk Chiko duduk di sebelahnya dan membiarkan Chiko berceloteh tentang kota Saint petersbrurg. Elana hanya menyimak keterangan apa pun yang Chiko ucapkan, sungguh menyenangkan berteman dengannya. Namun dia tidak berani memanggil Chiko, karena Elana berpikir Chiko lebih tua darinya tiga tahun, namun dia tidak mau memanggil seenaknya meski di dalam negeri orang memanggil orang lebih tua dengan nama panggilan nama saja itu sudah biasa.


Elana terdiam, pikirannya menelusuri hatinya yang tiba-tiba merasa sendu. Tak lama, Trem atau mobil bus berhenti. Elana melihat trem sesuai jurusan yang melewati beberapa jam, lalu di tinggalo oleh pemerintah pusat ini.


Chiko menarik tangan Elana untuk segera naik mobil trem.


"Aku juga punya adik perempuan sepertimu, namun dia terlalu cerewet." kata Chiko kembali setelah mereka sudah berada di dalam trem dan duduk bersebelahan.


Elana menoleh padanya, Chiko hanya menatap ke depan namun senyumnya mengembang. Sekilas dia melirik pada Elana yang masih menatapnya dan kembali menunduk.


"Kamu sepertinya pendiam, tidak seperti gadis kebanyakan yang ceria dan juga banyak gaya." kata Chiko lagi.


Sejak tadi di halte bus, Elana hanya satu kali menjawab pertanyaannya.


"Aku hanya tidak berani berteman dengan orang asing saja." ucap Elana.

__ADS_1


"Tapi kita bukan orang asing, kita berasal dari negara yang sama." ucap Chiko.


Elana kembali menunduk, dia memang ingin berteman tapi rasa malu dan mindernya terlalu besar.


"Aku bukan gadis yang mudah bergaul, emm bang Chii ko." ucap Elana lirih dan ragu.


Chiko tersenyum, sangat menyenangkan Elana memanggilnya bang.


"Aku suka kamu memanggilku bang, seperti Celine." kata Chiko.


"Siapa Celine?"


"Dia adikku yang cerewet, minggu depan dia datang dari Indonesia. Dia juga kuliah di kampus yang sama dengan kita, dia jurusan desainer." jawab Chiko.


"Benarkah? Berarti adik bang Chiko sama denganku, aku jurusan desiner." ucap Elana.


Baru kali ini dia antusias dengan obrolannya, ternyata ada juga yang sama dengannya. Semoga saja Celine baik orangnya, gumam Elana.


"Kamu ingin berkenalan dengannya?" tanya Chiko.


"Boleh, aku ingin punya teman satu jurusan denganku dari negaraku."


"Oke, minggu depan dia datang. Nanti setelahnya aku akan kenalkan kamu dengan adikku."


Elana tersenyum, dia pun mengangguk pasti. Lega juga ketika banyak bicara dengan Chiko, dan sekarang mereka mengobrol asyik dalam bus trem tentang apa saja. Chiko sendiri belum berani bertanya tentang keluarga Elana, namun demikian tanpa di ketahui Elana, Chiko mencari tahu tentangnya dari data di kampus. Entahlah, sepertinya Chiko itu menyukai Elana sejak dia di tabrak oleh Elana di bandara menuju pulang waktu liburan kemarin.


Dan kini mereka bertemu, Chiko sangat senang. Meskipun Elana gadis pendiam dan seperti sedang menanggung masalah, dia benar-benar bisa bertemu Elana tanpa sengaja di persatukan dalam satu kampus juga.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2