
Chiko sekarang berada di kamar Chila, kebetulan libur tiga hari Chila pulang. Dan Chiko sedang mencurahkan perasaannya yang selama ini selalu gundah karena belum bertemu dengan Elana.
"Kak, apa yang harus aku lakukan?" tanya Chiko dengan putus asa.
"Tapi kamu yakin dia pulang ke Indonesia kan?" tanya Chila.
"Yakin kak, kemarin aku tanya Celine untuk mencari tahu lagi datang ke rumah papanya Elana. Dan kata mama tirinya juga sudah pulang." kata Chiko.
"Terus kemana dia perginya? Atau dia mungkin punya saudara lain barangkali." kata Chila menduga.
"Setahu aku dia tidak punya siapa-siapa, kak." jawab Chiko.
Keduanya diam, memikirkan kemana Elana pergi. Chila belum pernah tahu Elana seperti apa, hanya melihat di foto yang Chiko tunjukkan padanya.
"Sebaiknya kamu fokus saja sama magangmu, dek. Selesaikan dulu selama tiga bulan ini, kalau memang dia untukmu, pasti Tuhan akan mempertemukanmu dengannya." kata Chila memberi nasehat pada adiknya itu.
Chiko menghela nafas panjang, dia membenarkan ucapan kakaknya itu.
"Kak Chila besok mau berangkat lagi ke Jogja?" tanya Chiko.
"Ngga, lusa aku berangkat lagi. Memang ada apa tanya aku berangkat ke Jogja?" tanya Chila.
"Temani aku ke rumahku ya kak, sekalian kita nanti ke makam papa Rendi. Sudah lama aku ngga berkunjung ke makam papa, hanya sekedar berdoa aja. Apa kakak ngga ingin ke makam papa Rendi juga?" tanya Chiko.
"Iya sih. Ya udah, kapan kamu ajak aku ke kota?" tanya Chila.
"Besok aja, sebelum kakak pergi lagi ke Jogja." jawab Chiko.
"Ya udah, siang aja ya. Soalnya pagi kakak mau temani mama belanja." ucap Chila.
"Ya kak, aku juga mau menyelesaikan satu kasus dulu. Itu pun cuma mewawancarai korban yang akan di tangani. Kata papa harus di dampingi dan terus di tanyakan sebab korban jadi di aniaya oleh suaminya." kata Chiko.
"Kamu mau mengambil kasus rumah tangga?"
"Ngga juga sih kak, ada juga gadis korban perkosaan dan dia meminta bantuan pengacara. Dan papa menyerahkan padaku, kasus itu pun sudah selesai aku tangani."
"Hemm, kamu hebat dek. Bisa menyelesaikan kasus banyak dalam satu bulan." kata Chila.
"Itu juga berkat bantuan papa, beliau mempercayakanku mengenai kasus itu. Papa bilang kasus seperti itu banyak di alami oleh gadis di bawah umur dan keluarganya tidak terima. Tapi kan banyak korban tidak mau membuka siapa pelakunya karena mereka malu. Tapi tim kami terus mendesak agar korban membuka siapa pelakunya dan memberi perlindungan pada korban jika ada keluarga pelaku menuntut." kata Chiko.
__ADS_1
"Waah, ternyata kamu bisa fokus juga ya menangani kasus meski hatimu sedang gelisah." kata Chila memuji adiknya itu.
"Sebenarnya aku agak lambat kak dengan beberapa kasus, karena memikirkan keberadaan Elana. Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi saat pertama kali menangani kasus, sampai papa menegurku untuk fokus dalam mendampingi korban." ucap Chiko.
Malam hari keduanya tidak sadar kalau waktu sudah beranjak pukul sebelas malam.
_
"Bang, kamu harus bisa menyelesaikan kasus ini." kata Arga.
Dia melihat sepertinya Chiko menyerah dengan kasus terakhir yang dia tangani itu. Kasus yang cukup berat, seorang kuli bangunan di fitnah mengedarkan narkoba oleh mandornya. Padahal kuli bangunan itu sangat rajin, dan memang di temukan sebuah bukti kalau di tas kuli tersebut ada dua ons ganja.
Kuli bangunan itu kaget dan bingung, kenapa ada dua ons ganja di tasnya. Sedangkan dia sendiri tidak pernah bertemu dengan orang asing.
"Aku takut pa, kalau gagal nanti aku jadi malu sama kuli itu. Aku juga akan merasa kecewa sekali tidak bisa membuktikan kalau kuli itu tidak bersalah." kata Chiko.
"Kan cari bukti dulu, kamu kerja sama dengan detektif atau intel polisi. Mereka juga sebenarnya tidak percaya. Tapi di jaman sekarang, orang butuh biaya hidup layak. Ada saja kerjaan mereka sambil bekerja. Tapi dari wajah kuli itu tidak menunjukkan kebohongan. Makanya papa dukung abang untuk menyelesaikan kasus tersebut dalam satu bulan kan?" kata Arga.
"Iya pa, bulan depan aku selesai magang di kantor papa dan harus kembali ke Rusia melaporkan hasil magang di kampus." kata Chiko.
"Ya makanya bang, ini tantangan buat abang. Kalau berhasil kan abang jadi sorotan publik, bisa di percaya menyelesaikan kasus berat seperti itu." kata Arga lagi.
"Kasus korupsi pejabat dan papa harus menangani mereka. Awalnya papa mau membela dan jadi pengacara pejabat yang korupsi itu, tapi papa ngga nyaman jika harus banyak bukti yang di sembunyikan dan mereka hanya di vonis lima tahun penjara paling besar, karena bukti tidak di temukan semuanya. Itu kasus yang selalu papa tolak, biarpun bayarannya besar sekali."
Chiko menyimak apa yang di katakan Arga, memang hebat Arga itu. Berbagai kasus dia tangani dan selalu berhasil. Makanya firma hukum menunjukkan Arga jadi kepala firma karena dedikasi dan kelihaiannya dalam menangani kasus.
Keduanya sedang berada di kantor, membicarakan apa saja mengenai hukum. Chiko merasa terhibur bisa mendengar cerita Arga dan masukan-masukan dalam sebuah kasus. Sejenak dia lupa kalau hatinya sedang gundah dan rindu pada kekasihnya, Elana.
Tok tok tok
Pintu ruang Arga di ketuk dari luar.
"Masuk!"
Pintu terbuka dan terlihat ada dua orang masuk, laki-laki dan perempuan. Perempuan itu tampak bingung melihat Arga dan Chiko secara bergantian.
"Pak Arga, ini ada orang yang mau kasusnya di tangani oleh anda." kata laki-laki yang ternyata staf kantor.
"Oh ya, terima kasih."
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi."
"Ya."
Arga mempersilakan duduk perempuan tersebut, dia dan Chiko duduk bersebelahan. Sedangkan perempuan itu duduk di hadapan keduanya.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Arga.
"Emm, begini pak Arga. Saya dan suami saya itu belum lama bercerai, dan suami saya itu sudah pergi setelah bercerai itu. Tapi dia membawa anak saya yang masih dua tahun. Dia bilang ingin mengasuhnya, tapi saya tidak percaya karena dia sering mabuk-mabukan dan juga berjudi. Bagaimana nanti dengan anak saya, saya ingin anak saya kembali pak Arga." kata perempuan itu dengan perasaan sedih.
"Maksud ibu meminta pada saya itu untuk mengambil hak asuh anak anda dan jatuh ke tangan anda?" tanya Arga.
"Iya, karena pertimbangan saya meminta itu anak saya masih kecil. Butuh pengasuhan ibunya, kalau di asuh sama ayahnya, saya takut dia jadi terlantar. Tolong saya pak Arga." kata perempuan itu sambil terisak.
Arga menatap Chiko, memberi kode apakah Chiko sanggup menangani kasus itu?
"Pak Arga, bagaimana? Apa bisa membantu saya?" tanya perempuan itu.
"Emm, bisa sebenarnya. Itu kasus gampang, apa lagi mantan suami ibu kan penjudi dan suka mabuk-mabukkan kan?"
"Iya, sejak dua tahun lalu dia mabuk-mabukan dan suka juga berjudi. Kalau saya menasehatinya, dia marah dan kadang memukul saya. Saya lama-lama tidak kuat, dan akhirnya saya meminta cerai padanya dan mengajukan ke pengadilan satu bulan lalu. Dan minggu kemarin resmi bercerai." kata perempuan itu.
"Baik akan saya tangani, dan ini asisten saya. Dia yang akan mendampingi anda selama saya ada pekerjaan lain ya bu." kata Arga.
"Apa asisten anda itu bisa pak Arga?"
"Tentu saja, anda jangan khawatir. Dia juga bisa menangani kasus ibu, apa lagi sangat mudah masalahnya. Nanti ibu tingga bicarakan dengan asisten saya ini dan anda bisa memberikan semua berkas dari engadilan juga ya bu. Minggu depan berkas anda kami ajukan ke pengadilan." kata Arga..
"Iya pak, kalau begitu terima kasih."
"Sama-sama. Sekarang anda berdiskusi dengan asisten saya ini ya."
Chiko pun siap untuk menangani satu kasus lago, dia pun mengajak perempuan itu di mejanya di luar sana.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤