E L A N A

E L A N A
30. Kembali Ke Rusia


__ADS_3

Anita memperhatikan anak bujangnya sedang merapikan bawaanya untuk berangkat ke Rusia sore ini. Dalam hatinya sangat sedih, Chiko hanya sebulan saja di rumah tanpa terasa.


Memang kadang perasaan orang tua ketika anaknya bersiap untuk pergi jauh merantau, entah untuk menempuh pendidikan ataupun bekerja. Rasanya berat sekali, terutama seorang ibu.


Sudut mata Anita mengair, dia hapus sudut mata itu agar tidak terlanjur jatuh ke bawah pipi. Arga mendekat pada istrinya dan memeluknya dari samping, dia tahu Anita sedang sedih akan di tinggalkan lagi oleh Chiko.


"Sayang, sudah jangan sedih terus. Nanti Chiko ngga tenang perginya." ucap Arga menenangkan istrinya itu denganengelus lengannya.


"Aku sedih, Ga. Baru juga sebentar harus di tinggal lagi." ucap Anita dalam isakan kecilnya.


Chiko menoleh karena dia mendengar ibunya terisak. Kemudian dia mendekat pada Anita dan menatapnya sedih.


"Ma, mama ngga ikhlas abang berangkat lagi ke Rusia?" tanya Chiko.


"Ngga bang, mama cuma sedih abang sebentar banget di rumahnya. Celine kan dua bulan di rumah, kenapa abang sebentar banget. Mama jadi sedih, bang." ucap Anita.


Chiko tahu ibunya hanya beralasan saja, sebenarnya Anita berat. Tapi untuk menempuh pendidikan sampai selesai, harus berangkat secepatnya.


"Nanti liburan semester akhir abang pulang lagi deh, tapi mama ongkosin ya? Heheh, ...." ucap Chiko mencandai Anita.


"Ish, abang pikir mama sama papa ngga pernah kirim uang sama abang tiap bulannya?" kata Anita sambil merengut.


"Heheh, iya tahu kok ma. Makanya mama jangan sedih terus dong, abang jadi ngga enak kalau berangkat mama sedih tuh."


"Iya sayang, benar kata Iko. Kalau kamu sedih, dia jadi kepikiran kamu terus. Jadi gelisah kan di sana, ngga fokus lagi belajarnya." kata Arga mengingatkan Anita.


Chiko memeluk Anita agar ibunya itu tenang melepasnya pergi untuk kuliah lagi. Lama mereka berpelukan, lalu Chiko melepas pelukannya dan mencium pipi Anita.


Sebesar itu Chiko sayang pada ibunya.


"Nanti mama mau ikut antar kamu sampai bandara bang." ucap Anita.


"Iya ma."


"Ya sudah, sayang cepat bersiap. Chiko juga sebentar lagi sudah siap itu. Aku mau mengeluarkan mobil dulu." kata Arga.


"Pa, ikut dong ngantar abang." kata Cheril.


"Karin juga pa." ucap Karin.


"Iya."


Lalu kedua bocah itu pun mengikuti Arga keluar menuju mobil. Mereka sangat senang bisa jalan-jalan meski hanya mengantar kakaknya pergi ke bandara.

__ADS_1


_


Sampai di bandara, Chiko kembali memeluk Anita dan juga Arga secara bergantian. Tidak lupa juga kedua adiknya, dan kembali Anita bersedih lagi. Dia menangis tersedu meski suaminya mengingatkan jangan sedih dan juga menangis.


"Nanti sampai di Rusia abang langsung telepon mama ya." kata Anita.


"Iya ma, jangan khawatir. Abang langsung hubungi mama kalau udah sampai di rumah kontrakan." jawab Chiko.


"Bang, ingat ya. Tujuan kamu itu belajar, jadi jangan seenaknya bergaul dan berteman. Lihat-lihat apakah dia baik atau tidak." pesan Arga.


"Iya pa. Ya sudah, abang pergi dulu ya. Karin, Cheril jaga mama ya. Jangan nakal." pedan Chiko pada kedua adiknya itu.


"Iya bang." jawab keduanya kompak.


Chiko tersenyum, dia pun mengusap kepala keduanya dengan sayang. Lalu melambaikan tangan sambil melangkai masuk menuju terminal keberangkatan. Anita, Arga dan juga kedua gadis kecil membalas lambaian Chiko yang semakin jauh.


Chiko terus berjalan, di keluarkannya tiket untuk di tunjukkan pada petugas agar bisa masuk ke dalam menuju kabin kapal. Semua barang di periksa satu persatu dan pemeriksaan badan. Setelah semua aman, baru dia naik lift menuju kapal yang akan di tumpanginya.


Dalam hati dia berkata, ' Ya, snova vi Rossii' ( Aku kembali lagi, Rusia )' gumam Chiko dalan hati.


Senyumnya mengembang di bibir Chiko, dia terus melangkah menuju kabin dan memperlihatkan tiket kembali pada pramugari lalu masuk dan mencari tempat duduk.


Ada rasa ingin cepat sampai di Rusia agar bisa kembali ke kampus dan berinteraksi lagi dengan teman-teman di sana serta dosen pengajar.


_


Beberapa buku ada yang berserakan karena ketika dia pulang dengan Celine belum sempat di rapikan lebih dulu.


Setelah lama merapikan kamar serta rak bukunya, Chiko kini masuk kamar mandi untuk membersihkan diri setelah lama di pesawat terbang dia merasa lengket meski tidak melakukan apapun, hanya diam saja di kursinya.


Lama dia membersihkan diri, setelah di rasa cukup akhirnya keluar juga. Mengganti bajunya untuk santai hanya kaos oblong dengan celana pendek.


Dia duduk di sisi ranjangnya dan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada teman kampusnya.


'Ey, Antonio, kak naschet pervokursnikov? '(Hei, Antonio, gimana dengan mahasiswa baru?). Tulis Chiko pada sahabatnya itu.


'Ty vernulsya?' ( Kamu sudah kembali?'). tanya Antonio.


'Dan, ya v arendovannom dome.'( Ya, aku ada di rumah kontrakan). jawab Chiko.


'O, ya vizhu. Zavtra ya poydu k tebe domoy.' ( Oh, begitu. Besok aku ke rumahmu.) tulis Antonio.


'Khorosho, ya podozhdu.' ( Oke, aku tunggu.)

__ADS_1


'Khorosho, po.' (Oke, by )


'Po.' ( By )


Chiko pun kembali meletakkan ponselnya dan dia berbaring di ranjangnya, memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.


Baru juga di pejamkan matanya, suara dering ponselny Chiko mengagetkannya. Hingga dia kembali membuka matanya dan mengambil ponselnya. Terlihat nama mamanya di sana. Chiko tersenyum, dia lupa memberi kabar pada Anita kalau dia sudah sampai.


"Halo ma?"


"Sudah sampai, sayang?"


"Udah ma, satu jam lalu. Maaf lupa memberi kabar sama mama."


"Hemm, kamu sedang apa?"


"Tadinya mau istirahat, tapi mama menelepon. Jadi ngga jadi tidur."


"Oh, jadi mau istirahat? Mama ganggu ya?"


"Ngga ma, salah Chiko aja ngga kasih kabar sama mama."


"Iya sayang, mama hanya ingin dengar kamu udah sampai rumah atau belum. Kalau udah sampai, istirahat aja."


"Iya ma, ini mau istirahat kok."


"Ya sudah, mama tutup ya teleponnya."


"Iya ma, salam untuk papa dan adik-adik di rumah."


"Iya."


Klik


Chiko menghela nafas panjang, dia meletakkan kembali ponselnya. Lalu membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya, sejenak Chiko terlelap. Nafas berhembus teratur, menandakan bahwa nyawanya sudah di alam bawah sadar.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2