E L A N A

E L A N A
44. Ulah Angela


__ADS_3

"Bang, kenapa di antar sampai depan rumah?" tanya Elana.


Dia takut nanti Evan mengetahuinya juga ibu tirinya.


"Ini malam hari Elana, kamu gadis. Tidak baik pulang sendiri di malam hari, kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Chiko.


Elana diam saja, dia juga membenarkan ucapan Chiko. Lalu Elana melepas helm yang ada di kepalanya dan menyerahkan helmnya pada Chiko.


"Terima kasih ya bang Iko." kata Elana.


"Iya, kamu senang malam ini?" tanya Chiko.


"Iya." jawab Elana dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu, lain kali bisa kita jalan lagi." ucap Chiko.


"Ya."


Elana lalu masuk ke dalam rumah besar itu, melambaikan tangan pada Chiko sebelumnya. Chiko lalu melajukan motornya meninggalkan rumah ibunya Elana.


Sampai di dalam rumah, Evan sudah menunggu di depan kamar Elana. Dia merasa takut Evan marah karena dia pulang malam, tapi dia sudah bilang sebelumnya kalau hari ini pulang malam.


Di belakang Evan ada Ana, istri Evan yang menatapnya tajam. Dan jauh dari posisi Evan dan Ana, ada Angela yang sedang tersenyum sinis melihat Elana yang takut karena pulang malam.


"Sayang, kamu baru pulang?" tanya Evan pada Elana.


"Iya pa, kemarin malam El kan bilang pulang malam karena lihat festival dulu di lapangan merah." jawab Elana.


"Dengan siapa kamu kesana?" tanya Evan lagi.


"Teman pa."


"Laki-laki?"


Elana diam, dia menatap papanya aneh. Lalu mengangguk pelan dan menunduk dalam.


"Sayang, papa ingatkan kamu hati-hati jadi seorang gadis. Jangan sembarangan bergaul, kamu tidak tahu sifat laki-laki di sini. Papa ngga mau kamu nanti bergaul bebas di sini, jadi jaga kepercayaan papa sama kamu, El." kata Evan.


Ana memperhatikan Evan berbicara, meski dia tidak terlalu paham apa yang di katakan suaminya pada anaknya. Namun dia tahu Evan sedang memarahi anaknya itu.


"Teman El itu orang Indonesia juga pa, El ngga banyak teman di kampus. Hanya dia teman yang dekat dengan El, pa. Maaf kalau El pulang malam." kata Elana.


Dia kurang suka apa yang di katakan Evan, baginya Chiko laki-laki baik yang melindumginya dan juga dia nyaman bersama dengan Chiko. Evan tidak tahu itu letak kenyamanan bagi Elana, yang dia tahu Elana kuliah di kampus yang bagus.


"Orang Indonesia? Di kampus itu ada juga orang Indonesia?"


"Ya pa."


"Meski pun begitu, papa pesan sekali lagi sama kamu sayang. Jangan sembaramg bergaul ya." kata Evan.


"Iya pa."

__ADS_1


Evan menghela nafas panjang, dan Elana pun pergi meninggalkan papanya dan Ana menuju kamarnya. Tatapan sinis dari Angela membuat Elana heran, kenapa Angela menatapnya seperti itu?


Ana juga masih memperhatikan Elana masuk ke kamarnya, lalu dia bicara pada Evan.


"Vy yego sliskhom baluyete, on dumayet, chto eto yego dom i prosto ukhodit domoy do vechera." (Kamu terlalu memanjakannya, dia pikir ini rumahnya pulang seenaknya saja sampai malam hari.") kata Ana masih kesal pada Elana.


"Brat, okazalos', chto tvoy syn vstrechayetsya s plokhim parnem, sestrenka Evan. Ty sobirayesh'sya pozvolit' Elane buntovat'?" (Kakak, anakmu itu ternyata pergi dengan laki-laki tidak baik kak Evan. Apa kakak akan membiarkan Elana bersikap membangkang?") tanya Angela menimpali ucapan Ana.


Evan hanya diam saja, dia juga merasa khawatir anaknya akan jadi pembangkang karena pergaulan dengan laki-laki sembarangan.


"Ya prosto napominayu yemu, dorogoy, ya uveren. chto Elana pinimayet, chto ya govoryu. On poslushnyy mal'chik." (Aku sudah memperingatkan dia sayang, aku yakin Elana ngerti apa yang aku katakan. Dia anak yang penurut.") kata Evan menenangkan istrinya.


Lalu mereka masuk ke dalam kamarnya kembali. Sementara Angela sangat kesal, kenapa Elana lolos begitu saja.


"Okazyvayetsya etogo malo, ladno, ya naydu sposob, chtoby ty mog zlit'sya na vsekh I ya byl by schastliv uvidet' eto. Kha kha kha..." (Ternyata belum cukup ya, baiklah. Aku akan cari cara agar kamu bisa di marahi habis-habisan. Dan aku akan melihat itu dengan senang hati. Hahaha.")


Angela masuk ke dalam kamarnya, hari sudah malam. Pukul sepuluh malam waktu Rusia, Elana juga sudah berbaring ke dalam peraduannya. Cuaca dingin membuat sekimut tebal jadi penghangat malam ini, di tambah syal pemberian dari Chiko yang selalu dia pegang.


"Aku senang sekali hari ini, semoga aku bisa menikmati lagi hari-hari seperti tadi. Apa ... Bang Iko itu sayang sama aku ya? Apa dia,,, bisa aku andalkan untuk masalahku?" gumam Elana.


Memikirkan hal itu tentang Chiko, yang dia rasakan kalau Chiko menyukainya. Tapi Elana tidak berbesar hati, mungkin juga kasihan padanya.


_


Sejak semalam Elana pulang telat, Ana kini lebih sering menyuruh Elana menjaga anaknya. Dia sendiri kadang pergi bersama teman-temannya atau temannya datang ke rumahnya itu.


Sedangkan Angela masih tetap suka mengganggu Elana dengan kata-katanya yang pedas.


Angela masuk ke dalam kamar bermain Diego, ada banyak mainan di sana. Terutama permainan untuk merangsang perkembangan otak dan juga motorik Diego. Evan dan Ana membeli semua mainan edukasi.


Meski anaknya punya kelainan berkebutuhan khusus, Evan dan Ana memberi fasilitas lengkap untuk bermain.


Angela berdiri di belakang Elana yang sedang bermain tangan dengan Diego, di tangannya tergenggam sesuatu.


Terlihat Elana sedang menelateni Diego bicara satu persatu kata. Angela terus memperhatikan Elana dengan Diego, dia merasa iri Elana bisa berinteraksi dengan Diego. Namun begitu Angela memandang Elana dengan sinis.


"Khm, umestno byt' odinochkoy. Igra s Diyego mozhet byt' takoy intimnoy, potomu chto tu mozhesh' takoy zhe, kak tvoya sestra." (Hemm, pantas ya jadi orang penyendiri. Bermain dengan Diego bisa begitu akrabnya, kamu mungkin sama dengan adikmu.") ucap Angela.


Elana diam, dia hanya mendengarkan ucapan Angela saja tanpa menanggapinya. Elana terus bermain dengan Diego, Angela terus melihat keduanya.


Kini Diego di gendong Elana, dan berdiri hendak menunu mainan kuda-kudaan. Angela pun mengikuti Elana dari belakang, dia berhenti tetap di belakang Elana. Membuat Elana merasa aneh dengan sikap Angela itu.


"Pochemu tu prodolzhayesh' sledit' khochesh' poigray' s Diyego?" (Kenapa kamu mengikuti terus? Mau bermain dengan Diego?") tanya Elana merasa heran.


Angela diam saja, dia masih melihat Diego duduk di mainan kuda-kudaan.


Karena tidak di tanggapi Angela, Elana pun mengayunkan mainan kuda-kudaan agar bisa menyenangkan Diego. Namun Angela melempar sesuatu ke arah Diego, dan Diego pun menjerit ketakutan. Elana kaget, dia pun mengangkat Diego. Namun Diego malah memukulinya dengan kencang.


"Ostanovis', Diyehgo, brata postoyanno b'yut!" (Stop Diego, kakak sakit di pukuli terus!") teriak Elana.


Hwuaaaa, mmammaa!!"

__ADS_1


Diego menangis histeris, membuat Elana kaget. Dia menggendong Diego, tapi dia malah memukuli Elana lagi.


Ana masuk dengan cepat dan kesal, kenapa Diego menangis histeris.


"Pochemu Diyego plachet Elana?!" (Kenapa Diego menangis, Elana?!") teriak Ana dengan tatapan tajam.


"Ya ne znayu ma, vdrug tak istericheski zakrichal Diyego." (Aku ngga tahu ma, tiba-tiba Diego menangis histeris begitu.") jawab Elana bingung sendiri.


Ana memperhatikan mainan kuda-kudaan dengan teliti, biasanya ada binatang yang membuat Diego menangis hiteris.


Ana pun menemukan sesuatu di bawah mainan kuda-kudaan. Dia lalu menatap Elana tajam.


"Tu posadil syuda tarakana?" (Kamu menaruh kecoa itu di sini?") tanya Ana sambil menunjuk kecoa di bawah mainan.


Elana melihat kecoa di bawah mainan kuda-kudaan tersebut, lalu menatap Ana.


"Net, ne prinosil. Zachrm?" (Ngga ma, aku tidak bawa itu. Untuk apa?")


"Ne vri, ty zhe znayesh', chto Diyego boltsya tatakanov. Ty namerenno ougayesh' Diyego, da?!" (Jangan bohong kamu, kamu tahu kan Diego itu takut kecoa. Kamu sengaja menakuti Diego kan?!")


"Net ma." ("Ngga ma.")


"Vry bratan, ya tol'ko chto videl , kak on sunul koa v ruku Diyego." (Bohong kak, aku tadi lihat dia meletakkan kecoa itu di tangan Diego.") ucap Angela menyambung.


"Tu khochesh' navredit' Diyego Elane?" "(Kamu mau mencelakai Diego Elana? Jawab!")


"Ma!"


Plak!


"Samonadeyanno tu krichish' na menya!!" (Lancang kamu teriak sama aku!!")


"Ya ne krichal, mama, no mama obvinila memya v nebrezhnosti." ("Aku ngga teriak ma, tapi mama menuduhku sembarangan.") kata Elana.


Kini dia mencoba untuk membela diri karena merasa tidak bersalah.


"


Tu ssorish'sya so mnoy, da? Deti ne znayut sebya Syn prestupnika vedet sebya tak zhe, kak yego mat'!" ("Kamu melawan sama aku, hah? Anak tidak tahu diri. Anak seorang penjahat kelakuan sama saja dengan mamanya!")


"Dovol'no tetya Ana!!" ("Cukup tante Ana!!") teriak Elana dengan marah.


"Elana!!"


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2