
Ana segera pergi dari rumahnya, meninggalkan Angela yang masih berselimut miliknya. Rasa marah dan benci pada Evan serta Angela yang menatapnya sinis. Dia benar-benar muak dengan perselingkuhan itu.
Menunggu taksi di depan, matanya kembali sembab. Tak bisa hilang begitu saja bayangan suaminya tidur di ranjangnya dengan adiknya. Bahkan dia melihat Evan seperti memeluk adiknya. Kembali Ana terisak, dia tidak tahan dengan semuanya.
"Mammaa mammaa."
Diego menepuk pipi Ana, Ana menepis tangan anaknya yang menepuk pipinya. Mobil taksi berhenti tepat di depannya, Ana langsung naik mobil taksi.
"Ayo jalan."
"Baik madam."
Mobil melaju ke rumah Bibi Margareta, Ana masih terisak. Supir taksi melihat Ana dari kaca spion dengan heran.
"Anda baik-baik saja madam?" tanya supir taksi.
"Maaf membuatmu terganggu menyetir mobil sir."
"Tidak masalah."
"Suamiku selingkuh, sir. Dia selingkuh dengan adikku. Hik hik hik." ucap Ana kembali menangis terisak.
"Ouwh, laki-laki sangat tidak baik. Apakah adik anda mencintai suami anda, madam?" tanya supir taksi.
"Saya tidak tahu, tapi sepertinya mereka memanfaatkan keadaan rumah kosong. Saya pulang ke rumah pamanku, dan baru tadi aku pulang ke rumahku. Tapi malah apa yang saya dapatkan, mereka tidur bersama di ranjangku. Hik hik hik ..." kata Ana dengan tangisnya pecah kembali.
"Sabar madam, nanti laki-laki seperti itu akan dapat balasannya. Percayalah." kata supir taksi tersebut menenangkan Ana.
Ana hanya diam saja, dia menghapus air matanya yang masih meleleh di pipinya.
Tak berapa lama, mobil taksi pun berhenti di depan rumah Margareta, Ana turun masih menggendong Diego. Dia memgambil kopernya yang tidak sempat dia bongkar isinya. Di bawanya masuk koper dan anaknya, mengetuk pintu lebih dulu.
Kemudian pintu terbuka, Margareta heran, kenapa Ana kembali lagi ke rumahnya sambil menangis.
"Ana, ada apa kamu balik lagi?" tanya Margareta.
Ana pun langsung masuk tanpa menjawab pertanyaan bibinya, dia duduk di kursi tamu dan kembali pecah tangisannya.
"Ana, ada apa sebenarnya? Kamu bertengkar lagi?" tanya Margareta lagi masih penasaran.
"Lebih dari bertengkar bi, Evan menyakitiku. Dia selingkuh, hik hik hik."
"Selingkuh? Dengan siapa"
"Bibi tidak akan percaya jika aku katakan."
__ADS_1
"Dengan siapa Ana, katakan?!"
Margareta marah, dia bertanya dengan nada tinggi. Dia sudah kesal sekali dengan suami keponakannya itu.
"Angela, dia tidur dengan Angela bi. Di kamarku, mereka tidur di kamarku dengan tidak memakai baju sehelai pun. Bahkan mereka tidur saling berpelukan, hik hik hik. Mereka terlalu sekali, Evan sangat brengsek bi!"
Ana menangis lagi, Diego duduk tenang di kursi sambil bermain mobil-mobilan yang kebetulan ada di sana belum sempat di rapikan Margareta.
"Apa?!"
"Iya bi, bibi bisa tanyakan siapa yang memulai dulu. Apakah memang Angela yang menjebak Evan atau memang Evan sengaja memperkosa Angela." kata Ana.
Margareta pun ambil ponselnya, dia segera menghubungi adik dari Ana itu. Dia ingin mendengar kejelasan dari Angela, namun begitu harusnya bertanya juga pada Evan. Tapi tidak sekarang, pikir Margareta.
"Halo, Angela. Kamu masih di rumah kakakmu?" tanya Margareta ketika sambungan telepon terhubung.
"Iya bi, saya masih di rumah kak Ana. Ada apa bi?"
"Jangan pura-pura bertanya kamu, cepat sekarang kamu pulang ke rumah bibimu!" kata Margareta dengaj tegas.
"Baik bi, aku akan segera pulang. Pasti kak Aja sedang mengadu ya?"
"Kalau kamu tahu kenapa bibi meneleponmu menyuruhmu segera datang, jangan di tunda lagi. Cepat sekarang ke rumah bibi dan jelaskan apa yang terjadi."
Sambungan telepon terputus, Margareta mendengus kesal. Dia tidak menyangka, Evan yang kalem pembawaannya itu justru malah menyakiti keponakannya.
_
Kini Angela duduk sambil tertunduk di hadapan bibinya Margareta yang bersedekap dan menatap tajam padanya.
"Apa kamu yang sengaja menjebak Evan atau memang dia yang ingin memperkosamu? Atau kamu sendiri juga menginginkan suami kakakmu?" tanya Margareta seperti mengena pada tujuan pertanyaannya.
"Tidak bi, aku memang di perkosa. Kak Evan memaksaku dan dia bilang jangan katakan pada kak Ana, dia bilang itu rahasianya dan juga diriku." jawab Angela masih menunduk.
"Kalau di perkosa, seharusnya kamu melawan jika tidak mau di paksa melakukan itu. Dan kenapa setelah melakukan itu kamu tidak juga pergi dari kamar kakakmu, bahkan seolah kamu sengaja menunggu kakakmu pulang dan melihat apa yang kalian telah lakukan di kamar kakakmu? Jika di perkosa, seharusnya kamu sudah babak belur. Karena gadis sepertimu selalu mrmakai segala cara. Apa yang kamu inginkan, Angela?!" tanya Margareta.
Angela diam, dia tidak bisa berbohong. Margareta memang sangat jeli dengan keadaan. Namun Angela memang berniat merusak hubungan Evan dengan Ana, karena dia menyukai kakak iparnya.
"Aku menyukai kak Evan bi." kata Angela lirih.
Dan jawaban Angela ini membuat Ana dan Margareta kaget. Tentu saja Angela menyukai Evan karena memang dia tampan dan baik, apa pun Evan menurut.
Tapi tidak bisa seperti itu, dia menyakiti kakaknya Ana.
"Kamu tahu Evan itu suami kakakmu?" tanya Margareta.
__ADS_1
"Aku tahu, bi. Tapi aku cinta sama kak Evan."
"Hah, omong kosong! Kamu bukan mencintai Evan. Kamu terobsesi padanya saja."
Margareta terus memarahi Angela, hingga Dimitri datang dan melihat itu jadi heran, kenapa bibinya memarahi Angela. Bahkan Ana kakaknya pun menangis.
"Ada apa ini?" tanya Dimitri pada bibinya.
"Mereka terlibat cinta segitiga, tapi sangat konyol kenapa Angela berbuat nekad tidur dengan Evan." jawab Margareta.
"Apa?! Maksudnya bagaimana bibi Margareta?"
Margareta pun menceritakan apa yang di lakukan Angela dan Evan, serta Ana yang sekarang menangis sedih dan sakit hati.
"Jadi masalahnya laki-laki itu? Dari dulu aku tidak suka si Evan itu!" kata Dimitri dengan marah.
"Bukan dia seharusnya yang di salahkan sepenuhnya, tapi adikmu." kata Margareta.
"Tetap saja, dia juga salah. Kenapa dia mau meladeni Angela? Aku akan membuat perhitungan dengannya, awas saja." kata Dimitri.
Dia tidak bisa melihat kakaknya menangis, apa lagi Diego yang tidak tahu apa-apa. Dia akan membuat Evan babak belur, begitu pikirnya.
"Jangan gegabah Dimitri!"
"Aku tidak peduli, bi. Aku memang membuat perhitungan dengannya. Dan kalian jangan ikut campur!" kata Dimitri.
"Apa urusannya, Dimitri? Dia kakakmu juga, jika kamu membuat dia apa yang kamu inginkan. Kasihan keponakamu, kasihan kakakmu." kata Margareta lagi.
"Aki tidak peduli Evan akan seperti apa." kata Ana bersuara.
Dia sudah sangat sakit hati pada suaminya, dia akan memutuskan ingin bercerai dan kembali mengurus perusahaan ayahnya nanti setelah bercerai. Begitu pikir Ana.
Dimitri pun menyunggingkan senyumnya, dia lalu menatap bibinya.
"Lihatkan bi, kak Aja saja tidak peduli sekarang. Jadi, jangan halangi aku melakukan apa pun pada laki-laki brengsek itu." kata Dimitri.
Sedangkan Angela masih diam, dia juga takut jika Evan sampai babak belur oleh kakaknya itu.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1