
"Papa akan pergi, tapi nanti papa akan datang lagi, sayang." kata Evan pada Elana yang masih diam saja tanpa peduli padanya.
"Pak Evan, anda tahu siapa saya bukan? Saya bisa memberi laporan tentang kelakuan anda pada anak anda itu, dia bisa menolak anda secara hukum. Itu bisa saya lakukan." kata Arga mengingatkan kalau dia bisa bertindak secara hukum.
"Aku tidak peduli, aku akan tetap datang kemari. Dan membujuk anakku, aku yakin anakku akan mau ikut denganku." kata Evan lagi.
Arga geram, dia kesal sekali pada Evan yang egois itu. Dia pun bicara pada Chiko, kalau rencananya berubah.
"Bang, siapkan pernikahan kalian dua hari lagi. Mertua brengsekmu itu tidak tahu diri, terus saja ngeyel akan datang lagi kemari. Jika kamu menikahi Elana, dia tidak akan berbuat seenaknya." kata Arga.
"Benar pa? Aku akan menikah secepat itu dengan Elana?" tanya Chiko tidak percaya.
"Ya, untuk menyelamatkan Elana dari orang egois itu. Dan jika sudah jadi istrimu, dia tidak berhak lagi atas Elana. Papa kesal sekali sama dia, tidak tahu diri dan sombong." kata Arga.
Semua menatap Arga tidak percaya. Celine, Anita dan juga Elana sendiri. Elana terharu dengan upaya perlindungan calon mertuanya itu padanya. Dia lalu mendekat pada Arga dan menatap padanya dengan mata berkaca-kaca.
"Om, apa itu benar?" tanya Elana.
"Jangan panggil om lagi, paggil papa sekarang dan juga mamamu itu." kata Arga menunjuk ke arah Anita.
Semua merasa terharu, Anita pun tersenyum pada suaminya. Dia benar-benar tidak menyangka dengan tindakan suaminya itu. Anita lalu mendekat pada Elana dan memeluknya.
"Kamu jangan khawatir, setelah kamu jadi anak kami nanti. Evan tidak akan lagi berani mencarimu lagi. Kamu benar pada papamu, memaafkannya. Namun kejarlah kebahagiaanmu, sayang." kata Elana.
"Terima kasih kalian menerimaku begitu baik, aku belum bisa membalas kebaikan mama dan papa ini." kata Elana dengan tangisan haru.
"Hanya satu saja yang kamu lakukan, sayangi anak mama itu, sabar menghadapinya ya." kata Anita.
Elana pun mengangguk cepat. Chiko sangat bahagia sekali, dia juga memeluk papanya dan mengucapkan terima kasih. Tidak ada yang peduli pada Evan saat itu. Dia pun pergi dengan wajah lesu, dia benar-benar hancur hatinya melihat anaknya lebih respek pada keluarga Arga dan Anita.
Entah apa yang dia lakukan, harapannya berjumpa dengan Elana dan bisa hidup dengan baik dan memaafkannya kini musnah. Dia salah, tapi dia tidak mau Elana mengacuhkannya. Dengan langkah lunglai, dan hati sedih pergi keluar dari rumah Arga.
"Tuan Evan, jika anda mau menghadiri pernikahan Elana dan Chiko, dua hari lagi datanglah ke gereja katedral di tengah kota. Datang tepat waktu lebih baik, dan saya ingatkan jangan membuat keributan di sana." kata Arga.
Setelah berkata begitu, dia masuk lagi ke dalam rumahnya dan segera menyusun rencana pernikahan dadakan Chiko dan Elana. Dia juga akan menempatkan Chiko di firma hukumnya sebagai asistennya setelah menikah nanti.
Kini Anita sibuk untuk menghubungi Sandra dan menceritakan padanya tentang Evan yang datang ke rumahnya. Sandra minta maaf pada Anita, karena dia yang telah memberitahu Evan tentang alamat rumahnya. Dia pikir Evan hanya ingin bertemu Elan saja dan meminta maaf, tapi ternyata membuat Elana serta keluarga Anita geram atas sikapnya yang egois itu.
__ADS_1
"Sudah tidak masalah, Arga sudah mengatasinya. Dan dia meminta Chiko sama Elana juga menikah dalam dua hari. Apa kamu bisa membuat baju pengantin dalam dua hari ini untuk Elana dan Chiko?" tanya Anita pada Sandra di telepon.
"Aku usahakan, tapi tidak bisa semeriah punya Chila dan Antonio karena akan membutuhkan waktu lama." kata Sandra.
"Tidak apa-apa, aku yakin Elana dan Chiko menerima itu. Yang penting mereka menikah secepatnya, itu yang di minta Arga." kata Anita lagi.
"Baiklah, aku akan buatkan baju pengantin Elana dan Chiko. Dan tanpa di undang olehmu juga, aku akan datang menghadiri pernikahan Elana dan Chiko."
"Aku sudah berniat mengundangmu di pernikahan Chila itu. Tapi sekarang ada dua pengantin, maaf merepotkanmu Sandra."
"Tidak, jangan berkata begitu. Bagiku Elana sudah aku anggap anakku, jadi aku harus siap untuk membuat baju pengantin untuknya."
Percakapan itu pun selesai setelah mereka akhirnya menyepakati model baju pengantin Elana dan Chiko sederhana saja, namun tetap mewah.
"Elana, ngga apa-apa ya nanti baju pengantinnya sederhana saja. Ngga seperti kak Chila." kata Anita.
"Ngga apa-apa ma, yang penting acara sakralnya aja aku sih." kata Elana.
"Ciiieee yang udah ngga sabar." kat Celine menggoda Elana.
Membuat gadis itu tersenyum malu. Chiko sendiri merasa lega dan bahagia, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Elana. Chila juga merasa kaget mendengar adiknya dan Elana akan menikah juga berbarengan dengannya.
"Ya ngga apa-apa ma, aku justru senang. Antonio juga kaget, tapi dia juga tidak masalah. Tapi nanti gantian kan pengambilan janji sucinya atau bersama-sama?" tanya Chila.
"Terserah kalian, kalian kalau mau bareng juga ngga masalah. Kalau pun gantian, kakak dulu juga tidak masalah menurut mama. Ya kan bang?" tanya Anita pada anaknya itu.
"Iya ma, kak Chila maunya bagaimana?" tanya balik Chiko pada kakaknya.
"Emm, bareng aja kali ya. Tapi tetap kan di depan pendeta gantian juga, dan kalau yang itu biar kakak dulu aja yang mengambil janji sucinya." kata Chila.
"Ya, itu memang lebih baik. Dan bang, besok kamu cepat cari cincin ya. Soalnya tidak ada waktu lagi. Kamu ke toko cincinnya sama Celine aja, jangan sama Elana lagi. Mama kira tangan Celine dengan Elana itu sama ukurannya kan?"
"Iya ma, siap." jawab Chiko pasti.
Elana sangat senang dan terharu, Anita begitu repot mengurusi pernikahan dadakannya dengan Chiko. Tak ada yang membahagiakan bisa hidup di tengah keluarga Chiko itu, meski keluarga banyak satu sama lain saling menyayangi dan bahu membahu saling membantu.
_
__ADS_1
Hari pernikahan pun tiba, Chiko sudah bersiap dengan baju jas tuksedo hitamnya. Elana juga sudah siap dengan baju pengantinnya yang elegan. Sandra tidak membiarkan baju pengantin Elana begitu sederhana, sejak Anita memberitahu dua hari lagi Elana menikah dengan Chiko. Secepatnya dia mencari bahan kain untuk baju Elana.
Dia tidak tidak istirahat cukup selama dua hari itu untuk mendapatkan baju pengantin yang sesuai keinginannya. Karena dia sudah membuat desain baju pengantin Elana, jadi tinggal mencari kainnya saja. Dan terbukti, baju Elana sangat indah dan elegan. Sama halnya milik Chila.
"Kalian siap ya." kata Anita pada Chila dan Elana yang sudah di dandani oleh perias pengantin.
"Iya ma, tapi aku gugup sekali." kata Chila.
Tangannya dingin karena gugup dan deg-degan. Begitu juga Elana, dia hanya tidak percaya jika sebentar lagi akan jadi istri Chiko. Dia juga deg-degan, meski kemarin dia biasa saja dengan Chiko.
"Ayo kita ke gereja, pendeta sudah datang di sana. Chiko dan Antonio juga sudah siap sepertinya." kata Anita.
Lali rombongan pengantin wanita sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Acara bahagia keluarga Anita tampak sekali, ada yang bingung dan heran, kenapa jadi ada dua pengantin. Tapi itu tidak masalah bagi mereka, yang terpenting hari bahagia dan sakral itu berjalan lancar tanpa hambatan.
Sandra dan Jhosua serta ketiga anaknya juga hadir sebagai perwakilan keluarga Elana. Dan Evan? Dia juga datang di sana, dia akan menunggu Elana di depan. Berharap Elana mau bergandengan tangan sebagai pengantar pengantin sampai di depan Chiko nanti, itu harapan Evan.
Namun Elana meminta Jhosua yang mengantarnya ke depan pendeta nantinya, dia juga tidak mengingat papanya dan tidak peduli akan datang atau tidak.
Kini tiba saatnya mobil kedua pengantin wanita datang di depan gereja katedral. Arga dan Jhosua menunggu di depan menyambut kedua pengantin. Evan berdiri di depan, dia tidak tahu mobil mana Elana naik.
Dan ternyata dia salah berdiri, Elana sudah di sambut oleh Jhosua dan langsung masuk ke dalam gereja, di susul oleh Chila yang di sambut Arga menuju gereja. Kedua pengantin dan pengantar pengantin berdiri bersebelahan. Mereka pun masuk setelah pembawa acara dan musik pengiring berbunyi.
Dengan pelan dan pasti, Chila dan Arga berjalan mendekat pada Antonio. Lalu tangan Chila di berikan pada Antonio, keduanya saling pandang dan saling senyum. Mengagumi masing-masing penampilan mereka. Di susul Elana dan Jhosua, mereka menghampiri Chiko. Dan Jhosua memberikan tangan Elana padanya.
Kini ke empat mempelai pengantin berdiri di depan pendeta yang akan menuntun pengambilan janji suci dan mengesahkan mereka menjadi sepasang suami istri. Para hadirin di dalam gereja sangat kagum pada ke empat pengantin itu.
"Sebelumnya, pendeta memberikan wejangan lebih dulu tentang pedoman suami istri. Dan mereka mendengarkan dengan baik. Baru setelah selesai, pendeta mengambil janji suci Chila dan Antonio lebih dulu, Antonio dan Chila pun berjanji satu sama lain. Baru setelah keduanya berjanji, kemudian berciuman sebagai tanda sudah sah jadi sepasang suami istri.
Kemudian pendeta beralih pada Elana dan Chiko, sama halnya dengan Chila dan Antonio, mereka mengambil janji suci untuk saling mencintai dan setia. Setelah selesai, sama halnya tadi Elana dan Chiko berciuman sebagai tanda mereka adalah sah suami istri. Tepuk tangan pun bergema di dalam gereja.
Sedangkan Evan, berdiri dengan sedih di belakang. Dia menangis terharu, setelah dia melihat anaknya menikah. Dia lalu pergi dengan perasaan kecewa, bahagia dan juga sedih. Entah apa yang akan di lakukan oleh Evan setelah ini. Apakah dia akan menjauh dan pergi ke rumah orang tuanya di Sumatera.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤