Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Kejadian yang Dulu


__ADS_3

Mobil sudah berjalan cukup lama. Tapi tidak ada pembicaraan yang terjadi. Bai Jun mulai bingung, sebenarnya untuk apa ia diculik?


"Kakek. Aku ingin bertanya banyak hal." Akhirnya Yve membuka suara sambil menoleh kearah Bai Jun yang duduk di sampingnya.


"Tanya apa cucuku?"


"Tentang markas Lin, pasti kakek sudah tahu kan?"


Mendengarkan pertanyaan Yve, Bai Jun sempat bingung sesaat lalu mengangguk dengan kaku. "Ya, kakek tahu. Lian mengirim pesan tadi malam."


Kenapa dia malah membahas markas Lin? Tidak bertanya tentang orang tuanya?


"Heh kakek bohong." Yve tersenyum tipis, membuat Bai Jun semakin bingung. "Malam setelah markas Lin hancur, kakek sudah mengirim bodyguard untuk melakukan sesuatu di reruntuhan markas itu kan?"


Bai Jun terkejut mendengar perkataan Yve. Ia mengutuk para bodyguardnya yang tidak becus di dalam hati. Berdasarkan laporan yang ia terima, tidak ada saksi mata saat para bodyguard mengerubuni markas itu. Tapi Yve bisa tahu. Sungguh bawahannya benar-benar tidak kompeten.


"Ah itu... Benar cucuku. Kakek memang mengutus beberapa orang ke sana."


"Tidak beberapa. Tapi puluhan orang." Levin ikut berkomentar.


Rupanya Levin yang lihat. Bai Jun mengangguk pelan.


"Haha ya, aku sudah terlalu tua untuk menghitung."


"Kenapa kakek melakukannya? Dan ingin berbohong tidak tahu apa-apa?" Yve menatap curiga pada Bai Jun.


"Kakek hanya ingin menghapus semua jejakmu disana. Supaya jika Lin dilaporkan polisi dan para polisi itu mendatangi markas, mereka tidak akan curiga padamu. Menghancurkan barang bukti itu tidak baik loh." Bai Jun tersenyum kearah Yve.


"Kenapa kakek begitu baik padaku? Aku hanya orang baru yang kebetulan lewat." Tanya Yve.


"I-itu karena..." Bai Jun gelapan. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan.


Jangan-jangan dia tidak tahu kalau aku yang membunuh orang tuanya? Lalu bagaimana aku mengatakan fakta itu? "Sebenarnya aku yang membunuh orang tuamu, dan merasa bersalah jadi membantumu." Begitu kah?


"Apa karena kakek adalah orang yang membunuh orang tuaku?"


Deg!


Suasana senyap terjadi untuk beberapa detik. Meskipun sudah menebaknya, tapi Bai Jun tetap terkejut saat Yve bertanya langsung padanya.


"Sebelumnya kakek ingin tahu, siapa yang mengatakan itu padamu?" Tanya Bai Jun.


"Aku."

__ADS_1


Bai Jun menoleh kearah Levin yang bersuara dengan tenangnya.


"Maaf tuan besar. Aku sudah mencuri data di komputermu. Aku tahu segalanya. Tentang orang tua Yve, hingga Devian yang sebenarnya adalah anak anda. Tenang saja, karena yang mengetahui ini hanya aku, Lin tidak termasuk." Jelas Levin dengan singkat.


Jadi dia juga tahu tentang Devian? Bai Jun sangat terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.


"Kakek, apakah itu benar? Kakek lah yang membunuh orang tuaku? Kenapa? Apakah mereka jahat?" Yve menatap laki-laki paruh baya di sampingnya.


Bai Jun berusaha keras menelan ludahnya dengan gugup. Tidak disangka pertanyaan ini datang juga. Meskipun sudah bersiap untuk hari ini, tapi ketakutannya tidak bisa ditahan.


"Benar. Kakek lah yang membunuh mereka. Dan... Mereka bukanlah orang jahat."


"Apa?"


Yve langsung menarik slide pada pistolnya lalu mengarahkannya ke kepala Bai Jun.


"Lalu kenapa kau membunuh orang tuaku hah?!"


"Yve tenanglah!" Dari kursi depan, Leo mencoba menghalangi tindakan Yve. "Katanya kau ingin bicara baik-baik."


"Aku sudah menduga kalau tidak akan berakhir baik." Levin hanya melihat tanpa berusaha menghalangi Yve.


"Cepat katakan! Atau aku akan membuatmu menyusul mereka." Ancam Yve sambil menekan pistolnya pada kepala orang yang sebelumnya ia panggil kakek itu.


"Biarkan saja." Devian masih fokus mengemudi. Sebenarnya ia sudah siap dengan apapun yang akan terjadi pada ayahnya. Selama itu bisa membuat sang ayah tenang dan terbebas dari rasa bersalahnya, maka ia tetap akan menerimanya.


"Baiklah, kakek akan sedikit bercerita. Tentang kejadian itu."


"Jangan berbohong!"


"Tenang saja. Kakek akan mengatakan semuanya dengan jujur."



Flashback, 18 tahun yang lalu.


Suara dentuman musik penghibur mengalun dengan volume yang sangat keras. Orang-orang terlihat bersuka cita sambil menari bersama-sama di lantai dansa. Di ujung ruangan ditemani lampu yang berkedip dengan gila, seseorang dengan angkuhnya duduk diatas meja bilyard. Dia adalah Bai Jun.


"Yo! Boss mafia kita sedang bersantai!" Sapa seseorang sambil menghampiri Bai Jun.


"Yo! Julian, si ayah dua anak ini masih sempat-sempatnya datang ke kasino milikku." Balas Bai Jun menyapa salah satu koleganya.


"Haha jiwaku masih sangat muda."

__ADS_1


"Jadi apakah si kecil Lian dan Lin sudah tidur? Mereka mungkin akan menangis saat melihat ayahnya pergi." Goda Bai Jun sambil menyebutkan nama dua anak Julian.


"Ada ibunya, mereka akan tidur nyenyak."


Bai Jun tiba-tiba sedih saat mendengarnya. Ia juga ingin seperti Julian, menghabiskan waktu setiap hari dengan keluarga sampai tidak sempat untuk menghibur diri. Sayangnya ia harus terpisah dengan sang istri yang tidak suka dengan pekerjaannya, dan memilih kabur darinya. Setiap akhir pekan, Bai Jun hanya bisa melihat anaknya semakin tumbuh besar dari kejauhan. Ironis sekali.


"Bagaimana dengan istrimu?" Tanya Julian saat melihat wajah masam Bai Jun.


"Jangan dibahas."


"Wah berarti tidak ada kabar baik." Julian duduk di samping Bai Jun.


"Lepaskan aku! Lepaskan!"


Kehebohan tiba-tiba terjadi saat Max datang sambil menyeret seorang pria yang masih meronta  berusaha melepaskan diri. Sayangnya, tenaga seorang bodyguard kepercayaan Bai Jun itu lebih besar. Dengan kasar Max melemparkan orang itu kebawah kaki bossnya.


"Lihat siapa yang datang." Bai Jun meraih rokoknya dan menyalakan itu sambil melihat si pria.


"Tu-tuan Bai Jun." Pria yang berada di bawah kaki Bai Jun itu terlihat sangat ketakutan saat memandang orang dihadapannya. Dia hanya bisa bersujud sambil berharap nyawanya tidak melayang malam ini.


"Lama tidak berjumpa, Natan." Bai Jun meniupkan asap putih kearah pria itu. "Senang sekali kalau kau masih mengingatku. Jadi kau pasti juga ingat dengan hutangmu padaku."


"Sa-saya masih tidak bisa membayarnya tuan." Natan kembali bersimpuh.


Brak!


Bai Jun memukul meja bilyard yang ia duduki hingga berlubang, membuat Natan semakin bergetar ketakutan.


"Kau bilang apa? Tidak bisa membayar?! Kau pikir aku tidak cukup baik memberikan waktu 5 tahun padamu untuk melunasinya? Bukannya membayar, kau malah berusaha kabur dariku. Jika tidak mampu, seharusnya kau tidak usah berhutang di kasino ku!" Bentak Bai Jun.


"Sa-saya akan membayarnya dengan cara lain." Ucap Natan serius.


"Cara lain? Apakah dengan menyerahkan dagangan buah murahanmu itu? Aku tidak butuh!"


"Bukan tuan. Saya akan memberikan anda seorang anak."


"Anak? Wow! Bagaimana caranya? Kau laki-laki hahaha." Julian berkomentar sambil tertawa terbahak-bahak.


"Adik saya baru saja memiliki seorang bayi. Katanya, bayi itu tidak diinginkan, jadi akan dibuang dalam waktu dekat. Saya akan menyerahkannya pada anda sebagai ganti uang saya."


"Masih bayi?" Bai Jun mengerutkan keningnya.


"Bayi perempuan, namanya Yvenia Guilietta."

__ADS_1


__ADS_2