Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Rahasia Terbesar Bai Lian


__ADS_3

Apakah ini kesialan yang selanjutnya?


Yve sudah sampai di depan cafe tempatnya tinggal. Tapi sudah lebih dari 30 menit Bai Lian bersikukuh tidak ingin turun dari motor.


"Oi! Bai Lian! Cepat lepaskan aku dan turun!" Bentak Yve.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun. Bukankah kau sendiri yang memintanya tadi? Jangan khianati aku." Ucap Bai Lian dengan mata yang masih menutup.


Oke! Dia mabuk.


Ck! Dimana Leo?! Katanya kak Devian akan menelponnya. Jangan-jangan babi satu itu sudah tidur?


"Ayolah, cepat turun! Kita sudah sampai!!!" Yve menggoncangkan motornya agar Bai Lian bisa bangun dan mendapat kesadarannya kembali. Tapi sepertinya ia gagal.


"Sampai? Di rumahku? Tidak, aku masih ingin bersamamu." Bai Lian yang mabuk malah semakin menguatkan pelukannya pada Yve.


"Kenapa ingin bersamaku? Kau bilang aku hanya bocah bodoh." Yve mencoba berkomunikasi. Siapa tahu Bai Lian akan sadar saat memikirkan jawabannya.


"Karena aku menyukaimu."


Haaaaa?! Me-menyukaiku?!


Tenang Yve. Mungkin maksudnya menyukai dalam hal lain. Menyukai sebagai saudara, atau sebagai teman mungkin?


Eh? Tapi...


Jika sebagai saudara tidak mungkin. Aku dan Bai Lian tidak saling mengenal sejak kecil. Seperti halnya aku dan Levin.


Kalau sebagai teman... Sepertinya juga tidak mungkin. Karena kita tidak berteman.


Apakah sebagai lawan jenis? Tidak! Aku pasti bukan seleranya Bai Lian. Dia sering bilang kalau aku hanya bocah bodoh.


"Yve..." Bai Lian kembali memanggil Yve dengan mata yang masih tertutup. "Bisakah kau menyukaiku juga?"


"Hem."


Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Orang yang sedang mabuk memang suka berbicara tidak karuan. Kenapa aku harus menanggapinya serius? Bodoh.


"Yve!!! Maaf terlambat. Aku ketiduran." Leo berlari mendekat dengan rambut yang masih acak-acakan.


"Aku sudah menduganya. Sekarang bantu aku melepaskan Bai Lian. Dia sudah seperti anak koala yang melekat pada induknya."


"Hahaha kenapa kau terlihat tidak senang? Tuan Bai Lian itu sangat tampan, dan dia memelukmu dengan erat. Seharusnya kau merasa ini anugrah terindah." Leo kembali menggoda Yve.


Aku tidak senang karena dia sekarang sedang mabuk dan tidak sadar dengan kelakuannya sendiri. Aku ingin dia memelukku dalam keadaan sadar.


Eh?! Apa yang kupikirkan?


Otakku mengkhianatiku!


"Sudah cepat bawa dia! Aku lelah." Yve menggerutu sambil menunjuk Bai Lian di belakangnya.


"Baiklah." Leo mulai menarik pelan bossnya yang masih tidak sadar itu.


"Tidak! Jangan pisahkan aku dari Yve!" Bai Lian mulai memberontak.

__ADS_1


"Ayo tuan, lepaskan Yve." Leo terus menarik Bai Lian, tapi kali ini dengan tenaga yang lebih ekstra.


"Tidak mau!" Bai Lian masih berusaha merangkul Yve.


"Oi! Aku ikut tertarik disini!" Pekik Yve.


"Jadi bagaimana Yve? Tuan tidak mau melepaskanmu." Leo akhirnya menghentikan kegiatannya dan mulai memikirkan cara lain.


Yve berusaha mencari jalan keluar. Ia tidak mau kalau terus bertengger diatas motor sampai besok pagi.


Hmmm... Karena dia ingin melekat padaku. Mungkin cara ini bisa berhasil.


"Bai Lian, aku ingin turun. Ayo turun bersama-sama."


Bai Lian mengangguk sambil tersenyum.


Akhirnya Yve bisa turun. Tapi Bai Lian masih terus memeluknya meskipun sudah turun dari motor.


"Leo bagaimana ini?!"


"Bukankah aku duluan yang bertanya padamu?!"


Dua orang yang sama-sama kebingungan itu mengela nafas bersama.


"Kurasa tidak masalah. Kau tidur saja dengan tuan Bai Lian malam ini. Lagipula dia hanya memelukmu."


"Coba katakan sekali lagi." Yve memperlihatkan kepalan tangannya.


"Tidak jadi hehe. Tadi aku hanya menguap. Hoaaaammm."


"Ck! Panggil siapapun untuk membantuku."


Yang mirip denganku? Kira-kira siapa? Perempuan bayaran? Aku tidak mau!


Akhirnya pangilan Leo diangkat oleh orang yang ditelponnya. "Halo Sky. Bisa bantu aku sebentar?"


Memangnya aku mirip kak Sky?!


"Oke. Kutunggu di markas rahasia kita." Leo menutup telponnya setelah mengatakan itu.


"Markas rahasia? Dimana?" Tanya Yve. Tidak mungkin hanya beberapa hari ia tidak berkomunikasi dengan para bodyguard veteran, dan mereka tiba-tiba sudah membangun markas rahasia.


"Kamarmu." Leo menunjuk Yve sambil tersenyum.


"Kenapa kamarku?! Jangan-jangan kalian sering berkumpul di kamarku saat aku tidak ada. Lalu menjadikannya markas rahasia?"


"Tebakan yang tepat." Leo bertepuk tangan.


"Aku jadi tidak punya privasi!!!"


"Tenang saja, kami tidak membuka lemarimu. Palingan cuma laci meja belajar, kotak diatas lemari pakaian, dan kolong tempat tidur. Kau tidak memiliki banyak barang, jadi apa yang bisa kami geledah?"


"Baiklah. Sebagai balasannya aku akan menggeledah organ dalammu." Yve berjalan mendekati Leo dengan aura menbunuh.


"Aaaaa."

__ADS_1


Bugh!



Bai Lian sudah tertidur nyenyak sambil merangkul sebuah guling sebagai pengganti Yve. Membutuhkan waktu lama untuk menganti sosok Yve dengan benda itu. Bai Lian sekarang berada di kamar Yve bersama beberapa orang yang melihat dirinya tidur.


"Jadi..." Yve melirik kearah para om-om di depannya. "Kenapa kak Yin Yang ada disini juga?"


"Itu karena kami ingin mengambil videomu bersama tuan Bai Lian. Lalu menjualnya pada Devian."


"Ssttt! Yang, jangan membocorkannya!!! Devian tidak akan memberi kita tip." Yin langsung panik.


"Sungguh niat terselubung yang sangat baik." Yve tersenyum.


"Bercanda kok. Kita disini karena diajak Sky."


"Aku tidak mengajak kalian kok." Sky yang sedang mengecat kuku mulai protes.


"Ssssttt! Pura-pura saja. Aku akan memberimu tip."


"Iya Yve, aku yang mengajak mereka." Sky mengangguk dengan cepat.


Mereka ini merencanakan tipuan di hadapanku. Lucu.


"Sudahlah. Aku lapar. Apa Kian membuatkanku makan malam?" Yve melirik Leo yang seharian bekerja di cafe.


"Ada di kulkas." Jawab Leo sambil mengobati dirinya yang babak belur dihajar Yve.


"Oh iya Yve, ayo gunakan kesempatan ini untuk bertanya pada tuan Bai Lian tentang rahasia terbesarnya." Usul Sky dengan antusias.


"Percuma, dia sedang mabuk. Hanya bisa bicara hal aneh."


"Benarkah? Kata orang, saat mabuk malah akan mengatakan hal yang sebenarnya ia pendam." Sky mulai berjalan mendekati Bai Lian.


Hal yang dipendam?


"Karena aku menyukaimu."


Tidak, tidak mungkin.


"Ya sudah, coba saja." Yve hanya menatap remeh.


"Ehem!" Sky mulai memikirkan pertanyaan apa yang akan ia ajukan pada bossnya. "Tuan, berapa saldo terbanyak di antara semua kartu ATM-mu?"


Alis Bai Lian berkerut kemudian menjawab. "2 Triliunan. Tapi meskipun itu hasil kerja kerasku, tetap saja aku menganggapnya sebagai uang ayah. Karena aku tidak membangun bisnis mafia dari nol."


"Widih kaya sekali!" Mata Leo tiba-tiba berubah menjadi seperti uang.


"Lihat kan? Tuan berkata jujur. Mana bisa tadi disebut aneh." Sky tersenyum penuh kemenangan kearah Yve. "Satu lagi tuan. Apa ada sebuah rahasia besar yang anda sembunyikan dari semua orang? Bahkan ayahmu?"


Dia pasti akan bilang kalau menyukai Yve hehe. Aku pintar sekali.


"Rahasia besar. Aku... Diam-diam..."


Semua orang langsung terfokus pada Bai Lian. Bahkan Yve sengaja menunggu jawaban laki-laki itu sebelum mengambil makan. Sementara Yin Yang diam-diam merekam, mereka yakin kalau bossnya akan mengatakan perasaannya pada Yve.

__ADS_1


"Aku... Diam-diam... Membangun pabrik permen karet dan merahasiakannya dari semua orang."


"APAAA?!"


__ADS_2