Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Sang Raja Ternyata Dia


__ADS_3

Yve merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur. Ia menghela nafas panjang sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan. Rasanya seluruh tubunya seperti ditusuk ribuan jarum, sakit sekali.


Gerombolan preman itu sangat menyebalkan. Meskipun Yve bisa memukul mereka, tapi ia tidak bisa menghindari serangan teman-teman preman yang berada di luar jarak pandangnya. Entah sudah berapa kali ia menerima pukulan dari tongkat kayu, serta tidak sengaja tergores beberapa pisau.


Rasanya cukup lucu kalau mengetahui itu semua demi Bai Lian, laki-laki menyebalkan dan penuh tipu daya. Sialnya Yve harus melakukan itu lagi kedepannya.


Drrtt!


Dengan malas Yve melirik benda persegi panjang di atas meja, itu adalah ponselnya. Sudah lama ia tidak menyentuh benda itu. Entah sudah berapa banyak pesan yang masuk. Yve tidak peduli. Tubuh lelahnya sekarang lebih penting dari pesan apapun yang masuk disana.


Setelah makan, aku akan tidur.


Yve mengucek matanya yang entah kenapa tiba-tiba mengantuk. Mungkin tidur memang cara yang paling ampuh untuk mengistirahatkan badan.


Drrtt!


Ponsel Yve kembali bergetar. Pemiliknya menatap dengan tajam seolah bertemu dengan musuh. Musuh tidur santainya.


Karena tidak ingin menjadi beban pikiran saat tidur, Yve akhirnya mengambil ponselnya. Deretan pesan yang masuk itu semuanya berasal dari Soni. Dan pesan barunya tertulis.


[Yve, sang raja menantangmu untuk bertanding.]


Yve terperanjat kaget. Pasalnya, melawan sang raja adalah impian Yve sejak menginjakkan kaki ke dunia balap liar. Ia begitu ingin mengalahkannya. Raja jalanan, Nord.


Tok! tok!


Tina masuk setelah mengetuk pintu dengan lembut. Sosoknya yang tidak terlalu tinggi, menambah kesan manis yang alami.


"Makanlah yang banyak. Lalu, lanjut istirahat." ucap Tina sambil menaruh nampan berisi nasi goreng dan segelas air minum.


Tina memang begitu perhatian. Meskipun Yve sering membuatnya marah, tapi jika melihat adiknya itu pulang dengan keadaan sakit, Tina pasti akan merawatnya dengan sepenuh hati.


"Terimakasih kak." Yve menaruh ponselnya dan tersenyum kearah Tina.


"Sama-sama." Tina mengangguk. "Aku akan kembali ke bawah. Sudah hampir sore, pelanggan mulai banyak."


Setelah mengatakan itu kakaknya keluar kamar.


Yve mencoba mencicipi nasi goreng yang sudah ia duga rasanya. Ternyata lebih asin dari sebelumnya.


Drrtt!


Sebuah pesan kembali masuk. Yve segera membukanya.


[Raja meminta malam ini di jalan raya tempat biasanya kita balapan. Bagaimana menurutmu?]


Yve tersenyum. Ternyata raja begitu tidak sabar melawannya, sang pangeran bisu.


[Persiapkan motormu, aku akan datang.]

__ADS_1


Yve menaruh kembali ponselnya setelah selesai mengirim balasan pada Soni.


Balapan selalu diadakan malam hari. Yve memiliki cukup waktu untuk tidur.


Raja, pangeran ini akan mengalahkanmu. Yve tersenyum sinis.


sshh! Ini masih sakit. Bibirnya yang luka tidak bisa diajak tersenyum sinis.



Pukul 10.30 pm.


Yve selesai berganti baju dan menatap dirinya didepan cermin. Wajah babak belurnya masih terlihat dengan jelas.


Aku jadi lebih tampan, Yve tersenyum puas.


Yve turun ke lantai bawah, kemudian keluar melalui pintu belakang. Ternyata disana sudah ada Soni yang bertengger diatas motornya.


"Astaga apa yang terjadi dengan wajah cantikmu?" pekik Soni sambil menunjuk lebam di wajah Yve.


"Dicakar kucing." Yve segera naik keatas motor, dan Soni berpindah ke bagian belakang.


Mereka akhirnya berangkat tanpa ada pembicaraan basa-basi lainnya.


Sesampainya di tempat perjanjian, Yve terkejut dengan banyaknya orang yang menonton. Setidaknya ini dua kali lipat dari jumlah penonton Yve yang biasanya. Pesona sang raja Nord, memang sangat hebat.


"Pangeran! pangeran datang!" seru orang-orang yang melihat kedatangan Yve.


"Pangeran! pangeran!!!"


Teriakan orang-orang semakin menggema menyerukan gelarnya. Tentu saja Yve tidak akan sesombong itu, ia melepas helmnya, dan teriakan semakin nyaring terdengar.


"Astaga pangeran memiliki luka lebam di wajahnya."


"Entah kenapa terlihat semakin keren."


"Benar-benar badboy."


Bodboy? bagus juga.


Yve tersenyum kemudian mengambil rokok di saku celananya. Ia menyalakan sebatang rokok sambil terus berada di atas motor.


"Raja belum datang." Soni turun dari motor sambil melihat sekeliling.


Kudengar beberapa waktu yang lalu, sang raja tidak menerima tantangan dari siapapun. Dia sempat vakum dari dunia balap. Tapi kenapa dia tiba-tiba menantang pangeran ini?


Yve mengehembuskan asap rokok dari mulutnya. Menunggu memang sangat membosankan.


"Pangeran, kau terlihat lelah. Biarkan aku memijat tanganmu." seorang perempuan dengan baju setipis tisu langsung memengang tangan Yve. Ia tersenyum bak dewi, tapi itu terlihat menjijikkan dimata Yve.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? menjauh dari-" Soni menghentikan kata-katanya saat melihat tangan Yve yang terangkat keatas. Itu artinya ia harus memperbolehkan perempuan itu menyentuh Yve.


"Kyaaa pangeran memperbolehkan aku memijatnya." seru perempuan itu kegirangan.


"Pangeran, aku juga ingin memijatmu." perempuan lain datang dan memegang tangan Yve satunya.


Biarlah, aku memang kelelahan sekarang. Yve tersenyum. Ternyata enak juga menjadi terkenal, apalagi dikalangan perempuan seperti ini. Mereka mungkin sudah terbiasa memijat laki-laki yang menyewa diri mereka, jadi pijatannya sangat enak. Seandainya Yve bisa menikmati ini lebih lama.


Brum!


Rombongan pemotor tiba. Oh sial! dia benar-benar sang raja. Bahkan datang secara rombongan. Apa dia bos gank atau semacamnya?


Yve menatap sebuah motor yang berada ditengah rombongan. Helmnya bergambar mahkota dengan warna dominan emas. Motornya juga tidak main-main, itu adalah motor sport keluaran terbaru, dengan beberapa modifikasi berbentuk mahkota. Itulah sang raja.


Sangat mencolok. Tapi itu tidak ada gunanya kalau dia kalah.


Rombongan itu akhirnya berhenti didekat Yve. Orang yang diduga adalah sang raja turun dari motornya. Kilatan bros berbentuk mahkota yang melekat di jaket kulitnya terlihat sangat menyilaukan.


Keunikan dari sang raja Nord adalah, dia tidak pernah membuka helmnya. Jadi tidak ada yang tahu wajahnya yang sebenarnya. Semua ekspresinya hanya dapat dilihat dari kedua matanya.


Yve menatap kedua mata sang raja jalanan yang sudah berada dihadapannya. Tapi... tiba-tiba Yve merasakan sesuatu yang sangat familiar. Situasi ini sangat tidak asing baginya. Apa-apaan ini?


Mata coklat tajam itu...


"Pangeran, senang bertemu denganmu."


Suara itu kan...


"Kalau aku menang. Kau harus mematuhi semua perkataanku, bagaimana?" dari sorot matanya, jelas sekali kalau Nord sedang tersenyum dibalik helmnya.


Yve sengaja menghembuskan asap rokoknya ke helm sang raja. Kemudian ia mengacungkan jari tengahnya sambil tersenyum.


"Waaaa pangeran keren!"


"Berani sekali dia memprovokasi raja."


"Astaga, aku semakin tidak sabar melihat mereka bertanding."


Orang-orang seketika heboh melihat tingkah Yve. Pangeran sedang menantang sang raja!


Astaga Yve, kenapa kau begitu berani? dia adalah sang raja, bagaimana kalau kita dikeroyok bawahannya sampai mati karena tingkahmu ini?


Soni hanya bisa memegang kepalanya sambil berharap ia masih bisa melihat dunia besok.


Pertandingan hampir dimulai. Orang-orang menyingkir dengan sendirinya ke tepi jalan.


"Semoga kau menang." sang raja terlihat percaya diri sambil menatap remeh Yve.


Kita lihat saja siapa yang menang, Levin.

__ADS_1


__ADS_2