Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Bibit-bibit Mafia


__ADS_3

"Menyebalkan!" Yve kembali duduk di gazebo. Rasa kesal masih menyelimutinya, karena Devian yang menipunya dan malah memotretnya bersama Bai Lian. Benar-benar sudah bosan hidup.


"Adikku, kau sudah kembali. Cobalah kopi yang dibuat South ini. Enak sekali." Ucap Beng sambil menyodorkan cangkir kopi kearah Yve.


"Tumben sekali dia membuat kopi." Yve menerima cangkir pemberian Beng, lalu meminumnya tanpa curiga.


Puuuhhh!!!


Yve langsung menyemburkan kopi di mulutnya kearah Beng.


"Kopi apa ini?! Astaga, rasanya seperti air cucian piring."


"Tapi kau tidak harus menyemburkannya padaku." Beng mengelap wajahnya yang basah.


"Rasakan! Siapa suruh membohongiku? Ini! Minum sendiri sampai habis." Yve dengan kesal mengembalikan cangkir kopi pada Beng.


"Ya ampun, kalian jahat sekali." South datang dari arah dapur. Sepertinya baru selesai membuat kopi beracun lainnya.


"South, kopi buatanmu bisa membuat orang bertemu dewa kematian." Ucap Beng sambil tersenyum ramah.


"Benarkah? Bukankah itu hebat?" South ikut tersenyum.


"Dasar bodoh! Gara-gara kopimu aku hampir mati, dan gara-gara kopimu juga, Yve menyemburku seolah-olah aku kesurupan." Beng langsung berganti ekspresi dan menjitak kepala South.


"Lagipula kenapa menyuruh South membuat kopi? Bukankah kak Beng biasanya membuat sendiri?" Ucap Yve sambil menerima botol air mineral yang dibawakan North. Ia harus menghilangkan racun kopi dari mulutnya.


"Si kembar ini kalah main kartu denganku kemarin. Sebagai hukumannya, mereka akan menjadi pembantuku dalam satu hari."


"Kalah main kartu? Lemah sekali. Ayo main lagi. Akan kukalahkan kalian semua."


"Hoho adikku, kau terlalu sombong. Lihatlah kakak Beng ini mengalahkanmu." Beng menepuk dadanya dengan bangga.



Bai Jun tersenyum sambil melihat pemandangan di bawah balkon tempatnya bersantai. Dari sana ia bisa melihat Yve tertawa sambil menikmati kipasan tangan dari si kembar di sisinya, ditambah Beng dengan patuh menyuapinya buah anggur seperti pelayan.


Tadi sempat terjadi pertandingan kartu yang sangat seru. Bai Jun menjadi penonton diam-diam. Dan ia berhasil menyaksikan kemenangan mutlak yang Yve lakukan. Beng bahkan membutuhkan waktu selama 10 menit untuk meratapi kekalahannya.


Seandainya dulu aku bisa menemukan bayi Yve, dia pasti sudah menjadi Queen Mafia yang hebat. Bahkan bibit mafia-nya sudah muncul sejak dini.


"Ayah, aku akan pergi menemui paman Oliver." Bai Lian berjalan mendekati sang ayah sambil membenahi jas merahnya.


"Oh? Apa kamu akan mengajak Yve?"


"Hm? Yve?"


"Maksudnya bodyguard inti."


"Tidak. Rumah paman sangat dekat. Aku akan berjalan kaki saja. Lagipula hanya berjarak dua rumah dari sini kenapa harus bawa bodyguard inti?"


"Baiklah, hati-hati. Kalau keluarga kedua membuat masalah, tembak saja sampai mati." Bai Jun terkekeh diakhir kalimatnya. Kemudian kembali melihat kearah gazebo dibawah.


"Aku tahu."


"Jangan khawatir tuan, saya akan bersama dengan tuan muda." Max membungkuk di sisi Bai Lian.


"Aku percaya padamu, Max."


"Ayah sedang melihat apa?" Tanya Bai Lian bingung karena melihat ayahnya tersenyum sendiri.


"Tidak ada apa-apa. Hanya membayangkan penerus keluarga Bai."





Episode tambahan


Flashback 13 tahun yang lalu


__ADS_1


"Lapor tuan Max, di panti asuhan Lotus putih tidak ada anak bernama Yve."


Seorang laki-laki di dalam mobil menghela nafas dengan lelah. Selama 5 tahun, ia mencari anak perempuan dari Charlie dan Geiya. Tapi tidak ketemu. Entah itu di panti asuhan atau rumah-rumah kecil, tidak ada yang menemukan bayi dengan tulisan Yvenia Guilietta. Sementara itu, tuannya tidak peduli dan terus menyuruhnya untuk mencari.


"Baiklah, kita pergi ke panti asuhan selanjutnya." Ucap Max dan memerintahkan supir untuk pergi.


Dimana bayi yang dulu? Pembantu itu membawa si bayi kemana? Argh! Membuatku pusing saja.


Max mengacak-acak rambutnya dan melihat keluar jendela mobil.


"Daftar panti asuhan terakhir di wilayah ini adalah, panti asuhan ceria bersama." Ucap salah satu bodyguard bawahan Max.


"Terserahlah. Kita harus segera pergi ke sana dan bertanya." Max hanya menanggapi dengan lesu.


Sesampainya di panti asuhan yang dituju. Max dan rombongan bodyguard bawahannya langsung menuju ke ruangan ketua pemilik panti asuhan.


"Silahkan masuk tuan-tuan."


Rombongan Max langsung disapa dengan hangat oleh para ibu asuh penjaga panti. Tapi Max sedikit tidak suka dengan mereka. Setelah melihat jas rapi yang mewah, mereka tersenyum ramah dan berbicara lembut. Sepertinya mereka pecinta uang.


"Apa ada yang bisa saya bantu untuk tuan-tuan?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang duduk di balik meja besarnya. Dia adalah pemilik panti asuhan.


"Saya ingin mencari seorang anak perempuan. Umurnya sekitar 5 tahun."


Perkataan Max langsung dijawab oleh senyuman lebar wanita di depannya. "Disini banyak anak perempuan usia 5 tahun yang pintar dan penurut." Si pemilik langsung melirik asistennya. "Kau, katakan nama anak-anak itu." Perintahnya dengan nada keras.


"Ada Gabby, Dhita, Leni, Raphia, dan-"


"Maaf, anak yang saya cari memiliki nama. Dan saya ingin memastikan apakah dia berada disini?"


"Oh cari anak hilang rupanya. Katakan, siapa namanya tuan?"


"Namanya Y-"


Brak!


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar. "Ketua! Anak nakal itu belum kembali dari sekolah. Dan dia memukuli teman sekamarnya tadi pagi." Seorang ibu asuh bicara dengan tergesa-gesa.


Max hanya menyimak keributan di hadapannya.


Tidak kusangka di panti asuhan ini ada anak yang nakal seperti itu.


"Maaf mengganggu tuan-tuan. Tadi pembicaraan kita sampai dimana?"


Setelah lebih dari 15 menit mengobrol, akhirnya rombongan Max keluar dari ruangan.


"Dasar mata duitan. Kita belum mengatakan siapa nama anaknya, dia sudah meminta uang untuk mencari anak itu."


"Sstt! Jaga bicaramu." Max segera memperingati bawahannya.


Duak!!


Tidak sengaja Max menabrak seorang anak laki-laki saat berbelok di lorong.


"Maaf." Max segera memunguti buku si anak yang jatuh dari tangannya.


Eh? Bukunya... Tidak biasa. Apa-apaan ini? Buku kimia dan Biologi?


Max membaca judul buku dengan bingung.


"Terimakasih paman." Anak laki-laki itu segera mengambil bukunya kembali dan berjalan melewati Max.


"Wow sangat tidak biasa. Tuan Max, anak tadi namanya Levin, ada name tag di bajunya."


"Aku tahu, tadi di bukunya juga ada." Max kembali menoleh kearah Levin yang masih berjalan dengan langkah kecilnya.


"Bukankah tuan sedang mencari anak untuk teman tuan muda kedua Lin? Bagaimana kalau dia saja?"


"Kebetulan, aku juga berpikir begitu." Max tersenyum dan mengangguk. "Ayo kita pergi dan melapor."


"Baik."


"Anak itu pasti akan mencuri roti lagi."

__ADS_1


Max kembali menoleh kearah Levin yang bicara sendiri sambil berjalan.


Anak itu?


Pada akhirnya, Yve kecil tidak pernah ditemukan.



2 tahun yang lalu.


Uhuk! Uhuk!


Max keluar dari mobilnya sambil batuk-batuk. Entah kenapa mobil yang ia pakai tiba-tiba mogok dan mengeluarkan asap yang banyak.


"Sial! Apa tidak ada bengkel di sekitar sini?" Max menoleh ke segala arah. Tapi hanya ada gedung-gedung pertokoan dan apartemen. Tidak terlihat tanda-tanda adanya bengkel.


"Ck! Aku sudah terlalu tua untuk mendorong mobil sendirian, dan... Aku lapar." Max memegang perutnya yang terus menggerutu. Sungguh sial, dia pergi seorang diri dan mobilnya mogok, ditambah perut keroncongan.


"Cari makan dulu, setelah itu baru telpon bawahan untuk kemari." Max akhirnya berjalan untuk mencari tempat makan.


Tidak membutuhkan waktu lama, Max menemukan sebuah cafe yang menarik perhatiannya. Karena dituntut oleh cacing di perutnya, Max tanpa basa basi langsung masuk dan memilih tempat duduk.


"Mau pesan apa?" Seorang gadis menghampiri Max dengan wajah datar. Dia menyodorkan menu dengan tidak ramah.


Masih muda sudah menjadi pelayan, pantas saja tidak becus. Tidak tahu cara menghormati pelanggan.


Max diam-diam melirik si gadis pelayan.


Masih SMP mungkin. Tapi badannya tinggi sekali.


"Melirikku lagi, akan kuhajar kau." Ucap gadis itu sambil mengepalkan tangannya di depan Max.


"Menghajarku? Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu? Apakah orang yang mengajarimu tidak mengatakan untuk berhati-hati pada orang asing?"


"Orang yang mengajariku bilang, untuk berhati-hati pada iblis dengan mata liar sepertimu."


"Aku hanya menebak umurmu. Bukan melihat kemana-mana. Lagipula apa yang bisa dilihat dari anak sepertimu?"


Grep!


Gadis yang sudah emosi itu langsung mencengkram jas Max dan menariknya.


"Berengsek! Ayo keluar dan bertarung!"


Max tersenyum sambil mengangkat bahunya. "Sudah kubilang kalau-"


"Yve!!! Jangan bertengkar dengan pelanggan lagi."


Deg!


Apa? Yve? Jangan-jangan...


"Tapi kak Tina, orang ini sangat menyebalkan!"


"Tunggu... Si-siapa namamu?" Tanya Max sambil melotot tak percaya.


"Yvenia Guilietta, ingat itu dasar bodoh!"


Ketemu... Akhirnya ketemu!!!


"Aaaaa tuaaannn." Max berlari keluar cafe sambil berteriak.


"Jeh! Dia pasti takut padaku." Yve melipat tangannya dengan bangga.


"Takut apanya?! Kita kehilangan pelanggan pertama pagi ini." Gerutu Tina.


Setelah itu, Max menjadi mata-mata Bai Jun untuk mengawasi Yve. Terkadang dia harus menyamar agar gadis itu tidak curiga. Dan tada! Ia juga mendapatkan kartu pelanggan tetap untuk mendapatkan diskon.



Flashback tambahan selesai


__ADS_1


__ADS_2