Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Waspada Padanya


__ADS_3

Yve sudah sampai di rumah Bai Lian. Dan seperti biasa, ia segera menuju gazebo.


Setelah berada tak jauh dari gazebo, Yve melihat teman-temannya saling mengobrol dengan ekspresi serius. Alis mereka berkerut, seolah tidak menemukan jalan keluar dari suatu masalah. Entah apa yang mereka bicarakan sampai seperti itu.


"Pagi." sapa Yve sambil melangkahkan kaki mendekati teman-temannya.


Saat melihat Yve, tiba-tiba ekspresi semua orang berubah. Seakan mereka sedang menyembunyikan pembicaraan serius yang sempat mengubah mimik wajah mereka tadi.


"Pagi juga." balas Beng yang dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada kopi hitam ditangannya.


"Sedang membicarakan apa?" tanya Yve sambil duduk disisi Beng.


"Kak Beng tadi pagi salah mengira pasta gigi sebagai mayones, dan memakan roti dengan itu." South menunjukkan ekspresi jahilnya.


"Hah?! kapan aku melakukannya?!" Beng yang tiba-tiba dijadikan kambing hitam merasa tidak terima.


"Ayolah katakan saja padaku ada apa? lihat kak Beng hampir meledak karena emosi." Yve menunjuk Beng yang wajahnya sudah berubah merah.


Suara helaan nafas Devian menjadi pembuka dan disusul oleh suara beratnya. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu terlebih dahulu." Devian menatap Yve dengan tatapan matanya yang tajam. "Tadi malam kau kemana?"


Yve tersentak. Devian bertanya seolah dia tahu kalau Yve berkeliaran tadi malam. Kalau memang sudah tahu, maka tidak ada yang bisa ia tutupi lagi. "Aku pergi balapan." Yve menopang dagunya dengan santai.


"Energimu banyak sekali. Pagi menghajar orang, malam balapan liar." South menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Aku ditantang, bagaimana mungkin menolak?"


"Dan orang yang menantangmu adalah Levin, benar kan?"


Yve melotot mendengar perkataan Devian. Orang yang memberi julukan bodyguard 100 mata pada Devian sangat genius. Yve ingin bersimpuh dihadapannya.


"Bagaimana kak Devian tahu?" Yve mengangkat alisnya dengan penasaran.


Karena aku berniat mencari penampakan dan tidak sengaja melihatmu. Tidak mungkin aku berkata begitu! imej senior yang penuh wibawaku akan hancur. Devian hanya berdeham menjawab pertanyaan Yve.


"Adikku, kau kalah kan?" Beng melirik dengan khawatir.


"Sialnya begitu." Yve mengangguk. "Ini kekalahan pertamaku." sambungnya dengan ekspresi kesal.


"Apa yang Levin minta jika seandainya dia menang? bukankah sistem perlombaan liar seperti itu?" North bertanya dengan wajah datar seperti biasa.

__ADS_1


"Dia memintaku untuk mematuhi semua perkataannya. Lalu memberiku kunci apartemen."


"Kunci apartemen?!" Beng berteriak kaget.


"Otaknya sungguh kotor." South menutup mulutnya.


"Lalu apa yang kau lakukan setelah itu?" Beng semakin antusias bertanya.


"Aku memotong kunci apartemennya menjadi dua bagian, lalu melemparkan itu kembali padanya." jawab Yve santai.


"Ditolak mentah-mentah." South kembali menutup mulutnya.


"Maksud sebenarnya pasti bukan itu." Devian mengusap dagunya sambil berpikir.


"Memangnya ada apa? tiba-tiba membicarakan ini." Yve menatap semua orang dengan bingung.


Terdapat jeda yang sangat tidak enak sebentar, kemudian Beng membuka suara. "Levin akan menjadi salah satu bodyguard inti."


"Apa?! bukankah dia aneh? kenapa menjadi salah satu bagian dari kita?" pekik Yve.


"Ini keinginan tuan besar." kata South lemah.


"Jadi aku ingin mengatakan sesuatu sebelum Levin berdiri diantara kita." Devian membenahi posisi kacamatanya. "Apapun yang dikatakan Levin kelak, jangan mempercayainya. Kita juga tidak boleh mengatakan rahasia yang dimiliki tuan Bai Lian padanya. Selama ada Levin, kita harus memasang tembok keamanan."


"Baik." semua orang mengangguk dengan kompak.


"Apakah Bai Lian tidak curiga dengan si Levin ini?" Yve merebut kopi Beng dan menyeruputnya, sementara si pemilik kopi tampak tidak rela.


"Tuan Bai Lian sudah mengutus bodyguard lain untuk memata-matai Levin. Kita hanya harus fokus pada pekerjaan masing-masing." Devian menjawab.


Sebenarnya tugas bodyguard seperti apa sih? kenapa segala sesuatu di rumah ini dilakukan oleh bodyguard?


Yve menggelengkan kepalanya dengan heran.


"Yve."


Meskipun yang dipanggil adalah nama Yve, tapi semua orang di gazebo menoleh kepada si pemanggil. Dia adalah Levin yang baru saja tiba.


Levin berjalan mendekat dengan senyum ramah. Ia seperti bayi tanpa dosa yang tersenyum dan hendak meraih orang tuanya. Tapi bayi itu... bukan bayi manusia. Dia licik seperti iblis.

__ADS_1


"Yve, tuan besar memanggilmu." Levin memperlebar senyumannya ketika sudah berada disisi Yve.


Sikapnya tidak seperti kemarin malam. Pasti dia pura-pura baik disini. Tapi sayang sekali, kak Devian dan yang lain sudah tahu. Yve melirik Levin dengan tatapan tidak suka.


"Dimana kakek?"


"Ada di halaman samping, dekat kolam ikan koi." meskipun terkejut karena Yve memanggil tuan besarnya dengan sebutan yang terkesan akrab, tapi Levin tetap mempertahankan senyumannya.


Yve pergi dengan cepat. Ia sangat tidak suka berlama-lama di dekat Levin. Aura laki-laki berambut jerami itu sangat tidak mengenakkan. Membuat perasaan kesal Yve yang kalah balapan tadi malam kembali terulang. Sial!


"Sebelah sini." Bai Jun melambai kearah Yve yang sudah mulai terlihat di kejauhan.


"Kakek memanggilku?" tanya Yve setelah berdiri di dekat Bai Jun.


"Ya. Kudengar kamu cidera karena kemarin menyelamatkan Bernard." seperti biasa, kakek ini tahu banyak.


"Itu tidak seberapa, kakek." Yve tersenyum dengan bangga.


"Aku ingin memberikan hadiah untukmu karena sudah berjuang keras kemarin."


Yve segera menggeleng. "Itu memang tugasku kek."


"Tidak apa-apa. Anggap saja melunasi hutang Lian juga."


Hutang Bai Lian padaku adalah motor sport keluar terbaru, dan dua krat bir. Apakah akan dikabulkan?


Yve tersenyum penuh harap, tapi mulutnya kembali mengeluarkan kata-kata penuh pencitraan. "Rasanya tidak enak menerima hadiah seperti itu."


"Tidak apa-apa." Bai Jun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu. "Datanglah ketempat ini." Yve sekilas melihat tulisan 'showroom motor' di kartu itu. "Pilih motor mana yang kamu mau disana, lalu sebut namaku pada managernya. Dia akan memberikannya padamu."


Ini adalah kata-kata terindah yang pernah Yve dengar sejauh ini. Ia bisa mendapatkan motor baru, dan yang lebih penting, ia bisa memilihnya sendiri. Apakah ini mimpi?


"Kakek serius?" Yve kembali bertanya dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja." Bai Jun terkekeh sebentar kemudian melanjutkan kata-katanya. "Dua krat bir juga akan kusiapkan nanti. Bersenang-senanglah." Bai Jun mengusap kepala Yve. Tangannya yang besar dan penuh kehangatan itu terasa sangat nyaman bagi Yve.


"Terimakasih kek." Yve tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, dan tanpa sadar melompat kegirangan. Membuat Bai Jun ikut tertawa melihatnya.


Seseorang menatap kejadian itu dari lantai 2 rumah megah di sampingnya. Dia adalah Bai Lian. Laki-laki yang terkenal angkuh itu tersenyum melihat tingkah Yve. Ternyata keberadaan anak kecil disini bisa merubah suasana menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2