Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Menemukan Ide Menarik


__ADS_3

"Jadi, aku berada dibelakang mobil tuan Bai Lian?" Levin bertanya dengan ekspresi yang pura-pura polos.


"Ya." jawab Beng tak memandang Levin.


"Tapi aku bodyguard inti juga. Bukankah seharusnya-"


"Levin." Devian memotong kata-kata Levin. "Disini Beng adalah kepala bodyguard, dia lebih tahu soal kemampuan kalian. Jika dia sudah bicara begitu, aku yang bertugas menyusun rencana pun, tidak bisa membantah."


Yve tersenyum sinis. Kasihan sekali Levin. Dia begitu dibenci disini. Semua bodyguard inti sudah tahu kalau dia suruhan Lin, jadi dia tidak bisa melakukan apapun.


"Baiklah." sahut Levin dengan nada merendah.


Yve memilih tidak ikut campur. Ia yang sudah siap dari awal bisa menikmati waktu santai sembari menunggu teman-temannya.


"Minta lagi" saat ingin mengambil kripik kentang dari South lagi, Yve baru sadar kalau tangannya berubah menjadi ungu. "Hm?"


"Kenapa? baru sadar kalau bumbunya berwarna ungu ya?" South mengangkat bungkus kripik ketangnya. "Lihat! ini rasa taro."


Pantas bubuknya berwarna ungu. Yve menatap jemarinya yang keunguan.


"Sudah kubilang itu aneh. Kripik kentang kok rasa taro." North masih protes, dan kukuh dengan opininya yang mengatakan kripik itu aneh.


South yang memiliki teman satu pemikiran, merasa tidak terima. "Itu enak tahu! kau tidak dengar kata Yve tadi hah?!"


"Aku dengar. Tapi mungkin Yve mengatakannya karena tidak enak hati denganmu." balas North.


"Tapi dia mengambilnya terus."


"Mungkin lapar, jadi terpaksa makan itu."


Di tengah perdebatan antar saudara kembar itu, Yve terus melihat bubuk ungu ditangannya.

__ADS_1


Sepertinya aku baru saja mendapatkan ide yang menarik!


"South, dimana kau membelinya? aku ingin satu." pinta Yve.


"Tuh! apa kubilang. Yve suka dengan kripik kentang ini." South menyempatkan diri membalas North yang menentang ucapannya tadi. Sementara kakak beda 10 menitnya itu, hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya.


"Kalau kau mau, aku masih ada satu bungkus. Akan kuambilkan untuk dimakan di jalan." South mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum kearah Yve.


"Terimakasih ya." Yve mengangguk.


Untunglah pembicaraan Yve dan South tidak menarik perhatian siapapun. Levin sudah pergi sejak diusir secara halus oleh Beng dan Devian. Sementara dua senior itu masih bersiap dengan barang mereka masing-masing.


Tidak akan ada yang mencurigaiku kali ini. Yve tersenyum.



Bai Lian melihat pemandangan dibawah jendelanya. Ia memang kadang mengintip kegiatan mereka dari sani.


Mata Bai Lian tertuju pada seorang gadis yang memakai jas bak laki-laki. Dia terlihat sedang asik mengobrol dengan bodyguardnya yang kembar identik.


Entah apa yang ada dipikiran gadis itu. Karena setiap tindakannya terasa seperti tidak memiliki beban. Kadang dia tersenyum, marah dengan imut, dan berekspresi sedingin es. Melihatnya yang seperti itu benar-benar tidak menyangka kalau dia menyimpan segudang masalah.


Seperti sekarang ini, dia tengah asik membahas hal aneh dengan cemilan ditangannya. Tapi mungkin saja sesuatu sedang terjadi.


Aku akan pergi. Dan Lin bukanlah orang yang bisa tenang melihat kesempatan ini. Dia pasti sudah memberikan beberapa perintah terselubung pada Yve. Tapi kira-kira apa?


Bai Lian menutup kembali korden jendelanya. Ia mengusap kasar wajahnya sambil meratapi nasibnya. Kalau saja ia bukan boss mafia, mungkin tidak banyak orang yang kerepotan atau mengorbankan nyawa untuknya. Dan kalau saja ia sedikit lebih kuat, pasti... gadis  seperti Yve tidak akan menanggung begitu banyak beban.


Bai Lian meremas tangannya dengan kuat. Ia menampik sendiri pemikirannya baru saja. Semua ini tidak akan terjadi kalau adik tercintanya Lin tidak mengusiknya.


Benar... aku sudah terlalu lama diam. Aku akan membalasmu, Lin.

__ADS_1



Seperti sebelumnya, Yve dan South sudah berada di depan ruang kerja Bai Lian, dan Devian masuk untuk memberitahu kalau semuanya sudah siap.


Yve menunduk menatap kedua kakinya. Ia sedang memikirkan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencanya.


"Yve, ada apa?" tanya South yang melihat ekspresi Yve seperti orang kebingungan.


"Tidak ada apa-apa." gadis itu menggeleng sambil tersenyum.


"Apa kau tidak sabar ingin makan kripik kentangnya? tenang saja, kau bisa memakannya di dalam mobil. Aku yakin tuan Bai Lian tidak akan mempermasalahkannya. Karena kau kan masih kecil."


"South..." Yve menggulung lengan jasnya dengan ekspresi marah. "Bilang aku anak kecil lagi, kau akan kuberikan pilihan tangan mana yang akan kupatahkan."


"Seram!" South bersumpah kalau tidak akan melakukannya lagi. Bisa-bisa iblis tiran yang tertidur di dalam diri Yve bangkit dan membunuhnya.


"Ya ampun, apa yang kalian lakukan?"


Yve dan South sama-sama terkejut melihat Bai Lian sudah berdiri dibelakang mereka.


"Biasa tuan. Dua anak kecil ini memang suka bertengkar." Devian menjelaskan.


"Aku bukan anak kecil!!!" teriak Yve dan South bersamaan.


"Sudahlah, ayo." ucap Bai Lian sambil melenggang pergi. Yve dan South langsung mengikutinya.


Tiga mobil sudah berjajar dengan rapi di depan rumah. Bai Lian memasuki mobil yang berada di tengah, dan bodyguardnya mengikuti dengan profesional.


Setelah memastikan semuanya masuk. Mobil pertama pun berangkat, dan mobil kedua yang berisi Bai Lian mengikuti.


Baiklah... keluar dari area rumah ini, berarti artinya sudah siap bertempur. Apapun rencanamu, aku akan meladeninya, dan ikut bermain. Lin bodoh.

__ADS_1


__ADS_2