Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Ke-te-mu


__ADS_3

"Levin! Bisakah kau ke tempat Yve sekarang? Aku sudah mencoba bicara padanya tapi tidak ada respon!" Suara Devian terdengar panik diujung earphone.


"Tidak bisa, cctv 19 itu terletak di samping ruangan Lin. Akan terlambat jika aku kesana sekarang."


"Meskipun terlambat kau tetap harus kesana! Minimal bantu Yve. Meskipun sedikit bodoh, tapi Lin hebat dalam perkelahian, Beng saja kewalahan menghadapinya. Yve tidak akan bisa menang." Bentak Devian.


Levin merogoh saku celananya lalu mengeluarkan flashdisk dari sana. Itu berisi virus hasil ciptaan Yve yang diberikan sebelum berangkat tadi.


"Levin! Kau dengar aku tidak?! Pergi ke tempat Yve sekarang!"


Levin mencengkram flashdisk ditangannya, lalu menatap pintu ruangan cctv.


"Devian, aku memiliki ide lain yang lebih bagus."


"Apa? Disaat seperti ini? Hentikan itu! Cepat bantu Yve!"


"Jika aku ke tempat Yve sekarang, hasilnya akan sama saja. Tidak akan ada akhir dari semua ini." Levin kembali melirik cctv ke 19 itu. Disana mulai nampak jelas Lin yang sedang berjalan.


"Apa maksudmu? Aku tidak paham!"


Levin masih terdiam, perlahan menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan frustasi.


Seandainya... Ada satu orang lagi disini, rencana dadakanku akan sempurna. Levin terlihat sedikit kecewa


Cklek!


Seorang preman tiba-tiba masuk ruangan cctv, lalu seketika berubah ketakutan saat melihat Levin disana.


"Waduh! Ampun pak mas om." Preman itu kembali bersujud, seperti saat ia meminta ampunan pada perempuan menyeramkan sebelumnya.


Ya. Dia adalah preman ketakutan yang dibiarkan hidup oleh Yve sebelumnya.


"Aku akan menyebutmu dewa, dan bersujud di kakimu selama tiga hari. Tolong biarkan aku hidup." Preman itu bersujud berulang kali didepan Levin.


"Ck! Sampah lainnya." Levin mengambil pisau lipat yang ia temukan di mayat penjaga cctv sebelumnya. Lalu bersiap membunuh mangsa lemah dihadapannya ini.


"Tidak! Jangan bunuh aku! Kenapa hatimu jahat sekali! Kakak manis tadi saja membebaskanku!"


"Kakak manis?"


"Ya! Kakak manis yang hebat, memakai baju kuno."

__ADS_1


Apa itu Yve?


"Dia membiarkanmu hidup? Kenapa bisa?"


"Karena sebenarnya aku bukan pembunuh. Jadi begini, aku diadopsi oleh pamanku-"


"Oke cukup, aku tidak ingin mendengar curhatanmu."


Jika dilihat-lihat, memang tidak terkesan jahat. Kebetulan sekali, ada satu orang yang bisa kugunakan disini.


Levin mengusap dagunya sambil berpikir.


"Siapa namamu?" Tanya Levin.


"Zakian. Saat ibuku masih hidup, dia sering mamanggilku Kian."


"Berhentilah membahas kehidupanmu. Zakian dan terimakasih."


"Itu sekian!"



Tap! Tap! Tap!


Siapa itu? Levin? Atau preman penakut tadi?


Suara langkah itu sempat berhenti dan kemudian terdengar lagi. Lalu langkahnya menjadi tidak beraturan, seolah sedang berjalan sambil sesekali melihat sekeliling.


Tidak mungkin itu Lin kan? Dia pasti sudah naik pesawat.


Yve tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu lebih lanjut. Ia melirik loading pemindahan berkasnya, dan kebetulan pemindahan baru saja selesai. Yve segera mengambil kembali flashdisk nya, dan segera menekan tombol shutdown komputer, tak lupa ia mengembalikan segala sesuatu di atas meja ke posisi semula.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, jadi Yve buru-buru masuk ke dalam sebuah lemari besar dan menutup pintu lemari sepelan mungkin agar tidak ada suara yang terdengar. Dengan satu tangan memegang belati, dan tangan lainnya memegang flashdisk, Yve menunggu seseorang yang sudah membuatnya kalang kabut itu muncul.


Brakkk!!!


Pintu langsung terbuka sepenuhnya. Dan orang yang terlihat disana membuat Yve terkejut setengah mati.


Lin?! Bagaimana bisa?!

__ADS_1


Yve melihat dari celah lemari yang kecil. Sosok Lin terlihat jelas disana.


Lin perlahan berjalan masuk. Matanya menyapu semua benda yang berada di dalam ruangan. Melihat para penjaga yang sudah tidak bernyawa didepan, pastinya sudah ada orang yang menyusup di ruangannya.


Aneh sekali, tidak ada orang?


Darah penjaga di depan belum mengering, jelas baru saja dibunuh.


Lin berjalan mendekati meja kerjanya. Beberapa berkas yang baru saja ia tanda tangani menghilang dari tempatnya.


Sudah kuduga. Orang yang masuk ke sini berniat menyelidikiku.


"Levin. Apa itu kau?" Suara Lin memenuhi satu ruangan yang terlihat kosong itu.


Tatapan Lin kembali menyusuri ruangannya. Tidak ada satu suara pun yang terdengar.


Mungkin orangnya sudah pergi.


Lin menghela nafas dan hendak berjalan kembali kearah pintu. Tapi, saat melewati komputer langkah Lin seketika terhenti. Ia merasakan udara didekat komputernya hangat. Karena ingin memastikannya lebih jelas, Lin menempelkan tangannya dibalik layar komputer.


Aneh. Dari kemarin sampai hari ini aku tidak memakai komputer sama sekali. Tapi kenapa komputer ini terasa hangat? Seperti baru saja digunakan.


Levin tidak mengetahui pasword komputerku. Tidak mungkin itu dia.


Lin yang tadinya hendak pergi, mengurungkan niatnya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Seseorang yang memasuki ruangannya pasti belum pergi. Entah kenapa instingnya mengatakan begitu.


Apa orang ini pikir bisa keluar dengan mudah? Lin menyeringai dan melihat sekitar lagi dan lagi.


Lin memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku dan berjalan ke sekeliling ruangan dengan sikap acuh tak acuh. Entah kenapa ia memiliki firasat yang membuat jantungnya berdegup aneh. Seperti, akan ada sesuatu yang menyenangkan terjadi.


"Heh..." Lin berhenti berjalan di depan sebuah lemari yang besar. Ini hanya dugaannya saja, karena di ruangan ini, tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi kecuali disini. Dan lagi-lagi perasaan anehnya mengatakan kalau si penyusup itu ada didalam.


Yve saat ini begitu panik. Ia bisa melihat Lin dari sela pintu yang berjalan menyusuri ruangan dan tiba-tiba berhenti di depan lemari yang digunakannya untuk bersembunyi. Yve mencengkram belatinya kuat-kuat, dan bersiap dengan kemungkinan buruk yang mungkin saja akan terjadi. Ia menahan nafas untuk mencegah suara sekecil apapun terdengar.


Kriet!


Lin membuka lemari.


Yve dengan cepat mengarahkan belatinya ke leher Lin, tapi dengan sigap ditangkis oleh laki-laki itu hingga belatinya terpental.


"Ke-te-mu." Lin tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2