Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Kembali Lagi


__ADS_3

Hari sudah berganti. Jalanan sepi disekitar cafe masih terlihat berantakan. Sampah berhamburan kemana-mana, pecahan botol dan kayu berserakan.


Yve dibangunkan oleh rasa perih di beberapa lukanya. Gadis itu akhirnya bangun dan mengecek beberapa perban putih yang membalut lukanya.


Kelihatannya luka yang satu ini cukup dalam. Yve mengecek lengan kanannya dengan darah yang merembes dari sana.


Aku akan mengganti perbannya.


Dengan malas Yve keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah. Kotak obat selalu diletakkan sang kakak di rak cafe, jadi Yve harus kesana untuk mengambilnya.


Hm?


Yve mengucek matanya dan melihat lagi pemandangan aneh di depannya.


Apa-apaan ini?!


Cafe tiba-tiba berubah menjadi tempat pengungsian. Sky tidur diatas kursi cafe yang disatukan. Yin Yang lebih parah lagi, mereka tidur diatas meja dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Leo entah kenapa tidak pulang ke apartemennya, dan malah tidur di atas lantai. Yve bisa menebak kalau Leo jatuh dari kursi yang dipakainya untuk tidur. Tak jauh dari mereka, Levin tidur dengan  posisi duduk, kepalanya beberapa kali hampir jatuh kebawah.


"Dasar-"


"Sstt!" Devian muncul dari belakang Yve. Lalu menutup mulut adiknya yang hendak protes itu. "Biarkan mereka tidur sebentar lagi. Tadi malam, mereka pasti lelah memberikan penjelasan pada polisi yang membereskan para preman." Setelah mengatakan itu, Devian menarik kembali tangannya yang berada di mulut Yve.


"Baiklah. Biar kak Tina saja yang membangunkan mereka. Sungguh malang, karena kak Tina lebih galak kalau soal ketertiban."


"Haha boleh juga." Devian mengalihkan pandangannya pada lengan Yve yang mengeluarkan darah. "Lukamu kelihatannya cukup parah."


"Hanya yang ini saja, yang lain sudah mengering. Kalau lebam sih sudah biasa." Jawab Yve sambil mengecek laci rak.


"Kau sedang apa? Mencari kotak obat?" Devian berdiri disamping Yve.


"Iya. Kenapa tidak ada ya?" Yve menggaruk kepalanya sambil melihat sekitar, siapa tahu kotak itu sudah pindah posisi.


"Tapi obat untuk luka luar sudah habis. Tadi malam aku memakaikannya pada Levin. Lukanya masih belum sembuh benar. Kata kakakmu, aku boleh menghabiskannya."


"Levin? Dia sakit apa?" Yve melirik Levin yang masih tidur dikejauhan.


"Dia terluka cukup parah setelah melawan hampir 100 preman."


"Eh?" Yve langsung teringat dengan Arlo. Para preman yang mati didekat Arlo yang jumlahnya 100 orang itu, apakah karena Levin?


"Ayo kita segera ke tempat tuan Bai Lian. Disana kotak obatnya lengkap. Kalau perlu, aku akan menyuruh dokter pribadi keluarga Bai untuk memeriksamu."


"Tidak usah memanggil dokter segala." Yve berjalan menuju tangga. "Aku akan berganti baju, lalu kita berangkat."



Brum!


Baru saja Yve dan Devian memasuki gerbang rumah mewah keluarga Bai, para bodyguard penjaga pintu depan langsung menatap kearah Devian dengan ekspresi terkejut, dan beberapa dari mereka menunjuk kearah Devian dengan mulut yang menganga.


"Mereka melihatku seperti artis yang baru saja terkena scandal." Bisik Devian sambil turun dari motor Yve.

__ADS_1


"Haha, itu karena semua orang sibuk mencarimu. Dan tidak ada angin, tidak ada petir, kau pulang sendiri."


"Perumpamaanmu salah tuh." Komentar Devian.


"Sudahlah, ayo ke gazebo."


Yve sebenarnya sudah tidak tahan dengan rasa perih di bahu kanannya. Apalagi saat mengendarai motor tadi, rasanya tambah sakit.


"Kalau tidak salah, kotak obat di gezebo juga cukup lengkap. Tapi aku lebih menyarankanmu untuk memakai kotak obat di dalam rumah." Devian kembali berekspresi jahil.


"Kak Devian ingin aku bertemu dengan Bai Lian?" Yve mengerutkan keningnya.


"Hahaha kau tidak merindukannya?"


"Diamlah!" Yve menendang lutut Devian.


"Aduh tulang tuaku." Devian mengusap lututnya yang malang.


Jarak dengan gazebo masih cukup jauh, tapi mata awas North dapat menangkap sosok Devian disisi Yve.


"Itu... Kak Devian?" Ucap North dengan datar.


Beng seketika menoleh dengan beringas, tanduknya keluar dan api berkobar di bola matanya.


"Mana Devian?!" Tanya Beng sambil berdiri dari kursinya.


"Itu disana, bersama Yve." North menunjuk kearah dua orang yang sedang berbincang di kejauhan. Tidak ada yang bisa lolos dari mata seorang sniper.


"Mampus! Ada Beng." Devian seketika bersembunyi di belakang Yve yang tubuhnya lebih kecil darinya itu.


"Ternyata benar-benar kau ya." Sekarang Beng sudah berdiri didepan Yve yang jadi tembok pelindung Devian.


"Halo Beng." Devian melambaikan tangannya.


"Hola halo. Kemana saja kau? Lihatlah kantung mataku yang seperti panda ini! Semua ulahmu!"


"Hehe selama ini aku bersama Yve-"


"Enak saja! Jangan jadikan aku alibi." Yve segera memotong kata-kata Devian. "Kak Beng, sebenarnya kak Devian selama ini berlibur di resort mewah, ditemani banyak perempuan seksi."


"Hah?! Aku tidak-"


"De-vi-an." Beng meremas tangannya dengan kesal lalu otot-ototnya terlihat menyembul.


Rasakan. Siapa suruh selalu mengejekku dengan Bai Lian. Yve tersenyum puas.


"Ampun Beng." Devian hendak berlari menyelamatkan hidupnya, tapi Beng sudah lebih dulu menarik bajunya.


"Siapa suruh liburan hah?! Apa kau tidak memikirkan perasaanku?" Bentak Beng.


"Perasaanmu?"

__ADS_1


"Aku juga ingin dikelilingi banyak perempuan seksi! Kenapa kau tega tidak mengajakku?" Sekarang Beng malah menangis sambil berteriak.


Mereka sama tidak warasnya.


"Setiap hari aku hanya bisa melihat adik Yve yang tampangnya mirip laki-laki. Sama sekali tidak menggoda. Aku kan ingin menatap yang besar-besar." Beng menangis tersedu-sedu.


Duak!


Yve menjitak kepala Beng dengan keras.


"Teruskan saja mengejekku! Kau dan kak Devian sama saja!"


"Tidak apa-apa Beng, karena sekarang Yve sudah bertemu dengan pujaan hatinya." Ucap Devian.


"Yang benar? Siapa tuh?" Tanya Beng penasaran.


"Tuan-"


Duak!


Sekarang Yve menjitak kepala Devian dengan keras.


"Diam!" Bentak Yve.


"Wah wah ada apa ini?"


Entah kenapa Yve sangat terkejut mendengar suara itu. Suara besar khas laki-laki dewasa memenuhi telinga Yve.


"Tuan besar." Beng membungkukkan badan. Devian yang berada disampingnya juga melakukan hal serupa.


Yve berbalik badan, dan bertemu dengan sorot mata hangat milik Bai Jun. "Selamat pagi kakek." Yve ikut membungkuk.


Kenapa saat aku melihatnya sekarang, perasaanku jadi berbeda? Apakah ini perasaan kesal atau semacamnya?


"Devian, kau sudah kembali ternyata." Bai Jun menepuk bahu Devian sambil tersenyum.


"Iya tuan. Maaf sudah membuat Anda khawatir. Saya hanya beristirahat sebentar."


Pantas saja tidak ada yang sadar. Akting ayah dan anak ini sangat hebat. Benar-benar seperti boss dan pengawalnya.


Yve hanya melirik kearah Devian dan kakeknya.


"Hahaha kalau kamu ingin istirahat, bisa meminta cuti pada Beng." Ucap Bai Jun dengan penuh perhatian.


"Baik tuan, saya tidak akan mengulangi kesalahan saya." Devian mengangguk.


"Pergilah istirahat-"


"Ayah."


Tiba-tiba seseorang datang. Suara familiar ini sudah sering Yve dengar beberapa hari terakhir.

__ADS_1


"Bai Lian." Yve menatap sosok laki-laki tinggi dengan jas hitamnya yang mulai berjalan mendekat.


__ADS_2