
Pagi harinya, Yve sudah bangun dan duduk diatas ranjangnya. Ia baru sadar kalau rumah sakit yang disewakan Bai Lian untuknya sangat mewah. Bahkan luasnya tiga kali lebih besar dari kamarnya. Kenapa begitu perhatian? Ia cuma bodyguard.
Jadi itu benar? Karena dia menyukaiku?
Sial! Bagaimana aku harus menjawabnya? Tunggu... Memangnya apa jawabanku?
Argh! Aku benar-benar bingungĀ dengan diriku sendiri.
"Yve!" Tina mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yve.
"Ah? Ya kak?"
"Aku bicara padamu dari tadi!" Gerutu Tina dengan wajah imut seperti biasa.
"Maaf, aku sedang tidak fokus. Memang kak Tina bicara apa?"
"Ini! Kau mau apelnya dikupas dulu atau tidak?" Tina memperlihatkan apel ditangannya.
Yve baru sadar kalau sedari tadi kakaknya sedang berkutat dengan apel yang dibawanya sendiri semalam. Dia bahkan sudah membentuk beberapa apel dengan potongan kelinci, dan menaruhnya dalam wadah terpisah.
"Aku mau yang kelinci saja." Yve menunjuk potongan apel Tina sebelumnya.
"O-oke. Katakan aaaaa..." Meskipun terlihat sedikit tidak rela, Tina tetap menyuapi Yve, dan adiknya itu menurut.
"Kenapa kakak memisahkan apel bentuk kelinci itu? Apa sebenarnya tidak boleh kumakan?"
"Ti-tidak begitu. Aku hanya menyiapkan ini untuk..." Tina menggaruk rambutnya dan terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Untuk siapa? Katakan padaku."
"Untuk orang kemarin. Aku merasa bersalah mengatainya menakutkan. Kau tahu? Saat aku kembali ke rumah sakit kemarin malam, aku melihatnya membantu nenek-nenek. Saat itu liftnya sedang macet, dan dia tanpa basa-basi langsung menggendongnya, padahal tujuan nenek itu lantai paling atas. Bukankah sangat menyentuh? Kalau dia datang lagi hari ini, aku ingin memberikan apel ini." Tina tersipu sambil menunjuk apel bentuk kelincinya.
"Jangan-jangan maksudnya kak Beng?!"
"Nah iya itu, kemarin kau memanggilnya kak Beng."
Oh tidak, hidup kak Tina akan kacau balau.
"Tidak tidak. Jangan dia. Tempramennya itu buruk!Pemarah, suka menindas bawahan, dan seenaknya sendiri. Ya meskipun dia baik padaku, tapi tidak pada yang lainnya. Karena aku sudah beberapa kali mengalahkannya, jadi dia menganggapku adik rival. Pokoknya jangan baik padanya. Sini apel kelincinya kumakan semua." Yve merebut kotak makanan yang berisi semua irisan bentuk kelinci yang sudah kakaknya buat.
"Yahh... Memangnya apa dia seburuk itu? Cuma wajahnya saja yang seperti preman, tapi kalau dilihat-lihat dia tampan juga." Tina tersenyum sendiri sambil menggigit jari telunjuknya.
Astaga kakakku sudah dicuci otak!
"Yve, kupikir... Aku sudah menyukainya." Lanjut Tina.
__ADS_1
Uhuk! Uhuk!
Yve hampir saja menyemburkan semua apel di mulutnya. Lalu nemukul-mukul dadanya karena terkejut sekaligus tersedak.
"Aku tidak setuju! Kakak bisa bersama dengan orang lain, asal jangan dia." Yve menggeleng dengan cepat.
"Jadi, apakah harus dengan Leo?"
"Jangan, dia itu mata duitan dan terlalu percaya diri."
"Bagaimana kalau Kian?"
"Jangan, dia terlalu polos sampai ke tingkat menyebalkan."
"Lalu aku harus menyukai siapa? Tidak ada laki-laki yang dekat denganku."
Yve tersenyum dan menunjuk dirinya sendiri. "Kakak bisa menyukaiku."
Tina menepuk dahinya. Bagaimana bisa ia memungut adik seperti ini? Dari dulu Yve tidak membiarkan dirinya dekat dengan laki-laki lain. Dia sangat overprotective padanya. Bahkan pernah satu kali ada pacar laki-lakinya yang berkunjung di cafe, lalu saat pulang diserang orang misterius hingga masuk UGD. Ia tahu kalau yang menyerang pacarnya itu adalah Yve. Kata Yve, pacarnya ternyata sudah memiliki istri dan dia tidak sengaja mendengar laki-laki itu bertelepon dengan istrinya saat Tina tidak ada. Jadi adiknya itu menyerang laki-laki itu tanpa ampun.
Sejak saat itu, Yve tidak membiarkan Tina dekat dengan laki-laki lain.
"Bukankah kau sudah mengenal Beng dengan baik? Mungkin saja aku cocok dengannya." Tina tersenyum seolah memohon.
"Tidak, kalian tidak cocok."
"Belum. Dia jomblo yang hampir gila."
"Lalu apa yang kau khawatirkan? Aku bisa mengubah sikapnya sedikit demi sedikit." Tina sangat optimis.
"Pokoknya jangan." Yve kembali memakan apel kelinci milik Tina.
"Yve menyebalkan! Kau sudah ada Bai Lian yang mencintaimu. Nanti aku sendirian."
Yve terdiam, ia kembali teringat dengan permasalahan pelik yang menghantui otaknya sejak tadi. Bai Lian mencintainya, dan ia harus memberikan jawaban. Tapi apa?
"Tunggu, kenapa kak Tina tahu Bai Lian mencintaiku?"
Jangan-jangan kak Tina menguping saat Bai Lian mengatakan perasaannya semalam.
"Bukankah sudah jelas? Bahkan orang yang baru melihat kalian bersama akan langsung sadar. Kau saja yang terlambat berpikir."
Apa iya?
Tina kembali menatap Yve untuk bertanya, "Yve, sebenarnya apa arti cinta menurutmu?"
__ADS_1
"Menurutku? Aku tidak tahu."
"Haiss... Pantas saja kau tidak pernah sadar tentang Bai Lian." Tina mengatur kembali posisi duduknya lalu kembali bicara dengan ekspresi serius. "Aku juga bukan orang yang sangat mengerti tentang cinta. Tapi bagiku, cinta itu saat kau rindu orang itu ketika kau tidak melihatnya. Saat Kau melihat dia, kau tidak pernah mau berpisah darinya. Lalu, bersedia melakukan apapun untuk dia. Dan dia juga akan melakukan apapun untukmu."
Mendengar ucapan Tina membuat Yve teringat dengan perkataan Bai Lian sebelumnya.
Melakukan apapun untukku?
"Tidak apa-apa. Itu sepadan dengan melihatmu baik-baik saja."
Bagaimana denganku?
"Entah kenapa aku sangat khawatir. Rasanya kalau aku tidak melihat Bai Lian baik-baik saja dengan kedua mataku sendiri, seperti ada perasaan aneh yang menghantuiku."
"Saat berada dalam situasi bahaya, aku sama sekali tidak sempat berpikir. Hanya secara naluriah ingin menyelamatkanmu."
Jadi... Aku juga mencintai Bai Lian?!
"Ck! Sialan." Yve memegang kepalanya dengan syok.
"Kau kenapa? Masih sakit? Aku akan memanggil dokter." Tina seketika khawatir.
"Tidak. Aku baik."
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar. Sosok laki-laki yang terengah-engah menjadi pemandangan pertama yang Yve dan Tina lihat.
"Soni?"
"Yve! Astaga, kau tidak akan percaya padaku. Tadi malam aku ketiduran di sekolah dan dikejar-kejar hantu sampai mengompol!"
"Ew." Tina seketika menutup hidung.
"Hehe tenang kakak, aku sudah berganti baju." Soni menggaruk kepalanya dengan malu-malu.
"Jadi kau kemari hanya untuk bercerita tentang pipis di celana?" Yve melipat tangannya dengan kesal.
"Hehe iya. Tadi aku pergi ke cafemu. Tapi kata orang yang namanya Kian, kau sedang dirawat di rumah sakit. Jadi aku kesini."
Soni celingukan mencari tempat duduk. Karena tidak menemukannya, ia duduk di tepi ranjang Yve sambil mencuri satu apel kelinci dari wadah yang dibawa temannya itu.
"Ih! Menyebalkan! Itu kan apel untuk Beng." Tina semakin tidak rela saat tahu potongan apel imutnya ikut dimakan Soni.
"Potong lagi saja kak. Lagipula itu apelnya masih banyak." Soni menunjuk apel lain di pangkuan Tina.
__ADS_1
"Dasar tidak sopan! Kau saja yang kupotong sini!" Tina mengangkat pisau buahnya.
"Waaah ampun."