
"Baiklah aku akan mandi sekarang." Yve yang sudah tahu tidak akan menang debat melawan kakaknya, memutuskan untuk menyerah.
"Anak pintar." Tina melihat kepergian Yve menuju kamar mandi.
"Orion tolong buang sampah yang sudah kuikat ini." Tina mengangkat kantong besar plastik berisi sampah. Dan Orion yang mendengarkan perintah itu mengangguk dengan patuh.
"Lalu Leo, tolong bersihkan jendela, setelah itu menyapu ya. Orion nanti kusuruh membantumu." Tina kembali memberi arahan.
"Laksanakan." Leo memberi hormat sebentar kemudian pergi.
Setelah mengelap meja terakhir, Orion mulai berjalan ke pintu belakang sambil membawa sampahnya. Ia masih terlihat sedih karena Yve seperti mengabaikannya.
Brak!
Orion menutup pintu tempat pembuangan sampah. Ia sudah selesai melakukan tugasnya.
"Yo! lama tidak bertemu."
Orion langsung tahu siapa pemilik suara memuakkan itu. Yaitu orang yang memperdayainya dengan licik.
"Apa maumu, Levin?" tanya Orion dan mencoba menatap tajam lawan bicaranya.
"Haha orang lemah sepertimu masih ingin memprovokasiku dengan tatapan itu? Oh menakutkan sekali." ledek Levin.
"Kenapa kau kemari?" tanya Orion tidak suka.
"Tentu saja mencari Yve. Dia seharusnya sudah pulang dari tempat kerja kan? cepat panggilkan. Tuan Lin ingin menemuinya." Levin berkacak pinggang menunggu jawaban Orion.
"Dia lelah. Dan tidak ingin menemui siapapun."
"Kau ini tidak bisa diajak bekerjasama ya." Levin meremas tangannya dan bersiap untuk memukul. "Dasar laki-laki tidak berguna. Hidupmu hasil pengorbanan Yve, masih ingin besar kepala? rasakan ini!"
Takk!
Seseorang menangkis pukulan Levin sebelum mengenai Orion.
"Yve" Orion terkejut mendapati gadis yang disukainya sudah berdiri di depannya.
"Levin. Sebaiknya jangan membuat keributan disini." Yve mencengkram tangan Levin sambil memperlihatkan tatapan dinginnya.
Rambutnya masih basah. Dia baru saja selesai mandi. Orion melihat dari dekat sosok Yve. Bulir-bulir air masih menetes dari rambutnya.
"Tuan Lin ingin menemuimu. Tapi temanmu ini malah menyuruhku pergi." Levin menarik kembali tangannya dengan cepat. Rasanya cukup menyakitkan dicengkram seperti itu.
Yve berbalik badan kemudian menatap Orion tidak suka.
"Yve, aku hanya-"
"Sudah kukatakan padamu. Jangan mencampuri urusanku lagi. Untuk sekarang, kau masih kuanggap teman." Setelah mengatakan itu, Yve berjalan menjauh.
__ADS_1
"Tunggu aku bersiap, Levin." ucap Yve sebelum memasuki cafe.
Setengah berlari, Yve menuju kamarnya. Saat sampai, ia buru-buru mengambil tas berisi uang dibawah kasurnya. Yve menulis sedikit kata-kata kemudian menaruhnya diatas kasur. Masih tergesa-gesa, Yve mengambil rompi anti peluru yang diberikan Beng sebelumnya.
Ini adalah penentuan. Jika Levin sadar aku melakukan kecurangan, berarti aku dipanggil untuk dihabisi. Kalau dia tidak curiga dengan rencanaku, berarti aku bisa lolos. Tapi aku harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Yve berganti baju dengan cepat. Ia memakai hoodie oversize agar rompi anti pelurunya tidak terlihat begitu jelas.
Setelah selesai dengan perlengkapannya, Yve menatap seisi kamarnya.
Aku sudah menuliskan surat wasiat pada kak Tina, dan memberitahukannya letak uang yang kusembunyikan. Jika aku tidak selamat hari ini, maka tidak masalah.
Yve menyambar kunci motornya dan turun ke lantai bawah.
"Kak Tina." Yve mendatangi kakaknya yang sedang sibuk menata piring hasil cucian ke dalam rak.
"Kenapa?" tanya Tina dengan tangan yang masih sibuk menata piring.
"Aku ingin pergi bertemu teman."
"Ya ampun kau pergi terus ya. Tapi ya sudahlah, aku tidak ingin melarangmu. Hati-hati dijalan, jangan pulang terlalu larut." Tina menoleh kearah Yve sebentar dengan senyuman manisnya, kemudian lanjut menyibukkan diri.
"Aku menyayangimu kak." ucap Yve sambil melenggang pergi.
Hm? tidak biasanya anak itu berkata menyayangiku. Meskipun heran, Tina tidak ingin ambil pusing dengan itu.
Yve berjalan ke depan cafe untuk mengambil motornya. Ia berpapasan dengan Leo yang sedang mengelap jendela dan sesekali menata kursi.
"Ya. Dan... tetap lakukan tugasmu tidak peduli apapun yang terjadi padaku."
Leo terlihat bingung dengan kata-kata Yve. Kenapa seolah-olah seperti pesan terakhir?
"Aku pergi dulu."
"Iya hati-hati." Leo melambaikan tangan kearah Yve yang sudah keluar cafe.
Setelah menyalakan motornya, Yve berputar arah dan menuju area belakang cafe. Dari jauh ia masih melihat Levin bersama dengan Orion. Keduanya tidak bicara satu sama lain. Dan Levin terlihat senang saat Yve datang.
"Kukira kau akan kabur." Levin menatap remeh kearah Yve, dan tentu saja sambil menyindir Orion yang sebelumnya kabur meninggalkan Yve begitu saja.
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu." Yve melemparkan sebuah helm pada Levin. "Pakai, dan naiklah." lanjutnya sambil menunjuk jok belakang.
"Seharusnya tidak begitu ketika memohon pada raja." Levin tersenyum sambil memakai helm yang diberikan Yve.
Heh... kau pikir aku mau? aku akan lewat ke depan cafe lagi. Leo sedang mengelap jendela, pasti dia akan melihatku bersama Levin. Kuharap dia akan memberitahu kak Beng atau siapapun. Meskipun aku tidak ingin bala bantuan, tapi setidaknya jika aku mati, mereka akan tahu kalau itu ulah Lin.
Levin naik ke kursi penumpang, dan Yve segera memutar arah. Semoga saja rencanaku tidak terendus Levin.
"Kita akan kemana?" tanya Yve mengalihkan konsentrasi Levin.
__ADS_1
"Jalan saja nanti kuberitahu."
Motor Yve akhirnya pergi, meninggalkan Orion yang hanya bisa melihat tanpa berkata sedikit pun.
Yve berhasil melewati depan cafe nya. Dari sana ia bisa melihat Leo yang terkejut melihatnya. Tapi detik berikutnya Yve menambahkan kecepatan agar Levin tidak sadar.
"Setelah ini kemana?"
"Kenapa kau lebih memilih bertanya padaku, daripada menyuruhku untuk menyetir?"
Tentu saja agar aku bisa lewat didepan cafe. Tapi karena sudah selesai, lebih baik bertukar posisi agar dia tidak curiga.
"Aku tidak kepikiran." Yve menepikan motornya. "Baiklah, kau saja yang menyetir, wahai raja." Yve turun dari motornya, dan bertukar posisi dengan Levin.
Setelah selesai, Levin segera memacu motor dengan kecepatan tinggi.
"Kita ingin menemui Lin, bukan balapan. Bisakah kau sedikit pelan?" teriak Yve.
Permintaan Yve langsung dikabulkan oleh Levin. Sekarang ia mengurangi kecepatannya. "Motormu sudah bagus. Kalau kita bertanding lagi, pasti aku kalah."
Yve sedikit terkejut mendengar kata-kata rendah hati dari Levin. Biasanya dia selalu menyombongkan diri, dan mengejek orang lain.
Perjalanan kembali berlanjut tanpa ada obrolan lainnya. Levin lebih banyak diam, dan Yve tidak ingin membuka obrolan. Lagipula siapa yang sudi mengobrol dengan pembunuh seperti Levin? Yve menawarkan tumpangan hanya untuk membuat kode pada Leo.
"Kita sampai."
Alis Yve berkerut saat melihat tempat dihadapannya. Itu adalah sebuah dermaga. Banyak kapal pesiar dan kapal barang yang tengah berlabuh.
"Tuan Lin ada disana, ayo." Setelah melepas helm, Levin memimpin jalan, dan Yve mengekorinya.
Mereka berdua berjalan melewati banyaknya kapal yang semuanya terlihat kosong. Sinar matahari perlahan mulai menghilang, dan digantikan oleh langit yang berwarna hitam.
Levin memasuki sebuah bangunan besar yang terlihat tidak terurus selama bertahun-tahun. Saat sampai di dalam, Yve melihat Lin sedang duduk dengan sebuah pistol di tangannya. Dia tampak senang saat melihat Yve masuk.
Kalau Levin tahu aku dan Bai Lian bersekongkol, pasti dia sudah bercerita pada Lin. Yve masih memasang wajah datarnya.
"Yo Yve. Benar-benar gadis pintar dan hebat. Kau berhasil melakukan misimu. Selamat." ucap Lin sambil bertepuk tangan.
Eh? benarkah? mereka tidak curiga dengan akting Bai Lian? mereka benar-benar percaya?
"Kudengar keadaan kak Lian cukup parah. Sampai dokter pribadi keluarga Bai kebingungan. Benar-benar hebat." Lin kembali memuji.
"Kau sudah sepenuhnya mendapat kepercayaanku. Dan aku yakin kau tidak akan memihak pada Bai Lian kedepannya." Yve mengangguk mendengar ucapan Lin.
"Jadi aku akan memperlihatkan padamu sesuatu. Mulai sekarang kau resmi menjadi kaki tanganku. Dan sebagai kaki tangan, kau harus mengetahui pekerjaan sampinganku. Sebentar lagi, kita akan menyambut kapal berisi senjata yang kupesan." Lin berekspresi bangga sambil menghadap jendela yang menyuguhkan pemandangan laut lepas.
"Ya." jawab Yve singkat sambil berdiri tak jauh dari Lin.
Bagus sekali, rencanaku sukses besar. Lalu aku juga bisa bebas mendapat informasi tentang penyelundupan senjata itu. Bai Lian, aku berhasil! Yve tidak sadar senyum sendiri.
__ADS_1
Levin diam-diam memperhatikan Yve. Bagaimana? aku membantumu mendapat kepercayaan tuan Lin, dan tidak melaporkan trik kecilmu padanya. Yve, aku ingin mengaku padamu, siapa aku sebenarnya.