
Devian menghela nafas panjang. "Baiklah, karena kau tidak paham, aku akan menceritakan sebuah kisah yang cukup panjang."
"Jangan lama-lama, nanti aku mengantuk."
Ya ampun. Katanya masih terkejut dengan fakta-fakta yang masuk ke otak, tapi tiba-tiba saja bilang mengantuk. Dasar adiknya Beng.
"Dulu, saat ibuku menikah dengan ayah, ibu tidak tahu profesi ayahku yang seorang boss mafia. Setelah mengetahui faktanya, ibuku merasa takut dengan masa depanku, dan membawaku yang masih bayi untuk pindah ke desa terpencil. Semuanya demi keselamatanku. Aku mengetahui semuanya saat berusia 15 tahun, lalu bertemu ayahku untuk pertama kalinya."
Hoaaammm
Yve menguap dengan lebar tanpa dosa. Padahal baru saja Devian bercerita, tapi rasa kantuk sudah menghampiri Yve. Perkelahian yang panjang membuatnya lelah dan cepat mengantuk. Apalagi ditambah persoalan yang rumit memenuhi kepalanya. Ingin rasanya cepat tidur.
"Baiklah, karena kau mengantuk, aku akan mempercepat ceritanya."
"Syukurlah sadar diri." Yve akhirnya memakan bakpao yang sedari tadi diacuhkannya.
Sabar Devian, dia itu juga adikmu.
"Ayah terus berkata kalau pekerjaannya sebagai boss mafia tidaklah jahat. Lalu, aku pergi mengikuti ayahku untuk memastikannya. Dan ternyata benar, ayah hanya jahat pada sesama penjahat. Tidak dengan sembarangan orang."
Devian menatap Yve kemudian melanjutkan kata-katanya. "Tapi boss mafia butuh pewaris. Ibuku sudah menyuruhku untuk tidak ikut campur. Lalu, akulah yang memilih Bai Lian dan Lin, sebagai pewaris."
Uhuk! Uhuk!
Yve tersedak bakpaonya, kemudian mencoba bertanya, "kak Devian yang pilih? Pilih dimana?"
"Tidak mungkin di pasar kan?"
"Bukan begitu maksudku."
"Ayah menyuruhku untuk mencari sendiri pewaris untuknya. Lalu aku sengaja memilih Bai Lian dan Lin yang memiliki sifat bertentangan. Dan melihat perkembangan mereka dengan pura-pura menjadi bodyguard."
"Kenapa kak Devian melakukan itu?"
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, untuk keinginanku merubah dunia mafia menjadi lebih baik."
"Kak Devian mengadopsi Bai Lian dan Lin dari panti asuhan?"
"Bukan. Mereka adalah anak dari para kolega ayah yang mati karena perselisihan yang terjadi di dunia mafia ini. Mereka tidak tahu apa-apa. Yang mereka tahu hanya, orang tua mereka mati, lalu teman orang tuanya yang seorang boss mafia, mengurus mereka sekarang."
"Bagitu ya." Yve mengangguk.
"Setelah aku memilih dua pewaris itu, aku menjadi bodyguard. Tentu saja Bai Lian adalah pilihan terbaik untuk menjadi boss mafia. Lalu ayah segera menjadikannya boss, dan membuatku berada disisinya."
"Terbaik apanya. Dia itu payah. Tidak bisa berkelahi, lemah, kalau membuat ide strategi pasti jelek. Dia cuma sangat tampan saja."
"Sangat tampan? Apa kau menyukainya?" Tanya Devian dengan ekspresi jahil.
__ADS_1
"Ti-tidak! Kenapa aku harus menyukainya? Dia tua!"
"Umur kalian hanya selisih 5 tahun. Seharusnya pas kan?" Goda Devian lagi.
"Huh! Aku tetap tidak menyukainya!"
Meskipun Yve kuat, tapi tetap saja seorang perempuan. Pasti dia menyukai Bai Lian. Devian tersenyum.
"Lalu apa hubungannya pembicaraan ini dengan orang tuaku?!"
"Eh kau ingin mengalihkan topik dari Bai Lian?"
"Kak Devian tuh yang mengalihkan topik!" Yve terlihat kesal.
"Haha baiklah." Devian membenahi posisi duduknya, dan kembali bicara "Jangan katakan fakta ini pada Bai Lian atau Lin. Mereka tidak tahu kalau aku adalah anak kandung seorang Bai Jun."
"Bahkan mereka sendiri tidak tahu?!"
"Ya benar, di mata mereka aku hanya bodyguard biasa haha. Sampai-sampai Lin berusaha membunuhku."
"Kak Devian belum menjawab ku. Apa hubungannya cerita ini dengan orang tuaku?"
"Bukankah kau jadi mengerti kalau orang yang selama ini kau panggil kakek, adalah orang yang baik?"
Kak Devian benar. Dari cerita itu, berarti dulu kakek sudah baik, dan hanya memusuhi penjahat.
"Jangan-jangan orang tuaku penjahat?" Tanya Yve sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Haha menurutku tidak." Devian menggeleng. "Karena kalau mereka jahat, tidak mungkin memiliki anak sebaik kamu." Devian kembali mengusap ujung kepala Yve.
"Benar juga. Aku kan baik."
Dia malah besar kepala. Memang cocok jadi adik Beng.
"Aku tidak tahu tentang orang tuamu. Mungkin memang harus bertanya sendiri pada ayah." Devian berdiri dari ayunan kemudian menatap Yve. "Apa kau tahu, kenapa aku mau mengikuti rencana Levin untuk menyerang rumah keluarga Bai, menyerang ayahku sendiri?"
"Tidak tahu." Yve menggeleng.
Kukira itu rencana candaan.
"Karena aku ingin ayahku terbebas dari semua rasa bersalahnya."
"Rasa bersalah?"
"Dia dulu memang membunuh orang jahat, tapi dia juga merasa bersalah dengan kerabat orang yang dibunuhnya. Perasaan itu terus menghantuinya. Lalu membuat kesehatannya memburuk beberapa tahun terakhir. Jadi Yve, aku ingin kau menodongkan pistol ke kepala ayahku sambil mengatakan siapa orang tuamu. Agar perasaan ayahku juga bisa terbebaskan. Dengan adanya orang yang membalas perbuatannya di masa lalu."
"Me-menodongkan pistol?" Yve menggaruk kepalanya. "Aku tidak paham."
__ADS_1
"Tidak paham terus, pantas saja kau hanya mendapat ranking 7 di sekolah." Sindir Devian.
"Hei! Jangan mengungkit rankingku!"
"Intinya, setelah menghancurkan markas Lin. Kita akan mengobrak-abrik rumah keluarga Bai!" Seru Devian menggebu-gebu.
Jadi aku harus melakukannya demi kakek juga. Dengan begini, aku bisa tahu kenapa orang tuaku dibunuh, dan sekaligus membebaskan rasa bersalahnya kakek.
Yve mengangguk kemudian tersenyum. "Ayo kita sikat giginya Bai Lian."
"Sikat gigi?"
"Hehe itu perumpamaan." Yve tersenyum.
Memangnya ada perumpamaan seperti itu? Lagipula kenapa Bai Lian?
Dasar anak gadis, yang diingat pasti yang tampan. Devian menggelengkan kepalanya.
"Ayo kembali, aku mengantuk. Nanti kalau naik motor sambil mengantuk, aku akan menabrak pohon lagi." Yve berdiri.
"Kau pernah menabrak pohon?" Tanya Devian.
"Begitulah. Pulang balapan ngantuk, lalu menabrak pohon. Untung yang kupakai saat itu motor temanku haha." Ucap Yve enteng.
"Motornya rusak? Apa dia memintamu ganti rugi?"
"Dia tidak akan berani memintanya padaku." Kata Yve dengan bangga.
"Dasar preman kecil."
"Berarti besok kak Devian akan kembali ke rumah keluarga Bai?" Tanya Yve sambil naik ke atas motornya.
"Mungkin tidak dulu." Devian ikut naik ke kursi penumpang.
"Eh? Kenapa?"
"Beng pasti akan memukul ku, membantingku, lalu mencingcangku." Devian membayangkannya sampai merinding. "Kata kak Sky, orang-orang mencariku. Lalu kalau aku tiba-tiba muncul, harus beralasan apa? Baru pulang berlibur di resort terpencil?"
"Hahaha, benar juga. Tapi aku yakin kalau mereka akan lebih senang jika melihatmu kembali." Yve tersenyum.
"Baiklah, besok aku akan pulang. Kita berangkat bersama."
"Siap." Yve menunjukkan ibu jarinya.
"Ingat Yve. Rencana ini sangat rahasia. Hanya kita, Levin, dan para bodyguard senior tadi yang tahu. Jangan katakan pada siapapun. Setelah rencana menghancurkan markas Lin selesai, baru kita eksekusi." Ucap Devian.
"Baik."
__ADS_1