
Tiga hari kemudian.
"Yey! Akhirnya Dewi pulang." Kian menyambut Yve dan Tina yang baru saja masuk cafe.
"Apa lukamu sudah benar-benar sembuh?" Leo menatap kepala Yve dari berbagai sudut. Jumlah perbannya berkurang, dan wajah gadis itu tidak lagi pucat. Sudah bisa dipastikan kalau dia tidak apa-apa.
"Aku baik."
"Huh! Baik apanya. Dokter menyuruhmu istirahat sebentar lagi, tapi kau bersikeras untuk pulang." Tina melipat tangannya dengan kesal.
"Bukankah kak Tina juga harus pulang untuk mengurus cafe?"
"Kan ada mereka." Tina menunjuk Leo dan Kian.
"Tapi kami cukup kerepotan saat boss tidak ada." Kian mulai berekspresi memelas.
"Lihat kan? Palingan kak Tina yang tidak ingin berpisah dengan kak Beng." Goda Yve, dan berhasil membuat wajah Tina memerah.
"A-apa katamu? A-aku ti-tidak begitu!"
"Hah?! Bos Tina menyukai Beng? Ya ampun, kena pelet jenis apa itu?Beng yang seperti tiran bisa disukai." Leo menggelengkan kepalanya dengan iba.
"Jangan mengejek Beng!"
"Beng siapa?" Kian menggaruk kepalanya.
Melihat kericuhan didepannya, membuat Yve memiliki celah untuk kabur. Perlahan ia berjalan mundur tanpa diketahui siapapun.
Tadi kakaknya sudah mewanti-wanti dirinya untuk segera istirahat ketika sampai di cafe. Tentu saja Yve tidak mau. Ia ingin bertemu dengan Bai Lian yang seharusnya sudah pulang hari ini. Pasti kakaknya akan melarang. Jadi kabur adalah tindakan yang tepat.
"Boss Tina saja yang belum mengenal Beng. Dia itu seperti raja pemarah."
"Dia baik kok. Kalau memang pemarah, aku bisa merubah sifatnya sedikit demi sedikit. Pasti bisa."
"Tolong jawab aku. Siapa Beng?" Kian masih kebingungan.
"Belakangan ini Beng juga bersikap baik padaku dan Yve. Iya kan Yve?" Tina menoleh ke samping. Tapi yang ia lihat hanya udara hampa. "Yve? Dimana kau?"
"Oh, tadi aku melihat Dewi mengambil kunci motor dan pergi." Kian berkata dengan polos sambil menunjuk pintu depan.
"Kenapa tidak bilang dari tadi hah?!" Tina menarik telinga Kian dengan kuat.
__ADS_1
"Aduh ampun."
Wah... Sikapnya ada yang mirip Beng. Cocok kalau begini. Leo mengusap dagunya sambil tersenyum melihat Tina menyiksa Kian.
❀
Brum!
Yve sudah sampai di pekarangan rumah keluarga Bai. Ia celingukan untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Lalu sayup-sayup mendengar suara berisik dari arah gazebo.
Yve buru-buru menaruh helmnya, dan berjalan secepat mungkin menuju gazebo.
"Ada menara yang tinggiii sekali. Sampai hampir menyentuh awan." South bercerita dengan menggebu-gebu. "Lalu di hotel itu juga menjual cemilan aneh yang sangat menarik. Aku sudah meminta ijin pada tuan besar untuk membelinya, untung saja boleh."
"Kenapa harus ijin segala?" Beng menatap curiga.
"Karena South ingin membeli 3 kardus untuk setiap rasa." Jawab North dengan malas. Saat itu ia sudah berusaha menghalangi niat sadis saudara kembarnya, tapi South sudah dibutakan oleh cemilan dan tidak mendengarkan dirinya sama sekali. Karena tuan besar sudah mengijinkan, hotel itu berusaha keras membuat pesanan South. Sungguh malang.
"Astaga, kau menambah sampah di rumah ini." Gerutu Beng.
"Kak Beng jahat sekali! Itu makanan bukan sampah."
"South ini sudah keterlaluan." Devian memainkan kacamatanya.
"Halo semua." Yve melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Astaga Yve!" South terkejut.
"Kepalamu sudah tidak bocor lagi?" North langsung melihat perban di kepala Yve saat gedis itu mendekat.
"Bisa gunakan kata yang lain?"
"Adikku akhirnya kembali." Beng merangkul Yve dengan senang.
"Bagaimana kalau kita rayakan kepulangan Yve?" Usul Devian yang langsung disetujui teman-temannya.
"Tunggu, aku ingin bertanya dulu. Apa Bai Lian-"
"Nah ayo duduk. Hati-hati." Beng tidak memperdulikan ucapan Yve, malah membantu gadis itu duduk.
"Itu, Bai Lian-"
__ADS_1
"Aku akan menyiapkan minuman. Kalian tunggu disini." Sela Devian yang langsung pergi entah kemana.
"Tunggu sebentar. Apa Bai Lian sudah-"
"Oh iya! Yve aku menemukan cemilan menarik. Tunggu ya, akan kuambil. Kau pasti suka."
Sudahlah, tanya nanti saja. Mereka menyebalkan seperti biasa.
Dari jauh, seseorang melihat kebersamaan para bodyguard dari jendela ruang kerjanya. Dia adalah Bai Lian.
Syukurlah dia sudah sembuh dan bisa bersama teman-temannya lagi. Lebih baik aku tidak mengganggunya dulu. Yve pasti akan canggung ketika melihatku. Apalagi dia masih tidak peka. Biarkan saja mereka berpesta.
"Yo! Ketahuan lagi, melirik seorang gadis dari jauh."
Bai Lian sepontan berbalik dan mendapati ayahnya berdiri di bibir pintu dengan ekspresi jahil.
"Ayah biasanya mengetuk pintu dulu."
"Hohohoho, kalau ayah melakukannya, tidak bisa melihat pemandangan romantis ini."
"Apanya yang romantis?" Bai Lian menjauhi jendela dan kembali duduk di balik meja kerjanya.
"Romantis. Karena ayah tahu saat di luar negeri kemarin, kau diam-diam membeli kalung berlian dengan leontin tengkorak untuk Yve kan?"
Bai Lian terkejut dan wajahnya seketika memerah. "Ba-bagaimana ayah tahu?"
"Jangan remehkan mantan boss mafia ini hahaha."
"Baiklah, ayah yang terbaik."
"Kado dari ayah pasti lebih cocok untuk Yve." Bai Jun melipat tangannya dengan bangga.
"Rok mini itu? Dia tidak akan menggunakannya. Palingan juga dipakai lap motor."
"Baiklah kita taruhan. Mana yang akan disukai Yve. Hadiah darimu, atau kamu."
"Oke." Bai Lian mengangguk.
Eh? Tunggu sebentar.
"Apa maksudnya aku?"
__ADS_1
"Hahahaha." Bai Jun hanya tertawa sambil berjalan keluar ruangan.
Apa maksud ayah? Memangnya Yve yang tidak peka itu bisa menyadari perasaanku? Masih perlu berpuluh-puluh tahun lagi.