Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Tidak Bisa Mengancamku


__ADS_3

Yve mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Orang-orang yang mengerumuninya semakin memadat dan memakan ruang untuk Yve dan Orion bergerak. Tidak ada celah untuk kabur.


"Sudah terpojok bukan? mari kita bicarakan sesuatu yang menarik." Lin menyeringai seperti iblis.


"Kau pikir aku mau?" balas Yve sambil melirik Lin dari sela kepala orang-orang disekelilingnya.


"Tidak mau huh?" Lin memberikan isyarat pada salah satu orang dibelakang Yve. Jelas sekali itu sepertinya bukan sesuatu yang bagus.


"Lepaskan!"


Yve menoleh. Beberapa orang dibelakangnya menarik Orion menjauh dan menahan gerakannya. Sudah terlambat bagi Yve untuk menariknya kembali. Lagipula dengan satu tangan yang terluka, ia tidak akan bisa melakukannya.


"Sekarang sudah bisa memulai pembicaraan?" melihat Yve yang masih berekspresi tenang, membuat Lin tidak tahan lagi. "Jika kau menolak, aku akan memotong semua jarinya."


"Potong saja, lagipula itu bukan jariku." jawab Yve enteng. Sementara Orion dibelakangnya sudah banjir keringat dingin.


Sebenarnya Yve sangat stress sekarang. Seandainya ia dijebak sendirian itu tidak masalah. Tapi kali ini ada Orion. Orang yang bahkan menepuk nyamuk pun akan minta maaf. Dia hanya pintar di otak, bukan di otot. Dengan situasi ini, sudah dipastikan keberadaan Orion hanya beban.


Lin tersenyum kemudian mengambil pisau lipat dari dalam jas nya. "Lakukan" Lin menyerahkan pisau itu pada Levin. Dan bawahan setianya itu menerima tanpa membantah.


Sial! Levin akan benar-benar melakukannya.


Sejauh ini Yve tidak bisa memikirkan cara untuk bisa lolos dari sini. Otaknya seolah tidak bisa memproses apapun. Sebentar lagi ia mungkin akan mendengar teriakan Orion.


"Tidak jangan mendekat!" Orion mulai histeris saat Levin sudah berada tak jauh dirinya. Orang-orang yang menahannya pun mulai menyodorkan tangannya. Siap atau tidak, ia harus mengucapkan selamat tinggal pada jemarinya.


"Bicara apapun terserah. Lepaskan dia dan bawa aku."


Orion seketika menoleh kearah Yve. Gadis itu mengatakannya dengan lancar. Dia tidak terlihat ragu-ragu atau terbata. Yve...


Levin yang mendengar itu langsung menghentikan langkah kakinya. Ia menatap Lin dan menunggu tuannya membuat keputusan.


"Lepaskan laki-laki lemah itu." titah Lin langsung dilaksanakan oleh para bawahannya. "Tapi ingat, jika kau mengadu pada seseorang, maka Yve akan menderita."


Orion masih menyesali perbuatannya. Mereka ternyata bukan orang baik. Tapi sebanyak apapun Orion menyesalinya, Yve sudah berada di genggaman tangan orang-orang jahat itu. Ini salahnya.


"Tunggu apa lagi? pergi sana." Levin mengingatkan Orion dengan menunjuk pintu keluar.


"Aku hanya akan pergi dengan Yve."


"Pergi!!!" teriak Yve tanpa memandang Orion. Rasanya masih sangat menyebalkan ditipu oleh teman sendiri. "Setelah ini, semuanya benar-benar bukan urusanmu." lanjutnya dengan nada dingin.


Daripada orang sok perhatian seperti Orion, Yve lebih menyukai teman seperti Soni. Yang acuh dengan urusan pribadinya, dan fokus dengan kehidupan masing-masing. Meskipun Soni hanya teman yang mengajaknya berbuat negatif, tapi dia tahu batasan untuk tidak ikut campuri urusan pribadi.


"Maafkan aku Yve." Orion berlari dengan cepat meninggalkan gudang.

__ADS_1


Maaf? seandainya maaf itu bisa mengeluarkanku dari situasi ini, maka sudah dari tadi aku merapalkannya.


"Benar-benar pengecut, tahu begitu biarkan aku membunuhnya saja tadi." Lin tertawa dengan sinis.


"Aku tidak seperti dirimu." tatapan tajam Yve masih sama seperti tadi.


Lin kembali tersenyum, "Levin, bawa Yve kemari."


Ketika Levin hendak mendekati Yve, gadis itu sudah berjalan kearah Lin dengan sendirinya.


"Bagus kemarilah."


"Sekarang, kau ingin apa?" tanya Yve. Setelah berada dihadapan si rubah licik.


"Mulai sekarang, kau bekerja untukku." mendengar itu, Yve menggangguk dengan berat. "Kau akan kuberikan sebuah misi rahasia, yang hanya bisa dilakukan oleh gadis manis sepertimu." Lin hendak menyentuh pipi Yve tapi gadis itu segera menepisnya.


Levin yang melihat itu, ingin mengukum Yve. Bisa-bisanya dia menentang bossnya. Tapi gerakan Levin terhenti oleh kode tangan Lin.


"Tenang saja Levin, anak kucing liar memang susah dijinakkan." Lin mengatur kembali posisi jasnya agar rapi. "Aku ingin kau membunuh Bai Lian."


Mata Yve membulat saat mendengar perkataan itu.


Yve tahu kalau Lin memang berencana membunuh kakaknya, Bai Lian. Tapi ia tidak menyangka kalau Lin akan menunyuruh dirinya. Yang bahkan belum ada 3 bulan mengenal Bai Lian.


"Baiklah." jawab Yve singkat.


Yve mengangguk mendengar perkataan itu.


"Levin akan mengawasimu selama kau berada di rumahku. Jika kau bertemu Bai Lian secara sembunyi-sembunyi. Kau tahu sendiri akibatnya."


"Aku mengerti." Yve menundukkan kepalanya.


"Levin, kita pergi." Lin berjalan melewati Yve dan mengarah ke pintu keluar.


"Semuanya, pergi dari sini." Levin membawa keluar orang-orang dengan jumlah yang banyak itu.


Yve menoleh. Menatap kepergian tokoh antagonis pengecut.


Heh... kau mengancam orang yang salah, Lin. Gadis yang ditinggalkan sendirian itu, kini tersenyum dengan lebar. Cahaya bulan menerangi sebelah wajahnya. Membuat senyuman itu semakin terkesan misterius.


Shh! perih sekali. Yve menatap lengannya yang masih mengeluarkan darah. Untung saja itu hanya terkena goresan peluru. Ia masih belum mahir menghindari tembakan. Padahal South sudah mengajarinya banyak.


Baiklah. Sekarang aku harus mengobati lenganku. Lalu besok bertemu si bodoh Bai Lian. Apa Lin pikir aku tidak bisa menemuinya? naif sekali.


Hoaaammm

__ADS_1


Ngantuk.



Hari sudah berganti. Yve segera menuruni tangga saat tahu sang kakak sudah masuk cafe.


"Kak Tina!" teriak Yve sambil menghampiri Tina yang baru saja ingin membuka pintu cafe.


"Ada apa? tumben teriak-teriak?"


"Apa masih ada obat cuci perut?" Yve menggaruk kepalanya dengan bingung. Tadi ia sudah mencari obat itu dimana-mana tapi tidak ketemu.


"Masih. Di laci paling kiri, dekat kotak obat."


"Oh oke."


Sebelum Yve berjalan jauh, Tina kembali bersuara. "Kau susah buang air besar?"


"Tidak."


"Lalu untuk apa obat itu?" tanya Tina heran.


"Untuk temanku." Yve tersenyum jahil sambil menatap bungkus obat cuci perut didalam laci.


Sip. Sekarang tinggal beli cupcake di toko kue dekat lampu merah. Pagi-pagi begini mereka pasti sudah buka.


Maaf paman beruang. Tapi hanya ini satu-satunya cara yang kupikirkan untuk bertemu Bai Lian tanpa membuat Levin curiga.


"Kak aku berangkat." seru Yve sambil menyambar kunci motornya diatas meja.


"Iya, hati-hati."


Lin sialan itu tidak bisa mengancamku. Sudah kukatakan sebelumnya, bahwa tidak ada yang bisa mengaturku kecuali kak Tina. Aku Yve, tidak lemah seperti yang kau kira.


Ketika Yve ingin pergi. Ia berpapasan dengan Orion. Laki-laki itu menatap Yve dengan kekhawatiran yang tinggi.


"Yve, apa kau-"


"Pagi Leo." sapa Yve pada laki-laki lain yang baru saja datang dari gedung seberang.


"Pagi Yve. Sudah mau berangkat?"


"Kerjamu tidak becus Leo. Akan kuadukan pada dia." Yve menaikkan kedua alisnya.


"Eh?! kerja yang mana?"

__ADS_1


Yve tidak menjawab. Ia langsung pergi dengan motornya.


Apa aku ketinggalan sesuatu? Leo bingung.


__ADS_2