
Yve memasuki kamar Bai Lian bersama Bernard. Ia tidak paham sidang apa yang dimaksud sampai membuat paman beruangnya itu ketakutan.
Ketika pintu terbuka, sosok Bai Jun dan Lin langsung terlihat, sementara tak jauh dari mereka, Bai Lian sedang terbaring tak berdaya.
"Akhirnya datang juga." Bai Jun menaruh rokoknya yang sudah tinggal setengah ke dalam asbak, kemudian bergantian menatap Yve dan Bernard.
"Tuan besar memanggil kami?" Bernard langsung membungkuk dengan sopan. Tapi Yve tidak melakukannya.
"Ya. Ada yang ingin kutanyakan. Kenapa Lian bisa menjadi seperti ini? Beng bilang, ia sudah mendapatinya seperti itu ketika bersama kalian berdua." Ucap Bai Jun dengan ekspresi datar.
Dari nada bicaranya, memang tidak terkesan seperti sedang marah. Kabarnya kakek adalah mafia kejam dulu. Kalau begitu, bukankah seharusnya dia sedang mengamuk sekarang?
Yve sesekali melirik kearah Bai Jun. Dan mencoba mencari keanehan dari ekspresi mantan boss mafia itu.
"Saat itu-"
"Saat itu, akulah yang bersalah." Yve segera memotong perkataan Bernard.
"Coba jelaskan, cucuku." Bai Jun tersenyum melihat Yve mengeluarkan suaranya.
"Jadi saat itu, saya ingin masuk ke dalam mobil. Lalu ada orang yang menerobos masuk lebih dulu. Dan saya sempat bertarung dengannya. Tapi orang itu berhasil lolos. Kemudian saat saya masuk ke dalam mobil, tuan Bai Lian sudah seperti itu."
Bernard mengerutkan alisnya dengan bingung. Sepertinya saat aku membukakan pintu untuk Yve, aku tidak mendengar suara baku hantam. Kenapa cerita Yve begitu?
Lin mengangguk dengan puas. Ternyata Yve pandai membuat alasan. Sungguh cocok jika menjadi pasanganku kelak. Aku tinggal bilang pada ayah.
"Ternyata begitu. Berarti itu bukan salah kalian." Kata Bai Jun yang membuat perasaan Bernard menjadi lega.
"A-ayah..." Bai Lian tiba-tiba bersuara. Dan sang ayah yang dipanggil, langsung mendekati anak sulungnya dengan khawatir.
"Ada apa Lian?"
"Aku ingin... Bicara berdua dengan Yve."
Yve menghela nafas dengan kasar. Astaga, disini ada Lin. Bai Lian akan membuat semua orang curiga.
"Kenapa ingin bicara berdua dengan Yve?" Tanya Bai Jun hati-hati.
"Aku... Tidak sempat melihat pelakunya. Jadi ingin menanyakan pada Yve secara pribadi."
"Ayah yang akan bertanya padanya. Kau istirahat saja." Kata Bai Jun dengan penuh perhatian.
"Tidak mau. Aku ingin balas dendam sendiri. Ayah dan adik bisa pergi sekarang."
__ADS_1
"Baiklah, sesuai perkataanmu saja." Bai Jun melihat Lin dan Bernard. "Ayo kita pergi."
Bai Jun pergi bersama dua orang lainnya. Yve terus melihat mereka sampai menghilang dari balik pintu.
"Kau sangat disayang." Yve tersenyum sambil berjalan mendekati ranjang Bai Lian, tempat boss nya itu sedang berakting.
Bai Lian bangun dari posisi tidurnya, lalu melepas perban yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
"Apa kau senang melihatku seperti orang bodoh?" Bai Lian menatap Yve yang masih saja tersenyum meledeknya.
"Cukup senang. Tapi kau terlalu berlebihan. Lihatlah keadaanmu. Bilang leher patah tapi yang diperban malah wajah. Apa kau sedang cosplay jadi mumi?"
"Hahaha trick or treat."
Yve terdiam melihat ekspresi Bai Lian saat ini. Entah kenapa... Itu terlihat sangat lucu dan tampan.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Lagi-lagi ucapan itu membuat Yve tersadar. Sial! Dia memang tampan!
"Aku melihat kebodohanmu." Jawab Yve sambil mengalihkan pandangannya.
"Baiklah ayo bicara serius. Aku sudah memikirkan ide untuk melawan Lin. Dan kali ini... Dia pasti akan benar-benar habis." Sorot mata yang ditunjukkan Bai Lian terlihat sangat serius.
"Tapi ini sangat beresiko, terutama untukmu."
"Katakan saja bagaimana?" Jika ini memang menyangkut keselamatan Bai Lian dan teman-temannya, pasti akan Yve lakukan. Terlebih lagi, Lin juga mengincar kakaknya. Tentu saja ia harus bertindak.
"Kulihat kau sudah mulai mempelajari tentang pemindahan data dari Devian kan?" Yve terlihat mengangguk mendengar perkataan Bai Lian.
"Salah satu mata-mataku dan Ferran berhasil menemukan markas Lin yang selama ini disembunyikannya. Disanalah dia melakukan semua proyek kerjasama dan mengendalikan perdangan ilegalnya."
"Baiklah. Jadi kau ingin aku menyusup kesana dan mencuri datanya?"
"Aku belum selesai bicara, dasar bocah." Bai Lian menyentil dahi Yve sambil tersenyum.
"Sakit tahu!"
"Disana itu dijaga ketat. Bahkan penjaganya lebih banyak dari rumah ini. Kebanyakan dari mereka adalah preman kelas kakap yang Lin bawa dari beberapa penjara."
"Jadi, apakah aku harus menyamar agar bisa masuk?"
"Ya." Bai Lian menatap Yve dengan serius. "Saranku. Kau menyamar sebagai petugas sampah, atau... Nenek-nenek bungkuk yang berjualan krupuk tapi tidak laku."
__ADS_1
"Hah?!"
"Yve aku serius. Orang manapun yang melihat nenek-nenek yang berjualan tapi tidak laku, pasti akan merasa kasihan. Lalu para preman itu akan menyuruhmu masuk."
"Kau ingin aku menjadi seperti itu hah?! Makan nih krupuk!" Yve memukul Bai Lian dengan bantal yang ia temukan.
"Hahaha aduh leherku patah." Akting Bai Lian.
❀
Setelah latihan dengan Beng, Devian membereskan laptopnya yang tadi dipakai oleh Yve. Ia tidak habis pikir betapa rajinnya adik Beng satu itu. Langsung pergi entah kemana tanpa membereskan laptopnya. Penggaris sudah siap di tangan, dan Devian akan memukulnya jika Yve kembali.
Seperti berumur panjang, Devian langsung melihat Yve berjalan mendekat. Gadis kecil itu tersenyum sendiri sambil sesekali menendang kerikil yang ia temukan.
Padahal tebakanku Bernard lah yang akan jadi gila. Tapi siapa sangka, malah Yve yang gila. Devian menggelengkan kepalanya dengan iba.
"Dari mana saja kau?" Tanya Devian saat Yve sudah sampai di dekatnya.
"Kakek memanggilku." Yve duduk dengan raut wajah yang terlihat senang.
"Tuan besar memberimu hadiah lagi?" Tebak Devian.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau terlihat senang sekali? Senyum-senyum sendiri."
"Eh?" Yve tiba-tiba tersadar, kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Si-siapa yang senyum sendiri? Aku biasa saja." Yve segera kembali ke ekspresinya yang biasa.
Aku hanya senang saling bercanda dengan Bai Lian. Tapi apakah ekspresiku jadi berubah karena itu? Tidak! Kak Devian pasti salah lihat.
Yve memalingkan wajahnya dengan gugup.
"Karena mungkin itu urusan anak muda, jadi akan kulupakan." Devian lanjut membereskan laptopnya. "Kau ditunggu South untuk latihan menembak."
"Benar juga. Sudah lama aku tidak latihan menembak."
"Kata South, tembakanmu masih belum bagus. Jadi dia mau mengajarimu lagi." Devian mengingat kembali pesan yang South katakan.
"Baiklah, aku akan kesana." Yve kembali berdiri, dan pergi menuju lapangan tembak.
Levin yang masih berada di lapangan tembak, melihat kedatangan Yve. Entah kenapa air muka gadis itu terlihat senang. Tidak seperti biasanya.
Apa yang terjadi dengannya? Tadi sayup-sayup aku mendengar kalau tuan besar memanggilnya. Apakah dia diberi hadiah?
__ADS_1