Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Kehebohan Semua Orang


__ADS_3

"Setan!" Bai Lian hampir melompat kaget saat melihat Devian.


Ya ampun, kata-kata mereka saat melihatku pun sama. Yve dan Bai Lian memang jodoh.


Devian tersenyum sebentar, kemudian membungkuk pada Bai Lian.


"Selamat pagi tuan Bai Lian." Sapa Devian.


"Pa-pagi." Bai Lian seketika melirik Yve.


Kata Yve, Devian sudah mati. Kenapa sekarang tiba-tiba muncul? Jangan-jangan, alasan Devian menyukai hal-hal mistis karena dia ingin mempelajari ilmu bangkit setelah kematian?


Eh?


Bai Lian sadar dengan lengan kanan Yve yang mengeluarkan darah sampai tembus ke bajunya.


"Lenganmu..." Bai Lian menunjuk Yve dengan wajah khawatir.


"Sial! Sampai kena baju." Yve baru sadar dan langsung menutupi lukanya. "Cuma luka kecil."


"Cucuku, kalau darahnya sampai-"


"Kecil apanya!!!" Bai Lian tiba-tiba berteriak dan menarik tangan Yve yang tidak sakit. "Ayo kuobati di dalam!" Lanjutnya sambil terus menarik Yve.


"Kak Devian yang akan mengobatiku." Yve berusaha berhenti.


"Adududuh." Devian seketika berakting kesakitan sambil memegang perutnya. "Sepertinya efek mie lidi level 70 masih berasa. Beng tolong antarkan aku pada South, aku ingin memukulnya dulu sebelum ke kamar mandi." Rintih Devian.


"Berengsek! Itu sudah lama! Bagaimana mungkin masih-"


"Sudah ayo!" Bai Lian menyela Yve yang ingin memaki Devian, dan kembali menariknya memasuki rumah.


Hihi selamat berduaan, wahai pasangan baru. Devian tersenyum jahil.


"Hahaha Devian, ternyata kamu memiliki pemikiran yang sama denganku." Bai Jun tertawa sambil melirik kearah Bai Lian pergi.


"Hahaha tentu saja tuan besar. Bukankah sudah jelas sekali?" Devian ikut tertawa.


Mereka sedang membahas apa? Beng menggaruk kepalanya dengan bingung.


Di salah satu balkon, seseorang menatap kearah para bodyguard dibawah dengan ekspresi marah.


Apa-apaan ini?


Devian kembali. Dan Yve masih hidup tanpa luka serius.


Sial!

__ADS_1


Levin, inikah rencanamu?


Heh... Sepertinya aku bisa menebak, apa yang akan kau lakukan selanjutnya.


Lin tersenyum sinis, kemudian kembali memasuki ruangannya.



"Nah sudah selesai." Bai Lian menatap puas kearah lengan Yve yang baru saja dibalutnya.


"Kau ternyata paham cara mengobati ya." Yve kembali menurunkan lengan hoodie nya yang sebelumnya ia gulung.


"Keahlianku cuma ini." Bai Lian tersenyum tipis. "Sangat tidak berguna untuk boss mafia sepertiku. Biasanya mereka ahli bela diri atau menembak. Tapi aku tidak seperti itu."


Yve menatap wajah sedih Bai Lian. Sekarang Yve tahu kenapa Bai Lian yang lemah ini menjadi boss mafia. Seperti kata Devian, untuk merubah dunia mafia menjadi lebih baik, maka dia memilih Bai Lian yang tanpa ambisi dan kekuatan.


"Aku selama ini berpura-pura galak dan sadis, dengan cara berkata 'aku akan membunuhmu' agar citra boss mafiaku bisa terlihat. Tapi sebenarnya aku tidak akan melakukan itu." Ucap Bai Lian sambil memasukkan kembali obat-obat ke dalam wadahnya.


"Konyol." Yve berdiri dan menatap Bai Lian. "Jadilah dirimu sendiri saja. Untuk apa berpura-pura? Orang lain akan mematuhimu atau tidak, percaya padamu atau tidak, itu urusan mereka. Yang terpenting kau tidak membohongi dirimu sendiri."


Bai Lian terkejut dengan perkataan Yve, lalu tersenyum. "Benar juga."


Astaga! Kenapa dia tampan sekali?! Sial! Aku ingin protes pada orang tuanya.


Yve mengalihkan pandangannya dari Bai Lian.


"Tunggu. Soal rencana menyerang markas Lin-"


"Oh aku lupa bilang." Yve menoleh kearah Bai Lian. "Aku akan melakukannya sendiri. Kau tidak usah ikut campur."


"Apa maksudmu?"


"Sampai jumpa." Yve segera berlari pergi.


Aku akan menyerang markas Lin bersama kak Devian, Levin, dan yang lainnya. Bai Lian, kau diam saja disini. Agar kau tidak terluka.



"Di sebelah sana masih kotor! Ayo! Ayo! Kerja kalian lelet sekali!" Perintah Tina pada orang-orang yang baru saja bangun itu.


"Aduh kak Tina yang imut. Kenapa menyuruh kami membersihkan halaman. Lihat! Kukuku yang cantik jadi patah." Rengek Sky sambil memperlihatkan jemarinya.


"Oh. Nih bencong! Kau pel lantai saja!" Seru Tina sambil melemparkan tongkat pel kearah Sky.


"Kyaaa jangan panggil aku bencong. Namaku Sky, atau panggil aku Angelina. Kata orang, aku mirip Angelina Joule."


"Mirip dari mananya?! Bahkan kau tidak pantas disebut Angelina Joule versi kw. Sudah! Cepat bersihkan!"

__ADS_1


"Aduh boss, jangan marah-marah terus. Nanti tambah awet muda loh, lalu tidak ada yang mau jadi pacarmu karena takut dikira pedofil." Leo berusaha meredakan amarah Tina. Tapi ekspresi Tina tidak terlihat senang sama sekali.


"Bagaimana aku tidak marah? Mereka tidur seenaknya di cafe ku. Padahal kalau mereka bicara baik-baik ingin menginap, aku bisa menyewakan kamar di apartemen seberang. Tapi mereka malah enak-enakan mengobrak-abrik kursi dan meja. Tuh si bencong, menghabiskan stok roti tawar di dalam kulkas! Si kembar aneh itu juga membuang abu rokok sembarangan!"


"Eh.. Baiklah." Leo paham situasinya. "Lalu, kenapa boss juga menghukum Levin?" Leo menunjuk Levin yang sedang menyiram bunga padahal semua potnya sudah rusak.


"Itu karena dia diam saja melihat teman-temannya merusuh di cafe ku."


Kasihan sekali Levin, dia ikut dihukum karena diam saja. Ternyata menjadi orang pendiam itu berat ya. Untung aku bukan orang pendiam.


Lagipula boss Tina tidak akan memarahiku. Aku tidak berbuat onar.


Leo tersenyum bangga.


"Leo, gajimu kupotong setengah." Ucap Tina santai.


"Apa?! Kenapa dipotong?"


"Kau yang paling bersalah dari semua orang disini. Karena kau sudah memiliki tempat tinggal, tapi tidak mengajak teman-temanmu menginap di rumahmu, hingga kekacauan ini terjadi. Pokoknya potong gaji!"


Hiks, aku akan menambah stok nasi kecap dan kerupuk nanti. Mana gaji bodyguard belum ditransfer lagi.


Leo yang malang berjalan mendekati Levin. Ia ingin berbicara dengan seseorang untuk menghilangkan stress.


Levin sekarang berada dipihakku. Jadi tidak masalahkan kalau curhat dengannya?


"Levin."


"Gawat!" Levin tiba-tiba menatap Leo.


"Eh? Gawat? Gawat kenapa?" Tanya Leo bingung.


"Aku harus memperbaharui rencana penyerangan markas Lin. Karena walaupun dia terkenal bodoh, tapi sebenarnya dia hanya lambat dalam berpikir. Saat dia sadar rencanaku. Kita bisa dalam bahaya!"


Astaga malah membahas sesuatu yang serius dan rumit. Minimal dengarkan curhatanku yang miskin ini huhu.


Melihat Leo yang malah berekspresi sedih, membuat Levin bingung. "Ada apa? Apa kau juga bingung dengan rencananya? Tenang saja, aku dan Devian yang akan membuatnya ulang."


"Bukan begitu hiks." Leo menggeleng.


"Lalu kenapa kau sedih?"


"Pinjam uang dong, buat makan besok. Aku miskin sekarang."


Levin menghela nafas kemudian menatap Leo dengan serius. "Sebenarnya aku juga miskin sekarang. Beberapa hari yang lalu, aku numpang hidup dengan Devian."


"Oh sial! Kita berdua miskin."

__ADS_1


__ADS_2