Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Target Berikutnya


__ADS_3

Hoaammmm


Yve terus menguap sambil mengucek matanya yang terasa perih. Dari siang ia terus berada di gazebo sambil mengotak atik laptop milik Devian. Guru tiran dadakan itu sangat tegas pada Yve. Padahal biasanya dia terlihat santai dan sering tersenyum. Tapi jika menjadi guru, taringnya akan keluar dan siap mengigit murid yang nakal. Untung saja dia bodyguard, tidak bisa dibayangkan kalau Devian benar-benar menjadi guru.


Tuk!


Devian lagi-lagi memukul jari Yve dengan penggaris.


"Salah! Sudah kubilang jangan tekan itu, bisa meninggalkan jejak."


"Aku cuma kepencet!" Elak Yve sambil mengusap jemarinya.


"Tidak boleh kepencet! Kalau kau benar-benar ingin melakukannya pada komputer musuh lalu kepencet bagaimana? Tidak bisa ditolerir!" Devian memainkan penggaris ditangannya untuk mengingatkan kalau ia bisa mengayunkan itu kapan saja.


"Aku mengerti."


"Bagus, ulangi. Lakukan dari awal." Perintah Devian sambil menunjuk laptopnya.


"Sudahlah kak Devian. Ini sudah malam. Biarkan Yve pulang." South yang sebenarnya tertidur di dekat Yve, terbangun akibat perkataan Devian.


"Eh? Sudah malam ya?" Devian yang baru tersadar melihat sekeliling untuk memastikan perkataan South. "Lanjut besok saja. Sekarang kau pulanglah." Kata Devian sambil melihat Yve.


"Perih... Mataku" Yve terus mengedip-ngedipkan matanya agar rasa perih yang ia rasakan hilang.


"Kau baik-baik saja?" South terlihat khawatir.


"Ya." Yve kembali mengucek matanya.


"Efek melihat layar terlalu lama. Mungkin juga pusing sedikit. Jadi cepatlah pulang dan tidur." Meskipun terlihat jahat, Devian sebenarnya juga mengkhawatirkan Yve. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga untuk membantu gadis itu.


"Mana kak beng?" Tanya Yve.


"Dia pergi untuk melihat Bernard." Jawab South sambil mencoba mengumpulkan nyawanya karena baru saja bangun.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa."


Yve buru-buru pergi sebelum teman-temannya menjawab ucapannya, karena ia mulai merasa pusing dan matanya semakin perih.


Samar-samar dari jauh Yve melihat seseorang berdiri di dekat motornya yang sedang terparkir. Semakin dekat Yve berjalan, semakin jelas wajah orang disana.


Ck! Levin. Yve mendengus kesal.


"Kenapa kau disini?" Tanya Yve sambil meraih helm dan memakainya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberikan ini padamu." Levin menyerahkan sebuah obat tetes mata pada Yve. "Kau sedari tadi melihat layar laptop, pasti matamu tidak enak. Bukan berarti aku peduli padamu. Hanya saja, kalau matamu sampai minus itu akan merepotkan tuan Lin."


Jangan-jangan obat tetes mata itu diberi racun? Yve menatap curiga.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja." Yve langsung menaiki motornya dan bersiap untuk pergi.


"Tapi-"


"Dengar ya, katakan pada tuanmu. Apapun yang terjadi padaku, aku tidak akan pernah merepotkannya." Yve menutup kaca helmnya dan segera pergi.


Aku tidak akan pernah menjadi beban Lin, sampai aku mencabut nyawanya.



Yve sudah sampai di cafe. Matanya semakin terasa berat setelah ia pakai berkendara. Mungkin harus segera mencari obat tetes mata di laci obat cafe.


"Yve, kau sudah pulang rupanya."


Yve yang ingin masuk cafe, berpapasan dengan kakanya Tina bersama Leo. Yve sedikit bingung dengan barang bawaan Tina. Biasanya kakaknya itu tidak pernah membawa apapun dari cafe ketika pulang. Tapi kali ini dia membawa banyak roti dan susu.


"Mau diapakan itu?" Yve menunjuk makanan yang dibawa Tina.


"Oh ini untuk Orion. Kita mau kerumahnya untuk menjenguk." Ucap Tina sambil menoleh kearah Leo disampingnya.


"Si Orion sakit rupanya." Yve tidak terlalu peduli. Ia malah sibuk mengucek matanya.


Yve seketika menghentikan kegiatannya mengucek mata. "Dipukuli?"


Leo dari belakang tubuh Tina memberikan kode pada Yve. Tapi gadis yang masih mengalami sakit mata itu hanya menyipit tidak paham.


"Sudah, ayo Leo. Nanti keburu malam. Ini sudah jam 7." Tina kembali berjalan, dan diikuti Leo yang mengekorinya. "Yve kau istirahat saja ya." Lanjutnya sambil terus berjalan.


"Tenang saja, bukan orang jahat." Leo berisik dengan cepat saat melewati Yve.


Leo sebelumnya sudah diberitahu oleh Beng. Jadi tugasnya hanya memberikan alasan pada Yve.


Bukan orang jahat ya, lagipula itu bukan urusanku. Yve berjalan memasuki cafe dengan santai. Tiba-tiba saja, ia teringat dengan perkataan seseorang.


"Putri kecil, ingat ini. Kita harus baik pada teman, meskipun teman itu sudah mengkhianati kita."


Yve tersenyum sendiri, tapi kau mati ditangan temanmu. Sungguh lucu.


Setelah sampai di laci obat, Yve mengobrak-abrik isinya, dan akhirnya menemukan obat tetes mata.

__ADS_1


Selesai mengobati matanya, Yve berpindah menuju kamar. Mata yang lelah ini seolah menyuruhnya untuk cepat-cepat tidur.



Di tempat lain.


Levin memasuki sebuah ruangan yang gelap. Ia sudah sering berada disana, jadi kedua matanya mampu menyesuaikan dengan baik.


"Tuan memanggilku?" Ucap Levin pada seseorang yang duduk diatas meja dengan tidak sopan. Siapa lagi kalau bukan Lin.


"Aku ingin meminta pendapatmu." Lin memainkan pistol kesayangannya seperti biasa.


"Pendapat?" Levin tampak bingung.


Lin turun dari atas meja, kemudian berjalan mendekati Levin. "Bagaimana menurutmu, kalau kita membunuh Devian?"


"Tuan, kita sudah pernah mencobanya dan selalu gagal." Levin masih mengingat dengan jelas rangkaian rencana yang ia susun untuk membunuh Devian si bodyguard 100 mata, tapi semuanya gagal.


"Memang benar. Karena dulu dia selalu berada disisi Beng. Dan hanya akan menjadi pemantau cctv kalau diperlukan. Tapi sekarang berbeda, dia selalu melakukan tugasnya dari jauh karena Yve menggantikan posisinya di dekat Beng. Kita mungkin bisa menyergapnya." Usul Lin.


"Ide anda sangat bagus tuan. Tapi Devian juga bukan orang yang tidak bisa bertarung seperti South. Kekuatannya hanya sedikit lebih rendah dari Beng. Menurutku rencana ini tidak akan berhasil."


"Kenapa kau terus menolak recanaku hah?! Apa kau tidak ingin membunuhnya karena kasihan?!" Teriak Lin penuh kekesalan.


"Tidak tuan. Hanya saja, tadi anda menanyakan pendapat saya. Jadi, saya hanya mengatakan apa yang saya pikirkan." Levin membungkuk dengan sopan.


"Kau menyalahkanku?!" Lin kembali meraung.


"Tidak tuan. Tapi jika anda merasa tidak suka dengan jawaban saya, maka saya mohon maaf."


"Bagus, memohonlah padaku. Aku tuanmu!"


Levin mencengkram tangannya dengan kuat. Saat harga dirinya direndahkan seperti ini, membuat pikiran jahatnya untuk membunuh Lin akan muncul. Tapi sudah bertahun-tahun ia berusaha menahannya. Bagaimanapun... Ini belum waktunya.


"Devian mulai mengajari Yve tentang teknologi. Aku khawatir kalau dia berhasil membuat Yve menjadi seperti dirinya. Ini akan membuat posisiku terancam. Jadi, sebelum Yve menerima semua ilmunya. Kita harus menghabisi Devian."


"Tapi Yve berada di pihak kita-"


"Diam Levin! Jangan membantahku lagi!"


"Maafkan saya tuan. Jadi, kapan kita akan melakukannya?" Tanya Levin.


"Dasar bodoh! Tentu saja secepatnya! Dan aku tidak mau tahu, kau harus menemukan cara untuk membunuh Devian." Pekik Lin.

__ADS_1


"Baik tuan."


Levin mengalihkan pandangannya pada langit dari jendela yang berada didekatnya. Target berikutnya, Devian.


__ADS_2