
Leo yang sedang menyapu di dekat tangga terkejut melihat kemunculan Bai Lian dengan langkah besar. Ekspresinya terlihat tidak bersahabat. Meskipun begitu, Leo tidak bisa mencegah mulut besarnya untuk merengek.
"Tuan, soal uangnya-"
"Lupakan! Kau membuat mood ku semakin tidak baik! Gajimu kupotong!"
"Hah?!" Leo masih dalam keadaan syok saat Bai Lian pergi dari pintu belakang cafe.
Apa salahku?
Leo lanjut menyapu sambil terlunta-lunta. Kesialan terus menerpanya. Sepertinya hari ini akan ia catat dalam buku harian, dan di hari yang sama di tahun depan, ia akan berendam dengan air suci untuk menghentikan kesialannya terus berlanjut.
Leo kembali melihat seseorang turun tangga, itu adalah Yve. Ekspresinya tampak serius sambil melihat selembar kertas, lalu celingukan seperti mencari seseorang.
"Yve sialan!"
Gadis itu menoleh kearah Leo yang mengumpatinya. "Kenapa?"
"Kau bicara apa dengan tuan Bai Lian sampai membuatnya marah seperti itu? Gara-gara kau, aku kehilangan uang untuk hidup selama berhari-hari!"
"Ck! Berisik. Lebih baik kau panggil Levin, kak Yin Yang, dan kak Sky untuk ke kamarku. Aku perlu mendiskusikan tentang penyerangan markas Lin." Ucap Yve sambil mengibas-ngibaskan kertas ditangannya.
"Huh! Aku ingin uang, bukan perintah. Lagipula aku di suruh untuk menjagamu, bukan untuk menjadi pembantumu!"
Yve memicingkan mata dengan kesal. Kerbau ini sudah lupa kata-kata sopan yang dia katakan padaku saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.
"Leo, kau memilih panggil mereka sekarang, atau aku meminta kak Tina untuk tidak usah memberimu gaji sekalian?"
"Iya iya, aku akan memanggil mereka." Leo menaruh sapunya dengan kasar, kemudian melenggang kearah cafe depan.
Dia berubah menjadi mata duitan. Yve menggelengkan kepalanya dan kembali menaiki tangga.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar Yve akhirnya diketuk oleh seseorang.
Tok! Tok!
"Masuk."
Pandangan Yve disambut oleh Leo dan empat orang yang diminta untuk dipanggilkan sebelumnya.
"Kenapa lama sekali?" Yve menatap Leo seolah menyalahkannya.
"Jangan tanya aku! Tanya mereka yang lebih memilih makan daripada mendengarkanku!" Balas Leo.
__ADS_1
"Jadi ada apa?" Levin duduk di depan Yve dan diikuti oleh yang lain.
"Leo, kau ingin mendengarkan juga?" Tanya Yve yang melihat Leo ikut duduk.
"Hanya mendengarkan saja. Dengan begitu aku bisa mendoakan kalian agar selamat."
Yve mengangguk, kemudian membuka kertas yang terlipat ditangannya. "Ini adalah peta markas Lin."
"Woah besar sekali ya." Sky menjadi orang pertama yang berkomentar.
"Hei! Orang yang mengatur tempat ini sepertinya bodoh haha." Yang tiba-tiba tertawa, dan semuanya hanya melirik dengan bingung.
"Kau benar, sangat bodoh hahaha." Yin ikut tertawa.
"Maksudnya apa?" Yve menggaruk kepalanya dengan bingung. Tadi ia sudah melihat peta ini tapi masih tidak paham letak kelucuan yang dimaksud oleh si kembar itu.
"Lihat ini." Yang menunjuk salah satu ruangan, dan di bagian itu tertulis 'Ruang Cctv'
"Kenapa dengan ruangan itu?" Kali ini yang bertanya adalah Sky.
"Ruang cctv nya memiliki jendela. Bukankah artinya si pengawas akan menjadi sasaran empuk untuk peluruku? Hahaha." Yin kembali tertawa seperti penjahat.
"Itu benar hahaha" Kembarannya mengikuti.
"Pfftt bodoh hahaha." Si kembar langsung mencemooh.
Levin menghela nafas dan kembali bicara. "Aku sengaja melakukannya, agar siapapun orang yang mengintai Lin bisa sadar dengan ruangan cctv itu. Tapi nyatanya tidak ada yang sadar. Orang-orang yang berniat menyelidiki Lin selalu menggunakan cara menyusup dengan menyamar. Padahal para preman yang menjaga disana tidak tahu dengan pasti letak ruangan di dalam, jadi percuma saja menyamar untuk mendapat informasi peta disana."
"Lalu kenapa ini bisa?" Yve mengangkat kertas yang sedang dilihat oleh orang-orang itu. "Jangan-jangan ini peta palsu?"
"Itu asli. Ruangan di dalam persis seperti itu. Kemungkinan orang yang mendapatkannya berhasil menggorek informasi dari pekerja tetap di dalam. Tapi... Aku berani bertaruh, orang yang memberikan peta ini pasti sudah mati."
Keheningan kembali terjadi untuk beberapa saat. Yve sebenarnya tidak terlalu terkejut lagi dengan itu, karena berdasarkan cerita Bai Lian, disana memang sangat ketat. Orang yang membawa peta ini pasti mengorbankan hidupnya. Yve tidak boleh membiarkan orang itu mati dengan sia-sia.
"Aduh seram sekali. Lalu bagaimana kita bisa masuk? Aku terlalu lemah lembut untuk bertarung." Sky memegang pipinya dengan ekspresi sedih.
"Kau kan sudah sering bertarung. Hentikan rengekanmu." Yin menepuk kepala Sky dengan keras.
"Kita sudah memiliki petanya. Itu lebih mudah." Levin kembali melihat peta itu lalu mengusap dagunya dengan bingung. "Meskipun begitu, aku tidak terpikir satu rencana pun."
"Jadi harus kak Devian ya." Yve menatap yang lain untuk meminta pendapat mereka.
"Ini sudah jam delapan malam. Biasanya para bodyguard akan bergantian berjaga di luar." Levin melihat jam dinding di kamar Yve. "Devian pasti sedang berada di kamar untuk mandi."
__ADS_1
"Ya ampun Levin tampan, kau tahu jadwal mandi Devian sayang? Apa kau mengintipnya?" Sky mengangkat kedua alisnya bergantian.
"Aku sudah lama ingin bekerjasama dengannya. Jadi aku menghafalkan kebiasaannya." Jawab Levin santai.
Tunggu, dia tidak mengelak dikatai mengintip? Yve menatap curiga.
"Jadi mari kita bertanya pada Devian." Leo tiba-tiba berinisiatif mengambil ponselnya dan menelpon Devian.
[Halo?] suara Devian muncul disertai bunyi garukan kepala yang khas.
"Kau sedang apa?" Tanya Leo sambil menekan tombol loudspeaker agar yang lain bisa ikut mendengarkan.
[Baru selesai mandi. Sekarang sedang mengeringkan rambut.]
Semua orang sontak menatap Levin dengan ngeri. Tebakannya benar.
"Kyaaa, lain kali aku harus mengunci kamarku agar Levin tampan tidak mengintipku." Sky langsung menutupi tubuhnya sambil menatap Levin ketakutan.
"Aku tidak akan melakukannya!!!"
[Eh? Apa kalian sedang berkumpul?]
Leo menaruh ponselnya diatas meja, dan membiarkan orang-orang mengerumuni benda itu.
"Kak Devian, kami mendapat peta markas Lin. Kata Levin, ini benar-benar cocok dengan keadaan di dalamnya." Yve memulai pembicaraan seriusnya.
[Itu bukan coretannya si Levin kan? Aku tidak sanggup melihatnya. Mataku akan memerah nanti.]
"Tidak usah mendramatisir." Kata-kata Levin langsung dibalas oleh tawa Devian di ujung telepon.
[Baiklah, kirimkan fotonya padaku. Aku akan memberikan usulan.]
Leo yang menjadi perantara komunikasi, langsung melaksanakan perintah Devian.
[Oh ini petanya. Tunggu sebentar, biar kulihat.]
Orang-orang menunggu Devian dengan tertib. Yin Yang masih merokok dengan santainya, dan seperti terpanggil, Yve juga ikut merokok bersama mereka.
[Hahaha siapa yang mengatur ruangan? Sangat bodoh. Ruangan cctv memiliki jendela? Kau pasti bercanda.] komentar Devian.
"Langsung saja katakan rencananya!" Levin yang secara tidak langsung disindir itu merasa marah.
[Ehem! Sebelumnya aku ingin mengatakan, kalau lebih baik kita menyerang markas Lin besok. Karena besok adalah waktu kepergian tuan besar bersama Lin ke luar negeri. Lin tidak akan berada di markasnya, dan kebetulan besok adalah hari minggu. Yve libur sekolah bukan?]
__ADS_1
Be-besok?!