Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Dituduh


__ADS_3

Tik! Tik!


Leo tiba-tiba membuka matanya. Ini pasti sudah jam 5 pagi. Kebiasaannya saat menjadi bodyguard di rumah keluarga Bai masih terbawa sampai sekarang. Setiap jam 5 pagi, ia akan terbangun dengan sendirinya.


Hoaaammm


"Kepalaku pusing."


Leo duduk dan mulai mengingat kembali kejadian semalam. Sejauh ingatannya, Yve tiba-tiba marah tidak jelas, lalu pergi dari apartemennya. Setelah itu Leo menyapu dan mengepel lantai sampai lelah.


"Haiss aku teringat uangku yang sudah menipis lagi."


Dengan malas Leo turun dari ranjangnya. Ia bermaksud mencuci muka dan menggosok gigi di kamar mandi. Tapi saat melewati jendela, ia melihat sesuatu yang menarik, dan berhenti sejenak untuk melihat.


Jendela apartemennya mengarah langsung pada cafe tempat Yve tinggal. Itu karena sejak awal Leo bertugas untuk mengawasi keamanan cafe, jadi tentu saja ia memilih tempat tinggal yang mendukung tugasnya. Tapi kali ini ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Ah itu Yve. Memakai seragam sekolah dan berpenampilan culun lagi. Hm? Dia membawa apa itu?" Leo menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. "Oh cuma samurai."


Leo kembali berjalan menuju kamar mandi.


"Eh tunggu... Samurai?!"


Leo segera menyambar jaket didekatnya, lalu buru-buru keluar apartemen. Ia secepat mungkin melesat untuk menemui Yve.


"Yve tunggu!!!" Teriak Leo saat melihat Yve ingin berjalan pergi.


"Ada apa?" Yve berhenti dan menatap Leo dengan wajah datar.


"Kau ini apa-apaan hah? Kenapa bawa samurai?"


"Samurai?" Yve melihat tangannya. Ia baru sadar kalau memegang samurai. "Wah kenapa aku bawa samurai?"


"Kau tidak sadar?!"


"Saat memikirkan orang-orang berengsek di sekolah, aku tidak sadar mengambil ini."


"Dasar! Apa kau ingin membunuh orang?!" Leo segera merampas samurai dari tangan Yve.


"Aku tidak sadar. Bukan salahku."


"Lagipula kenapa kau punya benda seperti ini?"


"Dulu ada orang yang berniat membunuhku dengan benda itu. Setelah kukalahkan, aku membawanya pulang karena kupikir itu sangat keren."


"Astaga, orang macam apa itu? Sekelas yakuza?" Leo melihat samurai ditangannya. Yang sialnya itu memang terlihat keren.


"Entahlah. Orang yang kalah dariku saat balap liar tidak terima, lalu menyuruh orang lain untuk membunuhku."


Ternyata dunia anak salah pergaulan sama menakutkannya dengan dunia mafia.


"Oh iya, ada yang ingin kutanyakan." Leo menatap Yve dengan serius.

__ADS_1


"Apa?" Yve kembali menunda langkah kakinya.


"Kenapa kau berdandan culun saat ke sekolah? Memakai kacamata bulat dan rambut dikepang dua, benar-benar seperti kutu buku. Seharusnya matamu baik-baik saja kan? Tidak minus."


"Awalnya ini usulan kak Tina. Katanya biar rapi dan terkesan anak yang rajin. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, ini juga ide yang bagus untuk menyamar. Aku adalah pangeran bisu di area balap liar. Saat menjadi pangeran, aku hanya mengikat rambutku dan membuat wajahku terlihat jelas. Jika aku ke sekolah dengan tampang seperti itu juga, orang-orang akan sadar dan itu bisa merepotkan kak Tina. Bagaimanapun aku ini terkenal di kalangan anak nakal."


"Iya iya artis."


"Baiklah aku akan berangkat dulu." Yve kembali berjalan dengan ekspresi datar.


Kenapa hari ini Yve aneh sekali? Jangan-jangan dia ingin melakukan sesuatu. Aku harus memanggil bala bantuan.


Leo merogoh saku celananya. Untung saja ponselnya berada disana. Ia segera menelpon seseorang yang bisa membantu.


"Halo, SOS."



Baru saja Yve masuk pintu gerbang, tatapan orang-orang langsung menjurus padanya. Sebenarnya ditatap oleh banyak orang seperti ini baru pertama kali dirasakan oleh Yve. Biasanya yang menatapnya tajam hanya teman sekelas, murid dari kelas lain lebih kearah tidak perduli jika berpapasan dengannya di lorong.


Heh... Menarik.


Dari jauh Yve bisa melihat Orion berdiri sambil memandangnya. Tapi laki-laki itu diam saja, dan tidak berniat mendekati Yve atau bahkan menyapanya.


Saat aku terkena masalah besar, dia tidak ingin dekat-dekat denganku rupanya. Watak Orion memang begitu. Dia takut kalau dekat dengan murid bermasalah bisa menganggu prestasinya.


Apakah disaat seperti ini tidak ada orang yang akan berteman denganku di sekolah?


Soni terus bicara panjang lebar di samping Yve, sementara orang-orang dibuat terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan.


"Soni, bukankah sudah kubilang, saat disekolah anggap saja kita tidak saling kenal." Bisik Yve.


"Halah itu sudah cerita lama. Sekarang kau dianggap bermasalah disini, seperti aku. Kita bisa ke ruang BP bersama-sama."


"Jadi menurutmu itu seru?"


"Tentu saja! Aku jadi punya teman saat dihukum nanti. Nih ya, palingan sebentar lagi kau dipanggil kepala sekolah. Tadi aku melihat anak sok rajin berlari ke ruang guru saat melihatmu berangkat."


"Apa iya?"


[Kepada Yvenia Guilietta, harap segera datang ke kantor kepala sekolah.]


Suara dari speaker menggema di seluruh bagian sekolah.


"Tuh kan! Hahaha aku menang. Sini 100 ribu."


"Memangnya kita taruhan?"


"Pelit sekali! Kusumpahi motormu benar-benar diambil depkolektor!"


Aku membeli motor itu cash.

__ADS_1


Ah sudahlah, aku malah menanggapi Soni. Sekarang, mari kulihat, apa yang akan mereka katakan.


Yve berjalan menuju kantor kepala sekolah.



Di kantor kepala sekolah.


"Dia pasti mencontek!"


Yve masih terdiam. Ia ingin dengarkan lebih dulu tuduhan dari wali kelasnya yang sangat menggebu-gebu itu.


"Selama ini nilainya rendah! Jarang mendengarkan pelajaran dan selalu tidur di dalam kelas. Bahkan dia beberapa kali bolos seenaknya! Kepala sekolah, cepat keluarkan dia dari sekolah ini." Wali kelas itu menunjuk-nunjuk Yve sambil mengatakan keinginannya.


Brakk!!!


Kepala sekolah yang sudah tersulut emosi, menggebrak meja dengan sangat keras. "Keterlaluan! Sebelumnya, tidak pernah ada murid yang berani mencontek di sekolah ini! Aku akan menulis surat resmi untuk mengeluarkan murid sampah sepertimu."


"Sudah bicaranya? Panjang sekali. Telingaku lelah." Yve mengorek kupingnya dengan ekspresi datar.


"Kau murid tidak tahu diuntung!"


"Wali kelas sungguh baik memberikanku julukan itu. Tapi..." Yve melirik kepala sekolah dengan tatapan dingin. "Pemikiran kalian ini sangat bodoh dan primitif. Melihat murid yang tadinya bodoh lalu menjadi pintar, bukannya senang dan bangga kalian malah menuduhnya mencontek. Tidakkah kalian berkaca? Pengajaran kalian sangat kurang, dan kata-kata yang kalian gunakan sangat kasar kepada murid sepertiku. Bukankah kalian seharusnya membimbing dan mengayomi murid-murid dengan baik?"


Wali kelas Yve langsung murka, wajahnya memerah dan berjalan mendekati Yve dengan cepat.


"Kamu menyalahkan kami?! Beraninya!"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yve.


Huh? Aku ditampar?


"Guru-guru sudah tahu jelas kemampuan murid. Jika kamu mengakui kesalahanmu, maka pihak sekolah akan memberimu satu kesempatan."


"Kesalahan apa yang harus aku akui?" Sekarang Yve mengalihkan tatapan tajamnya pada wali kelasnya.


"Kamu masih tidak mau mengaku? Kami berbaik hati mengajakmu bicara karena kamu tidak memiliki orang tua. Apakah kakakmu yang sebagai wali itu mengajarimu cara berbohong?"


"Beraninya kau mengatai kakaku!" Yve sepontan menarik kerah baju wali kelasnya.


"Tolong! Anak ini gila!"


"Cepat lerai!"


"Berhenti Yve!" Seseorang tiba-tiba masuk ruangan.


Yve terkejut dan menoleh.


Kak Devian?!

__ADS_1


__ADS_2