Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Aku Menunggumu


__ADS_3

Tik! Tik! Tik!


Yve terus menatap jam dinding dengan ekspresi serius. Sebenarnya ia sedang menunggu seseorang yang mungkin saja akan muncul tiba-tiba dengan identitas palsu. Tapi sudah 2 jam menunggu, tidak ada tamu lain selain Soni yang sekarang sedang menghabiskan stok apel Tina. Untung saja kakaknya sedang pergi membeli cemilan, kalau tidak, Soni pasti akan dimarahi.


"Yve, kau serius tidak ingin apel ini? Rasanya manis." Soni bertanya sambil menyodorkan apel ditangannya.


"Tidak."


"Ya sudah kumakan semua." Soni kembali melanjutkan kegiatannya.


"Ck! Kenapa kau tidak pulang saja? Apa masih belum puas dimarahi kakakku?"


"Hei, aku ini setia kawan. Melihat temanku terluka dan harus menginap di rumah sakit, tentu saja aku sebagai teman baikmu akan menemanimu sampai sembuh."


"Kukira kau hanya ingin bercerita soal mengompol, dan memakan makanan dari orang yang menjengukku."


"Itu juga benar hahaha."


Yve memutar bola matanya dengan kesal, lalu kembali melihat jam dinding. Hanya ada mereka berdua di ruangan ini. Rasanya semakin sepi.


"Soni."


"Hm?" Soni hanya bergumam sambil mengunyah apel.


"Kau mempunyai banyak pacar. Memangnya kau mencintai mereka semua?"


Setelah menelan kunyahan apelnya, Soni menjawab. "Tentu saja tidak. Aku tidak mencintai mereka semua."


"Lalu kenapa kau berpacaran dengan mereka?"


"Entahlah, mungkin hobi hahaha."


Duak!


Yve bangkit dan menjitak kepala Soni dengan keras.

__ADS_1


"Aduh, kenapa aku dipukul?"


"Sebagai seorang perempuan seperti mereka, aku merasa kau sangat jahat."


Soni menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum. "Tumben sekali sisi perempuanmu muncul. Manis juga. Mau jadi pacarku?"


"Tidak."


"Ya ampun jawabannya cepat sekali. Iya deh yang sudah punya pacar tampan."


"Cih! Orang sepertimu pasti tidak pernah jatuh cinta." Ledek Yve.


"Enak saja! Aku pernah. Malahan itu cinta pada pandangan pertama."


"Idih... Yang benar saja. Jangan mengada-ada."


"Aku serius. Dia anak kelas satu. Namanya Luna. Wajahnya cantik, dan senyumnya lembut. Aku tidak sengaja menabraknya saat berlari di lorong sekolah, lalu jatuh cinta. Sayangnya dia sudah punya pacar. Aku tidak punya harapan lagi."


"Gampang. Katakan siapa pacarnya? Biar kuhajar. Lalu saat dia masuk UGD, kau dekati perempuan itu." Yve menaikkan sudut bibirnya dengan bangga.


"Oke sepakat." Yve dan Soni saling berjabat tangan.


"Ada apa ini? Dua anak sedang merencanakan niat jahat?" Beng tiba-tiba masuk sambil membawa dua plastik belanjaan. Yve bahkan terkejut karena tidak sadar dengan pintu yang terbuka.


"Kak Beng? Datang sendiri?"


"Iya, memangnya kau berharap aku datang dengan siapa?" Beng menaruh bawaannya diatas sofa.


"Ti-tidak, lupakan." Yve segera menggeleng.


Soni mendekat pada Yve untuk berbisik. "Dia siapa? Wajahnya seperti preman tapi agak tampan."


"Anggap saja dia orang yang mengurusi masalah pegawai di tempatku bekerja."


"Oh begitu." Soni mengangguk.

__ADS_1


Beng mulai menatap Soni yang tiba-tiba saja berbisik pada Yve saat ia datang. Ia langsung tersadar sesuatu saat melihat wajah bocah itu. "Hei wajahmu mirip tuan Fer-"


"Kak Beng, apa yang kau bawa?" Yve langsung memotong pembicaraan, untuk mencegah Soni mengetahui semuanya.


"Oh ini semua cemilan milik South yang kuambil dari kamarnya pagi ini. Karena orangnya sedang pergi, aku bisa membersihkannya dengan mudah."


"Kasihan sekali. Memangnya dia pergi kemana?"


"Dia dan North pergi menemani tuan Bai Lian ke luar negeri. Mereka berangkat pagi-pagi sekali."


Apa? Bai Lian di luar negeri? Kenapa semalam dia tidak bilang padaku?


Sial! Kenapa aku sedikit kecewa?


"Kalau tidak salah, tiga hari lagi akan pulang." Lanjut Beng.


"Memangnya dia ingin bertemu siapa?"


"Tentu saja tuan besar. Kemarin, tuan besar meminta tuan Bai Lian untuk menyusulnya dan membantu mengurusi beberapa dokumen yang bermasalah. Karena itu seharusnya tugas tuan Lin, jadi Tuan Bai Lian memerlukan waktu untuk mempelajari masalahnya. Semalaman dia tidak tidur dan hanya membaca dokumen. Setelah paham, pagi tadi langsung berangkat."


Yve tertunduk. Ia baru tahu kalau semalam Bai Lian sangat sibuk, tapi masih menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Dan ia secara egois sempat meminta Bai Lian untuk tetap tinggal. Untung saja tidak jadi karena Max menyuruhnya cepat pergi. Kalau tidak, pasti ia akan menyesal.


Dasar Bai Lian berengsek.


"Kenapa kak Beng tidak ikut? Apa Bai Lian akan baik-baik saja?"


"Disana ada bodyguard senior Max. Dia lebih hebat dariku, jadi aku tidak dibutuhkan. Sementara South dan North adalah yang paling hebat dalam hal menembak, bahkan lebih hebat dari seniornya, kak YinYang. Jadi mereka yang dibawa."


"Lalu kak Devian?"


"Jangan tanya orang itu. Dia bahkan bisa menjaga tuan Bai Lian sambil buang air besar. Julukan bodyguard 100 mata bukan bualan. Sekarang Devian berada di rumah. Katanya nanti akan menyusul kemari untuk melihat keadaanmu."


Yve mengangguk. Semua perkataan Beng ada benarnya. Dan ketika kakaknya pulang setelah membeli cemilan, pasti akan senang bukan main setelah melihat ada Beng disini.


Ternyata orang yang kutunggu tidak akan datang kali ini. Tapi tidak apa-apa, aku bisa mempersiapkan diri untuk menjawabnya. Aku akan menunggumu, Bai Lian.

__ADS_1


__ADS_2