
Ayo! Ayo! Ayo!
Teriakan penyemangat dari banyak bodyguard menggema, membuat dua pengendara yang sedang bersiap untuk lomba menjadi lebih bersemangat.
Satu pengendara merupakan gadis kecil yang menaiki motor sport mainan. Sementara lawannya adalah seorang pria dengan menaiki mobil-mobilan yang terbuat dari kardus, wajahnya penuh coretan crayon dan rambutnya diikat dengan karet warna-warni.
"Ayo Bernard! Jangan mau kalah! Ingat wibawamu!" Teriak salah satu bodyguard.
"Kau pikir aku masih memiliki wibawa sekarang?!" Balas Bernard, si pengendara mobil kardus.
"Bersiap."
Seorang bodyguard berotot tanpa malu berdiri diantara kedua pembalap menggunakan rok tutu berwarna pink.
Melihat bodyguard itu muncul, si gadis kecil yang menaiki motor mainan membuka kaca helm kecilnya. "Paman Ronan kurang seksi! Dimana paman Sky?!" Teriak gadis itu.
"Dia sedang menemani ayahmu, ingat? Lagipula paman sudah seksi, lihat rok tutu ini." Ronan bergaya imut meniru Sky. Tapi tentu saja itu terlihat jelek di mata gadis kecil yang suka protes.
"Aku tidak mau tahu! Nanti kalau aku menang, paman Ronan harus menari balet sambil mengelilingi rumah ini."
"Lihat, sifatnya perpaduan antara ayah dan ibunya." Bisik South pada kembarannya yang sama-sama menonton. Lebih tepatnya, dipaksa menonton.
"Aku mendengarmu paman South! Lihat saja nanti, aku akan mengambil udang goreng saus fermentasi kedelai yang kau pesan 15 menit yang lalu!!!"
South terkejut. "Bagaimana nona tahu?! Tidaaakkk jangan ambil makananku lagi huhu." South berguling diatas tanah sambil menangis.
Yang paling aneh adalah, kenapa bisa nona kecil menyukai makanan tidak lazim seperti South?
North hanya bisa menggeleng dengan heran.
"Cih! Cepat mulai! Paman Ronan lambat sekali, aku akan melemparimu geranat seperti paman Yin Yang." Gerutu gadis kecil itu sambil menurunkan kembali kaca helmnya.
"Baiklah. Mulai!"
Dengan suara gemulai yang Ronan contoh dari Sky, laki-laki garang pecinta miniatur mobil tadi menurunkan tangannya. Dan kedua pembalap memacu tunggangan mereka masing-masing. Bernard cukup kesusahan dengan mobil kardus besarnya, ia harus menggunakan tenaga kaki sambil mencoba menggerakkan mobil bongsor itu. Sementara nona kecil melaju dengan cepat menggunakan motor mini bertenaga listriknya.
Akhirnya sang pemenang mencapai garis finish. Tentu saja itu si nona kecil. Kalaupun Bernard lebih cepat, ia tetap akan membiarkan si nona kecil menang.
"Selamat! Pemenangnya adalah Bai Melissa!!!"
"Horeeee." Semua bodyguard yang menjadi penonton paksaan memberikan tepuk tangan dengan meriah.
Bai Melissa, anak perempuan berusia 7 tahun itu membuka helmnya dan tersenyum dengan bangga. Dia adalah anak Bai Lian dan Yve. Wajahnya manis seperti ibunya, tapi ketampanan ayahnya lebih mendominasi. Ia sering memakai pakaian laki-laki ketika berada di rumah, tapi saat menghadiri acara penting ia juga sangat manis dengan balutan gaun yang indah. Sifatnya lebih banyak diturunkan dari sang ibu, sementara sifat tegas dan suka perintahnya didapat dari sang ayah. Kepintarannya jauh diatas rata-rata, entah darimana ia mendapatkannya, tapi itu cukup berguna untuk mengerjai para bodyguard yang mengasuhnya. Ketertarikannya pada motor sport membuat orang-orang berkata ia seperti duplikat sang ibu, bahkan kamarnya penuh dengan penak-pernik motor sport, dan hal-hal berbau balapan.
"Nona, kemari. Waktunya makan." Teriak Devian sambil membawa piring makanan.
"Awas saja kalau paman memberiku sayur lagi. Aku ingin makan mie instan!" Protes Melissa sambil melepaskan perlengkapan balapannya.
"Ingat kata ibumu kan? Makan sayur yang banyak supaya cepat besar. Paman juga tidak bisa berbuat banyak, nanti ibumu mengomel." Devian menyerahkan piring makan yang dibawanya pada Melissa.
"Cih! Alasan. Paman kan bisa berbohong. Bilang pada ibu kalau aku makan sayur banyak sekali. Selesai kan?"
Ya ampun, kenapa anak kecil menyuruh orang tua sepertiku untuk berbohong? Kalau bukan anak Yve sudah lama aku menenggelamkannya ke laut.
"Sudah makan saja. Sebentar lagi ayah dan ibumu pulang. Kalau tidak ingin dimarahi, cepat habiskan."
"Tapi ini ada 3 helai seledri, kol yang diiris tipis, dan tomat. Aku tidak mau! Aku hanya mau mie instan! Tanpa toping. Buat lagi!"
__ADS_1
Kenapa dia tahu? Padahal sudah kuiris sekecil mungkin. Pasti kepintarannya diturunkan dari Julian, mendiang ayah Bai Lian. Menurut data yang kudapat, Julian sangat pintar, bahkan lebih pintar dariku. Jadi apakah Melissa kecil juga mendapatkan kepintaran itu?
"Paman Devian! Jangan diam saja. Jawab aku." Melissa menarik-narik dasi yang dipakai Devian untuk menarik perhatian.
"Makan sekarang! Atau paman akan memberitahu ibumu."
"Huaaaaa paman jahat. Huaaaa." Melissa menangis sambil memukul-mukul kaki Devian.
"Astaga kak Devian, apa yang kau lakukan pada Nona Melissa?" South datang dan dengan sigap menggendong anak tuannya. "Cup cup sayang. Siapa yang nakal?"
"Hiks, paman Devian."
"Iya nanti biar paman South pukul ya."
"Pukul pakai barbel yang digudang ya. Sambil bernyanyi it's the best day ever~"
"Dasar anak tidak tahu diri!" Devian yang emosi langsung ditahan oleh North dan Ronan.
"Tenanglah Devian. Ingat dia adalah nona Melissa."
"Sabar." Ucap North singkat.
"Huh! Paman Devian bodoh, tidak pantas menjadi kepala bodyguard. Aku ingin kepala bodyguard yang pintar."
Memangnya aku mau menjadi kepala bodyguard? Kalau bukan karena Beng yang mengundurkan diri dari dunia bodyguard, dan keluar dari rumah keluarga Bai, aku tidak mau menjadi kepala bodyguard. Si Beng itu lebih memilih hidup tenang bersama anak istrinya. Menyebalkan.
"Baiklah, sana bilang sama orang tuamu!"
"Hiks paman Devian membentakku lagi. Huaaaaa."
"Aduh kak Devian, jangan begitu. Ingat dia masih anak-anak. Jangan diambil hati." South kembali menenangkan Melissa.
Mereka benar, kenapa aku emosian akhir-akhir ini? Mungkin aku sedikit tidak terima kalau harus mengurusi Melissa. Sisi Axel yang seharusnya jadi pewaris membuatku terkadang lupa tentang identitas palsuku ini.
"Baiklah. Maafkan paman ya nona Melissa." Devian tersenyum sambil mengusap rambut gadis kecil di depannya.
"Kumaafkan kalau paman Devian lompat kodok sambil membawa payung bergambar hello kitty."
"Kemari kau bocah!!!"
"Tenanglah kak Devian."
Melissa tertawa melihat kericuhan yang terjadi. Sebenarnya ia sangat suka suasana ketika bersama para bodyguardnya. Rasanya ingin terus bersama dengan para paman ini.
"Melissa."
Seorang laki-laki kecil berdiri tidak jauh dari South. Meskipun suaranya pelan saat memanggil nona muda itu, tapi Melissa langsung sadar dan buru-buru turun dari gendongan South.
"Kak Xavier!!!"
"Oh ada Xavier." South langsung menyapanya.
"Halo paman sekalian. Selamat sore." Xavier dengan sopan menundukkan kepala untuk memberi salam.
"Sore. Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya Bernard sambil berjongkok agar tingginya setara dengan bocah laki-laki berusia sebelas tahun itu.
"Dia baik paman. Katanya akan berkunjung lusa nanti."
__ADS_1
"Horeeee aku ingin bertemu paman Beng." Melissa melompat kegirangan.
Gyn Xavier, adalah anak Beng dan Tina. Dia memiliki pribadi yang baik dan sopan. Kebalikan dengan Melissa, Xavier menghabiskan hari-harinya untuk bersekolah dan membantu orang tuanya mengurus cafe. Sifatnya semua seperti sang ibu, dan itu sangat melegakan bagi siapapun yang mendengarnya. Meskipun ayahnya sangat kuat tapi itu tidak diturunkan sama sekali pada Xavier. Anak laki-laki itu tidak menyukai hal-hal berbau kekerasan, dia halus dan cinta damai. Xavier juga sering menasehati Melissa agar tidak mengerjai para bodyguardnya.
Tin! Tin!
Sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah. Semua bodyguard menghembuskan nafas lega. Akhirnya penderitaan mereka berakhir. Sementara Melissa ketakutan dan bersembunyi di belakang Xavier.
"Melissa!" Yve turun dari mobil dan menatap Bernard serta Ronan yang berpenampilan acak-acakan.
Yve masih sama seperti dulu, wajahnya cantik sekaligus tampan. Ia juga masih mengenakan jas laki-laki untuk bertugas. Ya, selama ini ia masih menjadi bodyguard Bai Lian. Saat Bai Lian pergi untuk bertemu kolega, atau sekedar mengecek pabrik permen karetnya, Yve akan selalu terlihat disisinya.
"Melissa! Apa yang kau lakukan pada paman Beruang dan paman Ronan? Kemari lihat ibu. Atau pilih push up 30 kali?!"
"A-aku pilih push up." Jawab Melissa dari sela-sela tangan Xavier. Ia sangat takut jika melihat ibunya marah.
"Bagus. Lakukan itu sekarang!"
Ketika Melissa ingin malakukan apa yang ibunya suruh, tiba-tiba sang ayah datang dan menggendongnya. "Jangan begitu. Kemarin Melissa juga sudah push up, kemarin, dan kemarinnya lagi dia juga push up. Kasihan."
"Tapi dia mengerjai bodyguard. Tidak kasihan dengan mereka juga?" Yve menunjuk Bernard dan Ronan yang langsung mengangguk.
"Begini saja. Bernard, Ronan, gaji kalian kuberi dua kali lipat." Ucap Bai Lian enteng.
"Wah kalau itu sih tidak apa-apa tuan haha." Bernard menggaruk tengkuknya dengan malu-malu.
"Ya benar, tidak masalah." Ronan mengangguk.
"Tunggu!" Leo sebagai supir baru keluarga Bai keluar dari mobil dengan buru-buru. "Nona Melissa, besok main sama paman Leo saja ya. Bagaimana?"
"Leo hentikan itu. Kau hanya ingin gaji dua kali lipat kan?" Yve memberikan tatapan tajamnya.
"Kau memang mengerti aku Yve haha."
"Aku tidak mau bermain dengan paman Leo! Aku lebih suka main bersama paman Kian dan paman Sky."
Kian dan Sky keluar dari mobil yang sama dengan Yve dan Bai Lian. Mereka ikut bergabung bersama yang lain.
Semenjak kepergian Beng, dan kehadiran Melissa, Bai Lian mengubah total susunan bodyguard. Yve, Leo, Sky, dan Kian si bodyguard baru, menjadi tim bodyguard inti yang akan menemani Bai Lian kemanapun ia pergi. Menempatkan bodyguard yang hebat di rumah, guna melindungi si kecil Melissa. Jika ada penyerangan di rumah saat Bai Lian pergi, masih ada South yang ahli menembak, Bernard yang ahli mengemudi untuk melarikan Melissa pergi, dan ada beberapa bodyguard lain yang jika ditotal kekuatannya menyamai Beng, semua itu akan diketuai oleh Devian yang akan menjaga Melissa seharian.
Sementara di sisi bodyguard inti versi baru. Kian mulai belajar menembak dari South, meskipun keahliannya lebih buruk dari Yve, itu sudah cukup untuk menambah kekuatan tim. Leo yang baru saja mendapatkan kartu SIM sebenarnya tidak terlalu mahir dalam mengemudi, tapi karena tidak ada pilihan lain terpaksa memakainya. Leo juga bisa berguna dalam hal menembak, dia pengguna double gun yang cukup piawai. Tugas Sky menjadi yang paling penting diantara yang lain. Berita tentang menikahnya Bai Lian sudah tersebar, dan menurut berita itu sang istri adalah bodyguardnya sendiri. Melihat Bai Lian yang pergi dengan perempuan, pastilah perhatian semua orang akan tertuju pada Sky yang paling feminin. Singkatnya Sky dibawa untuk pengecohan, agar semua orang menganggapnya istri Bai Lian. Untung saja Sky rajin perawatan sinar laser di wajahnya, jadi dia masih terlihat awet muda.
"Xavier, kau main ke sini seorang diri?" Tanya Yve sambil mengusap rambut anak laki-laki itu.
"Iya bibi Yve. Ayah memberikan petunjuk jalan yang aman kulalui."
"Baguslah. Nanti pulang minta diantar paman Bernard ya."
"Baik." Xavier mengangguk sambil tersenyum.
"Ayah, aku ingin mengunjungi kakek di desa. Sekalian lihat bebek." Seru Melissa dengan antusias.
"Baiklah, tapi minggu ini adalah jadwal kita mengunjungi paman Lin, dan paman Levin."
"Kita bisa mengunjungi mereka dulu lalu langsung ke desa. Hihihi aku suka bertemu paman Lin, dia baik dan suka mengusap kepalaku. Kalau paman Levin sedikit cuek."
Sky menahan tawanya. Tentu saja! Levin cemburu karena Yve lebih memilih Bai Lian daripada dia haha. Hanya aku yang tahu soal Levin yang menyatakan perasaannya pada Yve. Sebaiknya aku diam saja haha.
__ADS_1
Hari-hari berlangsung dengan damai seperti ini. Keluarga Bai yang baru tidak bisa ditembus oleh musuh dari manapun. Semua orang saling menjaga satu sama lain. Tidak ada celah untuk musuh disini.