Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Dia yang Aneh


__ADS_3

Tina yang mendengar keributan, mengintip dari dapur. Ia menatap Bai Lian dengan heran. Orang yang dikiranya sebagai tukang angkut sampah, berkata ingin membagi uang dengan si bencong dan yang lainnya?


Apa sebenarnya dia bukan orang miskin ya?


"Siapa kau?" Bai Lian melihat Levin dengan ekspresi curiga.


Leo jelas paham apa yang terjadi, Bai Lian seharusnya tidak boleh melihat Levin sekarang. Ia pasti akan melakukan sesuatu demi rencana yang telah disusun.


"Eh? Tuan Bai Lian bicara dengan siapa?" Leo pura-pura celingukan dan mengabaikan sosok Levin.


Leo, idemu sungguh buruk. Ini belum benar-benar malam, tapi setan sudah muncul? Yang benar saja!


Levin hanya bisa berkomentar dalam hati.


Yin Yang dan Sky tiba-tiba memiliki pemikiran yang sama untuk mengikuti Leo. Sebenarnya mereka juga tidak memiliki ide lain. Karena kebetulan Levin memakai baju seperti itu, maka ide gila Leo yang paling bisa diterima sekarang.


"Tuan, tidak ada siapapun disana. Kalau ada, pasti sudah kucium." Sky mengedipkan sebelah matanya.


"Benar tuan, kami juga sudah memeriksa tempat ini tadi. Tidak ada yang mencurigakan." Ucap Yang.


Hmmm... Berarti itu setan? Bai Lian masih menatap Levin.


Ternyata setan seperti itu ya wujudnya. Pakai jas compang-camping, dan taplak meja di kepala. Sungguh setan yang stylish.


"Kalian ini bicara apa?" Tina keluar dari dapur. "Jangan jahat begitu pada Levin. Dia itu diam tapi penurut. Bukan seperti kalian!"


Leo, Sky, Yin Yang "..."


"Kenapa malah dikasih tahu?!" Teriak mereka bertiga bersamaan.


Bai Lian menyentuh dua tangan kecil yang menutup telinganya, lalu menatap gadis di belakangnya dengan bingung.


Tadi, saat Tina hendak bicara, tiba-tiba saja Yve menutup kedua telinganya. Jadi Bai Lian tidak mendengar apapun.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Bai Lian pada Yve.


"Aku... Ingin menutup matamu tapi salah hehe." Yve segera melepaskan tangannya.


"Menutup mataku? Kenapa kau ingin menutup mataku?"


"Ingin membuat kejutan."

__ADS_1


"Cieee cieee." Goda Leo sambil mengangkat kedua alisnya.


Yve mengerutkan keningnya, lalu memberikan tatapan mengancam kearah Leo. Melihat itu, Leo langsung memberikan gerakan seperti sedang menutup resleting di mulutnya.


Benar-benar tidak sayang nyawa. Yve mendengus kesal.


Bai Lian tersadar dengan sesuatu, kemudian beralih menatap Yve. "Aku ingin berbicara sesuatu yang serius denganmu."


Tina menahan mulutnya untuk tidak berkomentar. Saat ini ia begitu ingin menggoda Yve dan pacar barunya. Tapi nanti ia hanya akan berakhir seperti Leo yang dihadiahi tatapan tajam.


Orion yang sedang berada dikejauhan sambil membawa nampan, hanya bisa memalingkan muka dengan kesal. Lalu mengutuki Bai Lian dalam hati.


Levin masih diam, dan mencoba mendalami peran barunya sebagai setan.


"Baiklah, ayo ke atas." Ajak Yve yang dijawab anggukan kepala dari Bai Lian.


Sesampainya di kamar Yve, Bai Lian langsung duduk dan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Aku sebenarnya ingin menyakan sesuatu."


"Apa?" Yve duduk di depan Bai Lian.


"Kenapa kau ingin menyerang markas Lin sendirian? Itu berbahaya. Kita sudah berjanji akan melakukannya bersama."


"Tiba-tiba aku berubah pikiran." Yve berkata dengan santai sambil melipat tangannya kedepan.


"Tidak perlu. Aku benar-benar akan melakukan semuanya sendiri." Yve buru-buru memotong kata-kata Bai Lian.


Bagaimana pun aku tetap tidak ingin Bai Lian terlibat. Dia harus tetap aman.


"Aku sangat kesal mendengarnya." Bai Lian menatap kertas ditangannya, dan dengan ragu-ragu memberikannya pada Yve. "Ini, kuharap kau bisa menggunakannya dengan baik. Tapi aku benar-benar tidak ingin kau kesana sendirian."


Yve menerima kertas itu dengan bingung. "Apa ini?"


"Peta markas Lin. Itu kudapat dari Farren."


Bagus sekali. Dengan ini akan lebih mudah menyusun rencana. Kemarin kak Devian sempat bilang kalau ada peta markas Lin akan lebih bagus. Itu karena gambar peta dari Levin sangat membingungkan, ditambah tulisannya yang seperti cacing keseleo itu membuat mata tidak nyaman.


Yve tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih, aku akan menggunakannya sebaik mungkin."


Ekspresi Bai Lian tidak terlihat senang, dia terus melihat Yve dengan tatapan yang aneh.


"Ke-kenapa?" Jujur saja Yve sangat risih ditatap begitu.

__ADS_1


"Lukamu... Sudah membaik?"


Ah, Yve hampir lupa kalau sedang terluka. Obat yang diberikan Bai Lian tadi siang benar-benar ampuh. Setelah sesi mengobati itu, tidak ada rasa sakit yang terasa. Kecuali saat ia latihan menembak, karena terlalu memaksa jadi sedikit sakit.


"Sudah tidak apa-apa."


"Yin Yang dan Sky menampakkan dirinya. Kau juga terluka. Apakah sesuatu telah terjadi?" Bai Lian menatap penuh selidik. Tapi diantara tatapannya itu, terdapat ekspresi khawatir yang mendalam.


"Banyak preman yang menyerang tempat ini kemarin. Mereka datang membantuku. Hari ini cafe juga tidak buka, karena ingin membereskan kekacauan kemarin." Jelas Yve tanpa ingin berbohong. Karena meskipun ia berbohong, Bai Lian tetap bisa mencari tahunya sendiri.


"Berapa jumlahnya?"


"200 preman."


"Tidak mungkin kalian bisa mengatasinya. Jumlahnya sangat banyak." Bai Lian sangat terkejut hingga tidak tahu apa yang harus ia tanggapi. Menanyakan keadaan Yve saat itu, atau bagaimana mereka bisa lolos?


"Tenang, saat itu kak Devia muncul membantu seperti super hero yang biasanya datang terlambat. Lalu dia bilang baru pulang dari liburan di resort, dan berniat mampir ke tempatku untuk memberikan oleh-oleh. Siapa sangka malah bertemu banyak preman." Karena bingung, Yve memakai alasan kepergian Devian seperti yang ia katakan pada Beng.


"Kukira lukamu dari perkelahian jalanan yang biasanya kau lakukan. Tapi ternyata ada kejadian seperti itu." Bai Lian kembali menatap Yve. "Maaf, aku tidak bisa membantu saat itu."


Kau memang tidak bisa membantu, hanya bisa menyuruh bodyguard untuk melakukannya. Dan bukankah bodyguardnya sudah membantuku? Bai Lian memang orang yang baik.


"Tidak perlu minta maaf." Yve dengan santai membuka kertas dari Bai Lian yang berisi peta markas Lin. Untunglah itu bukan gambar tangan.


"Di markas Lin nanti, akan ada lebih banyak preman. Aku tidak ingin kau pergi sendirian."


Siapa juga yang ingin pergi sendirian? Aku sudah bukan Yve yang dulu, hanya melakukan sesuatu dengan otot tanpa rencana. Sekarang aku akan mengikuti semua rencana kak Devian dan Levin.


"Aku tetap akan pergi sendirian. Kau tidak perlu-"


Brak!


Bai Lian tiba-tiba menggebrak meja didekatnya lalu menatap Yve dengan kesal.


"Kenapa kau begitu keras kepala hah? Aku ini mengkhawatirkanmu."


Apa-apaan dengan orang ini? Emosinya langsung meluap dengan sendirinya. Pasti golongan darahnya AB.


"Aku tidak butuh rasa khawatirmu." Ucapan Yve membuat Bai Lian langsung terdiam, kepalanya mengangguk dan ekspresinya terlihat kecewa.


"Baiklah, aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi! Sampai jumpa." Bai Lian buru-buru berdiri dan keluar dari kamar Yve.

__ADS_1


Dia kenapa? Dasar aneh.


__ADS_2