
Setelah melihat Yve makan ditemani Tina, Orion pergi ke pintu belakang cafe untuk membuang sampah. Ia seharusnya melakukan ini tadi malam, tapi kata bossnya tidak perlu buru-buru dibuang karena sampahnya sedikit.
"Bagaimana?"
Orion menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki dengan rambut pirang dan mata coklat tersenyum kearahnya.
"Namamu Levin kan, aku masih tidak percaya dengan apa yang kau dan bossmu katakan kemarin. Yve tidak terlihat seperti orang yang sedang diancam untuk melakukan sebuah pekerjaan kotor." ucap Orion tegas.
"Masih tidak percaya?" Levin menarik sudut bibirnya, tersenyum dengan licik. "Kau tahu Leo kan? dia sangaja ditempatkan di sisi Yve oleh orang jahat. Tugas Leo adalah memastikan agar Yve tidak kabur dan melaporkan tuannya yang jahat itu."
Orion menelan ludahnya dengan kasar. Perkataan itu... bisa saja benar.
"Untuk menarik hati Yve agar terlihat lebih sukarela, orang jahat itu memberikan motor pada Yve. Kau tidak tahu kan motor apa yang dipakai Yve sekarang?"
Orion menggeleng, membuat Levin semakin semangat mengatakan tipu dayanya.
"Itu adalah motor sport keluaran terbaru yang masuk ke negara ini. Harganya berkisar 116 juta sampai 120 juta."
"Se-semahal itu?!" Orion menganga tidak percaya.
"Dan kalau kau percaya pada Yve yang mengatakan itu dari kakek-kakek, berarti kau bodoh." Levin tertawa ringan, lalu melanjutkan kata-katanya. "Mana ada kakek-kakek membawa uang sebanyak itu?"
Orion terdiam. Ekspresi wajahnya nampak sedang berpikir keras. Perkataan Levin benar, itu sangat mustahil. Orang jahat yang sampai mengeluarkan uang segini banyaknya, pasti bukan orang biasa. Bagaimana caranya ia membantu Yve?
"Bagaimana caranya aku melepaskan Yve dari orang jahat itu?"
Levin tersenyum penuh keberhasilan. Akhirnya ia berhasil memperdayai orang ini. Benar-benar sangat mudah.
"Bawa Yve pada tuanku, Bai Lin. Dia akan melindunginya dari orang jahat itu. Tuanku punya kekuasaan, kau tenang saja."
"Baiklah, aku akan membawanya." Orion mengangguk dengan mantap.
"Jangan beritahu Yve maksudmu yang sebenarnya. Dia nanti akan ketakutan kalau ketahuan pergi mencari bantuan, lagipula ada Leo pasti mengawasinya. Buat alasan yang spesifik."
"Aku mengerti."
"Untuk tempatnya, nanti aku akan memberitahukannya padamu. Ajak saja dia dulu."
Yve, akhirnya sebentar lagi kau akan menjadi milik tuan Lin. Siapapun yang tuan Lin inginkan, maka dia tidak bisa pergi dari genggamannya.
❀
"Kenyangnya. Nasi goreng kak Tina benar-benar enak." Yve menyodorkan piring kosong pada Tina dengan ekspresi gembira.
"Wah sudah habis ya. Bagus sekali."
Yve diam-diam tersenyum sambil melirik Leo yang sedang menyapu dikejauhan.
Leo mengusap perutnya disela kegiatannya menyapu lantai.
__ADS_1
Astaga, kenapa harus aku yang memakan semua nasi goreng itu? asin sekali. Yve benar-benar jahat padaku. Siapapun tolong gantikan tugasku hiks.
Leo hanya bisa meratapi nasibnya yang seperti upik abu. Begitu mengenaskan.
"Hei Leo, jangan murung begitu." Yve menepuk bahu Leo dengan gembira setelah menyiksa dia dengan nasi goreng asin porsi sekelurahan buatan Tina.
"Jangan pedulikan aku." Leo menepis tangan Yve.
"Ayolah jangan marah. Aku akan memberikanmu bir setelah pulang kerja nanti."
"Yang benar?" Leo mulai tertarik.
"Tentu saja benar. Jadi ayo senyum!"
"Mulutku mati rasa karena asin."
"Hahaha dasar kau ini."
Orion muncul dan mendekati Yve yang tengah bercanda dengan Leo. "Yve" sapa Orion dengan senyuman lembutnya.
"Oh? ada apa?" Yve menoleh pada Orion.
"Besok saat hari libur, ayo pergi denganku."
Eh? eh? apa ini kencan? Leo diam-diam mendengarkan dengan antusias.
"Benar juga, tidak ada hari libur." Orion semakin miris mendengarnya. "Bagaimana kalau nanti? setelah kau pulang kerja."
Yve menatap Orion dengan bingung. Teman sebangkunya ini tidak pernah mengajaknya pergi bersama. Kenapa tiba-tiba sekarang ingin mengajak pergi? lagipula dia terlihat buru-buru. Apa yang diinginkannya?
"Kalau aku tidak lelah. Dan kalau aku tidak lupa." jawab Yve santai sambil berjalan kearah tangga menuju kamarnya.
Aku tidak ikut campur, Leo yang sadar diri tidak memiliki kekasih, akhirnya berinisiatif untuk pergi menyapu didepan cafe.
❀
Setelah tidur sebentar, Yve bersiap untuk berangkat menuju rumah Bai Lian.
"Kau ingin berangkat lagi?" Tina segera bertanya sambil mengelap meja yang baru saja ditinggalkan pembelinya.
"Ya" Yve mengangguk sambil memutar-mutar kunci motor ditangannya.
"Baru beberapa jam pulang. Sudah berangkat lagi." Tina memajukan bibirnya dengan ekspresi marah. Tapi sungguh sangat imut bagi Yve.
"Namanya juga kerja."
"Ini bawalah." Tina menyodorkan beberapa bungkus permen pada Yve. "Pelanggan memberiku banyak sebagai uang tips. Padahal aku kan bukan anak kecil."
Yve tersenyum geli. Kakaknya itu sangat imut hingga terlihat seperti anak kecil. Kalau saja ia memiliki sedikit wajah imut seperti kakaknya ini, pasti ia akan lebih terkenal di area balap liar. Tapi kalau tubuhnya tinggi tidak cocok juga.
__ADS_1
"Terimakasih kak."
Yve hanya mengantongi semua permen pemberian kakaknya. Ia sendiri tidak terlalu menyukai makanan manis seperti permen. Tapi mungkin saja teman-teman bodyguardnya suka.
Yve segera mengendarai motornya pergi dari cafe dan menuju rumah Bai Lian.
Sesampainya disana, Yve langsung memarkirkan motornya, dan berjalan kearah gazebo.
"Pagi." sapa Yve sambil duduk di gazebo. Disana sudah ada Beng tengah memakan roti lapis, dan disampingnya ada North tengah merakit senjata laras panjang yang tidak dipahami oleh Yve.
"Pagi dari mana? ini siang." protes Beng.
Yve terkekeh sebentar, lalu kembali bertanya. "Dimana yang lain?"
"Masih tertidur efek mabuk." jawab North sembari mengelap sebuah part senjata yang tengah ia rakit.
"Ya ampun, masih tidur saja." Yve mengeluarkan beberapa permen dari sakunya.
"Adikku, kau selalu bilang bukan anak kecil tapi membawa banyak permen." Beng mengambil salah satu permen dari tangan Yve.
"Memangnya cuma anak kecil yang boleh makan permen?"
"Tuan Bai Lian sangat membenci permen." North ikut mengambil salah satu permen dan membuka bungkusnya tanpa ijin.
"Benarkah? dia benci permen?" ulang Yve.
"Ya. Sangat anti." Beng mengiyakan.
Yve tersenyum jahil, "dimana orang itu sekarang?"
"Biasanya jam segini tuan Bai Lian akan berada di taman samping, yang ada kolam ikan koi nya."
Tempat dimana aku bertemu dengan kakek tempo hari ya.
"Aku pergi dulu sebentar." Yve buru-buru berlari meninggalkan gazebo. Lalu menuju kolam ikan koi.
Ternyata benar, disana ada Bai Lian. Dia sedang melamun sambil melihat ikan koi yang berenang tak tentu arah.
"Oi!" panggil Yve sambil menendang kursi yang Bai Lian duduki.
"Ck!ap-"
Belum sempat Bai Lian bertanya, Yve langsung memasukkan permen lolipop rasa coklat ke dalam mulutnya.
"Ahahaha! rasakan! siapa suruh menyiksaku dengan onigiri." Yve sangat gembira melihat wajah bodoh Bai Lian yang tidak suka dengan permen pemberian Yve.
"Bocah!" Bai Lian segera menarik lolipop itu dari mulutnya. "Kemari kau!"
"Kabur!" Yve langsung berlari saat mencium gelagat Bai Lian yang ingin menarik telinganya kembali.
__ADS_1