Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Pacarku?


__ADS_3

"Kau tidak pernah mau jujur padaku." Tina cemberut, membuatnya menjadi lebih imut berkali-kali lipat.


"Itu aku jujur." Jawab Yve sambil menutup kembali tas berisi uangnya. Melihat uang sebanyak itu malah membuatnya takut. Tahu begitu, dulu ia tidak meminta uang pada Bai Lian.


"Maksudnya jujur tentang hubunganmu dengan si Bai Lian itu. Bukankah kalian pacaran?" Mimik wajah Tina seketika berubah. Ia tampak antusias sekarang.


"Kami tidak pacaran." Yve menggeleng.


"Jangan malu-malu padaku."


Yve menghela nafas dengan malas. Ia mulai lelah dengan orang-orang yang menggodanya hari ini. Dimulai dari Devian, hingga merambah ke semua orang. Memangnya ia dengan Bai Lian terlihat aneh? Bukankah sama saja seperti berinteraksi dengan Orion dan Leo selama ini?


"Tidak ada yang membuatku malu." Yve berdiri kemudian menatap pintu. "Kak, tolong buatkan orang-orang dibawah roti panggang andalanmu. Mereka sangat kelaparan seperti ingin memakan sesama."


"Huh! Biarkan saja." Tina membuang muka dengan kesal.


"Jangan begitu. Anggap saja mereka itu hewan yang tidak suka makanan mahal, dan ingin makan makanan murah. Jadi berikan saja yang lain."


"Benar juga. Tapi mereka tidak imut seperti hewan yang sedang kupikirkan."


"Memang kak Tina sedang memikirkan hewan apa?"


"Kuda Nil."


Memangnya itu imut? Yve tersnyum kaku.


"Ya sudahlah! Aku akan membuatkan mereka makanan." Dengan lesu dan penuh keterpaksaan, Tina berdiri lalu pergi dari kamar Yve.


Setelah memastikan kakaknya benar-benar sudah pergi, Yve mulai berganti baju.


Selesai melakukannya, Yve mengambil satu bungkus rokok dan berjalan keluar kamar. Ia ingin merenung di dekat tempat sampah sambil menikmati rokoknya, seperti dulu.


"Harum sekali! Aku bertaruh rasanya sangat enak!" Teriak Leo.


"Panggangan pertama untukku!" Seru Sky dengan suara laki-laki nya yang tanpa sengaja muncul. Ia sedang tidak ingin kalah!


"Enak saja, yang kembar duluan!"


Yve tersenyum melihat pemandangan itu. Lalu pergi ke bak sampah cafe lewat pintu belakang.


"Eh?" Yve terkejut dengan sosok penunggu lain yang menempati singgasananya di dekat sampah.


"Eh ada Yve. Ingin disini? Aku akan pergi sekarang." Orion buru-buru berdiri dari posisi jongkoknya.


"Kau sedang apa disana? Buang air besar?" Yve mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu saja tidak." Orion segera menggelengkan kepalanya.


"Lagipula sudah berangkat dari tadi, kenapa tidak masuk saja? Bantu kak Tina membuat roti panggang." Ucap Yve sambil mengeluarkan rokoknya.

__ADS_1


"Aku hanya..." Orion mengusap lengannya dengan kaku.


Yve merasa Orion ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa sengaja ditahan. Dia tampak ragu-ragu dan bingung.


"Ingin bicara apa? Katakan saja. Oh aku tahu! Mau rokok?" Tawar Yve sambil menyodorkan bungkus rokok ditangannya.


"A-aku tidak merokok. Kau kan tahu itu. Kenapa menawariku?"


"Haha aku sengaja." Yve mulai menyalakan rokoknya, membuat Orion didepannya terpaksa menghirup asap yang sama.


Orion menatap Yve lekat-lekat. Melihat gadis yang disukainya selama 2 tahun terakhir. Gadis tomboy yang cantik itu benar-benar tidak bisa membuatnya menjauh. Tapi, belakangan ini sesuatu terjadi, dan hal rumit itu mulai merubah gadis yang disukainya.


"Yve, kau jadi sering tersenyum."


"Benarkah? Aku tidak sadar." Yve menghembuskan asap dari mulutnya sambil menggaruk tengkuk.


"Apa kau suka? Di dekat orang-orang aneh itu?" Orion melirik ke arah cafe, jelas mengisyaratkan tentang teman-teman bodyguard Yve. "Aku mulai curiga. Satu per satu orang muncul dengan pakaian senada, yaitu jas yang rapi. Lalu masalah aneh mulai terjadi, seperti banyaknya preman yang datang kemarin. Orang jahat yang menipuku juga ada disana. Yve, salahkah aku berpikir jika kau terlibat sesuatu yang menyeramkan? Seperti organisasi penjahat mungkin?"


Yve menatap Orion dengan tajam. Temannya itu memang pintar, tapi di beberapa kasus, tingkat kebodohannya tidak tertolong lagi. Sekarang apa yang harus ia katakan? Tebakan Orion nyaris benar.


"Kalau iya?" Yve mengangkat sebelah alisnya.


"Jadi benar?! Yve jangan terlibat lagi! Itu sangat berbahaya! Mereka semua hanya berisi orang-orang jahat!" Orion mencengkram kedua bahu Yve sambil berteriak.


"Dan salah satu penjahatnya, muncul."


"Kau lagi!" Orion menunjuk Bai Lian dengan emosi. "Jadi kau yang membuat Yve memasuki organisasi jahat?! Kau adalah pacar yang buruk!"


"Pa-pacar?! Orion, kau salah-"


"Lebih baik pacar yang buruk, atau teman yang buruk?" Bai Lian sengaja menyela Yve dan tersenyum kearah Orion.


"Kau mengataiku teman yang buruk?!" Orion terlihat emosi.


"Kau merasa seperti itu? Padahal aku tidak menyinggungmu sama sekali." Bai Lian berjalan mendekati Orion. "Singkirkan tanganmu dari Yve! Atau orang jahat ini akan memotongnya menjadi beberapa bagian."


Mendengar perkataan Bai Lian disertai tatapan dingin, membuat Orion takut dan segera melepaskan tangannya dari bahu Yve.


"Ka-kau menyebalkan!" Karena masih ketakutan, Orion pergi memasuki cafe dengan langkah cepat.


"Dasar pengecut, seenaknya-"


Duak!


Yve menjitak kepala Bai Lian, dan boss mafia itu hanya bisa mengusap kepalanya tanpa membalas.


"Pacar apanya! Jangan membuat orang berpikiran sembarangan!" Bentak Yve.


"Aku tidak mengatakan kau pacarku. Coba ingat lagi kata-kataku tadi."

__ADS_1


Yve mencoba memutar kembali memori di kepalanya. Sudah diingat beberapa kali pun sama saja, Bai Lian tidak mengatakan kalau ia adalah pacarnya.


Kenapa jadi aku yang besar kepala? Bai Lian tidak mengatakan apapun, bagaimana ini? Malu sekali.


"Kenapa? Kau ingin jadi pacarku?" Bai Lian tersenyum kearah Yve.


"Tidak! Ke-kenapa aku harus jadi pacarmu?"


"Ah, rokokmu jatuh." Bai Lian menunjuk ke bawah kaki Yve.


Yve baru sadar kalau rokok dimulutnya jatuh saat menanggapi Bai Lian tadi.


"Lumayan masih banyak." Yve berjongkok untuk mengambil rokoknya lagi.


"Ah... Aku ditolak."


"Kau bilang apa?" Yve mendongak dan menatap wajah Bai Lian.


"Bukan apa-apa." Laki-laki didepan Yve itu menggeleng dengan ekspresi yang kembali datar.


Padahal jika tersenyum Bai Lian sangat tampan. Tapi apa boleh buat, dia hemat senyum.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Aku tidak melihatmu." Yve membuang muka.


"Sudah hampir malam. Pasti cafemu sudah tutup kan. Aku akan masuk." Bai Lian langsung memasuki pintu belakang cafe tanpa Yve persilahkan.


Gawat! Disana banyak bodyguard yang akan mengikutiku menyerang rumah keluarga Bai kelak. Mereka akan dicap sebagai pengkhianat. Bai Lian tidak boleh tahu siapa orangnya. Apalagi... Disana ada Levin!


"Tunggu! Bai Lian!" Yve mengejar.


"Tuan Bai Lian?" Leo melirik kearah pintu belakang cafe.


"Celaka!" Levin dengan panik melihat sekeliling. Lalu ia menyambar taplak meja, dan menutupi wajahnya dengan itu.


"Kalian... Ada disini?" Bai Lian sudah masuk duluan sebelum sempat dihalau oleh Yve. Ia melihat sekitar dengan bingung.


"Tuaaan... Tolong berikan kami uang!" Leo bersimpuh di depan Bai Lian, lalu diikuti oleh Sky dan si kembar.


"Tuan, aku ingin membeli lulur mandi khas Hawaii tapi tidak ada uang." Ucap Sky dengan sisi perempuannya yang telah kembali.


"Tuan, kami kehabisan rokok. Tidak memiliki tenaga untuk menjaga tempat ini." Eluh Yin dan Yang.


"Baiklah, aku akan memberikan uang pada kalian." Bai Lian menyuruh para bodyguardnya untuk berdiri.


Tiba-tiba Bai Lian melihat sosok asing yang berdiri tidak bergerak diantara kursi. Dia memakai jas seperti bodyguardnya tapi sudah lusuh. Wajahnya juga ditutupi taplak meja.


Siapa itu?

__ADS_1


__ADS_2