Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Nasib Leo


__ADS_3

Bruk!


Preman terakhir berhasil dijatuhkan oleh Soni. Setelah merasa semuanya aman, laki-laki itu berbalik menghadap Yve.


"Tega sekali, kau benar-benar tidak membantuku." Eluh Soni sambil memegang ujung bibirnya yang lebam.


"Bukankah aku sudah bilang sedang tidak mood?" Ucap Yve sembari mengambil helm Soni yang sebelumnya sudah dilepas.


"Hei apa yang kau lakukan?!" Pekik Soni saat melihat Yve mulai mengangkat helmnya dan bersiap untuk melempar.


"Menunduk."


Duakk!


Gubrak!


Helm itu benar-benar dilempar oleh Yve. Ia mengarahkannya tepat di belakang Soni.


"Eh?!" Soni terkejut saat melihat seorang preman baru saja tersungkur. Ia baru paham kalau Yve melempar helmnya pada preman itu hingga terjatuh.


"Mana terimakasihnya?" Yve tersenyum puas.


"Helmku bisa rusak tahu! Terakhir kali kau sudah menghancurkan helmku. Hanya ini satu-satunya yang tersisa." Soni mengambil kembali helmnya dan mengusapnya bak anak kesayangan.


"Aku tidak ingat pernah merusak helmmu."


"Terserahlah."


Soni naik ke atas motornya. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.



Akhirnya Yve dan Soni sudah sampai di cafe. Soni sangat berjaga-jaga kalau ada Tina yang datang menghampirinya. Meskipun wanita itu tidak pernah mengomel padanya, tapi perkataan menusuk dengan senyumannya itu lebih mengerikan.


"Terimakasih tumpangannya." Yve turun dan melihat gerak gerik Soni yang aneh. "Kau kenapa?"


"Aku takut bertemu kakakmu." Bisik Soni.


"Palingan cuma disemprot. Tidak usah takut."


"Oh Yve, sudah pulang?"


Soni terkejut setengah mati. Ia langsung menoleh. Tapi ternyata itu bukanlah Tina, melainkan seorang laki-laki dengan membawa banyak makanan ringan ditangannya.


"Berengsek kau, Leo! Kenapa pulang sendiri hah? Seharusnya kau menungguku." Protes Yve.


"Aku lupa haha. Habisnya diberi gaji lebih awal dan beberapa tambahan, membuatku ingin langsung beli cemilan yang banyak."


"Makanan saja yang ada di kepalamu. Seharusnya Bai Lian tidak perlu memberimu gaji lagi."

__ADS_1


Bai Lian? Pacar Yve itu ya? Ternyata laki-laki ini karyawan pacarnya Yve. Soni mencoba memahami obrolan orang-orang di depannya.


"Dewi!" Kian berlari dari dalam cafe sambil memakai celmek.


"Ada apa Kian?"


Ini siapa lagi? Soni masih setia menyimak.


"Telur di kulkas habis. Apa yang harus kulakukan?! Nasi goreng tanpa telur itu seperti orang yang hidup tanpa jantung." Kian langsung menangis dan berguling-guling diatas jalan.


"Kalau begitu jangan masak nasi goreng."


"Tapi kau makan malam dengan apa?"


"Leo katanya mengajak kita pesta di apartemennya. Dia baru saja dapat uang kaget." Yve menunjuk Leo yang kebingungan.


"Kapan aku berkata begitu?!"


"Wah kak Leo baik sekali." Mata Kian berbinar-binar.


"Disaat seperti ini baru menyebutku kakak?!"


"Yve aku pergi dulu." Soni akhirnya bersuara setelah diacuhkan oleh Yve.


"Hm?" Leo tiba-tiba mendekati Soni dan melihat wajah Soni dari dekat. "Mirip seseorang. Kalau tidak salah, teman tuan Bai Lian. Namanya Fer-"


Meskipun bingung, Soni tetap melanjutkan niatnya untuk pergi. Lagipula Soni tidak mengenal mereka. Jadi tidak mungkin kalau salah satunya pernah mengenal dirinya. Mungkin salah ingat saja.


Brum!


Motor yang dikendarai Soni akhirnya pergi. Leo langsung mengambil roti yang menyumpal mulutnya.


"Kenapa kau kejam begitu hah?! Apa salahku?"


"Tidak ada. Aku hanya merasa mulutmu sangat lebar dan itu memuakkan."


"Hah?!"


"Sudahlah. Ayo kita mulai makan-makannya." Kian merangkul bahu Yve dan Leo, lalu berjalan kearah apartemen dengan riang gembira.



"I belive I can fly~ I belive I can touch the sky~"


Yve dan Leo melihat Kian yang bernyanyi sambil menaiki sofa seolah sedang konser. Beberapa kali dia melompat-lompat dan tertawa sendiri.


"Dia mabuk." Leo menaruh gelasnya dan menghela nafas dengan berat. Rumahnya jadi berantakan karena artis dadakan yang sekarang sedang konser itu.


"Tadi dia bilang tidak pernah minum. Wajar saja baru meneguk satu gelas sudah mabuk."

__ADS_1


"Kenapa orang sepolos Kian bisa berada di penjara? dan berakhir menjadi penjaga di markas Lin?" Leo melirik Yve dengan bingung.


Yve masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Kian. Saat itu Kian bercerita kalau dia menggantikan saudaranya dipenjara. Tapi ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya pada Leo.


"Entahlah. Kesasar mungkin." Yve mengangkat bahunya.


"Kau juga. Kenapa dari tadi minum terus tapi tidak mabuk? Kalau kuhitung, kau sudah minum lebih dari 5 gelas."


"Kau berharap aku mabuk?"


"Tidak. Hanya bertanya."


Yve menatap gelas ditangannya. "Ini sudah seperti air putih bagiku. Aku sering meminumnya, jadi tidak mabuk lagi."


Leo hanya mengangguk, kemudian menuangkan kembali minuman ke dalam gelasnya. Padahal ia membeli minuman banyak untuk persediaan beberapa hari, siapa sangka malah bertemu Yve dan Kian. Apalagi Yve yang ahli minum itu sudah menghabiskan setengah persediaan minumannya. Mau tidak mau Leo harus berhemat beberapa hari kedepan.


Astaga, baru saja gajian sudah berasa tanggal tua.


"Oh iya. Tumben kak Tina tidak menungguku. Apa dia pulang lebih awal?"


"Bos Tina ya, hmm..." Leo menggaruk pelipisnya untuk mempertajam ingatannya. "Tadi dia memang pulang lebih awal. Sepertinya sakit."


"Sakit?!" Yve langsung berteriak hingga membuat Leo kaget.


"Tenang saja, hanya sakit kepala. Boss Tina juga sudah minum obat. Katanya ingin tidur, jadi pulang lebih dulu."


"Kenapa tidak tidur di kamarku?"


"Aku sudah menyarankannya. Tapi kata Boss Tina, kasihan nanti kau tidak bisa tidur. Karena dia sulit dibangunkan."


Yve menggaruk kepalanya dengan kasar. "Astaga, dia selalu memikirkanku."


"Oh iya! Aku baru ingat! Boss Tina pusing setelah ditelpon oleh kepala sekolahmu."


"Ha?"


"Katanya kau mencontek saat ujian terakhir kali. Lalu kau juga sering ijin dan bolos kelas. Jika Boss Tina tidak datang ke sekolah besok untuk membayar denda, maka kau akan dikeluarkan."


Prang!


Yve melempar gelas ditangannya keatas lantai. "Sial! Mereka masih membahas masalah itu? Berengsek! Awas saja! Besok aku akan berangkat!"


"Emosi sih emosi. Tapi jangan kotori lantaiku. Lihat basah semua, aku harus mengepel nanti."


"APA KAU BILANG?!"


"Ti-tidak ada ha ha ha. Maksudku mereka harus dibalas."


Hiii serem. Sebaiknya aku tidak membuatnya marah sekarang. Terima nasib saja untuk mengepel lantai.

__ADS_1


__ADS_2