Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Mari Bersenang-senang!


__ADS_3

"Oh Yve, kau sudah datang." sapa Beng pada sosok gadis yang berjalan dengan lesu kearahnya. Ekspresinya yang kesal sambil mengusap telinganya membuat Beng tidak tahan untuk bertanya. "Ada apa dengan telingamu?"


"Bai Lian berengsek itu menarik telingaku." adu Yve yang masih mengusap telinganya.


"Hahaha apa yang kau lakukan pada tuan kali ini?"


"Hanya masalah sepele, tapi dia sudah ribut seperti ayam bertelur." cerca Yve.


"Haha mungkin kau tidak sopan padanya. Tuan Bai Lian sangat mementingkan kesopanan dan kepatuhan. Kalau bawahannya ada yang berkhianat, dia tidak akan segan-segan lagi."


Yve melirik Beng yang masih asik menjelaskan tentang sifat-sifat Bai Lian. Yve sangat malas mendengarnya. Untuk apa ia harus mengetahui sifat orang menyebalkan itu?


"Sedang membicarakan apa? sepertinya menarik."


Si kembar South dan North datang dari arah lapangan tembak. Mereka baru saja selesai melakukan latihan pagi seperti biasa.


"Tidak ada yang menarik sama sekali." Yve melirik Beng seolah mengatakan penjelasan Beng lah yang tidak menarik.


"Oh iya, apa Leo mengerjakan tugasnya dengan baik?" Beng akhirnya tersadar dari penjelasan panjangnya dan menatap Yve.


"Sangat bagus. Dia juga sangat rajin." Yve mengangguk saat mengingat seberapa rajinnya Leo. Dia bahkan bisa mengepel lantai sampai 5 kali sehari. Meskipun hanya noda kecil, akan membuatnya mengepel seluruh lantai.


"Bodyguard ruang bawah memang luar biasa." Devian tiba-tiba muncul.


"Kak Devian, sejak kapan kau disana?" Yve melirik ke belakang punggung Beng, tempat Devian muncul tadi.


"Aku dari tadi tidur dibalik punggung Beng." Devian menggaruk kepalanya yang memiliki rambut berantakan khas orang bangun tidur.


"Lalu apa maksudnya bodyguard ruang bawah?" tanya Yve.


Sebelum Devian ingin menjawab, South terlebih dahulu memberi penjelasan, "bodyguard ruang bawah itu sebutan untuk bodyguard yang menjaga ruang bawah tanah di rumah ini. Ruang bawah tanah itu tempatnya keluarga Bai mengurung musuhnya."


Yve mengangguk, "tugasnya mudah sekali ya."


"Bodyguard ruang bawah kekuatannya hampir setara dengan bodyguard inti seperti kita ini. Identitas mereka juga dirahasiakan. Bisa saja aku, atau South adalah bodyguard ruang bawah juga." Beng kini yang menyerobot penjelasan Devian.


"Dirahasiakan? kenapa?"


"Posisi mereka sangat riskan untuk dihasut musuh, jadi identitasnya dirahasiakan. Bisa saja kan kalau musuh mengiming-imingi sesuatu agar rekan mereka dibebaskan dari penjara bawah tanah." North berkata dengan santai sambil duduk melepas sarung tangannya.


"Ternyata begitu." Yve mulai mengerti sistem pembagian pada bodyguard di rumah ini. Mereka dikelompokkan berdasarkan kekuatan dan keahliannya. Seperti Bernard yang ahli dalam mengemudi, dijadikan supir khusus Bai Lian.


"Hei! kalian merebut dialogku!" pekik Devian.


Semua orang tertawa melihat wajah kasal Devian.


"Yve, ada paket untukmu." Kurt berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.


"Paket?"

__ADS_1


"2 krat bir."


Yve tersenyum mendengar kata-kata itu. Ternyata kakek benar-benar memberikan apa yang sudah Bai Lian janjikan padanya. Kakek sangat baik, tidak seperti anaknya yang menyebalkan.


"Aku akan kesana." sahut Yve.


"Wow kalian dengar itu? 2 krat bir." Beng menatap teman-temannya.


"Yve adik kecil kita ini, apakah mau berbagi?" goda South.


"Kalian tenang saja," Yve menoleh. "Nanti malam ayo kita berpesta disini."


"Horeee."


Sorak sorai mengiringi kepergian Yve untuk mengambil 2 krat bir yang dikatakan Kurt.


Malam ini pasti akan seru.



Hari sudah menjelang malam. Semua bodyguard inti ditambah Bernard dan Kurt berkumpul di gazebo, kecuali Levin yang sore tadi memilih pergi entah kemana.


"Jangan disini," Devian menggeleng dengan cepat. "Tuan Bai Lian menyuruh kita untuk tidak minum terlalu banyak. Kalau dia tahu kita akan minum sebanyak ini, bisa-bisa kita kena marah." ekspresi Devian ketakutan hanya dengan membayangkan Bai Lian yang mengamuk.


"Lalu dimana?" Yve melirik kanan kiri mencari tempat yang mungkin saja cocok.


"Di kamar kak Beng saja." South menyenggol bahu Beng.


"Ya. Setiap dua bodyguard akan diberikan sebuah kamar." Devian melirik Beng dengan kacamata melorotnya. "Dan baru saja Beng kehilangan teman sekamarnya, jadi kita bisa bebas disana."


"Memangnya teman sekamar kak Beng siapa?" tanya Yve.


"Leo." Beng bangkit dari posisi duduknya kemudian mengambil sebuah kunci dari saku celananya. "Ayo kita berpesta di kamarku."


"Horeeee."



Aku tidak bisa tidur.


Bai Lian sedari tadi hanya berguling diatas kasurnya. Ia tidak bisa tidur karena suara yang berisik terus terdengar dari lantai bawah. Sepertinya itu berasal dari arah kamar para bodyguard.


Entah apa yang dilakukan para bodyguardnya di tengah malam seperti ini, tapi itu benar-benar mengganggu Bai Lian. Meskipun sudah mencoba menutup telinganya dengan bantal ataupun selimut, suara berisik itu bisa menembus dari sana. Benar-benar menyebalkan.


Mereka akan menerima akibatnya karena mengganggu boss mafia tidur.


Bai Lian turun dari tempat tidur, dan bergegas keluar kamar.


Sementara itu, di kamar Beng...

__ADS_1


"Tambah lagi!" South mengangkat gelasnya dengan tinggi.


"Kau sudah mabuk." orang yang berwajah serupa disampingnya mulai terlihat khawatir, dia North.


"Aku mabuk belum." setelah bicara tidak jelas, South langsung merosot dan tertidur di pangkuan North.


"Dia sudah mabuk." Beng tersenyum meremehkan.


"South tidak pandai minum." Devian terkekeh.


"Sama saja dengan dua orang disana." Yve melirik Bernard dan Kurt yang sudah tertidur lebih dulu karena mabuk.


"Adikku, ternyata kau kuat minum juga ya." Beng menepuk bahu Yve.


"Cuma segini belum bisa membuatku mabuk. Karena aku sering minum." jawab Yve enteng sembari memainkan air didalam gelasnya.


"Bagus! ayo kita begadang!" Beng berteriak dengan antusias. "Devian, keluarkan koleksi film horormu!"


"Laksanakan." Devian yang maniak film horor itu langsung bersemangat mengeluarkan koleksinya.


North yang masih terjaga ikut berkomentar. "Minum sambil nonton film horor? baru kali ini aku mendengarnya."


"Keunikan itu yang membuat berkesan." Beng terlihat sangat bangga dengan kata-katanya.


"Ayo ayo merapat, filmnya hampir dimulai." Devian yang setengah mabuk menunjuk televisi. Sosok yang biasanya tegas itu berubah menjadi kekanakan.


Tok! tok!


Semua orang yang sudah bersiap menonton film, sepontan melirik pintu.


Mereka belum menonton film horor tapi setannya sudah keluar?


"Oi! kalian!"


"Kenapa suara setannya mirip dengan tuan Bai Lian?"


"Bodoh!" Beng menepuk kepala Devian. "Itu memang tuan Bai Lian."


"Gawat kita ketahuan." North melirik cemas kearah teman-temannya.


"Aku yang akan mengurusnya." Yve berdiri. "Kalian lanjutkan saja menonton filmnya. Lagipula minuman ini milikku, jadi aku yang akan bertanggung jawab."


Setelah saling lirik satu sama lain, ketiga temannya mengangguk bersamaan.


Yve membuka pintu. Ia langsung disambut tatapan tajam Bai Lian. Tapi kemudian alisnya terangkat dengan bingung.


"Kenapa kau berada disini? Seharusnya kau sudah pulang sekarang."


"Ya ya ya, ceramahnya nanti dulu. Ikut aku." Yve menarik Bai Lian menjauh.

__ADS_1


Aku akan mengusir pengganggu ini. Bersenang-senanglah kalian semua!


__ADS_2