Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Ada yang Aneh


__ADS_3

Yve menatap takjub pada bangunan besar bergaya modern di depannya. Sekarang ia dan bodyguard inti sudah sampai di salah satu kasino milik Bai Lian.


Hebat, bagunan semewah ini cuma salah satu milik Bai Lian. Wiihhh yang lainnya bagaimana ya? Pasti kekayaannya tidak luntur sampai tujuh generasi.


Baru saja turun mobil, Yve sibuk memanjakan matanya dengan melihat kewahan kasino itu.


"Oi minggir! Aku mau keluar."


Yve menoleh, dan mendapati Bai Lian tidak bisa keluar karena terhalang dirinya. "Oh maaf." Yve langsung menyingkir dan memberikan jalan pada Bai Lian. Ia melihat kearah South yang ternyata sudah lebih dulu keluar mobil dan berbincang dengan Beng.


"Eh? Kan kau bisa lewat di sebelah sana! Itu South sudah keluar lebih dulu dariku. Dudukmu di tengah jadi bisa keluar dari pintu mana saja."


"Jadi aku harus mendengarkanmu? Aku bossnya disini, apapun yang kulakukan itu terserah aku. Lalu satu lagi..." Bai Lian mendekatkan wajahnya pada Yve dan mulai berbisik. "Jangan bicara dengan orang lain selama di dalam, atau orang-orang akan tahu kau perempuan."


Ha? Memangnya kenapa kalau tahu?


"Tuan, sebelah sini." Seperti sebelumnya, Beng memimpin jalan dan Bai Lian langsung mengikutinya. Sementara Yve dan South mengikuti di belakang.


"Pssstt! Hei Yve." South menggunakan suara pelan sambil menyikut gadis disampingnya.


"Apa?"


"Tadi kau dan tuan Bai Lian bicara apa? Kalian sangat dekat, kupikir akan ciuman."


"Jidatmu ciuman! Dia sedang mengancamku tahu!"


Rombongan Bai Lian akhirnya sampai di dalam gedung. Musik yang sangat keras berdentum seolah ingin meruntuhkan bangunan. Lampu yang berwarna-warni berkedip dengan cepat hingga membuat mata Yve terasa cenat-cenut.


Meskipun aku tergolong berandalan, tapi aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini. Yang kutahu hanya mencari uang tambahan dari balapan liar, jadi tidak mungkin uang itu malah kuhabiskan di tempat aneh ini. Lebih enak beli minuman sendiri dan diminum perlahan di kamar. Itu lebih seru.


Yve masih melihat sekitar sambil berjalan. Tak jauh darinya terdapat lantai dansa yang dipenuhi oleh orang-orang dari pria maupun wanita. Mereka menari sambil membawa gelas minuman ditangan. Lalu dibelakang mereka terdapat DJ yang sibuk memainkan ritme musik sambil menganggukkan kepala dengan gila.


Apakah Bai Lian sering ke tempat seperti ini? Dipenuhi wanita seksi yang memamerkan tubuh. Dia... Pasti menyukainya. Ah! Kenapa aku harus memikirkannya. Terserah dia mau kemana.


Grep!


"Tuan." Seorang perempuan tiba-tiba menarik tangan Yve. "Mari duduk sebentar dan minum bersamaku. Astaga tuan tampan sekali."


Oi! Oi! Oi! Aku masih waras. Tolong!


Yve hanya bisa tersenyum sambil menggeleng. Ia masih ingat perkataan Bai Lian kalau melarangnya bicara.


"Eh? Kenapa? Hmm... Aku tahu. Pasti tidak mau kalau hanya minum saja kan? Tidak masalah, aku juga pandai diatas ranjang." Perempuan tadi memeluk tangan Yve dan sengaja menekan dadanya disana.


Hoeeekkkk!


"Maaf nona."


Yve terkejut melihat Bai Lian yang menarik tangannya untuk melepaskan cengkraman perempuan tadi.


"Dia memang terlihat tampan, tapi sayang sekali. Orang ini tidak menyukai perempuan."

__ADS_1


Tentu saja! Karena aku sejenis dengan mereka!


"Oh begitu. Dia gay?"


Tidak begitu juga!!!


Bai Lian tersenyum kemudian melirik Yve. "Dia tidak gay. Tapi pacarnya yang gay."


Ha? Pacarku?


"Aw, siapa pacarnya?"


"Saya." Bai Lian kembali tersenyum.


WHAT?!


"Ah begitu ya... Jadi kalian kesini untuk... Ya ya aku mengerti. Nikmati waktu kalian." Perempuan tadi menepuk bahu Yve dan Bai Lian.


Dia percaya?!


Setelah memberikan dukungan, perempuan seksi itu pergi menuju lantai dansa.


"Lihat? Mengurusi orang seperti ini sangat mudah. Tapi kau malah diam seperti orang bodoh. Dasar bocah!" Bai Lian menyentil dahi Yve.


"Kau kan menyuruhku tidak bicara! Lagipula aku baru tahu kalau kau sebenarnya gay."


"Kau tidak mengerti maksudku yang sebenarnya ya?"


Belum sempat Bai Lian menjawab, Beng dan South menghampiri mereka. "Mari tuan, kita lanjutkan perjalanannya. Di depan sana adalah ruang pertemuan dengan bendahara kasino."


"Ya." Bai Lian kembali mengikuti Beng.


"South, kau payah! Kenapa tidak menolongku tadi?" Bisik Yve pada South.


"Itu sangat lucu kenapa harus kutolong?"


"Berengsek!"


Tiba-tiba alat komunikasi jarak jauh yang dipasang ke telinga semua bodyguard mengeluarkan suara.


"Hei Yve, bagaimana perasaanmu setelah memegang dada? Hahaha." Dari suaranya, Devian sedang bergembira sekarang.


"Biasa saja, wanita di area balap sering melakukannya padaku."


"Ya ampun. Aku iri. Bagaimana rasanya?" Tanya Devian lagi.


"Aku akan mendeskripsikannya, tapi aku tidak jamin besok kak Devian akan sehat walafiat."


"Ba-baiklah tidak usah."


Beng menghentikan perjalanan rombongannya lalu menunjuk pintu didepan mereka. "Disini tempat pertemuannya. Ayo masuk."

__ADS_1


"Tunggu tuan!" Seorang pelayan buru-buru berlari mendekat. "Saya ingin menyampaikan pesan dari tuan Hino."


"Lancang! Dia menyuruh pelayan untuk menyampaikan pesan? Apa dia tidak tahu siapa yang datang? Suruh dia kemari dan mengatakannya sendiri sambil berlutut." Bentak Beng.


Pelayan tadi sudah ketakutan setengah mati saat melihat reaksi Beng. Tapi mulutnya masih bisa lanjut bicara. "Tuan Hino sakit, jadi tidak bisa menyampaikan pesan secara langsung karena takut tuan Bai Lian dan para tuan sekalian tertular. Tapi tuan Hino sudah berada di dalam untuk berusaha bicara masalah kasino. Agar lebih aman juga, tuan Hino meminta satu bodyguard saja yang masuk menemani tuan Bai Lian. Agar tidak semua orang tertular penyakitnya."


"Alasan, dia seharusnya bisa memakai sesuatu untuk mencegah tuan tertular." Beng menatap si pelayan curiga.


"Tuan Hino sudah memakai masker dan tirai tembus pandang. Tapi takutnya masih tertular."


"Ck! Merepotkan." Beng menekan tombol di alat komunikasi jarak jauhnya. "Devian bagaimana menurutmu?"


"Tanya tuan Bai Lian saja. Karena aku tidak tahu pertemuan ini sangat mendesak atau tidak. Kalau memang harus masuk satu orang juga tidak masalah. Aku sudah menangkap jaringan cctv didalam ruangan itu, jadi aku juga bisa ikut melihat." Jelas Devian.


"Baiklah." Beng berganti melihat kearah Bai Lian. "Tuan, apa yang harus kita lakukan?"


"Turuti saja. Kita tidak punya banyak waktu."


Aku takut pulang terlalu malam. Itu tidak baik untuk Yve.


Beng mengangguk kemudian balik menatap South dan Yve. "Aku yang akan pergi ke dalam bersama tuan. Kalian tunggu disini."


"Baik kak."


Tanpa basa basi lagi, Beng dan Bai Lian masuk ruangan. Di belakang mereka, seorang pelayan membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan. Yve diam-diam melirik minuman yang dibawa pelayan itu.


I-itu... Anggur Cheval Blanc yang diproduksi tahun 1947. Duh jadi ingin minum juga. Itu adalah minuman terenak yang pernah diproduksi. Apalagi sekarang sudah dianggap langka dan harganya sangat mahal.


Aku cuma pernah mencobanya sekali. Soni mencurinya dari persediaan minuman ayahnya dan mengajakku minum bersama. Rasanya sangat enak.


Yve terus menatap botol anggur itu hingga si pelayan masuk ke dalam ruangan.


Eh? Tunggu sebentar... Sepertinya warna minuman yang dibawa pelayan tadi jauh lebih pekat dari yang pernah kuminum bersama Soni.


"Yve, apa kau tahu? Minuman anggur yang dibawa pelayan tadi sangat mahal loh. Kabarnya si Hino yang jadi bendahara itu memang suka koleksi minuman mahal." South memulai obrolannya.


Yve mengacuhkan South dan memilih bicara pada alat komunikasi jarak jauh. "Kak Devian, aku menyesal tidak belajar tentang racun darimu. Sekarang aku mencurigai sesuatu. Tapi tidak tahu itu apa."


Suara Devian mulai terdengar. "Tenang dulu. Apa yang kau lihat?"


"Sepertinya anggur untuk Bai Lian sudah diberi racun."





Halo halo para pembaca sekalian. Author disini cuma mau bilang, kalau tidak ada konflik lagi yang akan keluar. Justru mau tamat. Author sangat berterimakasih karena kalian sudah membaca sampai sekarang.


Kuy tunggu detik-detik tamatnya novel ini.

__ADS_1


__ADS_2