Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Ikut Bekerjasama?


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" Devian kebingungan mendengar suara Beng memanggil tuannya.


"Devian, tuan Bai Lian terluka." jawab Beng panik.


"Bagaimana keadaannya? aku akan mengutus bantuan." ucap Devian sambil mencari cctv gedung lain yang mungkin saja bisa memperlihatkan area pertarungan teman-temannya.


"Entah. Tuan sepertinya kesakitan. Katanya lehernya patah, rahangnya geser, dan tengkoraknya retak. Tapi memang wajahnya penuh lebam keunguan."


separah itu masih bisa merintih kesakitan?


Meskipun bingung, Devian tetap mempercayai itu. "Baiklah, aku akan mengirim bala bantuan."


Beng perlahan membantu Bai Lian untuk duduk. Yve disampingnya berakting sesedih mungkin.


"Bernard, kau tidak becus menjaga tuan!" bentak Beng pada Bernard yang masih kebingungan.


Ah... aku kembali berhutang budi pada paman beruang. Yve menatap Bernard dengan iba.


"Tadi tuan baik-baik saja." sanggah Bernard.


"Ck! lalu mana South?" Beng kembali bicara dengan nada tinggi.


"South keluar saat tahu ada asap. Dia pergi membantu yang lain." jelas Bernard.


"Kalian tidak berguna!"


"Beng, jangan marah-marah." Bai Lian berakting sengsara lagi. Setiap kata-katanya mengeluarkan nada yang seolah-olah ia akan mati sebentar lagi. "Aku dehidrasi, cepat bereskan mereka."


Sekarang derhidrasi?!


"Laksanakan tuan." Beng beralih menatap Yve. "Kau jaga tuan." lanjutnya cepat lalu berlari pergi.


Sementara itu South...


Dor!


South berhasil menembak beberapa orang meskipun terhalang asap yang kian menebal. Memang hanya dia dan kakaknya yang pandai dalam menembak.


"Mundur, mendekat ke mobil." perintah South pada beberapa bodyguard yang baru ia selamatkan dari musuhnya. Ternyata meskipun sudah diganti, bodyguard lainnya benar-benar tidak becus.


South mengikuti bodyguard yang ia selamatkan, ia menyempatkan diri menoleh untuk memastikan kalau tidak ada musuh yang mengejarnya. Tapi South malah selihat sesuatu. Ia mendapati salah satu musuh melempar semacam bom.


Ugh!


South seketika menutup hidungnya. Indra penciumannya merasakan sesuatu yang tidak bagus. Ia buru-buru meraih earphone nya sambil terus berlari menjauh. "Gawat! kak Devian! aku mencium bau Mustardy!!!"


"Apa?! Mustard?!" suara Devian sangat terkejut.


Yve yang ikut mendengar melalui alat komunikasi merasa bingung. Kenapa semua panik? memangnya apa itu Mustard? apakah semacam saus pencelup untuk makanan?

__ADS_1


"Mustard itu apa?" tanya Yve.


"Yve, aku kan sudah mengajarkannya padamu!" Devian terdengar marah saat Yve bertanya, tapi dia masih memiliki waktu untuk menjelaskan. "Gas Mustard atau Mustard belerang adalah gas beracun! sial! musuh ingin melumpuhkan kita secara massal."


Pantas mereka memakai masker gas. Yve mengingat kembali pakaian yang dikenakan musuh sebelumnya.


"Tidak ada pilihan lain selain mundur." gumam Bai Lian dengan santai.


Tak lama South masuk mobil dengan terengah-engah. Dia seperti lari dikejar maut. Sebisa mungkin ia mencegah gas Mustard mengenai dirinya. Meskipun gas itu tidak terlihat, tapi ia berusaha memperkirakan penyebarannya.


"Kita harus segera pergi." kata South sembari berusaha mengatur nafasnya.


"Semuanya masuk mobil! ini pertama kalinya, kita akan lari dari musuh. Cepat! cepat!" suara Beng menggema. Lalu tidak lama, sosoknya masuk mobil dengan keadaan yang sama seperti South.


"Aku benci yang berbau racun." gerutu South sambil memasukkan kembali peluru ke dalam pistolnya untuk berjaga-jaga.


Yve menutup pintu mobil, dan Bernard langsung mengunci semua pintu seperti sebelumnya. Gadis itu sempat melihat pemandangan sekeliling melalui jendela. Tapi ia tidak bisa melihat apapun, hanya ada asap putih.


"Mobil kedua sudah berjalan." ini pertama kalinya suara Levin terdengar dari alat komunikasi jarak jauh.


"Ya." Beng mengalihkan pandangan pada Bernard, "jalan"


Kedua mobil akhirnya keluar dari tirai asap. Meskipun beberapa musuh sempat ingin mengejar, tapi mereka akhirnya menyerah, dan membiarkan targetnya kabur.


"Tuan, bertahanlah. Kita akan segera sampai rumah." Beng terlihat khawatir.


Perasaan tadi saat aku masuk mobil, tuan baik-baik saja. South menatap curiga.


"Jadi tuan Bai Lian dipukuli sampai lebam semua?" South bertanya.


"Iya begitulah." jawab Beng.


South kembali menatap tuannya. Lebam berwarna ungu itu, mirip bubuk taro dari kripik kentangku.


Yve yang melihat South mulai curiga, segera membuat topik pembicaraan. "Bagaimana dengan lukanya? apakah harus ke rumah sakit?"


"Tidak perlu. Keluarga Bai memiliki dokter pribadi." ujar Beng.



Mobil sampai di rumah Bai Lian dengan selamat. Mereka tidak menemui kendala lainnya setelah insiden gas beracun itu.


Yve turun dari mobil dan disusul oleh yang lainnya. Devian yang tahu Bai Lian cidera, sudah memanggil dokter pribadi keluarga Bai. Dan saat mobil tiba, boss mafia itu langsung diangkat menggunakan tandu.


Naik tandu saat tidak sakit ternyata cukup seru. Bai Lian menatap langit-langit rumahnya dari atas tandu.


"Tuan..." Beng terlihat sangat khawatir. Apalagi setelah ini sudah pasti ia akan menjadi bulan-bulanan Bai Jun, karena sudah membuat anak tertuanya terluka.


Yve dengan santai berjalan kearah Devian yang sedang berdiri di ambang pintu melihat tuannya diatas tandu. "Kak Devian."

__ADS_1


"Apa?"


"Bagaimana keadaan kak Kurt dan yang lainnya?" tanya Yve dengan ekspresi serius.


Devian menghela nafas, kemudian menatap sapu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Itu adalah sapu yang sering dipakai Kurt untuk menyapu teras. "Dia-"


"Kalian, tuan Bai Lian menyuruh semua bodyguard inti untuk masuk dan mendengarkan hasil pemeriksaan." tiba-tiba seorang laki-laki dengan postur tubuh tinggi muncul dari dalam rumah. Jas berwarna putih dan kacamata bulat tipisnya mempertegas profesi yang diembannya. Dia adalah dokter pribadi keluarga Bai.


"Baik tuan Tharn." Beng mengangguk, kemudian memberi kode untuk mengajak teman-temannya masuk bersama.


Yve mengikuti Beng. Ia bisa melihat Levin juga ikut dalam rombongan. Sebenarnya ia khawatir kalau dokter itu sadar bahwa Bai Lian sebenarnya baik-baik saja. Dan kalau dokter itu mengatakannya, lalu Levin mengetahuinya. Bukan cuma rencananya saja yang gagal, tapi mungkin ia akan dihukum Lin karena ketahuan mencoba untuk membohonginya.


Mereka sudah sampai didepan ruangannya. Setiap detik membuat jantung Yve berdetak dengan kecepatan penuh, tapi ia masih berusaha membuat ekspresi tenang.


Pintu terbuka. Pemandangan yang mengejutkan membuat mata Yve membulat. Bai Lian sedang tiduran diatas kasur dengan banyak perban yang membalut kepalanya seperti mumi.


Hah?


Yve tidak tahu lagi akting mendramatisir jenis apa yang dipakai Bai Lian kali ini.


"Hiks." dokter tadi tiba-tiba terlihat sedih dengan tidak wajar. "Berat mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi." air mata yang secara ajaib keluar mulai membasahi pipi dokter laki-laki muda itu. "Mungkin harus diamputasi."


"Amputasi?!" semua orang terkejut.


Astagaaa, Yve memutar bola matanya, Bai Lian terlalu mendramatisir.


"Tapi tuan Tharn. Tadi tuan Bai Lian mengeluh sakit di area kepala. Memangnya bagian mana yang harus diamputasi?" Beng bertanya dengan wajah gusarnya. Tidak mungkin kepalanya mau diamputasi kan?


"Iyakah?" Tharn nampak bingung.


Apa aku salah dengar? perasaan tadi Lian bilang yang sakit kakinya.


Tharn pura-pura mengambil buku dari sakunya. "Ah maaf, aku salah mendiagnosa. Itu adalah penyakit pasienku yang lain. Namanya hampir sama jadi sering tertukar hehe." Tharn menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, lalu memasukkan buku yang pura-pura dibacanya tadi.


"Jadi bagaimana keadaan tuan?" kini Devian yang bertanya.


"Dia gegar otak." jawab Tharn yang kembali menangis.


"Ya ampun." South yang percaya dengan bualan itu langsung menutup mulutnya karena terkejut.


"Hiks, aku hanya ingin bilang itu. Kalian bisa pergi. Tuan kalian harus istirahat."


Semuanya menyetujui perkataan itu dan mulai pergi. Yve menghembuskan nafas lega saat mengetahui dokter itu ikut bekerjasama dengannya.


Levin yang berjalan paling belakang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Teman-teman sesama bodyguardnya tidak menyadari itu dan masih lanjut berjalan. Levin menoleh kearah Tharn kemudian tersenyum. Tharn memiringkan kepala tidak paham.


"Tuan Tharn, lain kali kalau mau akting membaca buku harus totalitas. Tadi bukunya terbalik loh."


Bai Lian yang juga mendengar itu langsung terkejut. Jangan-jangan dia tahu?

__ADS_1


__ADS_2