Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Fakta yang Tersembunyi


__ADS_3

"Yve!!!"


Teriakan Tina bergema. Yve menoleh kearah jendela kamarnya, dan benar saja, sosok kakak imutnya menyembulkan kepala dari sana.


Sempat terkejut dengan lautan orang-orang yang sudah tidak bergerak, Tina tiba-tiba terfokus oleh darah yang berada di baju Yve.


"Kau terluka? Apa itu sakit? Ayo cepat masuk aku akan mengobatimu."


"Baik kak."


"Siapa mereka?" Tina menatap tajam kearah orang-orang di dekat Yve. Ia takut kalau mereka musuh yang masih tersisa.


"Ah ini-"


"Halo nona, kita bertemu lagi." Devian menyela Yve dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Kami semua teman sekelas Yve."


Sudah kubilang wajah kalian itu terlalu tua!



Tik! Tik! Tik!


Suara detik jam terdengar sangat jelas karena semua orang masih saling diam.


Sekarang para bodyguard yang membantu Yve berada di cafe.


Yve tengah diobati oleh Tina. Luka lebam dan beberapa sayatan pisau dibalut dengan hati-hati oleh kakaknya itu.


Devian juga melakukan hal yang sama. Ia mengobati Leo yang kondisinya hampir serupa dengan Yve. Tadi saat seluruh peluru di pistolnya habis, Leo juga melakukan perkelahian tangan kosong seperti Yve.


Yin dan Yang duduk di dekat Leo sambil menikmati rokok mereka. Yve yang baru saja melihat mereka, terkejut dengan kembar tidak identik itu. Sangat berbeda dengan South dan North yang memiliki wajah serupa.


Di sudut cafe, Levin berdiri sendirian. Tentu saja Yve tidak akan sejahat itu meninggalkannya di luar, apalagi dengan jas compang-campingnya yang seperti gembel. Sementara itu, Orion terus menatap Levin dengan kesal. Bertemu lagi dengan orang yang menipunya sangat membuat suasana hati jadi tidak baik.


Di dekat jendela, ada Sky yang sibuk melakukan foto selfie dengan jus stroberi yang dibuatkan Orion untuknya. Ia berekspresi imut sambil terus mengambil gambar.


"Ehem!" Yve berdeham dengan sengaja, membuat semua orang menoleh kearahnya. "Sekarang bisa tolong jelaskan padaku apa yang sedang terjadi?"


"Kau serius?" Devian melirik Tina dan Orion. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan yang akan ia lakukan.


Tina yang melihat Devian tiba-tiba paham maksudnya. "Aku dan Orion akan pergi ke belakang untuk membuat makanan. Kalian mengobrol saja. Pasti ada pembicaraan yang ingin dilakukan oleh teman sekelas." Tina buru-buru berdiri.


Oh ayolah kak, mereka bukan teman sekelasku. Yve menghela nafas.

__ADS_1


"Yuhu kakak cantik." Sky melambaikan tangannya. "Aku ingin makananku ditata dengan imut."


"Baiklah. Khusus untukmu, aku akan membuat nasi goreng bentuk beruang." Tina tersenyum.


Makan tuh nasi goreng. Yve menahan senyuman liciknya.


"Siap kakak cantik." Sky mengacungkan ibu jarinya.


Setelah Tina dan Orion pergi, Devian berpindah posisi, berdiri didepan semua orang seperti guru yang mengajar di depan para murid yang duduk rapi.


"Pertama, aku ingin para senior, kak Yin Yang dan kak Sky untuk mendengarkan juga. Berikan tanggapan kalian di akhir cerita." Devian melirik para seniornya yang mengangguk dengan setuju.


"Levin, kau bisa mengambil alih ini" Devian duduk di antara Leo dan Yve.


Levin berjalan pelan menempati posisi Devian yang tadi. Dengan ekspresi serius, Levin menatap semua orang di depannya. "Aku ingin melakukan penyerangan pada keluarga Bai!"


"Hah?!"


"Tenang-tenang. Aku tidak ingin dianggap bodyguard pengkhianat disini."


"Jadi, apa maksudmu?" Yve melipat tangannya dengan kesal.


"Pertama, aku ingin menyerang markas Lin dan menghancurkannya. Para senior pasti sudah tahu kalau Lin selama ini berbuat jahat kan?" Sky dan si kembar Yin Yang mengangguk.


"Kau benar sekali Levin tampan." Sky kembali mengangguk dan diikui oleh Yin Yang.


"Tunggu dulu. Bukankah kau berada di pihak Lin?" Yve menatap Levin dengan curiga.


"Aku tidak memihaknya. Percayalah padaku. Lihat, Devian saja percaya."


Yve menoleh kearah Devian, dan laki-laki berkacamata itu menganggukkan kepalanya.


Kalau kak Devian sudah percaya, berarti Levin benar-benar jujur.


"Setelah menyerang markas Lin. Barulah kita menyerang rumah keluarga Bai!" Seru Levin dengan menggebu-gebu.


"Kenapa jadi rumah keluarga Bai?" Tanya Leo sambil menggaruk kepalanya.


"Untuk membantu Yve balas dendam."


"Hah? Aku?" Yve menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Aku tidak memiliki dendam selain dengan Lin."


Benar, Bai Lian dan kakeknya, Bai Jun adalah orang yang baik. Kenapa Yve harus memiliki dendam pada mereka?

__ADS_1


Meskipun Bai Lian sangat menyebalkan, ceroboh, dan kadang suka menyuruh seenaknya, tapi dia orang yang baik.


"Karena kau belum tahu." Levin mendekati Yve dengan sorot mata yang serius.


"Kalau begitu katakan."


"Orang tuamu." Levin sekarang berdiri tepat didepan meja Yve.


Orang tuaku? Kenapa tiba-tiba membahas orang tuaku?


"Kau berada di panti asuhan dulu bukan karena orang tuamu menelantarakanmu. Tapi mereka dibunuh." Levin masih setia menjelaskan dengan wajah serius.


Dibunuh? Aku baru tahu. Tapi seingatku, kata ibu asuh di panti asuhan dulu, aku ditinggalkan begitu saja di depan pintu panti. Jadi siapa yang menaruhku disana?


Tunggu dulu!


Yve tiba-tiba sadar sesuatu.


"Bagaimana kau tahu aku dari panti asuhan?" Tanya Yve sambil melihat Levin.


"Kau benar-benar tidak mengingatku ya." Levin tersenyum sebentar. "Aku adalah anak yang sering duduk dibawah pohon mangga sambil membaca buku. Kita berasal dari panti asuhan yang sama."


Yve menutup mulutnya tidak percaya. Levin adalah anak laki-laki itu? Pantas saja anak yang duduk dibawah pohon itu tiba-tiba saja menghilang. Padahal hanya dia satu-satunya anak dari panti asuhan yang mengajakku bicara.


"Jadi kau si bodoh?" Tanya Yve.


"Si bodoh hahaha." Leo tertawa sambil memukul-mukul meja didepannya.


"Julukan yang bagus haha." Devian ikut mengejek.


"Diamlah!" Walaupun terlihat marah, tapi sebenarnya Levin senang. Meski terlambat, Yve tetap ingat padanya. Seharusnya ia mengatakan ini dari dulu.


"Jadi bagaimana? Siapa yang membunuh orang tuaku?"


Yve sendiri tidak peduli bagaimana Levin tahu tentang itu. Ia hanya ingin tahu faktanya. Pasti ada hubungannya dengan semua ini.


"Yang membunuh orang tuamu adalah..." Levin melirik Devian, lalu menghembuskan nafas beratnya. "Yang membunuhnya adalah Bai Jun, tuan besar kita."


Seperti tersambar petir. Yve kehilangan kemampuan bicaranya. Ia terlalu terkejut dengan semua ini. Tidak mungkin kakek yang baik itu, membunuh orang tuanya.


Yin Yang dan Sky merasa iba. Tuan besarnya dulu memang suka membunuh orang sesuka hati. Mereka yang sudah menghabiskan banyak waktu dihidupnya dengan keluarga Bai merasa tidak terkejut lagi. Banyak musuh mereka yang berasal dari kerabat orang-orang yang dibunuh oleh Bai Jun. Tapi mereka tidak menyangka, malah salah satunya ada yang menjadi bodyguard dan mempertaruhkan nyawanya untuk keluarga Bai. Ini cukup tragis.


Yve mengepalkan tangannya dengan kuat.

__ADS_1


"Aku tidak terima."


__ADS_2