Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Pemikiran Mereka


__ADS_3

Karena masih penasaran, Levin mencoba berpindah posisi. Ia beralih untuk mengintip ke reruntuhan markas Lin.


I-itu kan...


Meskipun malam hari dan minim penerangan sinar bulan, tapi Levin bisa melihat dengan jelas.


Di bekas markas Lin sekarang dipenuhi oleh bodyguard ruang bawah. Dan lagi-lagi yang membuat Levin heran adalah, mereka semua bodyguard dibawah kendali tuan besar langsung.


Apa yang mereka lakukan? Kenapa banyak sekali orang?


Levin menatap sekeliling dengan ngeri. Tujuan dari banyaknya bodyguard itu masih belum diketahui. Jadi bisa gawat kalau mereka memergoki Levin disana.


Perlahan Levin kembali ke tempatnya semula. Ia mendatangi Lin yang masih dalam keadaan pingsan.


Bagaimana ini? Jalan dikepung. Sementara tidak bisa pergi.


Apa harus menunggu sampai pagi?


Flashback end



"Jadi kau pergi dari sana saat para bodyguard itu menghilang?" Tanya Yve sambil berkacak pinggang memandang Levin.


"Ya benar. Mereka semua pergi saat fajar. Lalu aku segera membawa Lin kemari." Jelas Levin.


Yve mengangguk pelan, kemudian berjalan kearah pintu.


"Kau mau kemana?"


"Menelpon kak Devian. Urus saja Lin, mungkin sebentar lagi dokternya datang." Ucap Yve sambil melenggang pergi.


Setelah keluar dari gedung apartemen, Yve duduk di samping gedung dan mulai menelpon Devian. Suasana yang sepi disana membuat nada tunggu telpon menjadi terdengar jelas.


[Halo Yve?]


"Kak Devian, disini ada-"


Belum sempat bicara banyak, Devian memotong.


[Para senior akan kusuruh kembali ke cafe. Gila sekali, mereka hampir keceplosan soal rencana kita pada Beng. Apalagi kak Sky, duh astaga!]


Suara Devian terdengar frustasi.



"Dimana Devian?" Bai Lian mendatangi Beng yang sedang mencatat data preman yang ditemukan mati hari ini.


"Tadi sedang menelpon, tuan. Mungkin menelpon pacarnya." Jawab Beng sedikit jahil.


"Pacar? Devian memiliki pacar?"


"Ehem! Mungkin Yve." Beng pura-pura bersuara pelan tapi tetap terdengar jelas.

__ADS_1


"Apa?!"


Beng terkejut bukan main saat Bai Lian tiba-tiba berteriak. Ia jarang mendengar suara keras dari tuannya itu, tapi tiba-tiba saja dia berteriak tanpa alasan.


"Dimana Devian?!" Tanya Bai Lian lagi dengan nada keras. Beng bersumpah kalau Devian pasti akan terkena masalah setelah ini.


"Di-dia di belakang pohon itu." Dengan tangan gemetar Beng menunjuk salah satu pohon dimana terakhir kali ia melihat Devian menelpon disana.


Dengan langkah besar, Bai Lian menuju tempat yang dimaksud Beng. Benar saja, disana ada Devian yang terlihat frustasi saat berbicara dengan orang diujung telepon.


"Pokoknya itu saja yang ingin kukatakan. Oh iya satu lagi, apa kau ingin beberapa cemilan milik South? Karena Beng berniat membuang satu kardus cemilannya yang diselundupkan di dalam kamar. Kalau kau mau, nanti akan kubawakan untukmu. Tentu saja yang rasanya sedikit normal."


"Sedang menelpon siapa? Perhatian sekali."


Devian terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. Dengan insting kehati-hatian yang tinggi, Devian langsung menyembunyikan ponselnya.


"Tu-tuan Bai Lian. Anda kenapa bisa disini?" Devian balas bertanya dengan gelagapan.


"Jawab dulu pertanyaanku, sedang menelpon siapa?" Tanya Bai Lian dengan ekspresi dinginnya.


Aneh sekali. Biasanya dia tidak pernah bertanya sesuatu hal pribadi dari bodyguardnya.


Alis Bai Lian berkerut saat tak kunjung mendapat jawaban dari bodyguard cerdasnya ini.


"Coba kulihat!" Bai Lian merebut paksa ponsel di tangan Devian.


Saat melihat layar, disana tertulis, Yve


"Ah itu... Saya sedang menelpon Yve."


"Telponnya lanjut nanti saja. Urus yang ada disini dulu."


"Ba-baik tuan." Devian buru-buru mengakhiri panggilan tanpa mendengarkan lagi suara Yve.



"Bai Lian berengsek!" Umpat Yve kearah ponselnya.


Belum sempat menceritakan apapun mengenai Levin ataupun Lin pada Devian, malah Bai Lian menganggu telponnya. Suaranya terdengar jelas saat panggilan masih berlangsung tadi.


Sudahlah, mungkin dia masih sedih karena kehilangan adiknya. Meskipun adiknya belum mati.


Yve beranjak dari tempatnya lalu menatap cafe yang terlihat dari seberang.


Brum!


Dua motor menepi kearah cafe. Mereka adalah Sky dan si kembar veteran. Sesuai kata Devian, mereka benar-benar kembali ke cafe.


Yve segera menghampiri ketiga orang yang sudah turun dari masing-masing motor mereka itu.


"Kak Sky, Kak Yin Yang." Sapa Yve ketika sudah berada didekat mereka.


"Yve cintaku. Aku haus sekali. Kulitku yang panas butuh pendingin." Sky langsung memeluk Yve dengan ekspresi mendramatisir.

__ADS_1


"Itu... Ada masalah serius yang ingin kukatakan." Ucap Yve.


"Masalah apa?" Yin menoleh sembari tangannya mengambil kembali kunci motor.


"Levin dan Lin ada disini."


"Apa?!"



"Katakan padaku kalau ini ilusi." Sky menutup mulutnya tidak percaya.


Sekarang ini, Sky dan Yin Yang sudah berada di apartemen Leo, tempat Levin dan Lin berada. Mereka jelas terkejut dengan kondisi Lin, apalagi setelah mendengar cerita panjang lebar dari Levin. Antara bersyukur atau kecewa, mereka sendiri bingung bagaimana harus berekspresi.


"Jadi kalian berdua masih hidup. Dan kami hampir seharian mencari mayat kalian?" Yang menertawakan dirinya sendiri.


"Mencari sesuatu yang tidak ada benar-benar menyakitkan."


"Jadi bagaimana selanjutnya?" Tanya Yin sambil melirik Levin.


"Masih seperti rencana awal kita, tapi sedikit melenceng." Levin yang baru selesai mengganti baju langsung duduk di samping Yve.


"Berarti setelah ini, tetap akan dilaporkan polisi ya?" Sky menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Benar sekali. Bukti sudah ada, meskipun hampir semuanya hancur, tapi yang dibawa Yve masih utuh. Kita tinggal memberitahu Devian untuk segera melaporkannya ke polisi. Soal fakta Lin masih hidup, itu hanya bonus saja." Jelas Levin.


"Lalu bagaimana tentang para bodyguard ruang bawah itu? Bukankah sangat mencurigakan?" Yve mengingat kembali cerita Levin.


"Memang sangat aneh, tapi aku tidak bisa menebak apa yang terjadi. Karena seharusnya tuan besar tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita." Levin memijat pelipisnya.


"Dan aneh juga kalau fakta markas tuan Lin hancur langsung sampai ke telinga tuan besar." Celetuk Yin.


"Urusan yang repot-repot pikir belakangan saja." Ucap Sky dengan santai.


"Tunggu sebentar!" Yang tiba-tiba mengangkat tangannya. "Aku baru teringat sesuatu yang aneh."


"Apa itu?" Yve dan semua orang kini menatap Yang.


"Kenapa barang-barangmu tidak ada saat pencarian tadi?" Yang menunjuk Yve dengan heboh.


"Maksudnya?"


"Belatimu! Seharusnya itu tertinggal disana kan? Tapi sampai pencarian tadi selesai, tidak ada yang menemukannya!"


"Halah, mungkin ada yang nemuin tapi tidak ditunjukkan ke semua orang." Lagi-lagi Sky berkata dengan enteng.


"Tidak mungkin! Karena kebanyakan preman mati akibat sayatan belati, pasti kalau ada yang menemukan belati langsung melapor, tapi tadi tidak ada!" Yang masih menjelaskan dengan heboh.


"Kak Yang benar, aku kehilangan belatiku saat guncangan gedung pertama terjadi." Yve mencoba mengingat-ngingat kembali. "Bai Lian juga sempat curiga dengan belati, pasti dia secara khusus juga mencari belati, tapi tidak ada yang menemukannya."


"Benar juga! Aku baru ingat kalau kalung hip hopku juga tertinggal disana saat menyelamatkan Lin. Apakah ada yang menemukannya? Itu bisa dijadikan temuan aneh, karena tidak mungkin salah satu bawahan Lin memakai kalung hip hop." Tanya Levin.


"Tidak ada!" Kali ini Yin ikut berteriak dengan heboh. Ia ingat betul barang-barang mencurigakan apa yang sempat dikumpulkan Beng tadi.

__ADS_1


"Jangan-jangan karena bodyguard ruang bawah mencurigakan itu?" Tebak Yve.


__ADS_2