
Langit pagi terlihat sangat indah di pedesaan kecil. Pohon-pohon yang besar dan rimbun menghalangi sinar matahari dengan indah. Suara kicauan burung yang ramai, menjadi alarm alami yang terdengar sangat merdu.
Tok! Tok!
Setelah mengetuk pintu, Devian masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi sarapan untuk Levin.
"Kau sudah bangun?" Tanya Devian sambil menaruh bawaannya diatas meja.
"Aku tidak bisa tidur." Levin yang sedang duduk, mencengkram selimutnya sambil menatap keluar jendela.
"Memikirkan rencana lainnya?" Tebakan Devian disambut anggukan kepala dari Levin.
Devian mulai menuangkan air dari dalam teko pada gelas yang dibawanya. Setelah itu, menyodorkannya pada Levin.
"Minum dulu."
"Nanti saja." Levin masih fokus menatap jendela tanpa menghiraukan Devian.
Susah juga mengurus bayi seperti ini, Devian menghela nafas kemudian menaruh gelas tadi diatas meja.
"Tidak perlu rencana lagi. Sudah sampai sini, tinggal habisi saja." Ucap Devian santai sambil mengambil salah satu bubur ayam yang ia bawa tadi.
"Habisi saja?"
"Ya. Mudah kan?"
Levin kembali diam untuk berpikir, kemudian beralih menatap Devian. "Kau benar!" Serunya sambil tersenyum. "Setelah aku sembuh, ayo kembali dan habisi Lin!"
Uhuk! Uhuk!
Devian terkejut hingga batuk. "Apa?!"
Padahal tadi Devian hanya asal bicara, agar Levin tidak terlalu memikirkannya.
"Rencana berubah. Setelah ini ayo beritahu Yve tentang fakta itu. Lalu hancurkan Lin bersama-sama. Baru setelahnya, tergantung Yve, ingin mengobrak-abrik rumah keluarga Bai atau tidak."
❀
Hoaammm
Yve menguap di bangkunya dan menyangga dagunya dengan tangan, bersiap untuk tidur. Tadi malam ia bergadang hanya untuk membuat virus. Dan hasilnya, sudah sampai 70%
Jujur saja aku bingung. Bagaimana caranya menyusup ke markas Lin? Beneran cosplay jadi nenek-nenek?
Tuk!
Sebuah penghapus papan tulis tiba-tiba mengenai kepala Yve.
"Yve! Lagi-lagi tidur di kelas!"
Seorang guru laki-laki botak yang terlihat garang, memarahi Yve dengan penuh emosi.
Yve mengambil penghapus yang sudah terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Kembalikan pada pak guru, cepat!"
"Siap laksanakan." Yve tersenyum sinis.
Wung!
Semua orang melongo saat Yve malah melemparkan penghapus itu keluar jendela kelas.
"Berani kamu ya!" Teriak guru botak dengan julukan lampu jalan itu.
"Lagipula, aku tidak tidur dikelas. Atas dasar apa pak guru melempariku dengan penghapus?" Ucap Yve santai sambil kembali duduk di tempat duduknya.
Masih untung tidak kulemparkan ke kepala botakmu.
"Cukup! Yvenia Guilietta, Berdiri di lorong sekarang!"
Yve tersenyum kemudian berdiri lagi. "Dengan senang hati. Lagipula aku malas mendengar pembelajaranmu."
"Apa kamu bilang?! Berdiri di lorong dengan satu kaki! Jangan berhenti sampai bel istirahat berbunyi!" Guru botak itu menunjuk pintu kelas.
Yve keluar ditemani sorakan dari penghuni kelas. Akhirnya orang cupu besar kepala di kelas mereka pergi. Bagaimana mungkin tidak senang?
Yve...
Orion hanya menatap punggung gadis yang disukainya pergi. Ia tidak bisa berbuat apapun. Lagipula kalau menentang guru, ia akan di cap menjadi murid yang tidak sopan.
Sementara itu, Yve melakukan apa yang disuruh. Ia berdiri di lorong dengan satu kaki.
Hoaammm
Tap! Tap!
Yve melirik arah kanannya. Seorang guru laki-laki yang terlihat masih cukup muda berjalan kearahnya. Beberapa buku tebal ditangan, menandakan kalau dia baru selesai mengajar.
Yve tidak peduli. Lagipula memang lorong ini cukup sering dilewati para guru. Mengingat kelasnya berada di dekat tangga. Jadi wajar saja kalau banyak orang yang melewatinya.
Sing!
Yve merasa ada kilatan cahaya yang sangat silau mengenai matanya. Saat tahu kilatan cahaya itu berasal dari arah kanannya, Yve segera menoleh.
Srash!
Dengan kecepatannya Yve bisa menghindar dengan lihai.
Tidak disangka, guru tadi membawa pisau dan hendak menghujamkannya kearah Yve.
Sial! Itu mungkin bukan guru!
Guru gadungan tadi terus berusaha untuk menyakiti Yve. Tapi Yve masih bisa menghindari semua serangannya.
Tidak bisa terus begini. Yang ada di dalam kelas mungkin akan melihatku.
Jika aku membalas, di mata mereka orang misterius ini adalah guru, dan aku menjadi tukang siksanya.
__ADS_1
Yve melihat sekitar dengan cepat, dan ujung matanya menangkap sebuah jendela di ujung lorong.
Aku baru ingat, ini lantai 2
Meskipun tahu, Yve tetap melompat dari jendela itu. Untung saja dibawahnya ada atap tempat parkir. Dan setelah Yve mendarat disana, ia kembali turun.
Ayo sini.
Yve melambai pada guru gadungan yang melihatnya dari jendela tempat Yve melompat tadi.
Kalau dia turun, aku akan menghabisinya dengan tangan kosong.
Yang diinginkan Yve tidak terjadi. Orang yang dimaksud malah pergi dari jendela, dan tidak kelihatan lagi.
Eh? Cuma begitu saja?
Tidak seru!
❀
Di tempat lain,
"Apa?! Lagi-lagi gagal? Apa kalian ini bodoh hah?!" Bentak Lin pada sekelompok orang yang ketakutan didepannya.
"Dia sangat hebat tuan. Bahkan teman kami, sudah mengambil resiko untuk menyerangnya di sekolah, tapi tetap gagal." Ucap salah satu orang sambil menunduk ketakutan.
"Itu karena kalian bodoh!"
Bugh!
Lin memukul salah satu diantara mereka, dan tidak ada satupun yang membalas. Mereka cukup tahu kalau Lin adalah orang yang kuat dan bukan tandingan mereka.
"Serang dia lagi. Kali ini saat bersama orang yang disayanginya. Kerahkan lebih banyak orang." Titah Lin.
"Baik tuan."
Dengan cara apapun. Aku ingin Levin cepat-cepat kembali ke sisiku.
Lin mengepalkan tangannya dengan dengan kesal.
❀
"Waktunya makan siang." Devian masuk ke kamar, untuk memberikan makan siang pada Levin.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" Teriak Devian dengan kaget, karena Levin tiba-tiba berkemas dan memakai setelan jasnya yang sudah compang-camping.
"Ayo kita kembali. Lukaku sudah lebih baik." Ucap Levin dengan wajah datarnya.
"Kita baru membicarakannya tadi pagi. Lalu sekarang kau sudah berkata ingin kembali?!"
"Devian, entah kenapa perasaanku tidak enak. Yve mungkin sedang berada dalam bahaya." Levin memegang dadanya dengan ekspresi khawatir.
Devian menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Entah ada ikatan batin jenis apa antara Yve dan Levin, tapi Devian juga merasa apa yang dikhawatirkan Levin ada benarnya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita kembali dan kejutkan semua orang." Devian mengangguk dengan serius.