Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Ingin Memukulnya


__ADS_3

Hari sudah mulai sore. Yve berjalan kearah motornya untuk pulang.


Gadis itu berjalan sambil melamun.


"Sebenarnya kamu pasti sudah tahu jawabannya nak. Apapun itu, kakek setuju."


Yve kembali teringat perkataan Bai Jun.


Tadi ia sudah melakukan tugas yang disuruh oleh Devian. Yve dan Bai Jun membicarakan masalah Lin bersama. Dan seperti kata Devian, mantan boss mafia itu menyerahkan semua keputusan pada Yve.


Sebenarnya Yve tidak ingin hanya memasukkan Lin ke dalam penjara. Ia berniat memberikan beberapa luka tambahan pada Lin untuk membalaskan dendam Kurt. Ini adalah kesempatan emas baginya, karena Lin tidak bisa melawan. Tapi... Setelah mendengar cerita Bai Lian, rencana itu goyah.


Bai Lian sangat menyayangi Lin. Sekarang Lin sedang terluka, kalau aku memberikan luka lagi, bisa saja dia benar-benar mati. Pasti Bai Lian akan sedih.


Argh! Aku bingung!


Yve naik ke atas motornya, lalu merogoh sakunya untuk mengambil rokok. Setelah menaruh rokoknya di mulut, ia baru sadar kalau tidak ada korek api.


Ck! Dimana koreknya?!


"Butuh bantuan?"


Seseorang menyodorkan korek api menyala kearah rokok Yve. Dia adalah Max.


"Terimakasih."


"Sama-sama." Max kembali mengantongi koreknya. "Ngomong-ngomong, kenapa tidak pulang?"


"Hanya terpikirkan sesuatu. Ini mau pergi." Jawab Yve cepat. Ia tidak terlalu dekat dengan bodyguard setia milik kakeknya ini. Yve hanya beberapa kali melihatnya bersliweran di area rumah, dan disisi Bai Jun tentunya. Apalagi dengan wajahnya yang tua mirip Bai Jun, membuat Yve tidak pernah menyapanya. Lebih ke arah bingung untuk memanggil bodyguard ini. Kakek juga? Atau paman? Atau kakak?


"Hati-hati di jalan." Max mengusap kepala Yve lalu berjalan pergi.


Meskipun Max melihat wajah Yve yang kebingungan dengan tingkahnya, Max tetap pergi dan tidak mencoba mengatakan hal lain.


Max sudah mengira kalau Yve akan lupa padanya. Mengingat mereka hanya pernah bertemu satu kali sebelumnya di cafe. Lalu pertemuan berikutnya, Max memakai penyamaran. Wajar saja kalau tidak ingat, karena saat mereka bertemu, ia masih terlihat cukup muda. Max sendiri sudah menganggap Yve seperti anaknya, karena setiap harinya ia melihat perkembangan Yve. Kadang gadis itu melayani pelanggan dengan wajah babak belur, kadang terlihat cukup ramah. Itu semua kenangan yang indah.



Yve sudah sampai di cafe. Baru saja turun dari motor, Leo langsung berlari kearahnya dengan buru-buru.


"Yve! Bagaimana pendapat tuan besar?"

__ADS_1


"Dasar cerewet!" Yve melepaskan helmnya dan melirik Leo dengan kesal. "Kau pikir hanya dirimu yang tidak suka berada di dekat Lin? Aku juga!"


"Jadi bagaimana? Kau sudah bilang?"


"Ya sudah."


"Lalu?" Mata Leo mulai berbinar-binar.


"Kakek menyerahkan keputusannya padaku. Dan menurutku, lebih baik jebloskan saja dia ke penjara. Selesai." Yve langsung menarik kunci motornya dan bersiap masuk ke dalam cafe.


"Begitu saja? Tunggu... Kau serius?" Leo menahan tangan Yve.


"Ya aku serius."


"Kita tidak menyiksanya saja? Atau membunuhnya? Untuk menggantikan nyawa ratusan bahkan ribuan orang yang sudah dia bunuh?"


"Nyawa dibalas nyawa. Itu kah maksudmu?"


Leo mengangguk dengan semangat menjawab pertanyaan Yve.


"Sudah kubilang. Nyawa tidak harus dibalas dengan nyawa. Karena pada akhirnya kita tidak ada bedanya dengan Lin. Lagipula membunuhnya sekarang, hanya akan mengurangi penderitaannya. Lebih baik dia tersiksa di penjara."


"Kalian ini malah bertengkar di depan cafe." Kian datang menghampiri Yve dan Leo sambil membawa kemoceng ditangannya.


"Dewi, boss Tina menyuruhmu cepat-cepat masuk dan makan malam." Ucap Kian sambil menatap Yve.


"Aku? Tidak diajak sekalian?" Leo menunjuk dirinya sendiri.


"Oh, kata boss Tina, kau harus menjaga sikapmu lagi. Kalau tidak, bulan besok gajimu akan dipotong lagi."


Perkataan Kian membuat air mata Leo keluar bak pancuran. "Huaaaa ampuni aku."


"Ngomong-ngomong dimana Levin?" Tanya Yve.


"Dia sudah menerima nasibnya untuk dipenjara. Jadi sekarang dia ingin keliling kota untuk terakhir kali. Sekalian aku menyuruhnya belanja bulanan untukku. Cih! Siapa suruh tidur gratis di apartemenku." Leo melipat tangannya dengan ekspresi kesal.


Yve terdiam sebentar, lalu melirik Leo lagi. "Berarti Lin sendirian?"


"Ya dia sendirian. Aku tidak ingin satu ruangan dengannya. Jadi aku, akan berada di cafe sampai Levin kembali."


"Kian, beritahu kak Tina kalau aku akan makan nanti." Kata Yve sambil berjalan menjauh.

__ADS_1


"Dewi! Kau ingin kemana?"


"Menemui Lin."


"Katanya tidak suka berada di dekat Lin."


Dua laki-laki yang sedang kebingungan itu hanya membiarkan Yve pergi menuju apartemen Leo.


Setelah berjalan sebentar, Yve sampai di depan pintu apartemen Leo. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu membukanya. Kebiasaan Leo yang jarang mengunci pintu membuat Yve lebih mudah untuk masuk.


Saat sampai di dalam, Yve melihat Lin yang sedang duduk diatas sofa sambil melamun. Tapi saat Yve datang, ia langsung menatap gadis yang membawa kesialan di bisnisnya itu.


Kondisi tangan Lin masih terborgol. Di ujung borgol terdapat rantai yang lumayan panjang. Mungkin Levin menggantinya agar Lin mudah untuk pergi ke kamar mandi sendiri. Terlihat sedikit ramah, tapi jika Lin tidak bisa bergerak sepenuhnya, maka Leo yang kasihan.


"Mau apa kau?" Tanya Lin dengan tatapan mata yang tajam.


"Coba tebak, tadi aku baru saja ke acara berkabung siapa?" Yve duduk di salah satu sofa yang jauh dari Lin.


"Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Lagipula kalau aku tahu borgol ini tetap tidak akan terlepas." Lin menunjuk pergelangan tangannya.


"Memangnya apa yang ingin kau lakukan jika berhasil melepaskan diri?"


"Menghajarmu." Jawab Lin santai.


"Wah kebetulan sekali, aku juga ingin menghajarmu." Yve tersenyum sambil menunjukkan kepalan tangannya.


"Lakukan saja. Lagipula kau tidak terborgol sepertiku. Jadi bisa menghajarku kapanpun."


Tiba-tiba saja Yve teringat dengan senyum Kurt yang menyapanya terakhir kali. Mendengar ucapan Lin, membuat keinginan terpendamnya bangkit.


"Oke, kau yang memintanya." Yve berdiri dan berjalan mendekati Lin.


"Oi oi aku bercanda! Ini curang tahu, aku tidak bisa bergerak leluasa. Badanku juga rasanya sakit semua." Lin menggeser tubuhnya menjauhi Yve.


"Saat aku melawanmu saat itu, kondisiku juga tidak baik. Kita impas sekarang." Yve kembali tersenyum.


Pantas saja aku mudah menghajarnya saat itu. Lin melotot mendengar perkataan Yve.


"Karena sebelumnya seorang penjahat mengirim hadiah 200 preman ke rumahku. Jadi aku menerimanya dengan gembira. Lalu saat kita bertarung saat itu, kondisiku kurang baik." Yve kembali berjalan mendekati Lin.


Bugh!

__ADS_1


__ADS_2