Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Rencana yang Matang


__ADS_3

"Kau yakin besok?" Tanya Levin.


[Ya. Besok adalah saat yang tepat.]


"Baiklah, katakan rencanamu." Yin Yang seperti orang yang tidak sabaran. Mungkin mereka ingin buru-buru memberikan seseorang tembakan di kepala. Apalagi setelah mengetahui ruangan cctv itu memiliki jendela. Mereka dan petugas cctv bagaikan air dan minyak. Karena cctv bisa dengan mudah menangkap gerakan sniper. Jadi mereka memiliki dendam kesumat. Sangat memuakkan!


[Dari apa yang kulihat di peta, kak Yin dan Yang akan sangat mudah mengurusi petugas cctv. Tembak saja dia dari jauh, agar tidak bisa melihat gelagat mencurigakan yang akan kita buat.]


Kita?


[Tapi tidak benar-benar semudah itu.]


Cahaya kemenangan yang sempat dilihat orang-orang seketika memudar saat Devian mengatakannya.


"Jadi maksudnya bagaimana? Aku dan Yang memiliki peredam suara tembakan. Jadi meskipun kami sudah melumpuhkan petugas cctv, tetap tidak akan ada yang curiga." Seru Yin.


[Bukan begitu. Menurut tebakanku, tempat yang dijaga sangat ketat itu tidak mungkin hanya memiliki satu petugas cctv. Mereka pasti memiliki beberapa petugas lain yang akan berjaga secara bergiliran. Benarkan? Levin?]


"Ya, kau benar. Setiap 30 menit, petugas cctv akan diganti." Jawab Levin sambil mengangguk.


[Berapa jumlahnya?]


"Lin memiliki 10 petugas cctv, yang akan bergantian setiap saat. Tapi mungkin sekarang jumlahnya sudah bertambah. Karena aku masih menjadi buronan Lin. Dia pasti akan berjaga-jaga terhadapku."


[Jadi begini. Yang perlu kita waspadai adalah petugas cctv.]


"Tapi-"


[Dengarkan aku dulu kak Yin.]


"Sstttt!" Sky menaruh telunjuknya di pipi Yin.


[Setelah kak Yin Yang membunuh petugas cctv di awal. Aku ingin salah satu dari kalian datang ke ruangan itu untuk menghabisi petugas cctv yang baru.]


Kalian? Dari tadi kak Devian terus berbicara seolah-olah yang masuk ke sana bukan aku seorang. Bukankah para senior hanya akan menjagaku di luar?


"Kalau muncul petugas cctv yang baru, tinggal kutembak saja! Tidak perlu menyuruh orang untuk kesana." Usul Yang.

__ADS_1


[Kau salah. Baik kau ataupun aku, kalau menembak pasti membutuhkan waktu sejenak untuk membidik bukan? Minimal 1-2 detik. Nah, petugas cctv yang baru tau persis kalau tidak ada yang masuk ke ruang cctv, karena dia sudah terbiasa disana. Lalu ketika dia membuka pintu dan melihat temannya sudah mati, dia akan sepontan lari. Ketika kau membidik, dia sudah hilang dari pandanganmu.]


"Lalu bagaimana?" Tanya Yve sambil mencoba membayangkan rencana Devian.


[Setelah kak Yin Yang melumpuhkan petugas cctv, salah satu dari kalian harus pergi ke sana dalam waktu kurang dari 30 menit, karena mungkin saja Lin sudah mempercepat pergantian petugas. Ketika sudah sampai disana, tunggu petugas yang baru datang lalu pukul sampai pingsan atau mati. Kalau berada disana, bisa mendengar suara langkah kaki mendekat atau semacamnya, jadi lebih mudah memberikan waktu untuk membuat ancang-ancang. Tugas yang mudah ini akan kuserahkan pada Levin.]


Kening Yve seketika berkerut. "Levin? Dia juga ikut?"


[Aku mulai berpikir, lebih baik masuk ke markas Lin dengan tiga orang.]


"Tiga?!" Semua orang kebingungan.


[Kak Sky, Levin, dan Yve.]


Apa?


"Kyaaa aku juga?" Sky terlihat panik.


[Benar. Jadi begini...]


Yve masih membuat virus dengan laptopnya. Sebenarnya ia tidak tahu ini benar-benar berguna atau tidak, tapi otaknya masih menyuruh untuk membuat virus itu.


Hacho!!!


Yve mengusap hidungnya yang baru saja bersin. Angin dingin menerpanya terus menerus. Itu wajar, karena dia sedang berada di luar cafe sekarang.


Yve menarik sebentar tangannya dari keyboard, dan merogoh saku celananya untuk mencari rokok. Ia ingin merasakan lebih banyak kehangatan dari benda itu.


Di dalam hati, Yve masih mengutuk para bodyguard Bai Lian itu. Mereka mengambil alih kamar Yve seenaknya. Tadi setelah membahas rencana yang akan dilakukan besok, para bodyguard tua itu beristirahat di kamar Yve. Tapi siapa sangka malah berakhir dengan acara tidur berjamaah. Sky dengan tidak tahu malunya memakai tempat tidur Yve yang hangat. Si kembar memilih merebahkan tubuhnya diatas lantai kamar Yve yang dilapisi karpet. Leo juga entah kenapa ikut berada disana, dan tertidur di kaki Sky. Levin sendiri berkata ingin ke kamar mandi tapi tidak kunjung kembali.


Sialan! Mereka pasti tidak berani tidur di cafe lagi karena takut ketahuan kak Tina.


Yve menaruh rokok di mulutnya, kemudian menyalakan korek api. Tapi belum sempat api kecil itu menyentuh rokoknya, sebuah tangan mengambil paksa rokok di mulut Yve. Sepontan gadis itu mendongak untuk melihat siapa orang yang berani mengambil rokoknya.


"Levin?" Yve terkejut.


"Sudah kubilang, seorang gadis tidak boleh merokok." Levin memasukkan rokok rampasannya ke dalam mulut, dan menyambar korek api di tangan Yve untuk menggunakannya.

__ADS_1


"Dari mana saja kau?"


"Perutku sedikit sakit. Aku tidak terbiasa dengan makanan sejenis roti."


Itu jelas bohongan. Levin sebenarnya pergi menganti perban pada lukanya yang parah akibat pertempuran sebelumnya. Devian sebenarnya sudah mengatakan kalau salah satu luka Levin yang berada di dada itu cukup parah, dan menyarankan untuk pergi ke dokter agar dijahit. Tapi Levin menolak, karena ia ingin membantu Yve lebih dulu. Alhasil luka itu sering terbuka dan mengeluarkan darah yang banyak.


"Oh begitu." Yve mengangguk mendengar jawaban Levin.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Levin mendekatkan wajahnya pada layar laptop Yve.


"Membuat virus. Tapi aku tidak yakin ini akan berguna." Yve kembali mengetik pada keyboard.


"Untuk komputer Lin memang tidak berguna. Dia memasang beberapa proteksi. Tapi untuk sistem keamanan pasti beguna. Aku akan memakainya besok. Bolehkah?"


"Ya." Yve mengangguk dan kembali fokus pada layar laptopnya.


Levin menghembuskan asap putih rokok dari mulutnya, lalu kembali menatap kesibukan Yve.


"Jangan dekat-dekat, kau menggangguku." Yve mendorong tubuh Levin menjauh dari dirinya.


"Aku hanya ingin lihat."


"Huh! Siapa yang tahu kalau kau berkata jujur atau tidak."


Levin menatap Yve tekejut, "kau tidak mempercayaiku?"


"Tidak. Meskipun kau anak kecil yang dulu, tapi bisa saja kau berubah karena sudah lama bergaul dengan Lin. Kau yang sebelumnya adalah penjahat, tidak bisa kuterima dengan mudah meskipun berkata sudah berada dipihakku." Akhirnya Yve berhasil mengatakan sesuatu yang mengganjal pikirannya dari kemarin.


"Memang benar." Levin menunduk.


"Entah kenapa kak Devian begitu mempercayaimu. Dia itu orang yang sangat teliti. Jadi melihat dia mempercayaimu, aku ingin percaya juga."


Devian sudah kuceritakan semua tentang masalaluku, jadi dia percaya kalau aku sebenarnya adalah orang baik. Sementara yang kuceritakan pada semua orang di cafe kemarin hanyalah potongan kecil dari kenanganku.


"Sebaiknya kau tidur saja. Besok adalah hari yang mendebarkan. Kau harus memiliki banyak energi."


Yve menatap Levin dengan bingung. Dia perhatian padaku?

__ADS_1


__ADS_2