Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Motor Baru


__ADS_3

Keesokan harinya


"Motor siapa ini?!" teriak Tina yang melihat sebuah motor sport baru setelah membuka cafe.


"Ah kak Tina, ini motorku." Yve turun dari tangga lantai dua dengan kain lap di bahunya. Ia baru saja ingin menempelkan beberapa stiker pada motor barunya.


"Kau membeli motor baru?! dapat uang dari mana? bukankah ini mahal?" Tina menatap Yve penuh curiga. Siapa tahu adiknya itu melakukan sesuatu yang tidak wajar lainnya.


"Aku menyelamatkan seorang kakek dijalan. Ternyata kakek itu sangat kaya, lalu memberiku uang ucapan terimakasih. Dan begitulah ceritanya kenapa ada motor disini."


"Kau menggunakan uang itu untuk membeli motor?"


"Ya." jawab Yve sambil memilih stiker untuk di tempelkan di motor barunya.


"Memangnya kau tidak ingin mencari orang tuamu?"


Kegiatan Yve seketika berhenti. Keheningan sempat terjadi sebentar, kemudian terganti dengan senyum sinis dari Yve. "Aku tidak butuh orang tua yang membuangku."


Tina mengerti kenapa Yve begitu membenci orang tuanya. Orang yang membuangnya ke panti asuhan. Lalu Yve yang menerima perlakuan kasar dari pengurus panti, memilih kabur dan hidup dijalanan sampai Tina mengajaknya untuk tinggal bersama.


Tapi Tina juga paham kalau Yve pasti merasa kesepian. Dia pasti ingin disayangi oleh sosok orang tua.


"Kak menurutmu diantara dua stiker ini bagus yang mana?" Yve mengangkat dua stiker yang sama-sama bertuliskan 'Prince' tapi dengan huruf yang berbeda.


"Huh! kalau mau jawabanku harus bayar dulu. Aku akan ngambek karena tidak diberi cipratan uang." Tina pura-pura kesal lalu berjalan menuju dapur.


"Ngambek tapi bilang dulu. Ada-ada saja." Yve menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mungkin setelah ini ia akan memberikan Tina setengah uang yang ia dapat dari Bai Lian sebelumnya.


Yve kembali melanjutkan kegiatan menempel stiker. Motor barunya ini terdapat beberapa goresan yang harus ia tutupi dengan stiker. Meskipun goresan itu tidak terlalu jelas tapi akan membuat motornya tidak cantik lagi.


Sebenarnya goresan pada motor baru ini bukannya tanpa sebab, dan bukan karena kurir yang mengantarnya kurang kompeten. Goresan ini diciptakan oleh Yve sendiri.


Kemarin, setelah sang kakek Bai Jun menyuruhnya memilih motor, Yve langsung melesat pergi ke showroom motor di kartu nama itu. Tapi sungguh sial, Yve diusir oleh pegawai disana. Bahkan mereka melarang Yve menemui menegernya. Showroom sialan!


Karena kesal Yve menendang motor disana, hingga jatuh seperti efek domino. Untung yang jatuh hanya beberapa motor. Setelah terjadi kerusuhan, akhirnya Yve dipertemukan oleh manager disana. Saat Yve mengucapkan nama Bai Jun, ia langsung dilayani bak sultan yang kebetulan mampir.


Tapi setelah itu Yve malah memilih motor pertama yang ia tendang sendiri. Meskipun sudah ditawari yang lain, Yve tetap menolak. Sebagai gantinya, ia diberikan stiker sebagai ucapan permintaan maaf.


"Untung bahan stikernya bagus." Yve tersenyum sambil menempelkan stiker itu ke motornya.


"Selamat pagi."


Yve mendongak, dan mendapati Leo baru masuk cafe.


"Oh, kau tinggal dimana?" tanya Yve sambil mengelap stikernya.

__ADS_1


"Agar aku bisa terus menjaga tempat ini, aku menyewa apartemen di seberang."


"Perbaikan atapnya sudah selesai ya."


"Begitulah." Leo mengangguk. "Ngomong-ngomong ini motor baru?" Leo berjongkok disamping Yve sambil melihat motor itu dari dekat.


"Ya. Ayahnya Bai Lian yang memberiku."


"Tuan besar?! benarkah?!" Leo tampak sangat terkejut.


"Tentu saja. Aku ini cucu kesayangannya."


"Cucu?" Leo tidak paham. Tuannya Bai Lian saja umurnya hanya selisih 5 tahun dari Yve. Bagaimana bisa Yve jadi cucu?


"Pagi Yve" mimik wajah Orion berubah saat melihat Yve sudah bersama Leo, apalagi mereka terlihat dekat. Ternyata dia masih saja cemburu. Meskipun umur Leo terlihat jauh lebih tua dari Yve.


"Pagi." Yve bangkit dan diikuti oleh Leo. "Kau sekarang berangkat pagi ya, Orion."


"Karena sedang libur sekolah. Lagipula les ku sore hari."


Yve mengangguk mendengar jawaban Orion.


"Ini motor siapa?" tanya Orion sambil menunjuk motor didepan Yve.


"Milikmu? beli sendiri?"


"Tidak. Aku menyelamatkan seorang kakek kaya raya, lalu dia memberiku uang yang sangat banyak. Akhirnya kubelikan motor saja." Jelas Yve.


"Pfffttt!!" Leo tiba-tiba ingin tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan. Menyelamatkan kakek? lucu sekali. Bahkan tuan besar Bai Jun tidak membutuhkan bodyguard, untuk apa diselamatkan?


"Diam kau!" Yve menepuk bahu Leo.


"Hahaha maaf, habisnya lucu sekali." Leo masih terkekeh.


Orion yang tidak paham dimana letak kelucuan dari perkataan Yve, hanya terdiam.


"Baiklah, aku akan membawa motor ini keluar. Kalau tidak, kak Tina akan mengomel." Yve mulai memindahkan motornya.


"Mau-"


"Mau kubantu?" Leo berhasil mendahui Orion menawarkan bantuan.


"Aku bisa sendiri." Yve menggeleng.


"Baiklah. Aku akan menyapu lantai." Leo segera pergi.

__ADS_1


Orion masih melihat Yve yang dengan handal mengatur motornya keluar cafe. Dia sudah terbiasa memegang motor.


"Yve."


"Hm?" Yve menjawab sambil terus fokus pada motornya.


"Kau bohong kan?"


Langkah Yve yang hampir mencapai pintu cafe terhenti. Ia melirik Orion dan menatap kedua mata teman sebangkunya itu. "Kenapa kau berpikir aku bohong?"


"Habisnya jika memang ada orang sekaya itu, bukankah dia memiliki pengawal? tidak mungkin jalan sendirian. Kakek itu begitu kaya sampai bisa memberimu uang terimakasih sebanyak itu kan."


Yve mengangguk. Perkataan Orion ada benarnya. "Memang benar dia memiliki pengawal. Tapi kakek itu tidak sengaja terpisah dari pengawalnya dan masuk ke gang sempit. Lalu bertemu preman."


"Begitu ya. Lalu kenapa-"


"Sudah sudah, aku tidak tahu. Yang jelas aku bertemu kakek kaya. Kalau kenapa dia bisa kaya atau apapun itu, aku tidak tahu." Yve segera keluar cafe dengan motornya. Orion yang cerewet sangat menyebalkan.


Leo yang sudah mengambil sapu, keluar dari arah dapur. Saat melewati Orion, laki-laki tampan itu menghentikan Leo. "Ada apa?" tanya Leo bingung karena tiba-tiba saja dihadang.


"Kau teman Yve kan?" Leo tampak mengangguk mendengar pertanyaan dari Orion. "Setahuku, teman Yve itu sedikit, dan kebanyakan aku mengenalnya. Kau temannya dari mana?"


Leo diam sejenak. Ia harus memikirkan alasan yang rasional, dan berusaha menebak pikiran Yve. Siapa tahu Yve sudah memberitahu Orion, dan Orion bertanya padanya untuk mengetes sesuatu. Yang jelas, tidak boleh ada yang tahu kalau Yve bekerja menjadi bodyguard boss mafia.


"Aku... mantan teman kerjanya." Leo tersenyum dengan ramah.


"Kerja yang mana?"


Leo kembali berpikir. Ini jelas pertanyaan jebakan. Yve tidak pernah bekerja sebelumnya, selama ini dia hanya membantu mengurus cafe. Pekerjaan Yve yang diketahui Orion hanyalah pekerjaan palsu. Tapi Leo tidak tahu, pekerjaan palsu Yve itu apa? jelas sekali kalau Yve sudah pernah mengatakannya.


"Kerja di..." wajah panik Leo tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Di toko bunga." katanya kemudian.


Seharusnya pekerjaan anak perempuan yang masih SMA adalah ini bukan?


Orion tersenyum kemudian menepuk bahu Leo yang tinggi badannya 5 cm lebih tinggi darinya. "Pembohong."


Leo terkejut. Sial! ia salah menebak.


"Yve bekerja di bengkel sekarang, itu katanya sih. Dia tidak pernah kerja di toko bunga, dan tidak memiliki teman yang kerja di toko bunga selama ini. Lalu, kau siapa?" Orion mengangkat alisnya dengan tatapan menyelidik.


"Aku..."


"Leo, bawakan aku kain yang disana. Tadi ketinggalan." teriak Yve dari luar cafe.


"Baik." Leo akhirnya bisa pergi dari situasi menegangkan ini.

__ADS_1


__ADS_2