Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Dewa Setan


__ADS_3

"Adikku!"


Yve menoleh kearah Beng yang meneriakinya dari kejauhan.


"Adikku jangan jauh-jauh, banyak dinding kropos yang bisa runtuh sewaktu-waktu! Disana belum dibersihkan, kemarilah!" Lanjut Beng sambil melambaikan tangannya.


"Tidak apa-apa kak Beng. Aku akan membersihkan yang sebelah sini. Panggil saja kak Devian untuk membantuku."


Tuh kan! Maunya nempel Devian lagi. Beng menatap curiga.


"Baiklah. Devian sedang memarahi South sekarang, kalau sudah selesai akan kusuruh kesana!"


"Terimakasih kak Beng!"


Yve memakluminya. Tadi, sempat terjadi insiden menegangkan. South tidak sengaja menumpahkan mie instan rasa tinta cumi keju ke jas rapi Devian. Tanpa rasa takut, South malah berkata 'oh maaf, jangan marah ya, karena kata kak Beng kau sedang jatuh cinta' hal itu membuat sisi iblis Devian kembali bangkit.


Tak lama, Devian datang menghampiri Yve. Dia hanya mengenakan kemeja putih yang samar-samar masih tergambar bulatan besar tempat mie South jatuh sebelumnya.


"Ada apa? Menemukan sesuatu?" Devian berjongkok di samping Yve yang sedang melihat-lihat rak buku.


"Lihatlah kak Devian. Ada dua rak buku yang memiliki engsel pintu." Tunjuk Yve pada dua rak buku besar di depannya.


"Tebakan kak Sky benar." Devian menyentuh engsel itu dan mulai membayangkan kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa Lin menyelamatkan Levin?"


"Entahlah. Selama mayat Levin belum ditemukan, untuk saat ini anggap saja Lin menyelamatkan Levin. Tapi jangan lengah. Siapa tahu, Lin hanya menyelamatkan dirinya sendiri." Devian kembali menunjuk engsel pintu di depannya. "Mungkin saja ini jalan untuk keluar, bukan tembus ke ruangan Levin."


"Menyebalkan sekali. Aku lelah dengan semua ini." Yve menggaruk kepalanya dengan kasar.


"Kau pulang saja dulu. Disini biar aku dan para senior yang mengurusnya. Kau juga pasti sudah lelah." Devian menepuk bahu Yve sambil tersenyum.


Di kejauhan.


Sudah kuduga! Mereka pasti ada apa-apanya! Wah tidak bisa dibiarkan ini. Harus jadi tranding topic.


Beng mengintip dari balik puing bangunan yang besar.


South datang sambil merengek. "Kak Beng! Huhu. Kak Devian jahat sekali. Tadi aku-"


"Ssttt! Diam! Sini!" Beng dengan cepat menarik South hingga ikut bersembunyi dengannya.


"Lihat apa?" Tanya South bingung.

__ADS_1


"Itu pasangan baru." Tunjuk Beng kearah Devian dan Yve.


"Yang benar?!"


Beng mengangguk dengan kuat.


"Kalian kenapa malah santai-santai? Di sebelah sana masih-" North yang datang berniat menegur, langsung ditarik South untuk sama-sama bersembunyi.


"Lihat mereka, North. Mesra sekali ya." Ucap South dengan mode gosipnya yang aktif.


"Kak Devian dan Yve?" North mengangkat alisnya dengan bingung.


"Sstt! Jangan keras-keras. Mereka itu sebenarnya sedang pacaran." Ucap South menggebu-gebu.


"Bodoh! Kau saja bicara keras-keras. Bagaimana kalau tuan Bai Lian tahu?" Beng langsung menjitak kepala South.


"Memangnya kenapa kalau aku tahu?"


Beng, South, dan North seketika menoleh kearah sumber suara.


"Tuan Bai Lian?!"



Kian sangat terkejut hingga kedua kakinya tidak mampu lagi untuk berdiri, dan membuatnya jatuh diatas tanah.


"De-de-dewa?! Kenapa kau bisa disini?" Kian tidak bisa menahan suaranya yang bergetar ketakutan.


Sosok yang membuat Kian hampir jantungan itu tersenyum sebentar, lalu membuka suara. "Kian tolong bantu aku."


"Waaaa setan!!!" Kian segera berlari memasuki cafe sambil berteriak.


"Setan! Ada setan! Dewa setan!" Kian berlari hingga ke depan cafe, membuat semua pelanggan meliriknya dengan iba.


"Masih muda sudah kena gangguan jiwa." Gumam salah satu pelanggan sambil menggeleng menatap Kian.


"Hei kau! Diam dulu. Ada apa?" Leo menarik tangan Kian untuk menghentikan orang aneh itu berlari berputar-putar sambil terus berteriak.


"Leo. Disana-"


"Panggil kak Leo. Aku ini senior."


"Itu tidak penting sekarang! Yang jelas di belakang cafe ada setan!" Jerit Kian.

__ADS_1


"Ini masih siang. Tidak mungkin ada setan." Celetuk Tina sambil tersenyum geli.


"Aku serius boss. Dia itu temannya dewi!"


"Haha kau ini bicara apa." Tina hanya tertawa.


Hah? Teman dewi?


Leo kemarin sempat mendengar kalau Kian memanggil Yve dengan sebutan dewi, entah karena apa. Tapi sekarang dia bilang kalau ada setan temannya dewi? Apakah itu berarti salah satu teman Yve?


"Siapa namanya? Kau kemarin pulang dengan semua teman Yve kan? Pasti tahu nama salah satunya."


"Aku tidak tahu namanya! Dia itu dewa!"


Leo semakin bingung. Sebenarnya siapa yang disebut dewa oleh Kian?


Dewa Dewi... Apakah itu Yve dan tuan Bai Lian?


Leo segera menggeleng. Itu tidak mungkin tuannya. Meskipun tidak ada orang yang lebih cocok disandingkan dengan Yve kecuali tuan Bai Lian, tapi yang pasti bukan dia. Kian tidak pernah bertemu dengan tuannya.


"Baiklah, antarkan aku kesana." Leo mengelap tangannya dengan serbet kemudian beralih dari balik meja pelayan.


"Tidak! aku tidak mau! Takut!" Kian bersembunyi dibalik Tina.


"Ck! Ayolah. Lagipula aku hanya ingin memastikan dia benar-benar setan atau bukan."


"Pasti setan! Karena dia itu seharusnya sudah mati demi menyelamatkan dewi." Ucap Kian ketakutan.


Deg!


"Apa kau bilang?" Leo melotot dan mulutnya menganga. Ia sangat terkejut, karena satu-satunya orang yang tidak ikut pulang kemarin hanyalah Levin. Berarti... Yang berada di belakang cafe...


Leo berlari secepat kilat berlari menuju belakang cafe.


"Syukurlah Leo."


Leo menoleh kearah sumber suara yang terdengar senang saat melihatnya keluar.


"Tidak mungkin. Levin."


"Leo, tolong tuan Lin." Levin menurunkan Lin dari gendongannya.


"KAU BERCANDA KAN?!"

__ADS_1


__ADS_2