
"Katakan semuanya lebih jelas." Bai Lian berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Yve.
"Lin kemarin menghasut temanku, agar aku mau bekerja untuknya. Karena dia mengancam akan membunuh teman dan kakakku, maka aku terpaksa mematuhinya saat itu. Lalu, aku ditugaskan untuk membunuhmu." jelas Yve sambil mengingat kembali kejadian kemarin malam.
"Kenapa kau mengatakan ini padaku? tidak takut kalau aku membunuhmu karena kau sudah berkhianat? jangan lupa, peraturan disini adalah, jika bodyguard ketahuan berkhianat maka akan ditembak mati. Kau secara terang-terangan mengakuinya, maka aku akan membunuhmu."
"Ya ampun. Bai Lian, kau pikun ya?" Yve menyentuh dahi Bai Lian dengan jari telunjuknya. "Sudah kubilang, aku tidak mematuhi siapapun. Tentu saja aku tidak mau membunuhmu."
"Tapi-"
"Bukankah aku malah akan berguna untukmu?" Yve menaikkan kedua alisnya kemudian tersenyum, bak anak kecil yang memiliki keinginan tersembunyi.
"Berguna bagaimana?"
"Kau ingin memata-matai Lin tentang penyelundupan senja api ilegal kan?"
Bai Lian terkejut. Ternyata Yve tahu tentang rahasia yang hanya diketahui olehnya, Beng, dan Devian sebelumnya. Kedua bodyguardnya itu sangat ember.
"Lalu?"
"Aku bisa menjadi mata-matamu yang baik. Sepertinya Lin menyukai kekuatanku, jadi dia tidak akan membunuhku. Dan aku bisa melaporkan padamu, tentang apa saja yang dia lakukan. Ditambah, bisa mengetahui rencananya yang ingin mencelakaimu, dan bisa menghindarinya dengan mudah."
Bai Lian terdiam. Perkataan Yve benar juga. Itu akan memudahkannya dalam bergerak nantinya.
"Tunggu dulu." Bai Lian mengusap dagunya sambil berpikir. "Katanya kau tidak mematuhi perkataan siapapun. Lalu bagaimana jika ternyata kau berkhianat padaku?"
Yve menggelengkan kepalanya dengan ekspresi iba. "Bai Lian oh Bai Lian, pakailah sedikit otakmu."
Bocah tidak sopan! Bai Lian berusaha menahan amarahnya.
"Kalau aku berkhianat, kau sudah terkapar disini bersimbah darah."
Benar juga. Misinya adalah membunuhku, tapi dia tidak melakukannya. Apakah benar-benar ingin berada dipihakku?
Bai Lian kembali berpikir keras.
"Lagipula..." Yve mengalihkan pandangan kearah jendela. "Aku tahu mana yang baik, mana yang buruk. Kenapa aku harus membela yang buruk?"
Bai Lian menatap gadis kecil didepannya. Tatapan mata mungil itu terlihat begitu sendu. Entah apa yang dipikirkan bodyguard manisnya itu. Tapi untuk orang yang baru memasuki dunia hitam ini, sudah mendapat begitu banyak beban pasti sangat berat.
Tanpa sadar tangan Bai Lian terulur, dan mengusap dengan lembut ujung kepala Yve. "Maaf, sudah membuatmu menderita."
Yve terlihat bingung. Tapi setelah mengetahui maksud dari perkataan tuannya itu, ia segera mengangguk.
"Aku akan mengurus orang tidak berguna sepertimu."
Bai Lian kembali menarik tangannya. Ini salahnya karena bersikap lembut pada iblis kecil ini. Kata-katanya tetap saja menusuk seperti jarum.
"Mari bahas soal bayarannya." Yve tersenyum dengan polosnya. "Pertama, aku ingin 10 bodyguard menjaga orang-orang di sekelilingku."
__ADS_1
"Hah? 10?! kau pasti bercanda." Bai Lian menggelengkan kepalanya. "Itu akan terlihat sangat mencolok bukan?"
"Bodoh! tentu saja dibagi. 5 orang menjaga kakakku, 3 orang menjaga temanku bernama Orion, 1 orang menjaga temanku yang lain bernama Soni, lalu sisanya 1 orang menjaga cafe selama aku tidak ada."
"Baiklah, aku mengerti. Apa ada lagi?"
"Wah kau cukup dermawan ya. Aku ingin rumah dan toko atas namaku." Yve berkacak pinggang dengan ekspresi bangga.
"Ditolak."
"Hah?! kena-"
Belum sempat Yve selesai protes, Bai Lian tersenyum dengan lembut. "Saat aku melihatmu selamat setelah aku melenyapkan Lin, maka aku akan memberikan apapun yang kau mau."
Untuk sesaat Yve terpesona dengan laki-laki di hadapannya ini. Wajahnya tampan, dan mata birunya yang sedikit menghilang saat tersenyum, membuat Yve merasa sedang berhadapan dengan pangeran.
"Halo?" Bai Lian mengibas-ngibaskan tangannya di wajah gadis didepannya yang masih tidak berekspresi.
"Ah? ya?" Yve akhirnya tersadar. "Begini, apa maksudmu dengan melenyapkan Lin?"
"Bahas nanti saja. Kau pasti diawasi Levin kan? maka, kau harus cepat kembali." kata Bai Lian buru-buru.
Benar juga.
"Ngomong-ngomong, orang yang kau utus untuk memata-matai Levin dimana?"
Yve menelan ludahnya dengan khawatir. Berarti si Levin itu tipe orang yang mudah sekali melenyapkan nyawa. Jika Yve salah mengambil tindakan, bisa saja nyawanya yang akan hilang, bukan ditangan Lin, melainkan Levin.
"Percaya saja padaku, Yve si pengkhianat." gadis itu menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.
"Kembalilah. Jangan biarkan dia mencurigaimu."
"Ya ampun, apa tuan Bai Lian yang arogan ini mengkhawatirkanku?" ledek Yve.
"Ya, aku mengkhawatirkanmu."
Situasi canggung mulai menyelimuti mereka. Bai Lian dan Yve memalingkan muka bersamaan. Menyembunyikan wajah kemerahan masing-masing.
"Ka-kau kan masih anak-anak." Bai Lian tiba-tiba gagap sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Ia malu sekali.
"Huh! lagi-lagi menyebutku anak-anak. Dasar tua bangka!" Yve pura-pura marah dan pergi. Sebenarnya ia cukup malu untuk mengakhiri pembicaraan.
"Hati-hati"
Yve mendengar kata itu dari Bai Lian saat ia keluar ruangan. Rasanya sangat aneh sekarang. Padahal Tina sering mengkhawatirkannya, tapi entah kenapa... yang ini berbeda.
Yve menggelengkan kepalanya, mencoba membuang rasa aneh yang menyelimutinya. Mungkin ini efek terlalu sering bermusuhan dengan Bai Lian.
Setelah sedikit tenang, Yve keluar dari rumah. Ia langsung disambut oleh Levin yang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Tidak mungkin dia mendengarkan semuanya kan?
"Apa?" tanya Yve sambil mencoba bersikap acuh tak acuh.
"Kau lama sekali." Levin mulai menatap curiga.
"Aku bertengkar dengannya seperti biasa. Kau tahu sendiri aku tidak suka mengalah. Jadi kami terus berdebat tadi. Memangnya kenapa?"
"Kuharap itu benar." Levin mencoba percaya. Bagaimanapun tadi malam Yve terlihat patuh, dia pasti takut dengan tuannya Lin. Tidak mungkin sekarang langsung mengadu pada Bai Lian. Apalagi nasib orang yang disayanginya berada digenggaman tangan tuan Lin.
"Tadi kau dicari oleh kepala bodyguard."
"Kak Beng ya. Oke aku akan ke gazebo." Yve hendak melangkah pergi, tapi Levin menarik tangannya dan berbisik sesuatu.
"Ingat, aku terus mengawasimu bocah. Jangan mengadu pada siapapun." ancam Levin.
"Tenanglah. Nyawa Bai Lian bisa kucabut kapan saja. Lebih baik kau bersantai, melihatku melakukan misi sambil minum kopi." Yve berkata dengan enteng, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju gazebo.
Ck! ucapan yang penuh aturan itu membuatku muak.
Yve sudah sampai di gazebo. Teman-temannya sedang berkumpul disana.
"Adikku, kemarilah. Ada berita bagus." Beng merangkul Yve saat adiknya itu sudah sampai di jangkauan tangannya.
"Wah wah berita apa? seru sekali."
"Tuan Bai Lian akan menemui salah satu kolega lagi." South berkata dengan gembira.
Atmosfer ini berbeda saat mereka bertemu dengan Mr. Watson. Entah kenapa mimik wajah mereka terlihat senang.
"Eh? apa orang ini penting?" tanya Yve.
"Sangat. Terlebih lagi, dia adalah teman tuan Bai Lian saat kecil. Mereka besar di bisnis yang sama." Devian menjelaskan sedikit, dan Yve mengangguk mendengarnya.
"Orangnya sangat humoris, tapi otaknya kotor." Beng memberi komentar.
"Saat bertemu dia besok, kau harus membuat penampilanmu sangat maskulin." South menyenggol bahu Yve. "Kalau tidak, dia akan menggodamu habis-habisan."
"Siapa namanya?"
"Namanya Ferran."
Eh?
Eh?
Eeeeehhh?!
itukan nama kakaknya Soni
__ADS_1