Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Banyak Pikiran


__ADS_3

"Lalu begini." Devian mengajari dengan serius seperti biasa, tapi Yve tidak bisa fokus sama sekali. Itu karena Bai Lian sedari tadi menatap kearahnya. Rasanya sangat tidak nyaman.


"Sekarang coba kau-"


Brak!


Yve menggebrak meja dengan keras.


"Berhenti menatapku! Dasar bodoh!" Teriak Yve pada Bai Lian.


"Siapa yang menatapmu? Aku tidak menatapmu." Bai Lian pura-pura bingung. Padahal sebenarnya dia benar-benar menatap bocah itu.


"Tanpa melihat pun aku tahu, kau sedang menatapku!" Bentak Yve.


"Bagus, sangat peka. Tidak sia-sia aku menjadikanmu bodyguard inti."


Yve tidak tahu bagaimana lagi menghadapi orang aneh nan menyebalkan seperti Bai Lian. Dia begitu menjengkelkan pagi ini. Padahal kemarin cukup bersahabat.


Apakah benar efek penyembuhan kuno itu? Tidak mungkin kan?


"Yve." Devian memanggil sambil menunjuk layar laptop milik Yve. "Baterainya habis. Mana Charger laptopnya?"


Gadis yang sedang diajak bicara itu terdiam. Ia mengingat kembali apa yang terjadi di toko, dan kemana perginya benda itu.


"Tidak ada charger." Yve menggeleng.


"Kau ini beli laptop atau mencuri laptop?" Devian menepuk kepalanya dengan frustasi. Ia tidak bisa menebak jalan pikiran satu-satunya bodyguard perempuan di rumah ini. Tingkat absurdnya melebihi Beng.


"Tidak usah bingung. Pakai saja charger milikmu." Ucap Yve santai.


"Enak saja! Tidak boleh!"


"Devian, pinjamkan saja." Beng menatap Devian dengan penuh tajam. Seseorang yang mempersulit adik perempuannya adalah musuh!


"Kak Devian itu yang tertua, tapi sifatnya seperti anak-anak ya. Tidak mau berbagi." South ikut menyalahkan sembari mulutnya sibuk mengunyah cemilan.


"Apa kau bilang?!"


"Sudahlah, kenapa kalian ribut hanya karena charger." Bai Lian berdiri dan menatap Yve. "Ayo ikut denganku. Di ruanganku ada charger."


Yve berpikir sejenak. Mungkin saja Bai Lian ingin membahas rencana lagi denganku? Tapi jika ada yang curiga bagaimana?


"Tidak perlu merepotkan tuan Bai Lian." Levin tiba-tiba datang dengan senyum paksaannya. "Tadi dari jauh saya dengar ada yang mencari charger laptop. Kebetulan saya memiliki satu dengan merk yang sama. Ini tidak terpakai dan akan kuberikan pada Yve saja."

__ADS_1


"Oh. Baguslah. Aku akan pergi sekarang." Bai Lian menjauh dengan sifat acuh tak acuh yang tiba-tiba saja kembali.


"Ini." Levin memberikan charger pada Yve.


"Terimakasih."


Sepertinya, Levin mulai curiga. Aku harus menjaga jarak dari Bai Lian. Kalau dia melaporkannya pada Lin, bisa gawat. Rencana untuk memata-matai Lin dari dekat akan gagal.


"Kak Devian. Ini untukmu." Levin memberikan sebotol jus apel di hadapan Devian.


Sempat terkejut, tapi Devian segera mengetahui maksud Levin."Ini pertama kalinya kau memanggilku. Terimakasih minumannya." Devian tersenyum dan menerima pemberian Levin.


"Aku mengumpulkan keberaniannku untuk memberikannya." Levin pura-pura malu, dan itu terlihat sangat aneh di mata para bodyguard inti. "Aku akan latihan menembak. Selamat tinggal semua." Setelah berpamitan, Levin pergi.


Devian membuka penutup botol jus yang diberikan Levin, kemudian mencium aromanya. "Sudah kuduga, ini diberi racun." Kata Devian saat aroma racun yang ia kenal menusuk hidungnya.


"Ya ampun. Dia benar-benar berani dengan kita." South tidak sadar meremas cemilannya dengan emosi.


"Aku akan memberinya pelajaran!" Beng hendak berdiri, tapi Devian segera mencegahnya.


"Tidak usah. Biarkan saja dia berusaha. Toh selama ini usaha mereka sia-sia. Aku ini licin seperti belut." Devian terlihat sangat bangga saat mengatakannya.


Levin benar-benar sudah memulai rencananya untuk membunuh kak Devian. Yve melirik Levin yang mulai latihan menembak sendirian.


Tiba-tiba Yve sadar sesuatu. Tunggu sebentar! Ada yang aneh. Levin seharusnya tahu kalau kak Devian bisa mendeteksi racun kan? Apalagi dengan aroma yang bisa tercium. Kenapa dia melakukannya? Ini pasti sengaja.


"Yve, lanjutkan latihanmu." Devian mengingatkan muridnya itu dengan wajah diktatornya.


"Iya kak."


Selain memantau Lin. Aku juga harus memantau Levin.



Hari sudah mulai sore. Langit perlahan berubah warna. Dijam inilah, waktunya Yve pulang. Gadis berkuncir kuda itu berjalan dengan santai menuju motornya yang terparkir. Perawakannya yang menyerupai laki-laki membuat orang-orang terkadang salah menebak gendernya.


"Ini ambillah."


Yve menoleh. Levin dibelakangnya menyodorkan tas ransel berwarna serba hitam kearahnya.


"Untuk apa?"


"Laptopmu."

__ADS_1


"Oh." Yve menerima ransel itu dan memasukkan laptop barunya kedalam. Selama sesuatu yang diberikan Levin padanya bukanlah benda yang bisa membuatnya mati, maka akan ia terima.


"Ingin langsung pulang?"


"Ya." Jawab Yve dengan malas, sambil mengenakan ransel di punggungnya. "Memangnya kenapa? Lin ingin mengajakku bicara?"


"Tidak. Hanya saja..." Levin terlihat bepikir keras. Ia seperti sedang menimbang-nimbang, ingin bicara atau tidak.


Yve menghela nafas dengan malas kemudian menaiki motornya. "Terlalu lama, aku pergi saja." Yve mengenakan helm dan pergi dengan cepat. Deru suara motornya menjadi pengiring kepergian gadis itu.


Levin terus menatap Yve hingga gadis itu tidak lagi terlihat olehnya.


Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Aku harus menunggu sebentar lagi. Saat semua ini berakhir, barulah akan memberitahu tentang hal itu.


Levin memelangkah pergi. Senyumnya tiba-tiba mengembang. Pertama-tama aku harus membunuh Devian.



"Aku pulang" Yve memasuki cafe saat semua pegawainya sedang melakukan bersih-bersih. Setelah ini mereka akan pulang, jadi yang harus dilakukan adalah membersihkan cafe.


"Hebat ya. Berangkat hanya orang, pulang membawa sesuatu. Aku tidak mau dengar kau mencuri." Tina segera menginterogasi.


"Tenang saja. Ini milik temanku." Yve melepas ransel yang ia bawa kemudian menyerahkannya pada Tina. "Di ransel ini ada namanya. Kalau kak Tina tidak percaya, bisa dilihat sendiri."


"Aku percaya padamu. Hanya saja, aku tidak ingin melihatmu melalukan kejahatan." Tina sedikit berjinjit untuk mengusap kepala Yve yang lebih tinggi darinya itu.


Yve tersenyum dan mengangguk.


Tapi, aku sudah melakukan kejahatan kak.


"Woah... Kau tertarik dengan sesuatu seperti ini?" Leo yang penasaran, mengintip kedalam ransel yang dibawa Yve.


"Aku sedang belajar."


"Kebetulan, aku memiliki buku tentang ini. Tidak pernah kubaca. Untukmu saja. Nanti kuambil di rumah." Leo mengacungkan ibu jarinya.


"Terimakasih. Kutunggu ya." Yve pergi menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Yve langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Meskipun hari ini tidak ada latihan fisik, tapi entah kenapa tubuhnya terasa lebih lelah. Apakah ini efek karena banyak pikiran?


Seharian ini pikiran Yve bercampur aduk. Antara melindungi Devian, dan membalas dendam pada Lin. Otaknya hampir pecah saat ditambah dengan pembelajaran dari Devian.


Yve bangkit dari posisi tidurnya. Ia menoleh kearah kalender yang tergantung di dinding kamarnya.

__ADS_1


Oh sial! Sebentar lagi libur sekolah akan selesai.


__ADS_2