Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Dia Peduli?


__ADS_3

"Kau ingin menarikku sampai mana hah?"


"Eh?" Yve baru tersadar. Padahal ia hanya ingin menarik Bai Lian menjauhi kamar Beng, tapi tidak disangka ia malah membawa Bai Lian hampir mendekati gerbang depan yang jaraknya sangat jauh dari kamar Beng. Ah! aku sudah setengah mabuk.


Yve melepaskan tangan Bai Lian kemudian memukul kepalanya sendiri.


"Apa yang kau lakukan disana tadi?"


Yve melirik kearah Bai Lian. Ekspresi orang itu tidak terlihat jelas. Apakah karena hari sudah malam atau karena pandangannya yang sudah mulai buram?


"Hanya berpesta." Yve mengangkat bahu.


Alis Bai Lian berkerut. Pesta apa yang bisa membuat seorang gadis SMA menginap sampai malam di kamar seorang laki-laki? meskipun tidak ingin berprasangka buruk, tapi otaknya tidak bisa diajak kompromi.


"Pesta apa?" Bai Lian menatap Yve dengan tajam.


"Bukan urusanmu."


Sebuah aroma mulai tercium. Hidung Bai Lian berkedut saat aroma itu mulai memasuki lubang hidungnya. "Kau minum?" tanyanya kemudian.


"Kalau iya, memangnya kenapa?"


"Ck! kemari kau bocah!" tiba-tiba Bai Lian meraih tangan Yve dan menariknya kedalam rumah.


Ada apa ini? kenapa sakarang Bai Lian yang menarikku? apakah dia pikir kita sedang bermain tarik menarik?


Bai Lian membawa Yve ke sebuah ruangan. Lampu mulai dinyalakan dan akhirnya barang-barang didalamnya mulai terlihat. Ternyata itu adalah dapur.


Yve melirik kanan kiri. Bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Bai Lian mengajaknya ke dapur? apakah dia ingin memberi cemilan untuk menemani acara minum?


Bai Lian mengisi sebuah gelas dengan air di wastafel.


Byur!


"Apa yang kau lakukan?!" Yve menjerit setelah Bai Lian menyiramnya dengan air yang ia isi didalam gelas tadi.


"Menyiram orang dengan air bisa menghilangkan efek mabuk."


"Hah?! aku tidak mabuk!" bentak Yve.


"Ambil ini. Lalu ini. Terus ini." Bai Lian mengambil banyak makanan dari dalam kulkas, dan memberikan itu pada Yve. Jumlahnya yang sangat banyak, membuat gadis itu harus mendekapnya agar tidak berjatuhan dengan sia-sia.


"Maksudnya apa?" tanya Yve dengan bingung.


"Makan sesuatu yang mengandung karbohidrat tinggi." jawab Bai Lian sambil menunjuk semua makanan didekapan Yve.


"Semuanya? kau pasti bercanda bung!"

__ADS_1


"Makan sekarang!"


"Kenapa aku harus memakannya?"


"Agar kau tidak mabuk lagi. Ayo cepat makan."


Yve melirik Bai Lian dengan emosi. Entah apa yang ada dipikiran boss mafia itu? memangnya kenapa kalau ia mabuk? bukankah itu bukan urusannya?


"Yvenia Guilietta, aku memintamu makan sekarang! bukannya diam saja."


"Maaf, tapi aku tidak mau." Yve menaruh semua makanan itu di atas meja makan di sana.


"Dengar, kau masih kecil tapi sudah minum minuman keras. Lalu, kau juga merokok. Itu tidak sehat." jelas Bai Lian.


Ya ampun, dia seperti kak Tina.


"Kau yang membunuh orang didepan wajahku tidak perlu berceramah panjang lebar."


Yve hendak pergi dari sana tapi Bai Lian kembali meraih tangannya.


"Aku peduli padamu, jadi makan sekarang!"


Mata Yve melotot mendengar itu. Peduli? padaku?


"Hmm..." Yve melirik tumpukan makanan diatas meja yang ia taruh tadi. Kebanyakan disana adalah onigiri dengan berbagai macam isi. Lalu ada beberapa botol air putih dan air lemon. Jelas tidak mungkin kalau ia harus menghabiskan semuanya.


"Semuanya?" tanya Yve lagi, dan langsung dijawab anggukan cepat Bai Lian.


Setelah mengambil satu Onigiri, Yve mulai memakannya dengan lahap. Isi tuna mayo didalamnya sangat enak, meskipun roti isi abon masih menjadi ranking satu di hatinya, tapi ini tidak buruk juga untuk dijadikan ranking dua.


Entah kenapa Bai Lian merasa senang saat Yve sudah mulai makan. Tadi secara reflek mulutnya berkata kalau ia peduli pada gadis itu. Tapi maksudnya bukan begitu, ia hanya khawatir karena Yve masih kecil. Seperti kata ayahnya.


Bai Lian duduk di kursi sebelah Yve. Ia melihat gadis itu makan dengan lahapnya. Tidak disangka melihat orang makan seru juga.


"Kenapa?" tanya Yve setelah menelan kunyahan onigiri di mulutnya.


"Tidak ada" Bai Lian langsung membuang muka. Benar juga, kenapa ia melihat gadis itu makan?


Yve membuka botol air mineral dan meminumnya. Tenggorokannya terasa sangat kering. Melihat tumpukan onigiri yang masih banyak, membuatnya terlihat seperti mengikuti lomba makan.


Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menjalar ke tubuh Yve. Sepertinya ada seseorang yang memperhatikan dia dan Bai Lian sekarang. Perasaan ini sama seperti saat ia tiba-tiba dikeroyok oleh orang-orang suruhan musuhnya.


"Siapa disana?!" Yve segera menoleh.


Bai Lian yang bingung ikut menoleh. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Aku merasa ada seseorang yang memperhatikan kita."

__ADS_1


Bai Lian mengangguk paham. Seseorang yang biasanya pulang selarut ini hanya dia. "Abaikan saja, mungkin tikus." ledeknya pada seseorang yang pasti mendengar ini.


"Baiklah." Yve mulai membuka bungkus onigiri keduanya.


"Jangan lupa habiskan."


"Kau ingin membunuhku?!"



Hari sudah menjelang pagi. Yve yang baru saja sampai di cafenya langsung buru-buru turun dari motor dan berlari menuju kamar mandi.


"Eh? Yve?" Tina yang tidak sengaja berpapasan dengan Yve, bingung karena adiknya itu hanya berlari melewatinya dengan cepat.


Uwek!


Yve mulai muntah.


Bai Lian sialan! dia membuatku memakan semuanya, dan kekenyangan. Berengsek!


Yve memukul tembok kamar mandi dengan emosi.


Setelah membersihkan semuanya dan keluar dari kamar mandi, ia disambut oleh Tina, Orion, dan Leo yang sudah menunggu didepan pintu.


"Ada apa?" tanya Yve singkat.


"Kau bilang menginap di rumah teman karena ingin naik gunung. Lalu kenapa jadi seperti ini? kau tidak terlihat seperti habis naik gunung." seperti biasa, Tina mengomel.


Yve baru ingat kalau sudah mengabari Tina sebelumnya melalui pesan singkat, "aku mabuk perjalanan." Yve mengelap mulutnya dengan santai.


Tina menatap tak percaya. Sementara ekspresi adiknya itu masih biasa-biasa saja.


Leo paham kalau ini urusan bodyguard lagi. Ia menaikkan alisnya memberi kode. Dan Yve tersenyum tipis menjawabnya.


Benar-benar urusan bodyguard ya. Tidak disangka sampai harus menginap. Leo menganggukkan kepalanya.


"Yve kami mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja kan? atau perlu obat?" Orion menatap dengan khawatir.


"Tidak perlu. Aku baik."


"Apa kau sudah sarapan? aku membuat nasi goreng untukmu." Tina berkata dengan antusias.


Mual yang sudah hilang beberapa menit yang lalu tiba-tiba kembali. Tidak mungkin Yve harus makan lagi bukan? dia bukan ular yang perutnya bisa melebar kalau makan banyak sekaligus.


"Aku tidak lapar."


"Kalau mabuk perjalanan memang tidak merasa lapar. Tapi harus makan. Aku akan memindahkan nasi gorengnya ke piring."

__ADS_1


Yve, "..."


Yve mengutuk dirinya sendiri yang salah memberikan alasan. Sekarang mau diapakan nasi goreng buatan kakaknya itu? apakah ia benar-benar harus makan lagi?!


__ADS_2