
"Hantu! Ini pasti ulah hantu!" South mencengkram kedua bahu Yve dan menggoncangkannya dengan heboh. "Bawa ini Yve! Jangan biarkan para hantu itu menculikmu juga!" Kini South menyerahkan kalung bawang putih pada Yve.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Yve baru saja datang ke rumah Bai Lian setelah pulang sekolah. Tapi siapa sangka, suasana heboh sedang terjadi, dan South tidak henti-hentinya berteriak dengan aneh.
"South, ini bukan ulah hantu. Jadi berhenti membagikan benda aneh ini ke semua bodyguard! Seluruh rumah ini jadi bau bawang!" Beng merebut rangkaian bawang yang tadi South berikan.
"Kak Beng, apa yang sedang terjadi? Kenapa heboh sekali?" Tanya Yve. Tadi ia juga sempat melihat bodyguard di depan berlalu lalang dengan sibuk, seolah sedang mencari sesuatu.
Beng menghela nafas dengan berat. Belakangan ini ia sering menghela nafas sambil memikirkan apa yang sedang terjadi. Tugasnya semakin sulit dari hari ke hari. Dan yang lain kembali menagih jawaban darinya.
"Tadi pagi, Arlo dan Levin menghilang. Yang menyadarinya adalah Bernard. Katanya, Bernard ada janji membeli cupcake bersama Arlo, tapi Arlo tidak kunjung muncul. Akhirnya kita juga menyadari kalau selain Arlo, Levin juga tidak ada." Beng beralih menatap rumah mewah keluarga Bai. "Beberapa menit yang lalu, salah satu bodyguard menemukan Arlo. Dia mati bersama 100 preman."
"100?! Apa dia dikeroyok?" Yve sangat terkejut mendengarnya.
"Aku juga tidak tahu. Karena kejadiannya sangat aneh. Arlo mati tertembak, tapi para preman itu semuanya juga mati. Mungkin jumlah premannya lebih dari 100. Setelah membunuh Arlo, sisanya kabur. Itu pendapatku." Beng menggaruk dagunya sambil berpikir. Kalau ada Devian disini, mungkin dia bisa memiliki pemikiran lain.
"Bukan begitu! Menurutku jumlahnya memang 100. Lalu setelah Arlo berhasil membunuh semuanya, arwah para preman tadi tidak terima. Lalu bekerjasama membunuh Arlo." South menyuarakan opini anehnya.
"Kau mulai tertular kak Devian. Menyukai hal-hal mistis." North menepuk kepala South dengan keras.
"Lalu bagaimana dengan Levin?" Yve kembali bertanya.
"Dia belum ditemukan."
"Huh! Biarkan saja dia diculik hantu. Dia itu jahat!" South berkata dengan kesal sambil memakan cemilan.
Yve menggaruk kepalanya dengan bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Virus yang kubuat masih 40% tapi hal-hal rumit tiba-tiba bermunculan. Sekarang Levin juga menghilang. Apakah dia kabur?
❀
Di tempat lain.
Jauh dari hiruk-pikuk kota. Sebuah desa nan asri terlihat sangat damai. Orang-orang yang berlalu lalang saling menyapa satu sama lain dengan sopan. Rumah-rumah yang didominasi kayu berusia tua warisan nenek buyut, menghiasi seluruh desa.
Byur!
__ADS_1
"Wah nak Axel, sudah sore masih semangat saja menimba air."
Laki-laki yang diajak bicara itu menoleh sambil tersenyum dengan lembut. Ia masih belum terbiasa dipanggil seperti itu. Jujur saja, ia lebih suka nama Devian.
"Halo bibi Wen. Ingin menimba air juga?" Tanya Devian.
"Air di rumahku sudah banyak." Bibi Wen menggeleng. "Kamu ingat Dika anakku? Yang dulu main sama kamu waktu kecil."
"Ah iya ingat. Dika yang suka makan sayap ayam."
"Nah iya itu! Dia sekarang kerja di kota, jadi... Apa ya? Nama pekerjaannya susah, bibi tidak hafal. Kerjanya cuma mengepel lantai sama bikin kopi di perusahaan besar. Gajinya juga besar hahaha."
Office boy maksudnya?
"Wahh sekarang Dika sudah hebat." Devian tersenyum sambil mengangguk.
"Kamu di kota kerja apa sih? Bahkan ibu dan nenekmu tidak tahu. Hanya mengirim uang setiap bulan, dan tidak pulang selama 10 tahun. Untung saja bibi masih mengingatmu. Kasihan itu ibu sama nenekmu tidak ada yang mengunjungi."
"Pekerjaanku tidak bisa ditinggal, bibi. Dan kemarin saat aku pulang, aku sudah selesai menjelaskannya pada ibu dan nenek."
"Oh begitu baguslah."
"Cuma satu ember kecil? Memangnya untuk apa Axel?"
Devian menoleh dan kembali tersenyum. "Untuk membasuh muka."
Devian segera pergi untuk mencegah tetangganya itu bertanya lebih banyak. Memang cukup aneh kalau mengambil air dari sumur umum cuma satu ember kecil.
Devian berjalan pulang ke rumahnya. Keadaan di desa kecilnya ini tidak berubah sejak dulu. Jalanan masih tanah yang tidak rata, lampu jalan yang jaraknya berjauhan satu sama lain, dan banyaknya kebun yang memisahkan rumah satu dengan tetangganya.
Devian berhenti di sebuah rumah kayu yang tidak terlalu besar. Saat masuk, sang ibu langsung menyambutnya dengan ekspresi panik.
"Axel, temanmu sudah bangun. Baru saja ibu hendak menyusulmu untuk memberitahu."
Wanita itu bernama Rita. Ibu Devian yang usianya sudah lebih dari setengah abad.
"Benarkah?! Aku akan melihatnya." Devian buru-buru masuk rumah dan menuju kamarnya.
__ADS_1
Saat sampai, Devian melihat seorang laki-laki sudah membuka mata dengan tubuh yang penuh luka.
"Kau sudah sadar rupanya." Devian menaruh ember berisi air didekat ranjang.
"Devian, bagaimana kau bisa menyelamatkanku? Kenapa aku berada disini?"
"Dasar tidak sopan. Katakan terimakasih dulu tidak bisa? Levin."
Levin menatap sekitar. Kamar yang sempit dan berdinding kayu ini dihiasi oleh beberapa poster. Beberapa merupakan poster band rock, dan sisanya adalah siluet makhluk astral.
Tempat apa ini?
"Tidak usah bingung. Ini adalah kamarku. Kau sedang berada di kampung halamanku sekarang." Devian membuka laci meja kecil didekatnya, lalu mengambil kotak obat.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?" Levin menatap tubuhnya yang ternyata babak belur. Semalam, ia bersusah payah melawan orang-orang banyak itu. Saat 4 buah pistolnya kehabisan peluru, ia hanya bisa mengandalkan kekuatannya. Tapi setelah itu tenaganya habis, dan ingatannya hanya sampai sana. Sepertinya ia pingsan karena kelelahan.
"Aku datang tepat waktu. Kau hampir saja kehilangan kepalamu karena sebuah kapak."
"Jadi, kau datang menyelamatkanku?" Levin menatap Devian tak percaya.
"Sialnya begitu." Devian mulai mencelupkan sebuah kain bersih kedalam air yang ia bawa sebelumya. "Aku akan membersihkan lukamu lagi, dan mengganti perban."
"Ya. Setelah ini aku akan kembali."
"Lukamu parah. Banyak sayatan pisau yang dalam. Tinggal sebentar disini untuk pemilihan."
"Tidak bisa. Aku khawatir kalau Yve akan mendapat masalah karena ini." Levin mengepalkan tangannya penuh emosi.
"Yve?"
"Dia mungkin akan ditargetkan Lin. Agar membuatku menampakan diri. Yve dalam bahaya."
Devian tersenyum sambil membenahi kacamatanya. "Yve tidak selemah itu untuk kau khawatirkan. Asal kau tahu saja, dia itu sangat hebat. Apalagi, sekarang dia dekat dengan tuan Bai Lian. Pasti tuan juga akan melindunginya."
"Tapi..."
"Sudahlah. Lebih baik kau buat rencana ulang. Bukankah hal ini melenceng jauh dari rencana kita?"
__ADS_1
Perkataan Devian ada benarnya. Seharusnya Levin mendapat kepercayaan yang lebih dari Lin, setelah pura-pura membunuh Devian. Tapi sekarang malah kebalikanya.