
Keesokan harinya.
Sungguh sial. Hari ini adalah waktunya Yve berangkat sekolah. Setelah lama merasakan nikmatnya baku hantam, ia harus kembali berurusan dengan buku-buku dan orang-orang menyebalkan di sekolahnya.
Bayangan Devian masih setia berada diingatan Yve. Rasanya ia ingin cepat-cepat balas dendam. Tapi jika terlalu tergesa-gesa, malah akan merepotkan diri sendiri.
Seperti biasa, Yve mengikat rambutnya menjadi dua bagian, lalu memakai kacamata bulatnya. Ia yakin kalau bertemu Beng atau South, mereka pasti sudah tertawa sampai banjir air mata.
Yve mulai berjalan menuruni tangga. Dibawah, sang kakak Tina dan beberapa pegawai lainnya sudah berangkat.
"Siapa kau?!"
Yve mengerutkan alisnya saat bertemu dengan tatapan Leo. Laki-laki itu bertanya dengan histeris sambil menunjuk Yve.
"Apa menurutmu ini lucu?"
"Ya ampun suara Yve! Itu kau?!" Ekspresi terkejut Leo tidak bohong, bahkan rahangnya hampir jatuh karena itu.
"Biasa saja. Apa yang perlu dikejutkan?"
"Tentu saja aku sangat terkejut. Karena kau terlihat..." Leo menutup mulutnya dan menahan rasa geli yang tiba-tiba menggelitik perutnya. "Kau sangat cantik hahahaha." Leo tertawa dengan keras setelah mengatakan ejekan berkedok pujian itu.
"Lucu sekali ya." Yve menggulung lengan jaket yang menutupi seragamnya. "Sepertinya kau bisa lanjut tertawa di UGD."
"Hiii kabur!" Leo berlari menuju pintu belakang cafe.
Yve tidak berminat untuk mengejar orang menyebalkan itu. Ia memilih untuk menemui sang kakak yang berada di dapur.
"Pagi Yve." Sapa Tina saat melihat Yve berdiri dibelakangnya.
"Bisakah kak Tina potong gaji Leo bulan ini? Dia sangat menyebalkan." Gerutu Yve sambil mengambil segelas air minum.
"Hahaha dasar. Semua orang kau anggap menyebalkan. Bagaimana bisa mendapat pacar?"
Tuk!
__ADS_1
Yve sengaja menaruh gelasnya dengan keras. "Dari kemarin bahas pacar. Benar-benar menyebalkan."
"Biasanya, anak seusiamu itu sedang gencarnya mencari pacar. Tapi kau malah sibuk kerja bahkan tidak pernah libur."
Semuanya karena si berengsek Bai Lian. Kalau saja Yve tidak menyelamatkan boss mafia lemah itu, mungkin masa liburannya akan ia pakai dengan balapan liar, dan membeli banyak minuman.
Tiba-tiba Yve teringat teman-teman bodyguardnya. Ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Jujur saja, selama menghabiskan masa liburan menjadi bodyguard, menjadi hal yang sangat menyenangkan. Yve juga sempat melakukan pesta minum bersama Beng, Devian, si kembar, Bernard, dan Kurt. Tidak disangka, selama masa liburan juga, ia kehilangan dua teman yang berharga.
"Ini." Tina menyodorkan piring kearah Yve sambil tersenyum. "Makanlah yang banyak."
Yve ingin menangis saat melihat isi piring yang diberikan Tina.
Dan saat liburan juga, rasa nasi goreng ini semakin asin.
❀
Yve sudah sampai di sekolah dengan berjalan kaki. Sebenarnya ia ingin sekali berangkat menggunakan motor. Tapi Tina segera melarangnya, dan merebut kunci motor yang sudah dibawa Yve. Untung saja ia tahu dimana kakaknya menyimpan barang-barang hasil rampasannya. Tapi Yve hanya bisa mengambilnya setelah pulang sekolah.
"Hohoho, lihat! Apa yang kita dapat setelah liburan? Bertemu dengan si cupu."
Yve menoleh. Dibelakangnya, Titania menatap dengan ekspresi jijik.
Yve hanya menggerutu dalam hati. Lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Jika ia menanggapi hewan ternak satu itu, pasti akan panjang urusannya.
"Hei! Kemari kau!"
Yve terus berjalan tanpa menoleh kearah Titania lagi. Benar-benar pagi yang menyebalkan.
"Aku bicara padamu!"
Cih!
Titania menarik rambut Yve untuk membuat gadis itu berhenti berjalan.
Kalau saja kak Tina tidak melarangku memukul teman sekolah, aku sudah menghabisinya dari dulu.
__ADS_1
"Apa maumu?" Tanya Yve sambil menatap mereka dari balik kacamata bulatnya.
"Bersujudlah dan minta maaf pada Titania!" Salah satu peliharaan Titania dengan seenaknya memaki Yve.
"Aku menolak." Yve melipat tangannya didepan dada. "Lebih baik aku bersujud di depan kakakku."
"Kau!"
"Hei, ada apa ini?"
Sosok yang tidak terduga muncul. Itu adalah Soni yang baru saja berangkat. Rambut berantakannya menandakan kalau dia mungkin baru bangun juga.
"Kak Soni sayang. Lihat itu! Gadis cupu itu menyiksaku!" Titania menggelayuti lengan Soni dengan manja.
"Ah be-begitu ya." Soni menggaruk kepalanya dengan takut saat melihat Yve.
"Balas dia sayang! Katakan padanya untuk tidak usah menggangguku lagi. Lalu pukul kepalanya." Titania menunjuk Yve.
Menyuruh Soni memukulku? Kalau dia berani.
"Eeee... Itu..." Soni melirik Yve dengan takut-takut.
Tatapan tajam milik Yve langsung menusuk Soni secara tidak langsung. Ia menaikkan alisnya dengan sorot mata yang tajam.
Soni yang sudah profesional dalam membaca mimik wajah Yve, bisa menebak arti dari tatapan itu. 'Lakukan jika kau berani'
Gluk!
Soni menelan saliva dengan kasar. Ia sudah ketakutan hanya dengan tatapan mata itu. Memukul Yve? Ia tidak memiliki sembilan nyawa untuk melakukannya.
"Ah! Lebih baik ayo cepat masuk kelas!" Soni buru-buru menarik Titania untuk menjauh. Sebenarnya ia tidak peduli dengan manusia muka keledai ini. Toh ia masih memiliki banyak pacar yang lebih cantik. Tapi agar dia tidak mengganggu Yve, sang dewi nya. Ia harus mengusir perusuh satu ini.
Soni akhirnya pergi bersama Titania yang masih tidak rela, dan para peliharaan Titania terpaksa mengikuti.
Yve menghela nafas dengan malas. Baru saja beberapa menit ia berada di sekolah, tapi rasa ingin pulangnya segera muncul.
__ADS_1
"Pagi Yve." Orion melambaikan tangan dari jauh.
Lagi-lagi Yve menghela nafas. Aku ingin pulang.