
"Arsenik disebut sebagai 'Raja Segala Racun'. Zat ini hampir tidak terdeteksi, sehingga sering digunakan sebagai senjata pembunuhan. Racun ini dapat dengan mudah menyatu dalam air, makanan dan sejenisnya. Kita harus mewaspadai ini."
Yve menahan kantuk mendengarkan penjelasan Devian. Ia tadi hanya tidur sebentar, kemudian diberikan dongeng panjang lebar. Kelopak matanya sudah ingin menutup sekarang.
"Selanjutnya ada Botulinum toxin yang menyebabkan botulisme, yaitu kondisi fatal jika tidak segera diobati, mengakibatkan kelumpuhan otot, yang pada akhirnya mengarah pada kelumpuhan sistem pernafasan dan berujung kematian."
"Devian, lihatlah muridmu." Beng yang baru saja kembali dari latihan menembak, terkejut melihat Yve.
"Astaga dia malah tidur!" Devian yang sedari tadi sibuk menjelaskan sambil melihat tabletnya, tidak menyadari kalau orang yang ia ajak bicara sudah berkelana di alam mimpi.
"Biarkan dulu, dia pasti lelah." Beng tersenyum melihat satu-satunya anak perempuan yang ada disini.
"Baiklah." Devian menghela nafas sembari menaruh kembali tabletnya diatas meja. "Dimana South dan North?" tanyanya sambil melihat sekeliling.
"Mereka sedang mencari makan di dapur." jawab Beng.
"Oh iya Beng. Apa tuan Bai Lian belum mengutus orang? untuk memata-matai tuan muda kedua Bai Lin?" Devian mulai berbisik-bisik.
"Soal penyelundupan senjata ilegal itu?" pertanyaan Beng dijawab anggukan kepala Devian. "Belum, tuan ingin mencari orang yang cocok dulu untuk melakukannya."
Beberapa bulan yang lalu, Devian berhasil menemukan beberapa spekulasi kalau Lin melakukan perdagangan senjata ilegal dari luar negeri. Dia mengatas namakan keluarga Bai saat melakukan itu semua.
Meskipun keluarga Bai adalah Mafia, tapi pekerjaan mereka sangat bersih. Mereka hanya mendirikan kasino di berbagai daerah. Dan berselisih dengan sesama organisasi jahat. Mereka tidak pernah berpikir membuat kerugian negara ataupun memperburuknya. Itu tidak penting.
Tapi anak kedua keluarga Bai itu mulai membuat masalah. Devian khawatir jika terlalu lama dibiarkan, tidak menutup kemungkinan kalau Lin akan melakukan hal tidak terpuji lainnya. Meskipun jika mereka berselisih dengan polisi, seandainya perdagangan senjata ilegal itu terendus, keluarga Bai bisa mengaturnya dengan mudah. Namun itu bukanlah tindakan yang baik.
"Perdagangan senjata ilegal apa?"
Devian dan Beng terkejut. Adik kecil mereka sudah bangun.
"Kau mendengar pembicaraan kami?" Beng menatap Yve tidak percaya. Bukankah dari tadi gadis itu tertidur.
"Ya aku dengar semua."
"Kau pura-pura tidur ya." Devian terlihat emosi.
"Aku benar-benar tidur. Tapi terbangun saat kak Beng datang." jawab Yve santai.
"Alasan!"
"Jadi, tadi kalian sedang membahas apa?" Yve bertanya dengan wajah bingung.
Beng dan Devian saling lirik kemudian menghela nafas bersamaan. setelah itu, mereka memutuskan untuk mengatakan secara detail mengenai perdagangan senjata ilegal yang dilakukan Lin.
❀
Pukul 06.15 pm
Yve baru saja masuk cafe. Di dalam, seluruh pegawai sudah bersiap untuk pulang. Orion yang sedang memakai mantelnya, menjadi satu-satunya orang yang terlihat paling senang melihat kedatangan Yve.
__ADS_1
"Kau sudah pulang." ucap Orion dengan wajah sumringah.
"Ya." Yve menjawab dengan nada malasnya. Bagaimana tidak, ia sedari tadi dicecar dengan pengetahuan tentang racun. Sekarang ia jadi parno mendengar sesuatu yang berhubungan dengan racun. Wajah menyeramkan Devian akan muncul setelahnya.
"Bagaimana dengan rencana kita?"
Benar juga, Orion mengajakku pergi.
Yve sangat lelah hari ini. Rasanya ia ingin segera berguling diatas kasur empuknya dan mendekap guling dekil kesayangannya. Mungkin lebih baik ditolak dulu, dan besok baru pergi. Lagipula tidak enak kalau pergi dengan badan lelah.
"Maaf-"
"Eh? kalian janjian ingin pergi?" Tina tiba-tiba menyerobot pembicaraan dengan ekpresi jahilnya. "Pergi saja, mumpung belum malam."
Yve menghela nafas panjang, kemudian melirik Orion yang senyumnya semakin mengembang ketika mendapat dukungan bossnya.
Ck! ya sudahlah.
"Baiklah. Aku akan mengeluarkan motorku lagi."
"Tidak usah!" Orion buru-buru berbicara. "Kita jalan kaki saja. Lagipula tidak terlalu jauh. Hanya berjalan-jalan malam."
Alis Yve berkerut mendengarnya. Bukankah itu aneh? padahal sudah direncanakan dari siang ingin pergi bersama, tapi ternyata cuma jalan-jalan malam?
"Baiklah ayo." Yve berjalan mendahului Orion, dan laki-laki itu langsung mengekor dibelakangnya.
Orion meremas tangannya dengan kuat. Rencananya dan Levin pasti bisa membuat Yve bahagia.
❀
"Ini tempatnya?" Yve memandang bangunan gudang kayu berlantai dua didepannya.
"Iya, ayo masuk." Orion terlihat buru-buru saat mengatakannya. Seolah-olah Yve harus segera mengetahui sesuatu didalamnya.
"Ada yang salah, kita kembali saja." firasat Yve tidak enak. Sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki dari arah pintu gedung terbengkalai itu. Di dalam pasti ada orang, dan jumlahnya tidak hanya satu.
"Kumohon masuklah." kini Orion memohon dengan wajah memelas. Yve tidak tega melihatnya.
Di dalam pasti ada sesuatu. Entah Orion tahu atau tidak, tapi ia bersikeras ingin aku masuk. Tidak mungkin ada kejutan selamat ulang tahun kan? ini bukan hari ulang tahunku.
"Baiklah. Kau tetap dibelakangku." ucap Yve sambil berjalan mendekati pintu raksasa yang terbuat dari besi itu.
Krieeet...
Suara engsel pintu yang sudah berkarat, menambah kesan misterius yang mendebarkan.
Ternyata di dalam... kosong.
Atap bangunan besar ini sudah berlubang di beberapa sisi, mengakibatkan cahaya bulan yang saat ini bersinar terang, masuk dengan indahnya.
__ADS_1
Bersembunyi? Yve melirik sekeliling.
"Halo. Selamat datang."
Yve terkejut mendengar suara itu. Dan pemiliknya terlihat keluar dari belakang box kayu yang sudah usang.
"Bai Lin." gumam Yve tak percaya.
Kini sosok Lin terkena sinar bulan. Ekspresi wajahnya yang sedang tersenyum membuatnya terlihat menyeramkan. Dibelakangnya, seorang laki-laki yang Yve kenal muncul, dia Levin.
"Aku sudah membawanya." seru Orion, dan Yve seketika menoleh kearahnya.
"Apa maksudmu, Orion?!" teriak Yve dengan emosi. Ia tidak percaya kalau satu-satunya orang yang ia anggap teman di sekolah, malah membawanya pada srigala berbulu domba ini.
"Ka-katanya, mereka akan membantumu." Orion tidak mengerti kenapa Yve terlihat semarah itu. Dan ia baru tahu ternyata Yve sudah mengenal mereka.
"Tembak dia. Sudah tidak diperlukan." perintah Lin sambil menatap Orion.
"Laksanakan tuan." Levin langsung mengeluarkan pistolnya.
Dor!
"Cih!" Yve melirik lengannya yang mulai mengeluarkan darah.
"Yve..." Orion menatap gadis yang sekarang sudah berdiri didepannya. Hanya satu kedipan mata, Yve menyelamatkannya dari tembakan Levin. Tapi sayangnya, dia tetap terluka.
"Aku sudah tahu kau akan melindunginya, jadi aku sengaja mengincar lengan." Levin tersenyum puas sambil menurunkan pistol di tangannya.
"Hebat Levin!" puji Lin sembari bertepuk tangan tanpa dosa.
"Yve aku-"
"Diamlah bodoh! dan jangan pergi dari sisiku." Yve melirik Orion sekilas, kemudian kembali fokus pada dua musuh didepannya. Ini seperti perkataan kak Devian, orang terdekatku mulai diprovokasi.
Lin tersenyum mendengar perkataan Yve itu. Ternyata dia benar-benar menarik.
"Kalian datanglah."
Tiba-tiba segerombolan orang berpakaian rapi datang dan mengerumuni Yve.
"Yve, bagaimana ini? mereka sangat banyak." Orion gemetar melihat orang-orang yang bermunculan.
"Sudah kubilang diam!" Yve kembali meneriaki Orion.
Gawat! jumlahnya mungkin lebih dari 50 orang. Dengan kondisiku yang sekarang... sangat mustahil bisa lolos hidup-hidup dari sini. Aku juga tidak membawa motor untuk kabur.
Yve menatap Lin dengan wajah dinginnya. Sorot matanya yang tajam seolah memancarkan aura membunuh. Meskipun dalam kondisi yang jelas kalah, tapi dia tetap tenang dan mengancam.
"Sudah terpojok bukan? mari kita bicarakan sesuatu yang menarik." Lin menyeringai seperti iblis.
__ADS_1