
"BAI LIAN?!"
Teriakan Yve yang keras membuat Bai Lian harus menutup kedua telinga malangnya. Hampir saja gendang telinganya pecah.
"Tidak usah kaget seperti itu."
Soni masih nampak bingung dengan situasi yang terjadi. Sepertinya orang darah campuran ini bukan teman Yve. Kalau memang teman, Yve tidak akan seterkejut itu melihatnya disini. Yve kan biasanya pendiam dan pandai mengatur emosinya.
"Yve, kenapa teriak seperti itu?" Tina buru-buru berlari dari arah dapur. Adiknya yang seperti papan kayu itu tiba-tiba berteriak. Pasti hal gawat sedang terjadi.
"Ah tidak ada kak."
Tina bertemu dengan pandangan Bai Lian. Laki-laki bak pangeran di buku dongeng sedang berada di cafe nya!
"Eh? Siapa ya?"
Bai Lian menatap Tina dengan tajam. "Aku ingin bicara berdua dengan Yve. Bisa kosongkan tempat ini? Atau kalian semua akan kubunuh."
"Eh?" Tina memiringkan kepalanya dengan bingung.
Duak!!!
Yve menjitak kepala Bai Lian dengan keras.
"Jangan bicara begitu dengan kakakku, dasar sialan!"
Bai Lian mengusap kepalanya yang mungkin saja akan meninggalkan bekas benjol. "Bocah, kau masih tidak sopan padaku. Aku ini kan boss-" Bai Lian berhenti bicara karena Yve langsung menutup mulutnya dengan kasar.
"Ingin bicara denganku kan? Ayo ayo naik." Yve pura-pura tersenyum pada Bai Lian.
"Apa kalian mau cemilan? Atau minum?" Tina menawarkan dengan ramah.
"Kakak, tadi bilang tidak ada minum." Soni mengintip dari balik punggung Yve.
"Kalau untukmu tidak ada hehe." Lagi-lagi Tina mengatakan perkataan jahat dengan penuh senyuman.
"Tidak usah berikan apapun pada orang ini." Yve menunjuk Bai Lian. "Bawakan saja air closet."
Bai Lian melotot pada Yve. Tapi gadis itu segera menariknya dengan paksa kearah tangga. "Soni, kapan-kapan kita mengobrol lagi. Dan kakak, tidak usah ke atas ya."
Setelah mengatakan semuanya dalam satu tarikan nafas, Yve kembali menarik Bai Lian pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
"Itu pasti pacar Yve." Mata Tina berbinar-binar mengikuti sosok Bai Lian yang perlahan menghilang di tangga.
"Bagaimana bisa Yve mengenal laki-laki yang lebih tampan dariku?" Soni mengusap dagunya dengan bingung. "Tapi cocok juga. Yve sangat manis dan laki-laki itu terlihat tampan."
"Siapa yang minta pendapatmu?" Tina melirik Soni dengan kesal.
◎
Brak!
Yve segera menutup pintu dan menguncinya dengan buru-buru. Bai Lian masih diam seperti biasa.
"Kau!" Yve menunjuk Bai Lian dengan ekspresi marah sekaligus cemas. "Bagaimana caramu kemari hah?!"
"Naik mobil." Jawab Bai Lian dengan nada datar.
"Bukan begitu!" Dengan frustasi Yve menjambak rambutnya sendiri. "Maksudnya kenapa kau bisa keluar dari rumahmu seenaknya? Tidakkah kau pikir nyawa bodyguard itu seperti uang yang bisa kau hambur-hamburkan? Mereka itu susah payah menjagamu saat keluar rumah. Lalu kau hanya memakainya untuk mengunjungiku?!"
"Aku keluar rumah sendirian." Bai Lian kembali berbicara dengan nada datarnya.
"Sen...dirian?" Yve menatap Bai Lian tidak percaya. Tapi boss mafia itu segera menganggukkan kepalanya dengan serius.
"Ah begitu ya. Kau menyamar." Yve mengangguk sambil membayangkan Bai Lian yang tampan dan kaya raya itu mengendarai mobil sampah. Seharusnya ia berada disana untuk memotretnya.
Tunggu dulu! Yve tiba-tiba sadar tentang sesuatu.
"Kenapa kau tidak menyamar saja kalau bertemu kolega? Dengan begitu tidak ada bodyguard yang harus berkorban untukmu." Usul Yve.
"Tidak bisa. Aku ini boss mafia yang memiliki masalah yang cukup rumit. Aku hanya menyamar dan pergi diam-diam untuk keperluanku sendiri."
"Benar juga. Kenapa kau datang kemari? Mencariku?" Yve menatap Bai Lian dengan bingung.
"Ya. Aku mencarimu." Bai Lian melihat seisi kamar Yve mencari kursi untuk duduk. Rasanya tidak enak kalau mengobrol sambil berdiri. Tapi sayangnya ia tidak menemukannya. Hanya ada meja kecil, lemari, dan sebuah ranjang disana.
"Lihat apa?" Tanya Yve heran.
"Tidak ada tempat duduk."
"Ya ampun. Kalau mau duduk, tinggal duduk saja diatas lantai." Yve menunjuk lantai kamarnya yang dalam keadaan bersih.
"Duduk di lantai hanya dilakukan oleh bodyguard. Boss duduk diatas kursi."
__ADS_1
"Oh? Tapi sekarang kau berada di kamar bodyguard. Jadi kau harus menjadi seperti bodyguard juga."
Duk!
Yve menendang bagian belakang lutut Bai Lian, dan membuat laki-laki terduduk dengan paksa diatas lantai.
"Hei! Jangan kasar padaku! Kau tidak ingat? Aku baru saja sembuh dari patah tulang leher."
"Makan nih patah tulang leher!" Yve mendorong kepala Bai Lian sambil tersenyum.
Setelah puas menjahili boss nya. Yve duduk di depan Bai Lian dan menatapnya dengan serius.
"Sekarang katakan padaku, kenapa kau kesini? Jangan-jangan Lin membuat ulah lagi?"
"Tidak." Bai Lian menggeleng dengan ekspresi datar.
"Eh? Apa mungkin bodyguard lain sudah tahu kalau kak Devian meninggal?"
"Tidak juga. Mereka masih mencarinya sampai sekarang." Bai Lian kembali menggeleng.
"Lalu hal penting apa yang membuatmu kemari?"
"Aku..." Bai Lian menggaruk kepalanya dengan bingung. "Aku mengkhawatirkanmu."
"Hah?!"
Melihat ekspresi Yve seperti orang yang marah, Bai Lian buru-buru menambahi. "Kemarin kau baru saja tahu kalau Devian meninggal. Dia temanmu yang berharga. Jadi aku takut kau sedih sampai depresi. Apalagi tadi pagi aku tidak melihatmu di Gazebo. Kukira kau bunuh diri untuk menyusul Devian."
Yve kira kalau selama ini, hanya ia yang bodoh jika dibandingkan bodyguard lain. Tapi ternyata Bai Lian yang merupakan boss nya lebih bodoh lagi.
"Tentu saja aku tidak mungkin melakukan itu!"
"Syukurlah. Aku juga lega melihatmu baik-baik saja." Bai Lian tersenyum dengan lembut.
Yve segera menatap arah lain. Menghindari senyum Bai Lian yang sangat tampan itu. Wajahnya mungkin sekarang sudah berubah merah seperti tomat.
"Kalau kau tidak ada, siapa yang akan kupanggil bocah? Tidak ada bahan bully-an itu tidak seru sama sekali."
"Apa kau bilang?!" Yve mengangkat meja kecil di sampingnya, dan bersiap melemparkannya pada Bai Lian.
"Hahaha ampun."
__ADS_1