Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Siapa Axel?


__ADS_3

Sebuah bis antar kota berjalan dengan santai. Didalamnya, penuh dengan orang-orang kota yang ingin pulang ke desanya. Karena ini hanyalah bis umum antar kota, tentulah hanya berisi penumpang yang sekelasnya. Tidak ada orang yang terlihat kaya disini. Mungkin jika memiliki uang lebih, mereka akan memilih pulang kampung dengan pesawat atau alat transportasi lainnya. Daripada menaiki bis yang diisi banyak orang seperti ini. Panas, dan sesak.


Seorang laki-laki duduk disalah satu bangku sembari menatap keluar jendela dengan ekspresi sedih. Sorot kedua matanya yang nampak kosong, menandakan ada banyak masalah pelik yang sedang ia pikirkan.


Bis bergoyang saat melewati jalan yang tidak rata. Tapi itu sukses membuat pikiran laki-laki tadi buyar. Ia melihat orang-orang lain di dalam bis, untuk menegaskan pada diri sendiri bahwa ia sudah pergi jauh dan tidak bisa kembali.


Di sudut matanya, laki-laki itu melihat seorang kakek tua yang tidak mendapatkan tempat duduk. Dia terlihat kesusahan untuk berpegangan saat bis bergoyang. Sungguh malang, orang-orang terlalu egois untuk menawarkan tempat duduk yang sedari awal sudah diperebutkan itu.


Laki-laki tadi berdiri, dan menarik pelan kakek yang sudah kesulitan dalam berjalan itu. "Silahkan kek, duduk ditempatku." Katanya sambil perlahan-lahan membantu kakek tadi duduk.


"Terimakasih nak, kamu sangat baik." Ucap kakek itu sambil tersenyum, memperlihatkan giginya yang sudah tidak lengkap.


"Sama-sama kek." Laki-laki tadi sekarang berdiri.


Kruukk!


Perut si laki-laki tiba-tiba berbunyi. Bukan karena lapar, melainkan rasa tidak enak yang menyerang tanpa aba-aba. Sambil menahannya, laki-laki itu mengumpati orang yang kemarin memberinya mie lidi level 70 sambil berkata kalau itu manis. Sial!


"Kamu sangat mirip dengan anakku. Siapa namamu nak?" Kakek yang dibantu laki-laki tadi membuka pembicaraan.


"Namaku, Axel kek."



Diwaktu yang sama. Rumah keluarga Bai.


"Apa?! Devian menghilang?" Bai Lian terkejut sambil berdiri dari kursinya.


Para bodyguard inti kecuali Yve sedang melaporkan kejadian ini pada Bai Lian. Mereka membungkuk seperti anjing penurut di depan tuannya.


"Periksa cctv rumah ini. Lalu lihat kapan terakhir kali Devian menampakkan diri."


"Saya sudah memeriksanya bersama Bernard tuan." Beng buru-buru menjawab. "Terakhir dia terlihat keluar kamar, lalu pergi kearah titik buta cctv jadi pergerakannya tidak bisa dibaca."


"Dia membawa apa saat pergi?"


"Hanya sebuah tablet. Dan Ronan juga mengatakan hal yang sama, kalau Devian pergi dari kamar sambil membawa tabletnya yang biasa." Jelas Beng.


Bai Lian mengusap wajahnya dengan frustasi, lalu melirik para bodyguard inti di hadapannya. Ada satu orang selain Devian yang tidak terlihat disana. "Kemana bocah itu?"


Beng yang paham langsung menjawab. "Tiba-tiba mood Yve buruk. Dia tidak menjawab satupun perkataan kami. Dia terus diam dan sibuk dengan laptopnya."

__ADS_1


Apakah dia tahu sesuatu?


"Panggil Yve kemari." Perintah Bai Lian.


"Saya takut dia tidak mau tuan. Tadi saya juga mengajaknya untuk bertemu anda, tapi dia hanya diam." Beng kembali bersuara.


"Dan wajahnya menyeramkan. Aku sampai tidak berani duduk di sampingnya, hiii" South merinding saat mengingat wajah Yve yang ia temui beberapa menit yang lalu.


"Diamlah!" North menyenggol bahu South.


"Apakah dia sudah seperti itu sejak pagi?"


"Tidak tuan. Kata bodyguard lain yang mengobrol bersama Yve tadi pagi, dia terlihat seperti biasa. Bahkan sempat memberi cupcake pada Bernard sebagai ucapan selamat sudah selesai menghitung kelopak bunga."


Bai Lian mengangguk mendengar jawaban Beng. Mungkin saja dugaannya benar. Dia berubah saat mengetahui Devian hilang, berarti dia tahu apa yang terjadi dengan Devian.


"Aku akan menemuinya dan bicara. Kalian jangan dekati kami dalam radius 20 meter." Bai Lian berjalan menuju pintu, dan berhenti sebentar. "Salah satu dari kalian katakan soal menghilangnya Devian pada ayah, dan Lin."


Kalau dugaanku benar, pastilah ini ulah Lin. Jadi aku harus segera menyebarkan berita ini agar ayah bertindak.


Setelah Bai Lian pergi, South segera bertanya, "Kenapa tuan malah khawatir dengan Yve? Kak Devian bagaimana?"


"Bodoh! Itu terserah tuan kita!" Beng menepuk kepala South.


"North, mulut adikmu perlu diborgol!"


"Adik? Aku tidak punya adik."


"Kalian jahat sekali!"



Tak tak


Tak tak


Jari Yve terus bergerak diatas keyboard laptopnya, semakin lama semakin cepat seperti pikirannya yang semakin penuh dengan masalah.


Setelah tadi pagi penuh keributan, Yve akhirnya merasakan suasana tenang di gazebo. Hanya ada ia sendirian sekarang. Lagi dan Lagi, Yve mengulang pembelajaran yang Devian berikan. Meskipun orang itu sudah tidak ada, tapi saat Yve mengingat pelajaran darinya, suara Devian langsung memenuhi isi kepalanya.


"Berhenti sebentar!"

__ADS_1


Jari Yve langsung berhenti bergerak. Suara tegas itu membuatnya tersadar, dan secara refleks menoleh kearah sumbernya.


Bai Lian berdiri didekat Yve sekarang. Ia menatap gadis itu lekat-lekat. "Apa yang terjadi denganmu?"


Yve hanya diam dan kembali melihat layar laptopnya. Jarinya lagi-lagi bergerak untuk mengetik sesuatu yang terhenti karena Bai Lian tadi.


"Tuanmu sedang bertanya. Kau harus menjawab."


"Tidak ada yang terjadi denganku." Yve menjawab tanpa menoleh kearah Bai Lian. Dan dari nadanya yang datar menandakan kalau gadis itu tidak memperdulikan pertanyaan Bai Lian sama sekali.


"Lalu kenapa tiba-tiba kau berubah?"


"Aku tidak berubah." Pandangan Yve masih terkunci di layar laptopnya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Devian?"


Deg!


Yve seketika berhenti bergerak. Tangannya bergetar menahan emosi yang tiba-tiba saja kembali seperti sebelumnya.


"Apa hilangnya Devian saat ini ada sangkut pautnya dengan Lin?" Tanya Bai Lian lagi.


"Ya." Yve berdiri dan akhirnya ia menatap kedua mata biru laut milik Bai Lian. "Aku akan membunuhnya."



Di sebuah balkon dengan beberapa cemilan manis, duduk seorang pria yang umurnya sudah melebihi setengah abad. Tubuhnya yang masih tegar dan berotot membuat umur itu tersamarkan. Tapi beberapa helaian rambut putih seolah membeberkan kebenaran yang tersembunyi.


"Tuan besar." Beng membungkuk di depan pria itu dengan sopan.


"Ada apa?"


"Devian hilang. Dan sampai sekarang masih belum ditemukan."


"Devian ya." Bai Jun nampak tenang dan mengangguk pelan. "Aku tahu, pergilah."


Beng akhirnya pergi dan Bai Jun buru-buru memanggil bawahannya.


"Jack, segera periksa data-data orang yang keluar dari kota ini. Cari nama Axel." Perintah Bai Jun.


Jack, tangan kanan Bai Jun sejak masih muda itu nampak bingung. "Kenapa Axel? Siapa dia?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Sudahlah cari saja. Kalau tidak ada, berarti dia sudah mati." Bai Jun masih menunjukkan ekspresi santai. "Tapi menurutku, dia tidak mati."


__ADS_2