
Orion yang diacuhkan memilih untuk pergi ke dapur menemui bossnya, Tina.
"Orion, maaf aku lupa membuang sampah. Bisakah kau membuangnya?" Tina menunjuk kantong sampah disampingnya.
"Baik."
Orion tahu kalau kemarin bossnya sangat kelelahan, dan pasti lupa membuang sampah. Jadi Orion segera melaksanakannya. Ia berjalan kearah pintu belakang.
Bruk!
"Berat juga." Orion selesai menaruh sampah itu ke dalam bak sampah. Tidak disangka sampahnya sangat berat, dan biasanya Yve yang membuangnya sendirian.
Ketika Orion hendak kembali memasuki cafe, sayup-sayup ia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Hei kamu."
Orion menoleh. Ia melihat seorang laki-laki yang berdiri di gang sempit di seberangnya. Wajahnya tertutup bayangan yang mendominasi gang itu. Sementara tubuhnya terkena sinar matahari pagi. Membuat setelan jas rapinya terlihat dengan jelas.
"Siapa?" tanya Orion yang malah dijawab dengan senyuman aneh orang itu.
"Namaku Bai Lin."
❀
"Sip selesai." Yve menatap puas pada motornya yang sudah ditempeli stiker. Leo yang masih berdiri didekatnya, ikut mengangguk memahami letak estetika yang Yve maksud.
"Bagus juga." ucap Leo sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Aku akan berangkat ke rumah Bai Lian sekarang." Yve mulai membereskan alat-alat yang ia pakai untuk membersihkan motor.
"Yve, apa menurutmu ada yang mencurigakan disini?"
Yve menatap Leo sambil memiringkan kepalanya dengan bingung. "Bukankah itu tugasmu mengawasi kakakku dan cafe ini? seharusnya kau orang pertama yang langsung tahu kalau ada yang mencurigakan."
"Selain temanmu yang terus menatapku dengan aura permusuhan, tidak ada hal lain yang mencurigakan sih." Leo sering merinding dengan tatapan Orion padanya.
"Berarti memang tidak ada yang mencurigakan." Yve berkata dengan enteng. "Aku akan masuk dulu."
Ini tidak benar. Disini terlalu tenang. Leo menatap kepergian Yve yang memasuki cafe.
Leo masih ingat dengan jelas saat Beng membangunkannya tengah malam untuk buru-buru menjaga Yve, sampai ia tidak sempat membawa semua perlengkapan. Katanya Levin mengincar Yve. Tapi sampai sekarang orang bernama Levin itu belum bergerak kemari.
Leo meraba saku celananya, disana ada pistol yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga.
Seharusnya Levin dan tuan muda kedua Lin tidak mengenalku. Kerena aku bodyguard ruang bawah. Kalau pun tahu, mereka tidak mungkin takut denganku yang menjaga tempat ini.
__ADS_1
Ketentraman ini membuat perasaanku tidak enak.
❀
Brum!
Yve memasuki pekarangan rumah Bai Lian dengan motor barunya. Bernard yang kebetulan berada disana menghampiri Yve dengan terburu-buru.
"Kebetulan sekali, antarkan aku ke minimarket." Bernard segera naik ke kursi penumpang dan bertengger di atas motor Yve.
"Paman Beruang, aku ini baru datang. Kenapa kau langsung menjadikan aku supir?"
"Sudahlah cepat! tuan Bai Lian menyuruhku membeli popcorn rasa karamel di minimarket, tapi perutku sedang tidak aman sekarang. Aku ingin buang air besar." ucap Bernard dengan wajah pucatnya. Sepertinya dia sudah sering bolak balik ke kamar mandi.
"Ew, bagaimana kalau keluar diatas motorku?"
"Kalau begitu ayo kita cepat pergi, nona pembalap."
Yve tersenyum, kemudian kembali mengendarai motornya keluar pekarangan rumah Bai Lian. Dengan cepat ia melesat ke minimarket yang memang jaraknya tidak terlalu jauh itu.
Setelah sampai, Bernard segera berlari memasuki minimarket. Entah itu paksaan Bai Lian yang ingin buru-buru makan popcorn caramel atau karena perutnya sudah tahan lagi. Yve hanya menatapnya geli.
Bodyguard Bai Lian semuanya lucu. Tidak mirip seperti bodyguard boss mafia yang ada di film.
Setelah Bernard selesai dengan belanjaannya. Yve kembali mengantarkannya pulang dengan cepat. Awas saja kalau laki-laki itu buang air besar di motor barunya.
Yve menatap popcorn ditangannya. Dia harus memberikan itu pada Bai Lian. Dengan keterpaksaan yang tinggi, Yve bergegas menuju ruang kerja Bai Lian. Setidaknya ia masih menghafal letak ruangan yang pernah ia kunjungi itu.
Yve langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Bai Lian yang berada dibalik komputernya terkejut melihat kedatangan Yve.
"Ini." Yve segera melemparkan popcorn itu kearah Bai Lian. Untung saja laki-laki itu cukup sigap untuk menangkapnya.
"Apa kau tidak punya sopan santun?" protes Bai Lian.
"Untuk apa sopan santun pada orang sepertimu?" Yve melipat tangannya. "Orang yang bahkan tidak menepati janjinya."
Bai Lian menaruh dokumennya dengan kasar. Lalu bangkit dari kursinya, dan berjalan mendekati Yve. "Kau menantangku gadis kecil. Lagipula bocah sepertimu bisa apa?"
Bai Lian tiba-tiba menunjukkan ekspresi aneh dan berjalan semakin dekat dengan Yve.
"Aku bisa memberikan tinjuku!" balas Yve.
"Oh, apa kau bisa meninjuku kalau aku melakukan ini?" tiba-tiba Bai Lian menarik telinga Yve.
"Sakit sakit sakit! lepaskan!" Yve hendak meraih Bai Lian, tapi sialnya tubuh laki-laki itu terlalu tinggi untuk Yve gapai. Jika saja ia memiliki 5 cm lebih tinggi, pasti lebih mudah untuk membalasnya.
__ADS_1
"Bai Lian berengsek! lepaskan! sakit."
"Kau memanggilku apa?"
"Bai Lian berengsek!"
Bai Lian semakin kuat menarik telinga gadis kecil dihadapannya itu. "Bocah! ini lah hukumannya kalau kau tidak sopan pada orang yang lebih tua."
"Iya iya ampun orang tua bau tanah. Lepaskan aku!"
Bocah ini sangat lucu. Dia tidak takut padaku sama sekali. Lihatlah bagaimana aku akan menghukummu. Bai Lian tersenyum melihat tingkah Yve.
Tok! Tok!
"Lian, kamu sudah memeriksa dokumen kasino?" Bai Jun muncul dari balik pintu. Ia terkejut melihat anaknya yang sedang asik menarik telinga cucu kesayangannya.
Melihat ayahnya datang, Bai Lian segera melepaskan tangannya dari telinga Yve.
"Huhu kakek, lihatlah kelakuan Bai Lian padaku." Yve langsung bersembunyi dibalik punggung Bai Jun dengan air mata memelasnya.
"Lian, jangan kasar pada Yve. Dia masih anak-anak."
Yve yang mendengar itu hanya bisa bergumam, "aku kan bukan anak-anak."
"Aku hanya bermain dengannya. Itu saja." Bai Lian mengangkat bahu dengan santai.
"Bermain apanya! kau hampir melepaskan telingaku!" protes Yve.
"Oh? kau ingin tambah? kemari kau!"
Yve dengan cepat kembali bersembunyi dibalik punggung Bai Jun.
"Lian, kenapa kamu menggoda Yve?"
"Aku tidak menggodanya." Bai Lian menggeleng dengan cepat.
"Yve kembalilah bersama bodyguard yang lain." ucap Bai Jun sembari mengusap kepala Yve dengan lembut.
"Iya kakek."
Sebelum pergi Yve melirik Bai Lian. Dan laki-laki itu juga meliriknya. Aura permusuhan muncul diantara mereka.
"Rasakan ini!" Yve menginjak kaki Bai Lian dengan kuat, lalu segera berlari meninggalkan ruangan.
"Hei! kembali kesini bocah!"
__ADS_1
Yve tidak mengindahkan teriakan Bai Lian. Dan pergi secepat mungkin dari dalam rumah.
Bai Jun tersenyum melihat kelakuan Bai Lian dan Yve. Sebenarnya mereka terlihat semakin dekat kalau begini.